<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266</id><updated>2012-02-16T16:21:23.752+07:00</updated><title type='text'>Catatan Lembayung Malak</title><subtitle type='html'>sebuah maha karya yang terinspirasi dari kehidupan,

bisa jadi inspirasimu...

pun jadi perenungan.

(syukur pada sang Khalik, kecintaanku</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>67</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-641749716030978871</id><published>2008-11-22T15:16:00.000+07:00</published><updated>2008-11-22T15:22:46.764+07:00</updated><title type='text'>SUDAH Terjawab</title><content type='html'>Sebenarnya sudah 1 bulan ini kemarahanku pada NadimS telah sembuh. KRISTUS yang sembuhkan dan DIA memberi jawaban. Aku tidak boleh egois dan ingin selalu dimengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini 2 artikel yang aku tulis setelah melewati 2 perenungan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://christianpramudia.wordpress.com/2008/11/03/janji-tuhan-tetap/"&gt;JANJI TUHAN TETAP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://christianpramudia.wordpress.com/2008/11/14/hidup-itu-memberi-baru-bahagia/"&gt;Hidup itu Memberi, baru Bahagia.&lt;/a&gt; &lt;a href="http://christianpramudia.wordpress.com/2008/11/14/hidup-itu-memberi-baru-bahagia/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-641749716030978871?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/641749716030978871/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=641749716030978871&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/641749716030978871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/641749716030978871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2008/11/sudah-terjawab.html' title='SUDAH Terjawab'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-4859577562559181860</id><published>2008-10-30T07:29:00.001+07:00</published><updated>2008-10-30T07:36:36.697+07:00</updated><title type='text'>Susah Percaya</title><content type='html'>Aku kecewa, marah dan menangis. Aku BENCI NADIMS. Aku sakit hati. Semua janjinya enggak bisa aku pegang lagi, untuk kesekian kali. Aku tahu, ketika aku harus berjanji dengan seseorang, aku tidak boleh menuntut dia sesuai ekspektasiku. Tapi kali ini aku benar-benar sedang kecewa. Aku benci ini. Aku sudah menjalankan janjiku, tapi janjinya tidak bisa aku pegang. Jujur, aku sedang dalam keadaan tidak percaya sama dia. Tuhan tolong aku, supaya aku bisa mengampuni NadimS, supaya aku tidak egois minta dimengerti. Tapi sekali lagi jujur, aku masih dalam keadaan kecewa dan benci sama dia sekarang. Aku harus pulih. Walaupun NAdimS tidak peduli sama semua keadaanku dan perasaanku sekarang, tapi TUHAN tetap peduli sama aku. Aku tidak perlu merengek-rengek minta janjinya, tapi JANJI TUHAN sama aku SEMPURNA. Hanya Janji Tuhan yang bisa kupercaya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-4859577562559181860?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/4859577562559181860/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=4859577562559181860&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/4859577562559181860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/4859577562559181860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2008/10/susah-percaya.html' title='Susah Percaya'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-9045681945914553156</id><published>2008-10-14T10:30:00.000+07:00</published><updated>2008-10-14T10:33:45.948+07:00</updated><title type='text'>Masalah teknis, Di Bawah kontrol Sang KHALIK</title><content type='html'>Sampai hari ini aku bersyukur, masalah teknis itu bisa teratasi. Betapa ajaibnya Sang Khalik memberikan pertolongan, sehinggga sudah ada solusi, dan tinggal menunggu hasil. Namun aku percaya, semua akanbaik-baik saja. Sang KHALIK akan tetap bersamaku dan menolongku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-9045681945914553156?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/9045681945914553156/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=9045681945914553156&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/9045681945914553156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/9045681945914553156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2008/10/masalah-teknis-di-bawah-kontrol-sang.html' title='Masalah teknis, Di Bawah kontrol Sang KHALIK'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-8697089053130961253</id><published>2008-10-11T09:05:00.000+07:00</published><updated>2008-10-11T10:18:07.302+07:00</updated><title type='text'>Aku Benci Masalah Teknis</title><content type='html'>Sejak kemarin dan puncaknya hari ini, aku dipusingkan dengan masalah teknis di media komunitas, yang aku kelola. Sejak pertama, kekuatiranku adalah aku tidak akan sanggup kalau harus berhadapan dengan hal-hal teknis. Aku tidak mengerti, dan aku benci itu. NadimS, sang empunya media komunitas itu -sebelum dia pergi ke luar negeri, selalu meyakinkan aku kalau ada kendala teknis, serahkan saja pada Mas-nya (mas yang menuasai teknis, maksudnya). Tapi tetap saja, hari ini masalah teknis itu datang dan mas-nya datang, tetap belum selesai masalahnya dan malah merembet ke masalah lain. Aku udah pusing dan penat sekali. Aku SMS NadimS dan berusaha untuk tidak terlalu meributi dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini aku sedang menunggu kabar dari NadimS dan lusa, baru di cek alatnya. Fiuh.. Aku percaya Sang KHALIK terus didekatku, menolong dan menenangkan aku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-8697089053130961253?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/8697089053130961253/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=8697089053130961253&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/8697089053130961253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/8697089053130961253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2008/10/aku-benci-masalah-teknis.html' title='Aku Benci Masalah Teknis'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-1790983413344031333</id><published>2008-10-10T06:37:00.001+07:00</published><updated>2008-10-10T07:42:55.490+07:00</updated><title type='text'>Nonton Laskar Pelangi lagi, Sedih liat Lintang pergi.</title><content type='html'>&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5255307649000554146" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SO6adoQSPqI/AAAAAAAAADo/UgI6cGLWaaQ/s400/2830520959_b569af6f41_o.jpg" border="0" /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5255307526153308930" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SO6aWenOCwI/AAAAAAAAADg/g97XFlt4LRQ/s400/2831328080_da14f95034_o.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SO6aNN9WkhI/AAAAAAAAADY/pNWi0buddX4/s1600-h/2831363500_3ed3fd96c9_o.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5255307367063917074" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SO6aNN9WkhI/AAAAAAAAADY/pNWi0buddX4/s400/2831363500_3ed3fd96c9_o.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Kemarin aku nonton Laskar Pelangi LAGI. Kalau pertama kali aku nonton, yang aku dapet adalah sebuah pernyataaan yangbagus banget "Memberi sebanyak-banyaknya, menerima sedikit-sedikitnya" dan kegigihan seorang guru di desa terpencil, kegigihan anak-anak yang pengen sekolah. Kalo kemarin, enggak tahu kenapa, aku sangat merasakan kesedihan Ikal, waktu kehilangan Lintang, sahabatnya. Lintang pergi, dan enggak bisa sekolah lagi. Padahal dia pintar dan cerdas.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Adegan Ikal berlari mengejar Lintang sambil berteriak, mampir begitu dekat jauh di lubuk hatiku. Aku sangat bisa merasakan kesedihan Ikal. Aku pernah kehilangan sahabatku, dan sedang kehilangan mereka. Aku kehilangan waktu ku bersama mereka. Mereka sudah benar-benar pergi meninggalkan jiwaku. Mungkin kalau aku ada di film itu dan kondisi memungkinakan, aku akan berteriak histeris, sebebas-bebasnya.... Aku enggak mau kehilangan mereka.... Hatiku sedih, hatikku tidak rela mereka pergi,... NadimS dan NadimN, pergi meninggalkan jiwaku,.. jiwa yang teikat kini tidak lagi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi, ya sudahlah,... kehidupan memang harus selalu berjalan, mungkin terkadang kita merasa tidak adil, namun, sebenrnya saat kita merasa tidak adil itulah, kita merasakan keadilan sejati. Sang KHALIK tidak kurang panjang TANGANNYA senantiasa memeliharaku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;SANG KHALIK tidak pernah meninggalkanku, meski NadimS dan NadimN pergi meninggalkan jiwaku. Tapi aku tidak mau meninggalkan mereka. Aku menyimpan selalu momen-momen indah dan berarti bersama mereka. Aku akan selalu siap ada untuk mereka, karena aku sayang mereka... Mereka adalah orang terpenting dalam hidupku, setelah keluargaku.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-1790983413344031333?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/1790983413344031333/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=1790983413344031333&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/1790983413344031333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/1790983413344031333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2008/10/nonton-laskar-pelangi-lagi-sedih-liat.html' title='Nonton Laskar Pelangi lagi, Sedih liat Lintang pergi.'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SO6adoQSPqI/AAAAAAAAADo/UgI6cGLWaaQ/s72-c/2830520959_b569af6f41_o.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-5101630889271957872</id><published>2008-10-06T09:44:00.001+07:00</published><updated>2008-10-06T10:42:34.547+07:00</updated><title type='text'>"GLORIOUS" - Natalie Imbruglia</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SOl_7HoWfEI/AAAAAAAAAC4/ENz3N2I4O88/s1600-h/lyrics+glorious.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-9b05d9c1266c4ded" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v13.nonxt3.googlevideo.com/videoplayback?id%3D9b05d9c1266c4ded%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1331535824%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D56D7FD8AABDDA2F39B0CDEFF5A96BC19316FA627.7CBD96C80B4025B48A36A7267FDC1CC744EE9CAB%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D9b05d9c1266c4ded%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DSii-ksJebMTjIsplkNYC7chXDbw&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v13.nonxt3.googlevideo.com/videoplayback?id%3D9b05d9c1266c4ded%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1331535824%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D56D7FD8AABDDA2F39B0CDEFF5A96BC19316FA627.7CBD96C80B4025B48A36A7267FDC1CC744EE9CAB%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D9b05d9c1266c4ded%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DSii-ksJebMTjIsplkNYC7chXDbw&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Walking down the Frith Street&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dawn is creeping up on me&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Some girls tears in a taxi&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Five o'clock shadows drinking coffee&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;So this is what it feels like&lt;/p&gt;&lt;p&gt;This is how it feels, now I'm finally smiling on the inside&lt;/p&gt;&lt;p&gt;This is what it looks like&lt;/p&gt;&lt;p&gt;This is how it looks from the outside staring in&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;And it's glorious just to laugh like us&lt;/p&gt;&lt;p&gt;And the world will turn, it'll never stop&lt;/p&gt;&lt;p&gt;'Cause I've got nothing to hide&lt;/p&gt;&lt;p&gt;And we've got nothing to lose, oh yeah&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;And it's glorious, and it's all I see&lt;/p&gt;&lt;p&gt;On a day like this you know it's meant to be&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Now I've got nothing to find&lt;/p&gt;&lt;p&gt;And I've got nothing to lose but youAnd it's glorious&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Drinking wine back in my house&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Remember someone said your name&lt;/p&gt;&lt;p&gt;I somehow lost the conversation&lt;/p&gt;&lt;p&gt;I've fallen a million miles away&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;So this is what it feels like&lt;/p&gt;&lt;p&gt;This is how it feels when you're finally walking on the inside&lt;/p&gt;&lt;p&gt;This is what it looks like&lt;/p&gt;&lt;p&gt;This is how it looks from the outside staring in&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;And it's glorious just to laugh like us&lt;/p&gt;&lt;p&gt;And the world will turn, it'll never stop&lt;/p&gt;&lt;p&gt;'Cause I've got nothing to hide&lt;/p&gt;&lt;p&gt;And we've got nothing to lose, oh yeah&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;And it's glorious, and it's all I see&lt;/p&gt;&lt;p&gt;On a day like this you know it's meant to be&lt;/p&gt;&lt;p&gt;'Cause I've got nothing to hide&lt;/p&gt;&lt;p&gt;And I've got nothing to lose but you&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keep wanting a little, a little more&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keep walking, keep walking&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keep getting a little, a little more&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keep running, keep running&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Oooooh, walking down the Frith Street...&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;And it's glorious just to laugh like us&lt;/p&gt;&lt;p&gt;And the world will turn, will never, never stop&lt;/p&gt;&lt;p&gt;'Cause I've got nothing to hide&lt;/p&gt;&lt;p&gt;And we've got nothing to lose, oh yeah&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;And it's glorious, and it's all I see&lt;/p&gt;&lt;p&gt;On a day like this I know it's meant to be&lt;/p&gt;&lt;p&gt;'Cause I've got nothing to find&lt;/p&gt;&lt;p&gt;And I've got nothing to lose but you&lt;/p&gt;&lt;p&gt;And it's glorious&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;strong&gt;"Lagu ini yang bisa bikin aku enggak BT lagi,... heheh..."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-5101630889271957872?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='video/mp4' href='http://www.blogger.com/video-play.mp4?contentId=9b05d9c1266c4ded&amp;type=video%2Fmp4' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/5101630889271957872/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=5101630889271957872&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/5101630889271957872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/5101630889271957872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2008/10/glorious-natalie-imbruglia.html' title='&quot;GLORIOUS&quot; - Natalie Imbruglia'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-8215405818364230607</id><published>2008-10-04T09:57:00.000+07:00</published><updated>2008-10-04T11:12:38.993+07:00</updated><title type='text'>Laskar Pelangi: “SEMANGAT LUAR BIASA yang ditularkan kepadaku…”</title><content type='html'>Kisah film ‘Laskar Pelangi’ yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata tak hanya soal pentingnya pendidikan. Warna-warni pershabatan 10 bocah Belitong dalam film ini juga cukup menarik dan bisa membuat penonton tertawa dan menangis.&lt;br /&gt;Film ini dibuka dengan adegan ketika hari pertama Ikal (Zulfanny) berangkat ke sekolah, namun ia harus menggunakan sepatu perempuan karena tak mampu beli sepatu sekolah. Sayang sepatu perempuan yang dipakai Ikal kurang mewakili desain sepatu tahun 70an.Di hari pertama Ikal sekolah juga jadi hari yang penting untuk kelanjutan pendidikan di SD Muhammdyah di desa Gentong, Belitong. Pada hari itu Ibu Muslimah (CUt Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara) harus berhasil mengumpulkan 10 murid supaya sekolah tersebut tidak ditutup.&lt;br /&gt;Satu demi satu murid pun mulai terkumpul. Sayang hingga waktu yang ditentukan, kedua guru itu hanya berhasil mengumpulkan 9 murid. Hingga akhirnya tibalah Harun (Jeffry Yanuar) dengan ditemani ibunya. Ia pun berlari melewati padang rumput menuju ke sekolah yang bangunannya hampir roboh itu untuk menjadi penyelamat masa depan kesembilan murid yang sudah gelisah. Sepuluh murid pun sudah terkumpul, mereka pun mendapat julukan Laskar Pelangi oleh Ibu Muslimah. (sinopsis disalin dari : &lt;a href="http://www.laskarpelangithemovie.co.cc/"&gt;http://www.laskarpelangithemovie.co.cc/&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini aku tonton di hari pertama premiere-nya. Satu hal yang paling aku ingat adalah sebuah kalimat dari tokoh Pak Harfan, aku tidak ingat detail susunan kalimatnya, tapi paling tidak isinya “Memberilah sebanyak-banyaknya….” dan Pak Harfan tidak hanya berkata saja, tentu diimbangi dengan perbuatan. Bagiku, apa yang dia lakukan itu luar biasa. Mengelola sekolah dengan murid hanya 10 orang, tapi dia tetap berjuang bagaimana caranya anak-anak itu bisa sampai selesai sekolah…. ditambah tokoh Ibu Muslimah, seorang guru yang bisa menginspirasi banyak orang… Semangat-nya luar biasa, sampai masuk ke dalam lubuk hatiku. Ada ya, orang seperti dia… Tidak digaji 2 bulan, tetap mengajar, sementara tentu kebutuhan hidup tidak sedikit. Lalu anak-anak Laskar pelangi… Mereka bukan anak-anak mampu, tapi punya semangat luar biasa… Penulis novelnya Andrea Hirata telah mengangkat dengan apik kegelisahan yang ada dalam dirinya. Fenomena yang bisa mencelikkan banyak pihak, tentang bagaiamana pendidikan di Indonesia yang seharusnya menjadi satu perhatian penting. Tidak melulu sibuk dengan pencalonan diri menjadi kepala daerah, anggota legislatif dan presiden.&lt;br /&gt;Para sineas di sini juga telah bekerja keras dan dengan kegigihan menghasilkan karya yang menurutku, bagus dan sangat menginspirasi. Ini adalah sebuah warna yang apik, sebuah kolaborasi yang menyentuh dan sebuah hasil yang membanggakan anak-anak negeri.&lt;br /&gt;FIlm-film seperti ini harusnya yang merajai negeri kita, menyingkirkan setan-setan dan film-film seks tidak bermutu. Indonesia butuh pemikiran-pemikiran yang cemerlang seperti ide Laskar Pelangi ini.&lt;br /&gt;Luar Biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-edea88d4680b5d30" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v23.nonxt5.googlevideo.com/videoplayback?id%3Dedea88d4680b5d30%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1331535824%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D76E50EA9944DBCF16C0C4DD287568568E87FF409.10373D6BC22B6432D69882CE28B26B45C898964%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3Dedea88d4680b5d30%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3D4cTm__tGXreh8IULTv2dhI6yN2w&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v23.nonxt5.googlevideo.com/videoplayback?id%3Dedea88d4680b5d30%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1331535824%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D76E50EA9944DBCF16C0C4DD287568568E87FF409.10373D6BC22B6432D69882CE28B26B45C898964%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3Dedea88d4680b5d30%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3D4cTm__tGXreh8IULTv2dhI6yN2w&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-8215405818364230607?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://christianpramudia.wordpress.com/2008/10/04/laskar-pelangi-semangat-luar-biasa-yang-ditularkan-kepadaku/' title='Laskar Pelangi: “SEMANGAT LUAR BIASA yang ditularkan kepadaku…”'/><link rel='enclosure' type='video/mp4' href='http://www.blogger.com/video-play.mp4?contentId=edea88d4680b5d30&amp;type=video%2Fmp4' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/8215405818364230607/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=8215405818364230607&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/8215405818364230607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/8215405818364230607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2008/10/laskar-pelangi-semangat-luar-biasa-yang.html' title='Laskar Pelangi: “SEMANGAT LUAR BIASA yang ditularkan kepadaku…”'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-6146624530769474825</id><published>2008-10-04T07:12:00.002+07:00</published><updated>2008-10-04T08:00:18.880+07:00</updated><title type='text'>Come on, my self! My Life it's FUN</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SOa-ZFJxUOI/AAAAAAAAACg/T1aThWcf9vI/s1600-h/n20737841842_755995_2327.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253095353463427298" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SOa-ZFJxUOI/AAAAAAAAACg/T1aThWcf9vI/s400/n20737841842_755995_2327.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kalau aku merenungkan sesuatu, kemarin lusa, waktu aku pengen banget kehadiran NadimS buat bantu aku think everything for our radio, dan ada perasaan ingin kumpul lagi, bareng lagi. Tentu saja aku seorang yang melankolik mudah untuk berpikir tentang hal-hal yang negatif, terutama tentang my loneliness is killing me. Dalam perasaan yang enggak enak dan bikin enggak mood ini, tiba-tiba aku menemukan facebook Natalie Imbruglia. Seorang penyanyi yang aku kagumi. Hem... sesuatu yang kecil, yang bisa mengalihkan perhatianku, sehingga enggak ngerasa loneliness terus.... dan besoknya (kemarin) aku menyadari kalau aku bakal siaran di radio AM, setiap hari. Wow! Setiap hari! aku enggak akan punya banyak waktu untuk merasa sendirian. Yah, walaupun, aku tahu, siaran di radio segmen 'tuir' alias 50 tahun ke atas itu, bikin sedikir keki. Kalo tiap pagi, aku ngurus radio sekolah, yang pastinya tiap hari ketemu anak-anak SMA yang umurnya 7 sampai 8 tahun lebih muda dari aku, sorenya aku akan mendengarkan lagu-lagu era tahun 60 an... macam elvis persley, jim reeves, betaless, beegees dan membagikan info-info kesehatan buat manula. Fiuh... Kemarin di tengah aku siaran, aku berkata pada diriku sendiri... WOW! My Life it's FUN! Thank GOD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari, aku akan bertemu dengan hal-hal yang kontras, yang aku tahu, aku pasti belajar BANYAK HAL. Aku suka bertemu orang baru, atau membicarakan hal-hal baru dan berbagi banyak hal....dan aku menemukan semuanya ini. SETIAP HARI....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat aku berpikir, kalo blog ku yang ini, dalam 1 tahun terakhir banyak menceritakan my loneliness is killing me (-lirik lagu britney ini berputar-putar di kepalaku, dan kayaknya pas sama keadaanku, makanya aku lagi senang pakai istilah ini). Tapi setiap kali aku merasakan kesepian dan kesendirian yang membunuhku, selalu ada cara dari SANG KHALIK untuk MENGHIBUR AKU. Mulai dari obrolan dengan teman, menyadari betapa keren-nya my family, sampai info salary siaran yang katanya bakal naik. Tapi PASTI ADA CARA dari SANG KHALIK, yang paling enggak membuat aku tersenyum, dan kalo udah begitu, aku cepat-cepat meninggalkan perasaanku yang mellow itu, yang kalo dibiarkan bakal benar-benar bisa membunuhku. Aku harus bisa control diriku sendiri. Sudah enggak ada NadimS yang bisa ngingetin aku sekarang, udah enggak bisa juga ada NadimN yang setiap saat menghiburkan aku. So, i must controlled my self, and of course with SANG KHALIK aku akan bisa belajar untuk ENJOY MY LIFE... Come on! My Life is FUN! Enggak semua orang bisa ngalamin ini, bisa melakukan 2 hal kntras dalam satu hari dan SETIAP HARI....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, walaupun aku masih sedih karena waktu aku SMS NadimS 2 hari lalu, tapi aku benar-benar kecewa dengan balasannya. Yes i know, dia seorang yang beda banget sama aku. Yes i know, dia cuman bercanda dg tulisan SMS-nya... Tapi entah, aku tetap terluka... dan seperti yang aku bilang tadi, aku harus benar2 bisa keluar dari ini... semua! Sebelum my loneliness is killing, me, aku harus cepat-cepat pergi dari perasaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oiya, ada satu cara lagi SANG KHALIK mengingatkan aku. Waktu aku lagi merasa BT, kecewa, sakit hati bahkan MARAH dan BENCI banget sama balesan SMS NadimS, tiba-tiba aku dapet satu kalimat, waktu aku lagi nyiapin script siaran buat anak-anak "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran."&lt;br /&gt;Dibilang, "SETIAP WAKTU" berarti termasuk waktu aku lagi BT, KECEWA, MARAH aku mesti tetep MENARUH KASIH sama sahabatku. Okay, baiklah..... paling enggak aku berusaha buat enggak terlalu marah dulu. Yah, kalo dipikir-pikir secara manusia, waktu 3 tahun untuk menungggu aku pergi dari kota ini, sambil menjalankan media komunitas punya NadimS, baru bisa mendatangi duniaku, TERLALU LAMA dan MEMBOSANKAN... Aku engak sabar untuk mewujudkan semuanya... tapi, ya, ya, ya.... MY LIFE IT'S FUN NOW.... Aku udah berjanji sama SANG KHALIK akan menantikan waktu dan aku udah bilang kalo aku PERCAYA SEPENUHNYA, WAKTU ITU AKAN TIBA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fiuh... Aku harus tetap BERTAHAN dan SURVIVE....&lt;br /&gt;Cuman SANG KHALIK yang bisa menjamin-ku, cuman janji SANG KHALIK yang bisa membuatku bertahan. Meskipun NadimS pernah bilang, kalau aku enggak bakal sengasara, kalo aku ikut dia (maksudnya menjalankan titipan pekerjannya:-media komunitas), tapi aku tahu, setiap manusia bisa mengecewakan (bukan berarti aku meragukan sahabatku), karena aku enggak bisa mengandalkan satu masnuia pun. HANYA dalam JANJI SANG KHALIK, AKU BISA HIDUP. HANYA DALAM RUMAHNYA, aku bisa TETAP BERTAHAN, dan aku enggak kuatir....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My Life it's so FUN, yow!&lt;br /&gt;(Sekarang kalimat ini yang sedang berputar-putar di kepalaku, menggantikan "My Loneliness is killing me", yah, baguslah....)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SOa-xwDQd9I/AAAAAAAAACo/qT4SU0ZMWNA/s1600-h/Picture-007.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253095777295693778" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SOa-xwDQd9I/AAAAAAAAACo/qT4SU0ZMWNA/s400/Picture-007.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Uh, Natalie Imbruglia... you are so beautiful... Setiap BT, aku pasti dengerin lagu-lagunya dia, abis nyanyi-nyanyi, pasti BT ku ilang... yah paling enggak berkurang lah....&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-6146624530769474825?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/6146624530769474825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=6146624530769474825&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/6146624530769474825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/6146624530769474825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2008/10/come-on-my-self-my-life-its-fun.html' title='Come on, my self! My Life it&apos;s FUN'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SOa-ZFJxUOI/AAAAAAAAACg/T1aThWcf9vI/s72-c/n20737841842_755995_2327.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-2205172494544143905</id><published>2008-10-02T10:16:00.001+07:00</published><updated>2008-10-04T08:35:23.635+07:00</updated><title type='text'>Ada Sang KHALIK, JANGAN TAKUT SENDIRIAN....</title><content type='html'>&lt;div&gt;Aku benci saat ini. Kenapa aku bisa membutuhkan keberadan NadimS saat ini. Sebenernya, aku enggak butuh-butuh dia banget. Media komunitas yang dia titipkan untuk aku kelola selama dia ke luar negeri, bisa aku urus dengan bantuan 2 sahabatku. It's Ok. tidak ada konflik yang sedang aku hadapi, tidak ada masalah yang berarti, yang terlampau berat. Tidak ada. Sang KHALIK dengan segala kebaikan-NYA memberikan jalan yang terbaik dan penyertaan yangluar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenapa aku begitu mengharapkan kehadiran NadimS?&lt;br /&gt;Baru saja aku melihat fotonya di salah satu situs pertemanan dan foto terbaru-nya dalam satu postings. Aku serasa ingin melihat senyuman, tawa dan kejahilan-kejahilan sahabatku ini. Aku ingin menceritakan banyak hal baru yang baru saja aku dapat, aku inginmengeluhkan banyak hal tentang seseorang, tentang kejadian dan aku ingin berbuat sesuatu yang baik untuknya.&lt;br /&gt;Tapi kenapa? Apa alasanku untuk berbuat itu semua? Dia tidak di sini, dan dia tidak memberi kabar sejak satu bulan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa begitu lama sekali waktu 1 bulan ini, padahal aku masih harus menghabiskan 35 bulan lagi, sambil menunggu waktuku mewujudkan cita-citaku, aku mengelola media komunitas yang sudah kami bangun dari nol. Aku mungkin kuat, kalau adaNadimS yang turut serta bersama. Namun entahlah, aku harusnya tidak merasa seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SObIHJJ12jI/AAAAAAAAACw/xp5eY4LrrqY/s1600-h/o.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253106040416098866" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SObIHJJ12jI/AAAAAAAAACw/xp5eY4LrrqY/s400/o.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku harus kuat. Aku tidak perlu kuatir, Ada Sang KHALIK, JANGAN TAKUT SENDIRIAN....&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-2205172494544143905?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/2205172494544143905/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=2205172494544143905&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/2205172494544143905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/2205172494544143905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2008/10/ada-sang-khalik-jangan-takut-sendirian.html' title='Ada Sang KHALIK, JANGAN TAKUT SENDIRIAN....'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SObIHJJ12jI/AAAAAAAAACw/xp5eY4LrrqY/s72-c/o.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-5481206935320240361</id><published>2008-09-18T17:42:00.004+07:00</published><updated>2008-09-18T17:57:26.454+07:00</updated><title type='text'>Foto Biasa, Desain Norak, Makna yang MENDALAM</title><content type='html'>&lt;a href="http://i54.photobucket.com/albums/g115/lembayungmalak/2prince.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://i54.photobucket.com/albums/g115/lembayungmalak/2prince.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurutku, ini adalah sebuah foto biasa, dengan desain yang sangat norak. "Two Prince from Heaven". Pose biasa, dengan latar belakang pemandangan, tetapi, ada makna yang dalam di baliknya: Sebuah persahabatan, yang menaruh kepercayaan mendalam. Aku memegang kepercayaan sahabatku, dan dia memegang kepercayaannya kepadaku.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Suatu saat nanti, kami akan saling membuktikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;see: &lt;a href="http://christianpramudia.wordpress.com/2008/09/17/persahabatan-itu-kepercayaan/"&gt;http://christianpramudia.wordpress.com/2008/09/17/persahabatan-itu-kepercayaan/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-5481206935320240361?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/5481206935320240361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=5481206935320240361&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/5481206935320240361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/5481206935320240361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2008/09/blog-post.html' title='Foto Biasa, Desain Norak, Makna yang MENDALAM'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-169813927226287534</id><published>2008-09-17T10:31:00.001+07:00</published><updated>2008-09-17T10:39:25.317+07:00</updated><title type='text'>I Miss this Moment</title><content type='html'>&lt;a href="http://i54.photobucket.com/albums/g115/lembayungmalak/b3LAGI.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://i54.photobucket.com/albums/g115/lembayungmalak/b3LAGI.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Aku sedang merindukan saat seperti ini. Tersenyum, dan berfoto.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mudah-mudahan ini bisa menjadi kenang-kenangan untuk anak-cucu dan keturunan kami.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://www.glittergraphics.us/" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-169813927226287534?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/169813927226287534/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=169813927226287534&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/169813927226287534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/169813927226287534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2008/09/i-miss-this-moment.html' title='I Miss this Moment'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-6558913655489696452</id><published>2008-09-12T14:41:00.002+07:00</published><updated>2008-09-18T18:07:44.881+07:00</updated><title type='text'>Chat tentang Pernikahan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SNI2MXPmIwI/AAAAAAAAAB4/Opt4BFxzgtI/s1600-h/Barcinomn.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247316101865808642" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SNI2MXPmIwI/AAAAAAAAAB4/Opt4BFxzgtI/s400/Barcinomn.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SNI2MihJSwI/AAAAAAAAACA/j6dMM4LOg40/s1600-h/Imperio_Bmn.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247316104892205826" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SNI2MihJSwI/AAAAAAAAACA/j6dMM4LOg40/s400/Imperio_Bmn.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SNI2Mg7A8aI/AAAAAAAAACI/F9UYXMHTlds/s1600-h/Neptunamn.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247316104463839650" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SNI2Mg7A8aI/AAAAAAAAACI/F9UYXMHTlds/s400/Neptunamn.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SNI2M3e03-I/AAAAAAAAACQ/3s3pi8eHjJg/s1600-h/Tronomn.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247316110519623650" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SNI2M3e03-I/AAAAAAAAACQ/3s3pi8eHjJg/s400/Tronomn.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SNI2Mx0FydI/AAAAAAAAACY/3mvwkTfyK-I/s1600-h/Tapizmn.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247316108998199762" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SNI2Mx0FydI/AAAAAAAAACY/3mvwkTfyK-I/s400/Tapizmn.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Hari ini teringat pembicaraan (dengan ******), tentang rencana PERNIKAHAN. Wow! Lucu juga pembicaraan kami…. (tapi dengan sangat menyesal, aku harus mengedit banyak hal, tapi masih seru juga untuk disimak)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;"&gt;******: ayo, let's talk bout my plan&lt;br /&gt;******: kamu kan ketua panitia (ketua panitia pesta pernikahan ******)&lt;br /&gt;******: kalian ikut loh di salah satu foto prewed ya&lt;br /&gt;LM : kamu rencana bulan apa siy? januari apa desember?&lt;br /&gt;******: kenapa kok kamu tebak antara 2 bulan itu?&lt;br /&gt;******: pasti karena kami &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;...bla...bla....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;"&gt;******: ndak mungkin desember meskipun pingin&lt;br /&gt;LM: aku lupa jadianny kapan&lt;br /&gt;LM: kalo 01 - 01 - 2010&lt;br /&gt;******: kata bridal tempat kami mau pesen, bln 9-12 tuh mahal2nya&lt;br /&gt;******: kalo mau antara bulan 1-7&lt;br /&gt;LM: ya udah tgl itu ajah&lt;br /&gt;******: ndak ada yang datang&lt;br /&gt;******: semua masih liburan&lt;br /&gt;LM: kenapa?&lt;br /&gt;******:&lt;br /&gt;LM: atau 10 - 01 - 2010&lt;br /&gt;LM: cucok deh&lt;br /&gt;******: katanya juga kalo tanggal2 bagus juga mahal&lt;br /&gt;******: tanggal2 unik&lt;br /&gt;******: aku salah …bla..bla..bla… tgl 13 feb&lt;br /&gt;LM: 32 - 01 - 2010&lt;br /&gt;******: benernya pas, angka 13 angka sial, pasti jarang ada yang mau ambil&lt;br /&gt;******: jadi harga ga mahal&lt;br /&gt;******: ato kami &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;…bla..bla..bla…&lt;/span&gt; tgl 23 feb&lt;br /&gt;******: yoopo seh&lt;br /&gt;******: tgl 32&lt;br /&gt;******:&lt;br /&gt;LM: kta sapa itu deket 14 feb,... malah mahal.... valentine&lt;br /&gt;******: tp bln feb tuh …&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;bla..bla..,&lt;/span&gt; jadi suiiibuuuuk banget pasti&lt;br /&gt;******: bisa mati kalo mikir &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;…bla..bla..bla…&lt;/span&gt; sama merit bareng2&lt;br /&gt;LM: april ajah&lt;br /&gt;******: jadi pilihannya mungkin maret ato april&lt;br /&gt;LM: atau maret kayak papa mamaku&lt;br /&gt;LM: 5 maret 2010&lt;br /&gt;******: iya, kami mikir antara maret ato april&lt;br /&gt;******: knp kok 5?&lt;br /&gt;LM: tgl nya papa mamaku married&lt;br /&gt;LM: ato 12 april ajah&lt;br /&gt;******: huehehe&lt;br /&gt;******: ntar kamu ndak dateng dong&lt;br /&gt;LM: y dtg-lah... kan ketua panitia?&lt;br /&gt;******:&lt;br /&gt;******: seksi sibuk&lt;br /&gt;******: aku ndak mau pake acara wedding kiss ya&lt;br /&gt;******:&lt;br /&gt;******: malu&lt;br /&gt;LM: lho... GAK BOLEH... HARUS!!! Itu yg membuktikan, kalian bisa mempertahankan hubungan sampai di depan altar, diberkati PENDETA&lt;br /&gt;LM: kalo enggak pakai, berarti sudah pernah sebelumnya....&lt;br /&gt;LM: jadi harus wedding kiss&lt;br /&gt;******: loh, kalo di depan pendeta iya&lt;br /&gt;LM: trs maksudmu?&lt;br /&gt;******: tp pas di pesta ndak mau!!!&lt;br /&gt;LM: oh, kalo pesta ya gak wajib&lt;br /&gt;******: lha ya itu&lt;br /&gt;******: benernya kami males pesta&lt;br /&gt;******: selain keuangan&lt;br /&gt;******: trus, kayaknya jadi tontonan dan pajangan&lt;br /&gt;******: lagian kami bukan &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;...bla...bla...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;"&gt;******: gak pake &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;...bla...bla...&lt;/span&gt; segala&lt;br /&gt;LM: aku setuju... aku y gak suka pesta2 yg gimana gitu&lt;br /&gt;******: trs pestane garingan dong&lt;br /&gt;******: tp kami mempertimbangkan relasi&lt;br /&gt;LM: mendingan kalian jalan2 nyamperin tamu2&lt;br /&gt;LM: gak pakai apa anamany ya? oiya pelaminan&lt;br /&gt;LM: gak usah yah...&lt;br /&gt;LM: kayak married di film indo "Claudia-Jasmine"&lt;br /&gt;LM: ntar aku pinjemin filmnya&lt;br /&gt;******: posisi dia...kerjaanku, ndak mungkin no reception&lt;br /&gt;******: iya...enaknya gimana ya&lt;br /&gt;LM: iya tetep pesta, tp gak pakai pelaminan&lt;br /&gt;******: konsepnya biar elegan tp ndak terkesan glamor dan kmi jadi tontonan&lt;br /&gt;LM: yg di film itu, pengantinnya jalan2 gitu&lt;br /&gt;LM: enak,...&lt;br /&gt;LM: kam mau indoor/ atau oudoor?&lt;br /&gt;LM: ntar ya aku beli film-nya....&lt;br /&gt;******: outdoor lebih mahal&lt;br /&gt;******: jadi terpaksa indoor&lt;br /&gt;******: aku bener2nya ndak macem, cuman aku pingin banyak nuansa alam (tumbuhan, bunga)&lt;br /&gt;******: tp mahal ya pasti&lt;br /&gt;******: benernya sih bisa minta temen2 bantuin&lt;br /&gt;******: jd mungkin harga bisa harga temen&lt;br /&gt;******:&lt;br /&gt;******: prewed aja aku ndak pake studio khusus yang terkenal gitu&lt;br /&gt;******: kalo weddingnya, di paket yang ditawarkan ke aku, udah ada, punya Lee&lt;br /&gt;LM: Lee sapa?&lt;br /&gt;******: ndak, &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;...bla...bla... &lt;/span&gt;yang di &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;...bla...bla...&lt;/span&gt; itu loh&lt;br /&gt;******: gedhe kok&lt;br /&gt;LM: itu paket apa ajah?&lt;br /&gt;******: maksudnya?&lt;br /&gt;******: foto aja ato yang lain?&lt;br /&gt;LM: oh, paket pre wedding ajah yah?&lt;br /&gt;******: &lt;a href="http://collections....bla...bla/"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;http://collections.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;...bla...bla&lt;/a&gt;...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;"&gt;******: itu coba liat contoh2 &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;bla...bla..bla....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;******: yang outdoor&lt;br /&gt;******: tp aku dapet yang indoor&lt;br /&gt;******: jadi paketnya itu antara lain: gaunku, jasnya yg cowok, make up ortu wanita, pengapit&lt;br /&gt;******: dekor kamar, sewa mobil+dekor, 200 undangan, 200 suvenir,&lt;br /&gt;******: apalagi ya&lt;br /&gt;******: trus cecenya punya link ke semua resto dan hotel sby&lt;br /&gt;******: jadi bisa dapet diskon&lt;br /&gt;LM: oh, berarti all yah? pre dan wedding jg semua??&lt;br /&gt;******: o iya, liputan foto by &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;...bla...bla...&lt;/span&gt; , trus dapet foto berapa lembar gitu, liputan handycam juga&lt;br /&gt;******: video itu loh kayaknya&lt;br /&gt;******: pre ndak&lt;br /&gt;******: cuman dia kasih test make up kan&lt;br /&gt;LM: oh, pesta ajah&lt;br /&gt;LM: pre wedding gampang...&lt;br /&gt;******: jadi bisa dipake untuk foto pre&lt;br /&gt;******: nah, kalo misal aku ndak mau ambil paket undagan dia, aku bisa minta dituker item gaun prewed misalnya&lt;br /&gt;LM: itu aja&lt;br /&gt;LM: undangan jg bs diatur&lt;br /&gt;LM: profesional keliatannya&lt;br /&gt;LM:&lt;br /&gt;******: ya, coz sapa tau kami punya rancangan desain dewe&lt;br /&gt;******: apanya yang profesional?&lt;br /&gt;LM: pelayannya kaleee.....&lt;br /&gt;******: pelayannya sapa?&lt;br /&gt;******: aku kok ora mudeng ya&lt;br /&gt;******: udah liat conto2nya &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;...bla...bla...&lt;/span&gt; ?&lt;br /&gt;LM: pelayanan dia... aku udah buka situsnya.... international mutu, itu kali ya yg lebih tepat&lt;br /&gt;******: hmmm...&lt;br /&gt;******: gedungnya kecil&lt;br /&gt;******: ndak apa2lah&lt;br /&gt;******: lebih sakral&lt;br /&gt;LM: pemberkatnnya di **** mana berarti?&lt;br /&gt;******: ****&lt;br /&gt;LM: oke... ajak aku ke satu acara pemberkatan nikah di sana, biar aku tahu gambarnnya&lt;br /&gt;LM: iya, ntar kalo udah dalam tahap prepare, mau lihat acara pemberkatannya sapa gt, mgkn temenmu,... biar aku tahu gambaran acara d sna, buk....&lt;br /&gt;******: ok&lt;br /&gt;******: nanti kamu takajak&lt;br /&gt;******: kalo liat2 wedding, kamu pikirin ide ya&lt;br /&gt;******:&lt;br /&gt;LM: ok&lt;br /&gt;******: aku ndak mau gaun yang mekrok2&lt;br /&gt;******: dan berat&lt;br /&gt;******: simple saja&lt;br /&gt;LM:&lt;br /&gt;LM: yes i know&lt;br /&gt;******: makanya kalo ada referensi gambar gaun yang bagus, let me know it ta&lt;br /&gt;******: ya&lt;br /&gt;LM: i love fashion&lt;br /&gt;******: yup&lt;br /&gt;******: i know it&lt;br /&gt;******: pokoknya yg simpel&lt;br /&gt;LM:&lt;br /&gt;******: dan kayaknya ndak putih meles warnanya&lt;br /&gt;******: agak gading gitu&lt;br /&gt;LM: wah mangkak&lt;br /&gt;LM: km pasti takut kotor&lt;br /&gt;******: ndak yoooo&lt;br /&gt;******: cuman elegan aja&lt;br /&gt;******:&lt;br /&gt;******: tp juga karena kuwatir terlihat kusam&lt;br /&gt;******:&lt;br /&gt;LM:&lt;br /&gt;LM: kusam?&lt;br /&gt;******: betul&lt;br /&gt;LM: maksudnya?&lt;br /&gt;******: misalnya seperti itu saja&lt;br /&gt;******: dan rambutnya ndak mau neko2&lt;br /&gt;******: digelung2, disasak2&lt;br /&gt;******: ato itu&lt;br /&gt;******: wait&lt;br /&gt;******: sdh takkirim barusan&lt;br /&gt;******: loh, di sini punyaku juga kekirim ke kamu&lt;br /&gt;LM: bagus&lt;br /&gt;******: bagus ini karena filenya sudah terkirim ato gaunnya?&lt;br /&gt;LM: aku suka neptuman&lt;br /&gt;LM: tapi mesti tinggi badannya... hehehe....&lt;br /&gt;******: \&lt;br /&gt;******: tp kalo di indo merit pake baju kayak gitu, pasti orang2 kaget&lt;br /&gt;******:&lt;br /&gt;******: too simple&lt;br /&gt;LM: ndak&lt;br /&gt;******: bener?&lt;br /&gt;LM: simple itu glamour,&lt;br /&gt;******: kamu setuju sama aku?&lt;br /&gt;LM: yup&lt;br /&gt;LM: kl km ga PD bs pake tronom&lt;br /&gt;LM: kata &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;...bla...bla...&lt;/span&gt; , tronom bagus siyh&lt;br /&gt;LM: seleraku aneh...hehehe...&lt;br /&gt;LM: km sreg mana lho?&lt;br /&gt;******: leh, kok sampe &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;...bla...bla...&lt;/span&gt; segala tauu??&lt;br /&gt;******: tronomn main di bordir atas&lt;br /&gt;LM: enggak sebut nama kamu&lt;br /&gt;LM: di sebelahku ada mereka&lt;br /&gt;LM: ya tanya aja iseng&lt;br /&gt;LM: iya, gak keri tah?&lt;br /&gt;LM: kainnya mahal Neptumn yah? alus gtuw keliatannya&lt;br /&gt;******: wah, kalo kain2 itu mah bagus semua&lt;br /&gt;******: satin&lt;br /&gt;LM: ceweknya yg Neptumn seksi&lt;br /&gt;LM: gak akyak yg Tronomn ndeso&lt;br /&gt;LM: hahaha.&lt;br /&gt;LM: eh orgnya sama, ya?&lt;br /&gt;LM: berarti make up dan gaunnya yg bikin ndeso&lt;br /&gt;LM: hahahaha&lt;br /&gt;LM:&lt;br /&gt;******: dasaaar&lt;br /&gt;******: itu lebih tertutup&lt;br /&gt;LM: bentar aku bayangkan kamu pakai gaun2 itu&lt;br /&gt;LM: kirim di email ajah&lt;br /&gt;******: jangan ketawa&lt;br /&gt;******:&lt;br /&gt;LM :&lt;br /&gt;LM : imel ajah&lt;br /&gt;LM : mgkn yg neptumn ditambah kaos tangan se pangkal, tapi yg tipis dan simpel, tanpa renda, bs sedikit specil&lt;br /&gt;LM : specail&lt;br /&gt;LM : special&lt;br /&gt;LM : kalung mutiara,yg simpel tp&lt;br /&gt;LM : wis, sip&lt;br /&gt;******: hmm&lt;br /&gt;LM : &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;..bla..bla...bla...&lt;/span&gt; pakai jas warna gading jg&lt;br /&gt;LM : best man? pake tah? kayak &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;...bla...bla...&lt;/span&gt; ya?&lt;br /&gt;LM : &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;...bla...bla...&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;"&gt;LM : di belakang&lt;br /&gt;LM: cute&lt;br /&gt;******: wait aku kirim email&lt;br /&gt;****** : &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;...bla...bla...&lt;/span&gt; ndak di depan ta?&lt;br /&gt;****** : nyambut tamu?&lt;br /&gt;****** : ndak usah pake bestmen lah&lt;br /&gt;****** : pengapit sepasang aja&lt;br /&gt;****** : sama aja ya&lt;br /&gt;****** :&lt;br /&gt;****** : bridesmaid&amp;amp;bestmen&lt;br /&gt;******: tp ndak tau siapa&lt;br /&gt;******: hohoo&lt;br /&gt;LM: ya aku lah&lt;br /&gt;LM: sama pacarku&lt;br /&gt;LM: HAHAHA...........&lt;br /&gt;LM: ndak usah gitu2 ah, repot&lt;br /&gt;******:&lt;br /&gt;******: betul&lt;br /&gt;******: dan mahal sewain bajunya&lt;br /&gt;******:&lt;br /&gt;******: tp kayaknya harus ada 1&lt;br /&gt;******: untuk bantu kalo bajunya nyrimpet2&lt;br /&gt;******: tp kayaknya bram kemaren ndak pake&lt;br /&gt;****** : \&lt;br /&gt;******: kalo gaunku simpel kayaknya ndak usah&lt;br /&gt;LM: betul&lt;br /&gt;******: udah ;liat emailku?&lt;br /&gt;LM: aku suka sabrina barcinom&lt;br /&gt;LM: tp roknya pakai ygneptumn&lt;br /&gt;******: hmm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(...bla...bla... adalah editanku, yang tidak mungkin aku tulis)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;Wow! Panjang bener ya ternyata, chat tentang pernikahan ini. Ini sudah aku edit, padahal. Hem… membicarakan sesuatu ttg “hari bahagia” a.k.a. Pernikahan. Tentu sangat menggembirakan. Hemm… hanya saja, kalau buat aku,… sepertinya belum, yah?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.glittergraphics.us/" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-6558913655489696452?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/6558913655489696452/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=6558913655489696452&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/6558913655489696452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/6558913655489696452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2008/09/chat-tentang-pernikahan.html' title='Chat tentang Pernikahan'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SNI2MXPmIwI/AAAAAAAAAB4/Opt4BFxzgtI/s72-c/Barcinomn.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-2377119279341119058</id><published>2008-09-11T18:56:00.003+07:00</published><updated>2008-09-18T18:13:39.401+07:00</updated><title type='text'>TAK MUDAH</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;"ARTI SAHABAT" - Nidji&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:130%;color:#009900;"&gt;Tak mudah untuk kita hadapi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:130%;color:#009900;"&gt;Perbedaan yang berarti&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:130%;color:#009900;"&gt;Tak mudah untuk kita lewati&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:130%;color:#009900;"&gt;Rintangan silih berganti&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kau masih berdiri&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kita masih di sini&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tunjukkan pada dunia&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Arti sahabat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kau teman sehati&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kita teman sejati&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hadapilan dunia&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Genggam tanganku&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:130%;color:#ff6600;"&gt;Tak mudah untuk kita sadari&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:130%;color:#ff6600;"&gt;Saling mendengarkan hati&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:130%;color:#ff6600;"&gt;Tak mudah untuk kita pahami&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:130%;color:#ff6600;"&gt;Berbagi rasa di hati&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:130%;color:#ff6600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kau adalah..&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tempatku membagi kisahku&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;Kau sempurna&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;Jadi bagian hidupku&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;Apapun kekuranganmu&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Lirik ini mengingatkanku pada NadimS. Lirik yang berwarna &lt;span style="color:#009900;"&gt;hijau&lt;/span&gt;, aku berikan padanya pada kartu hadiahku buatnya. Kuberikan pada NadimS sebelum dia berangkat. Buatku, lirik ini, mengingatkan pada keadaan kami. Tidak mudah buat kami melewati segala perbedaan yang buat kami masing-masing, SULIT.. Namun kami berusaha, saling berusaha.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Lirik berwarna &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;oranye&lt;/span&gt;, adalah sebuah keadaan, yang mulai bisa kami lakukan dan kerjakan. Saling oercaya antar sahabat, saling berbagi perasaan hati.. Hampir-hampir tak ada batas.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Lirik berwarna &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;biru&lt;/span&gt;, dengan style &lt;em&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;miring&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, adalah sebuah harapan dalam lubuk hatiku... Menerima kekurangan-kekurangan sahabatku. Susah sekali buatku. &lt;em&gt;But i know&lt;/em&gt;, begitu pula dengan dia, susah menerima semua kekuranganku. Tapi aku telah melihat dengan mata kepalaku sendiri : terbukti, dia telah melakukannya untukku. Itu yang membuatku bangga punya SAHABAT seperti dia. Karena itulah, aku mau memberikan apa yang dia ingin aku lakukan untuknya.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://i54.photobucket.com/albums/g115/lembayungmalak/Graphic1.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;See : &lt;a href="http://christianpramudia.wordpress.com/2008/09/17/persahabatan-itu-kepercayaan/"&gt;http://christianpramudia.wordpress.com/2008/09/17/persahabatan-itu-kepercayaan/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-2377119279341119058?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/2377119279341119058/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=2377119279341119058&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/2377119279341119058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/2377119279341119058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2008/09/arti-sahabat-nidji-tak-mudah-untuk-kita.html' title='TAK MUDAH'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-9105572803679413385</id><published>2008-09-11T18:49:00.000+07:00</published><updated>2008-09-11T18:56:09.109+07:00</updated><title type='text'>I know what I feel</title><content type='html'>Beberapa hari ini, aku sedang merasakan sesuatu yang tidak nyaman, sebelum aku tidur. Biasanya, aku selalu langsung terlelap, ketika sudah meluncur di atas ranjangku. Ada sesuatu yang aku rasakan. Masalah? Aku sedang tidak mengalaminya. Apakah aku sedang merindukan NadimS? Tidak juga. Aku sudah menyadari sebuah realitas; persahabatan ada kalanya berubah keadaannya (artikel yang aku posting sebelumnya). Tapi memang sebenarnya aku sedang memikirkan NadimS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, I know what I feel. NadimS sedang mengalami suatu penyesuaian. Mungkin ini sulit buatnya, tinggal jauh di sana dan menerima banyak hal baru. Mungkin juga dia sedang mengalami sesuatu yang tidak nyaman. Entahlah. Aku tidak mengetahui dengan jelas. Bukan dia yang menceritakannya. Bunda NadimS yang yang bercerita. Sekarang aku tahu, kegelisahanku beberapa hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aku terlalu sensitif. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan orang-orang terdekatku (setidaknya beberapa kali terbukti).&lt;br /&gt;Semangat, NadimS!&lt;br /&gt;Aku akan memberikan waktuku untuk hal yang sedang kamu percayakan sama aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Sebenarnya, aku sedang merindukan keberadaannya, di tempat kerja. Siang ini, sesuatu yang tidak pernah terjadi, aku alami. Aku berhalusinasi, NadimS sedang berbicara padaku, dengan tawa jahilnya, padahal aku sedang berbicara dengan sobat kentalku. Oh, NO!)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.glittergraphics.us/" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-9105572803679413385?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/9105572803679413385/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=9105572803679413385&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/9105572803679413385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/9105572803679413385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2008/09/i-know-what-i-feel.html' title='I know what I feel'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-2024394023962778555</id><published>2008-09-11T17:40:00.003+07:00</published><updated>2008-09-12T13:57:56.236+07:00</updated><title type='text'>Time to say goodbye</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;Artikel ini disalin dari :&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;a href="http://desiyoanita.blogspot.com/2008/09/time-to-say-goodbye.html"&gt;http://desiyoanita.blogspot.com/2008/09/time-to-say-goodbye.html&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Wednesday, September 3, 2008&lt;br /&gt;&lt;a name="4501959755370140597"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;We've been best friends for more than 8 years...Close friends...Nggak ada rahasia, nggak ada yang ditutup-tutupi...Saling curhat, saling ejek, saling dukung, saling hibur...Tapi, selalu ada saat untuk berpisah, tak bisa terhindarkan...Yah, kadang mikir juga...kenapa ya kita kok nggak bisa selamanya jadi anak-anak?Tertawa bareng, nangis bareng, konyol-konyolan bareng...But this is life...kalau sudah dewasa...semua orang harus menentukan pilihannya masing-masing, dan menjalani hidupnya sendiri-sendiri...We're still friends...but, I think everthing will never be the same...&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;As we go on...&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244714287132931090" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SMj320D5dBI/AAAAAAAAAAM/zRSwz5UZMIE/s400/Picture_118+2.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;we remember...&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3Gix00VlgfA/SL3pcLMabPI/AAAAAAAAALM/h7vFt-b49Xw/s1600-h/Hehe..andhika+mana+%C2%A5aa.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244715151720644466" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SMj4pI5q_3I/AAAAAAAAAAU/FhyGvVGCjjc/s400/Hehe__andhika%2Bmana%2B%25C2%25A5aa.jpg" border="0" /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;all the times we had together...&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3Gix00VlgfA/SL3m7HayVoI/AAAAAAAAAK8/Eojr1ShG8GE/s1600-h/DSC01653_resize.jpg"&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244715468733979794" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SMj47l3inJI/AAAAAAAAAAc/4x1cFFzkwpw/s400/DSC01653_resize.jpg" border="0" /&gt; &lt;div align="center"&gt;And as our lives change...&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3Gix00VlgfA/SL3mNPzn9HI/AAAAAAAAAK0/rIgW0AP5Qlk/s1600-h/Save+our+Smile.jpg"&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244715749584121874" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SMj5L8HbsBI/AAAAAAAAAAk/TfkjL1-TzFs/s400/Save_our_Smile.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;come whatever... &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244715860803241122" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SMj5SacIxKI/AAAAAAAAAAs/sc68AWywhjU/s400/27%3D12%2B15.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3Gix00VlgfA/SL3lvUm8dnI/AAAAAAAAAKs/4-kW_jjrlMs/s1600-h/27%3D12%2B15.jpg"&gt;&lt;/a&gt;We will still be....&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3Gix00VlgfA/SL4AUCzw0WI/AAAAAAAAALU/Zy8oYHtgbLw/s1600-h/nita.jpg"&gt;&lt;/a&gt;FRIENDS FOREVER... &lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244716604304106002" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SMj59sMjohI/AAAAAAAAAA0/SFc_Z6r0KKc/s400/nita.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;- dedicated to someone who call his name: 'orang yang lahir 1000 tahun sekali'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;Salah satu komentar di blog sister -berkaitan dengan tulisan ini, mengusik-ku untuk menuliskan sesuatu:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;komentarnya: &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="c1181990796429793491"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/profile/03060430579508158698" rel="nofollow"&gt;Valen-CIA&lt;/a&gt; said...&lt;br /&gt;mmm masa everything never feel the same sih miss?menurutku...untuk orang-orang tertentu (a.k.a sobat spesial yang udah dekeett buanget)di sekitar kita...kadang jarak, kondisi, dan waktu yang memisahkan itu gak bakal buat mereka berubah...karena kita ngertii banget...untuk orang-orang seperti mereka...they will be still the same...hihihi.... ini menurutku sih miss..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;KOMENTARKU:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;hem.... menanggapi Valencia, segala sesuatu BISA BERUBAH, maksudnya bukan perasaan kita sama sobat kita, tapi "keadaan" yang lagi terjadi. Setiap sahabat akan meninggalkan sahabatnya untuk bertunangan, menikah, berkeluarga... Maka akan ada ruang2 privasi lain yang tidak bisa ditembus oleh sahabatnya itu. Ruang privasi lainnya adalah "Waktu". Ini SANGAT BISA BERUBAH. Setiap sahabat akan punya prioritas waktu untuk orang2 yg akan jadi prioritas hidupnya (pasangan hidup / keluarga), dan tentu waktu bersama sahabat akan menjadi sangat terbatas. Namun inilah waktu, inilah dunia.... Bisa berubah, bisa bergeser, HANYA SAJA, CINTA KASIH kita sama sahabat, itu yang enggak boleh berubah... HEHEHE... Selagi punya waktu dengan sahabatmu, pergunakanlah itu dg baik... Pasti akan ada waktu untuk tidak bersama lagi.... dan saat itulah, kita mesti SIAP=) But, at least, sedikit pun waktu bersama SAHABAT, Marilah kita tetap mengasihi sahabat kita, dengan perasaan yg tidak luntur. Seperti yg udah dicontohin sama TUHAN. DIAlah SAHABAT TERBAIK kita...yg menerima kita apa adanya...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;Jawabanku ini adalah sebuah kesimpulan dari semua pemikiranku selama ini yg sudah dijawab TUHAN. Aku sudah tidak lagi merasa sendiri, aku sudah tidak lagii ditinggalkan sahabatku. Segala sesuatu ada waktu dan segala sesuatu ada prioritasnya. I know that.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;I Love NadimN &amp;amp; NadimS.... &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;and I know, they love me, too....&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-2024394023962778555?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/2024394023962778555/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=2024394023962778555&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/2024394023962778555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/2024394023962778555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2008/09/time-to-say-goodbye.html' title='Time to say goodbye'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_we0yf154gZA/SMj320D5dBI/AAAAAAAAAAM/zRSwz5UZMIE/s72-c/Picture_118+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-6311707538540435092</id><published>2008-08-30T09:41:00.000+07:00</published><updated>2008-08-30T09:48:03.580+07:00</updated><title type='text'>JUNO</title><content type='html'>wow! aku tidak bisa berkata apa-apa.&lt;br /&gt;Setelah aku menunggu film ini diputar di kota-ku, akhirnya diputar juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simple, keren, bagus. Film ini adalah pemenang original screenplay academy award...&lt;br /&gt;Wow! aku ingin menulis film seperti ini.&lt;br /&gt;Menggugah, membuat orang berpikir, Mmeuat orang mearsa bersalah, membuat orang memiirkan solusinya.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keren!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-6311707538540435092?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/6311707538540435092/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=6311707538540435092&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/6311707538540435092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/6311707538540435092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2008/08/juno.html' title='JUNO'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-5099293138175219322</id><published>2008-03-18T21:18:00.000+07:00</published><updated>2008-03-18T21:22:23.180+07:00</updated><title type='text'>Seseorang menuliskan ini :</title><content type='html'>Aku kehilangan 2 sahabatku...........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terlalu sibuk dengan pasangan mereka dan melupakan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NO COMMENT, dah.....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-5099293138175219322?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/5099293138175219322/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=5099293138175219322&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/5099293138175219322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/5099293138175219322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2008/03/seseorang-menuliskan-ini.html' title='Seseorang menuliskan ini :'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-6088561415436754953</id><published>2007-12-29T18:44:00.003+07:00</published><updated>2007-12-30T22:26:45.857+07:00</updated><title type='text'>Aku SUDAH TAHU HARAPANKU</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Baru saja aku beribadah. Sang KHALIK mengingatkan sesuatu yang harus aku lakukan tahun depan. Sekarang aku tahu ada harapan buatku untuk tetap bertahan....dalam kesendirian, dalam rasa kepedihanku karena sahabat-sahabatku meninggalkanku,......&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;color:#ff9900;"&gt;Aku tahu Sang KHALIK tetap mencintaiku.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;color:#ff9900;"&gt;Aku tahu perjalanan hidupKU tahun 2008 akan tetap indah.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;Ada satu rahasia buatmu juga, kalau kita ingin hidup kita selalu bahagia, kita harus perbaiki pola hidup kita. Bagaimana?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:180%;color:#ff9900;"&gt;"dengan selalu punya hikmat"&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:180%;color:#ff9900;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;color:#cc33cc;"&gt;bagaimana mendapatkannya?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:180%;color:#33cc00;"&gt;DENGAN TAKUT AKAN TUHAN, SANG PENCIPTA KITA&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:180%;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:180%;color:#ff6600;"&gt;Takut akan Tuhan, menjadi sebuah harapan yang harus aku lakukan..... termasuk selalu bersyukur.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:180%;color:#ff6600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;color:#ff6600;"&gt;Bersyukur walau tidak ada lagi "nadimS" dan "nadimN" yang dulu selalu ada buat aku...&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;color:#ff6600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;color:#ff6600;"&gt;"Ajar aku selalu bersyukur, ya, KHALIK....."&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-6088561415436754953?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/6088561415436754953/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=6088561415436754953&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/6088561415436754953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/6088561415436754953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2007/12/aku-sudah-tahu-harapanku.html' title='Aku SUDAH TAHU HARAPANKU'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-1158722226868049121</id><published>2007-12-29T18:44:00.002+07:00</published><updated>2007-12-30T17:13:34.977+07:00</updated><title type='text'>New YEAR, NEW HOPE (maybe...)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;Setiap malam tahun baru, dulu aku selalu menantikannya. Dulu. Maksudku tahun lalu, dua tahun lalu, tiga tahun lalu empat atau 5 tahun lalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;Aku pikir, aku akan menghabiskan pergantian malam tahun baru dnegan sahabat-sahabatku. Sesuatu yang mengasyikkan. Menyenangkan. Paling aku nantikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;Kalau tahun ini? Enggak deh, kayaknya. Aku tahu mereka sudah bersama calon istri atau suami mereka. Ternyata benar ["mungkin" - aku selalu senang menulis "mungkin", bukan tidak realistis tapi aku selalu berharap, kehilangan sahabat-sahabatku hanya sebuah mimpi buruk, yang langsung hilang waktu aku bangun], artikel sebelumnya aku sendiri yang menulis - mungkin [Iya, kan? Aku selalu ingin menambahkan ini].&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;Aku sendirian. tetap sendirian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;Walaupun beberapa hal akhir-akhir ini sedikit menghiburkanku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;Selain 2 sahabatku, 'nadimN' dan 'nadimS [yang sekarang "mungkin" - sedang meninggalkanku. "mingkin" - "mungkin" - "mungkin"], aku juga punya kawan-kawan karib di kampus. Kami berjuang bersama, mengerjakan paper, mengerjakan tugas bikin film, tugas bikin majalah, tugas bikin acara TV, seabrek tugas lain, begadang bareng sampai belanja buku referensi skripsi, dan wisuda barengan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;Sejak kami lulus, susah banget kumpul semuanya. Tapi waktu lalu, di sore hari yang tidak direncanakan, kami nonton bareng-bareng,..... dan semuanya bisa dateng. Keren. Seneng. Waktu makan di 'foodcourt' tanpa sadar aku memandangi wajah mereka satu-satu dan aku merasa bersyukur atas keadaan ini. Aku punya kawan-kawan yang menyenangkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;Fiuh....Tahun baru nanti kami akan bersama-sama. Ini yang aku nantikan. Aku lebih menunggu saat-saat ini....dan aku tidak terlalu tertarik lagi, memikirkan kata-kata untuk kirim SMS ke 'nadimN' atau 'nadimS' - karena mereka sudah punya orang yang paling [LEBIH] mengerti mereka daripada mereka, karena mereka akan menghabiskan hidup dengan pasangan mereka. Apalagi menghabiskan malam pergantian tahun dengan mereka.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;Ah, TAHUN BARU. 2008. Harapan apa yang lagi yang ingin aku capai?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;Bikin film sama Nia DiNata [seorang yang sangat aku kagumi]. Kayaknya enggak bisa tahun ini, deh... Selain, kenal aja neggak, aku juga udah terikat kontrak dengan perusahaan dan mengikat satu komitmen pekerjaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;Tahun 2008. Harapan apa ya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;Mungkin enggak?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-1158722226868049121?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/1158722226868049121/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=1158722226868049121&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/1158722226868049121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/1158722226868049121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2007/12/new-year-new-hope-maybe.html' title='New YEAR, NEW HOPE (maybe...)'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-5902246994836454180</id><published>2007-12-29T18:44:00.000+07:00</published><updated>2007-12-29T20:44:48.067+07:00</updated><title type='text'>Bersyukur (Tetap Bisakah?)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(Sebuah Catatan seorang Pribadi)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seorang pribadi menulis begini :&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kebahagiaan di dapat bila kita mau bersyukur...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;dan hal ini yang menjadi sebuah pemikiranku yang mendalam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aku tahu, kalau aku mau bahagia... Aku harus bersyukur... HARUS SELALU bersyukur untuk setiap yang aku punyai dan diberikan PENCIPTA kepadaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tapi saat ini, Setiap malam, aku selalu merenungi sebuah pertautan batin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aku sekarang benar-benar sendirian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aku entah gagal atau belum gagal, tidak lagi mendapatkan sebuah romansa yang disebut cinta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tak ada lagi dewi-dewi kehidupan yang mau merajutkan sutra demi kebahagiaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aku tahu, aku tidak boleh merasa begini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namun sisi melankolis yang ada dalam pribadiku sedang mengalir deras....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aku orang yang mencintai sahabat-sahabatku. Aku mengasihi mereka seperti mengasihi saudaraku. Aku menganggap mereka sama seperti anak yang dilahirkan sendiri oleh rahim ibuku. Dan selalu ada ketakutan bahwa aku akan kehilangan mereka. Aku tidak mau kehilangan mereka....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tapi kenyataannya sekarang aku benar-benar kehilangan mereka. Aku kehilangan mereka...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Satu bahkan terang-terangan mengatakan : "....Sudah saatnya kamu berdiri dengan kakimu sendiri...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aku benci itu... Dia mengatakan itu karena dia enggak pengen lagi aku dekat-dekat dia (mungkin). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dia sudah punya calon istri yang setiap hari selalu ia datangi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dia melupakan sesuatu yang pernah ia katakan,... bahwa sekali-kali dia tidak akan pernah meninggalkan kawan-kawan karibnya hanya karena seorang kekasih. Aku ingat betul, saat ia mengucapkan hal itu.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tapi itu hanya sebuah janji seirang sahabat, yang seorang manusia. Bisa ingkar, bisa diperbaiki, bisa di "rename" bahkan dengan satu shortcut bisa di "Shift Delete".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aku benar-benar telah kehilangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;PENCIPTA, PENCIPTA,.... kembalikan sahabat-sahabatku.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aku tidak punya 2 orang itu lagi....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Betapa aku mengasihi mereka berdua... Mereka boleh punya calon istri atau calon suami,...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;aku boleh belum mendapatkan calon istri atau tidak mendapatkan pun aku rela, tapi jangan ambil kedua sahabatku dariku.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;PENCIPTA. PENCIPTA dengarlah aku.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Satu Catatan untuk pribadi ini :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tetap bersyukur, meski sulit...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;PENCIPTA-lah sahabat sejatimu, tidak pernah ingkar janji, tulus, cinta mesra sejati, cintaNYA tidak pernah di "rename" bahkan di "shift delete" lalu di "recycle empty" pun - enggak bisa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Satu catatan untuk-ku,... :&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ehm ITU SULIT, sih... PENUH PERJUANGAN... Karna aku sama dengan apa yg dia alami. PERSIS. Atau bahkan itu Aku sendiri yang menulis?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Oh, TIDAK!!!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-5902246994836454180?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/5902246994836454180/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=5902246994836454180&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/5902246994836454180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/5902246994836454180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2007/12/bersyukur-tetap-bisakah.html' title='Bersyukur (Tetap Bisakah?)'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-1938119417119898712</id><published>2007-07-21T14:19:00.000+07:00</published><updated>2007-07-21T14:54:30.491+07:00</updated><title type='text'>(masih) Sendirian Sekarang, tapi Harus TETAP BERTAHAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;".............&lt;br /&gt;peganglah tangankuuu....&lt;br /&gt;jangan lepaskan....&lt;br /&gt;pertolonganku datang dariMU.....&lt;br /&gt;........"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lagu ini sekarang lagi terngiang terus di telinga dan terutama di hatiku....&lt;br /&gt;kemarin aku melihat dg mata kepalaku sendiri, bapak-bapak tua sakit stroke, tangannya bisa diangkat tinggi-tinggi, oma yang kakinya susah berjalan karena kecelakaan bisa berjalan normal, seorang bapak yang sesak nafas karena jantung koroner bisa bernafas lega dan banyak lagi orang sakit jasmani menjadi sembuh. Mujizat Tuhan yang luar biasa yang diijinkan untuk aku lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hari ini, aku merasa menjadi bagian dari mereka. Mungkin aku tidak sakit fisik, mungkin aku tidak menderita kelumpuhan, ketidaknormalan-fisik -seperti yang aku lihat kemarin, sampai membuat aku meneteskan air mata, tidak konsen dengan kegiatan reportaseku--&lt;br /&gt;tapi aku merasa lemah batinku, karena kesepian yang mendalam..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak memiliki waktu bersama sahabat-sahabatku lagi. ketawa bareng mereka, sedih bersama mereka, diejek mereka, dicela, disakiti, bahkan, aku merindukan itu. Aku sudah tidak punya lagi perasaan senang, bangga bahkan marah pada mereka sekarang. Hubunganku bahkan baik-baik saja. tapi hanya "baik-baik saja" - Namun kami tidak saling dekat lagi. Tidak dg kontak fisik dan kontak hati serta pikiran yang mendalam. Hanya tegur sapa, ngobrol beberapa jam, telepon dan SMS saja. thatZ it.&lt;br /&gt;Mereka kini hanya punya waktu yang lebih untuk calon pasangan hidup mereka. Mempersiapkan hidup mereka di masa mendatang, menyelesaikan kuliah, pekerjaan, menyatukan keluarga dengan keluarga pasangan, membentuk keluarga bersama calon pendamping hidup, untuk bertunangan, untuk menikah, merancangkan biaya membangun rumah, membesarkan anak, mendidik mereka, sekolah di mana dan hal-hal apa saja yang butuh disiapkan dengan calon pendamping hidup mereka dan keluarga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara aku, masih dg mimpi-mimpiku, membuat film yang suatu hari nanti (entah bisa atau tidak tercapai, aku hanya bisa yakin dan berusaha) yang bisa memenangkan OSCAR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah tiba-tiba, aku melelehkan kristial-kristal kesedihan dari 2 bola mataku sekarang, saat aku menuliskan ini.&lt;br /&gt;Aku merindukan mereka semua. Aku mau nonton bareng merka, berkhayal, kalo kami yang main film itu, makan nasi goreng atau masakan Jepang, saling mengejek dan aku tersinggung, tapi kemudian kami baikan lagi. Ketawa bareng lagi, mengejek lagi, marah lagi dan baikan lagi. Kami bisa mengasihi satu sama lain, menegur satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi, ya... sudah.....&lt;br /&gt;semua ada waktunya. kupikir semua waktu itu cukup. Sekarang saatnya mereka dengan calon-calon pasangan hidup mereka....dan sekarang saatnya aku (masih) dengan mimpi-mimpiku yang dulu, dan (masih) dengan kesendirianku. Aku menghargai waktu-waktu yang lalu itu. Meski aku menangis, tapi, aku masih juga tetap dengan kesendirianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi satu hal,...aku merindukan waktu itu....dan aku tidak mau gara-gara kalian membaca ini, kalian kemudian mendekatiku lagi, mengajak hang-out karena aku sedih dalam kesendirianku... Tidak.&lt;br /&gt;Aku akan berusaha baik-baik saja. Karena bagaimanapun, kita dalam kondisi dan tujuan hidup yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian tetaplah bersama orang-orang yang kalian cintai, dan aku akan bersama (hanya dengan) mimpi-mimpiku yang kucintai dan suatu saat nanti aku ingin wujudkan itu. Jika itu sudah tercapai, satu kali saja, cukup dan aku ingin segera menutup mataku di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;".............&lt;br /&gt;peganglah tangankuuu....&lt;br /&gt;jangan lepaskan....&lt;br /&gt;pertolonganku datang dariMU.....&lt;br /&gt;........"&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-1938119417119898712?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/1938119417119898712/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=1938119417119898712&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/1938119417119898712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/1938119417119898712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2007/07/masih-sendirian-sekarang-tapi-harus.html' title='(masih) Sendirian Sekarang, tapi Harus TETAP BERTAHAN'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-132094951241570345</id><published>2007-05-12T17:16:00.000+07:00</published><updated>2007-05-12T17:30:26.515+07:00</updated><title type='text'>LONG ROAD TO HEAVEN:</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Saatnya Manusia Saling Mencintai Sesamanya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;25 januari 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;AKU TIDAK HABIS PIKIR. Uhm. Mulutku terus bergumamm. Ternyata begitu ya, jalan pikir mereka… tapi kenapa bisa begitu ya? Apa mereka tidak bisa melihat sebuah sisi yang lain, yang tidak egois? (setidaknya menurutku)...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perjalanan menuju surga. Ini sebuah film dari sebuah peristiwa (menurutku tragis, memilukan dan memalukan) yang pasti sangat dikenal seantero dunia. Peristiwa bom Bali. Sebuah ‘shortcut’ masuk ke surga. Film ini (mungkin) bisa jadi sebuah jawaban atas pertanyaan orang-orang seperti aku ; yang tidak terlalu mengikuti siapa saja yang yang bertanggung jawab atas tindakan pengeboman ini, yang tidak mengikuti detil peristiwa seperti yang diberitakan media massa. Long Road to Heaven sedikit banyak membuat aku tahu detil siapa-siapa saja yang terlibat di dalamnya dan alasan-alasan mereka melakukan pengeboman, termasuk pemilihan Bali sebagai target sasaran. Meski begitu aku masih belum mengerti benar alasan mereka merelakan tanah airnya untuk ‘memusnahkan kaum kafir’ (meminjam istilah Amrozi di film ini). Namun, ya, sudahlah. Anggap saja itu bisa menjadi sebuah penyesalan yang mendalam bagi bangsa ini. Setidaknya aku tahu beberapa latar belakang yang berkaitan dengan runut kisah sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinematografi film ini cukup membuat aku gemetar pula, diikuti dengan musik dan suara-suara tabuh gendang tradisional. Alurnya dibuat cukup menarik. Tidak maju ke depan, namun disesuaikan dengan suasana yang bisa mempengaruhi kondisi psikis penonton. Cukup apik, meski bukan yang spesial sekali (menurutku). Dialog-dialog para antagonis sempat membuatku dongkol karena begitu berkarakter (mungkin karena mewakili). Begitu pula tokoh-tokoh yang sengaja diciptakan sebagai porsi keseimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa saja yang ingin tahu peristiwa bom Bali, lebih baik tinggal duduk diam dan menonton film ini. Anda akan mendapatkan bonus sinematografi dan sound yang berkualitas, jauh dari film terbaik FFI 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buatku, seharusnya film yang diangkat dari kisah nyata ini tidak perlu dibuat lagi – karena memang tidak perlu peristiwa nyatanya terjadi lagi. Saatnya manusia-manusia saling mencintai sesamanya, tidak mendahulukan kepentingannya sendiri. Ini pesan yang tertangkap dibenakku dari film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-132094951241570345?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/132094951241570345/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=132094951241570345&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/132094951241570345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/132094951241570345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2007/05/long-road-to-heaven.html' title='LONG ROAD TO HEAVEN:'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-5702120212531125616</id><published>2007-05-12T17:14:00.000+07:00</published><updated>2007-05-12T17:15:45.343+07:00</updated><title type='text'>This Our Exile:</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Terkadang Kita Harus Mengerti Orang Tua Kita&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(directed by Patrick Tam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23 januari 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MATAKU terpana, pikiranku melayang penuh tanya ketika credit tittle film ini diiringi theme song mulai mengalun. Kurang lebih sekitar 2 jam aku mengikuti alur cerita film ini dan banyak hal pesan moral yang aku dapatkan. Jujur, film ini menginspirasi dan menengur hati. Selain dibarengi dengan sinematografi yang apik cenderung human interest.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah keluarga kecil yang terdiri atas ayah, mama dan anak seusia (kira-kira) SD kelas 5 terasa kacau menurutku. Film diawali dengan percobaan melarikan diri seornag mama ini –pergi meninggalkan keluarganya tetapi kemudian suaminya menyeret dia kembali pulang. Tentu saja sang suami sangat bingung dengan sikap istrinya ini. Mengapa ia begitu tega meninggalkan dia dan anak yang dia cintai?&lt;br /&gt;Sang istri mengemukakakan alasan, bahwa ia merasa tidak dicintai karena sang suami tidak selalu ada disampingnya. Sang suami pun membela diri bahwa ia bekerja untuk dia dan anaknya. Sang istri menimpali lagi  bahwa ia tidak menerima penuh gaji suaminya yang bekerja sebagai koki sebuah restoran itu karena sebagian dibuatnya judi, sehingga sang istri harus bekerja keras juga untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang suami putus asa. Ia mati-matian meyakinkan sang istri bahwa ia begitu mencintai dia dan berjanji tidak berjudi lagi dan meyakinkan bahwa ia akan menyediakan waktu buat keluarga. Sang istri sudah tidak bisa percaya lagi kepadanya. Sang suami sampai berniat membuktikan cintanya dengan memotong jemarinya. Untung saja itu tidak sampai terjadi sang suami memeluk istrinya penuh cinta. Ia bertanya apakah hati istrinya itu telah berpaling kepada pria lain sehingga ia berniat pergi. Sang istri mengelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, ternyata benar. Sang istri pergi juga meninggalkan keluarganya karena pria lain. Sang suami marah dan cinta itu menjadi kebencian. Korban dari ini lagi-lagi adalah anak mereka. Anak itu menangis dan merengek pada Papanya untuk mencari Mamanya. Namun sang Papa tidak measa perlu lagi melakukan itu karena bagi dia Mamanya sudah tidak cinta lagi kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup Papa dan anak ini menjadi tidak karuan. Hutang yang banyak membuat mereka harus pergi mengasingkan diri. Penderitaan demi penderitaan harus mereka alami. Kesulitan ekonomi dan berbagai tekanan membuat kondisi mereka terpuruk. Ketika pada titik tersulit inipun sang Papa bukannya tetap hidup di jalan yang benar namun ia tetap ‘bandel’. Sang Papa pergi berkencan dengan wanita lain dan tidak kunjung mencari pekerjaan. Anak ini mengalami tekanan batin yang sangat. Ia sampai berhenti sekolah dan terpaksa mencuri jam tangan milik orang tua teman sekolahnya. Anak ini terus murung dan mencari keberadaan mamanya. Pada satu kesempatan ia bertemu mamanya dengan kondisi yang jauh berbeda : berkecukupan dan tinggal di tempat yang nyaman. Anak ini lantas tidak senang begitu saja dan tinggal dengan mamanya karena ia tahu mamanya sudah menikah lagi dan sekarang telah mengandung seorang anak dengan pria lain. Ia kembali pada Papanya dengan perasaan kecewa sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali bersama papa bukan berarti bahagia pula. Ia selalu berada pada posisi sulit. Sampai suatu kali papanya benar-benar akan mendapat pekerjaan di tempat yang jauh. Tanpa menginformasikan pada anaknya ia berniat pergi dan meninggalkan anaknya sendirian di penginapan. Niat itu gagal karena ia bertemu penagih utang dan ia dipukul sampai babak belur karena tidak dapat membayar hutangnya. Sang papa kembali ke penginapan dan anak itu merawat papanya penuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi sulit terus menimpa. Sang papa terpaksa menyuruh anaknya ini mencuri di rumah tetangga, rumah teman dan rumah orang tak dikenal. Mereka gagal mendapatkan uang. Korban kali ini lagi-lagi anak yang berusaha mengerti orang tuanya ini. Ia dipukul babak belur oleh pemilik rumah dan masuk ke penjara. Dalam kondisi sulit ini, ia tidak melihat snag Papa berada di sampingnya. Ia menjadi marah. Ketika sang papa membesuknya di penjara dan meminta maaf, ia bahkan makin memuncak kemarahannya sampai melukai ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir cerita, snag anak sudah dewasa dan keluar dari penjara. Ia tidak terlihat dendam lagi. Ia bahkan dengan antusias mencari papanya. Ia ingin memeluk erat Papanya. Tetapi ia tidak mendapati papanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Point yang aku dapatkan : seharusnya sang anak merasa dendam dan tidak mau lagi bertemu orang tuanya itu. Ia tidak memilih itu. Ia mengasihi orang tuanya dan mencoba mengerti. Ia ingin papanya kembali hidup di jalan yang benar. Terkadang aku selalu ingin dimengerti oleh orangtuaku…dan terkadang terlambat untuk mengerti apa yang ada di benak mereka. Film ini menjelaskan sisi kehidupan lain ada seorang anak tetap mengasihi orangtuanya bahkan ketika ia tidak pernah dapat kasih sayang yang cukup ia rasakan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-5702120212531125616?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/5702120212531125616/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=5702120212531125616&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/5702120212531125616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/5702120212531125616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2007/05/this-our-exile.html' title='This Our Exile:'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-5311973494306849765</id><published>2007-05-12T17:08:00.000+07:00</published><updated>2007-05-12T17:13:20.477+07:00</updated><title type='text'>pembunuh.itu.diampuni</title><content type='html'>8.januari.2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBUAH acara bincang-bincang di sebuah stasiun televisi membuat aku menghentikan tangan memindah-mindah chanel tv.&lt;br /&gt;Aku tertarik dengan tema yang tertera, kalau tidak salah ; “Saat Buah Hati Pergi”. Romeo, seorang bapak, berusia kira-kira 40 sampai 50 tahun, menceritakan runtun kisah ketika anaknya dmamanuh oleh temannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anaknya itu bernama Marco. Baru saja pulang dari Australia setelah satu setengah tahun sekolah di sana. Ia lmamaran di Indonesia, rencananya satu setengah bulan. Namun satu minggu sebelum ia kembali ke Australia, ia harus pergi untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu sebelum Marco pulang, ia sedang reuni dengan kawan-kawan SD-nya. Sejak saat itu, kawan-kawannya sering main ke rumahnya; basket dan playstation. Termasuk di antara kawan-kawan itu adalah kawan yang membunuh Marco. Setelah beberapa hari, ia pun sudah terbiasa main ke rumah Marco.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai satu hari, ia main ke rumah Marco sendirian. Orang tua Marco sedang menghadiri acara makan malam. Adik Marco, Melisa, sedang mendengarkan discman di kamar atas. Pembantu rumah tangga sedang menyiapkan makanan di dapur. Tiba-tiba, entah kenapa, teman Marco yang kabarnya pengguna narkotik ini menusukkan pisau (yang sudah disisapkan dari rumah-) ke leher Marco. Ia pun pergi ke dapur, memukul kepala pembantu dengan botol, mengikat dan menguncinya di dalam kamar. Ia naik ke atas, ke kamar Marco, yang berhadapan dengan kamar Melisa. Ia mengganti bajunya yang berlumuran darah itu dengan baju bersih Marco. Ia mengambil handphone Marco dan entah yang lainnya. Lalu ia pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembantu Marco berhasil melepaskan diri, ia menghampiri Melisa dan mendapati Marco sudah terkapar. Mereka menelpon Bapak dan Mama Romeo. Orang tua Marco dan Melisa ini kemudian segera pulang. Di dalam perjalanan, Bapak Romeo sudah merasakan kalau anaknya, Marco telah pergi untuk selama-lamanya. Ia menggenggam erat tangan istrinya dan menyerahkan dengan ikhlas kepada Tuhan, anaknya ini. Ia menganggap bahwa anaknya ini adalah titipan Tuhan, ketika Marco harus pulang kembali, ia tidak bisa berbuat apa-apa, maka ia merelakannya dengan tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang tidak akan pernah aku lupa, kalimat bapak Romeo ini.&lt;br /&gt;Siapapun pembunuh anak kita ini, kita harus mengampuni. Marco sudah tidak ada dan tidak ada cara untuk mengembalikan dia hidup kembali., maka kita mengampuni dia dan merelakan Marco pergi. Selama dia hidup kita sudah berusaha memberikan yang terbaik kepadanya, maka sekarang kita fokus pada yang masih hidup saja, yaitu Melisa, adik Marco. Kita berusaha berikan yang terbaik kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kawan-kawan, famili dan handai taulan menangisi Marco, tapi bapak Romeo tetap tegar dan merelakan kepergian Marco tanpa dendam apaun pada pembunuhnya. Ia bahkan tidak pernah bertemu dengan pembunuh anaknya ini, karena dia pikir, ia sudah mengampuni dan menganggap sudah selesai. Ia tahu pembunuh anaknya ini seusia dengan Marco. Ia tahu ia sedang melakukan keslaahan besar, namuan ia punya harapan bahwa suatu saat nanti, pembunuh itu akan berubah dan menjadi orang yang lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, stasiun televisi ini menanyangkan kawan Marco yang membunuh anaknya ini. Ia penuh isak tangis meminta maaf dnean sungguh-sungguh kepada orang tua Marco. Ia telah mendapat hukuman 12 tahun penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow! Pembunuh itu diampuni, dan ia meminta maaf.&lt;br /&gt;Itulah yang namanya cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya terdiam. Bisakah aku memiliki hati setegar itu?&lt;br /&gt;Bisakah ajaran cinta kasih semacam itu aku realisasikan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-5311973494306849765?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/5311973494306849765/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=5311973494306849765&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/5311973494306849765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/5311973494306849765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2007/05/pembunuhitudiampuni.html' title='pembunuh.itu.diampuni'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-116711215739836369</id><published>2006-12-26T12:48:00.000+07:00</published><updated>2006-12-26T12:51:48.016+07:00</updated><title type='text'>ISA ALMASIH ITU UNTUK SEMUA ORANG</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;HAWA dingin tidak lagi menusuk di kulit. Hujan deras juga tidak lagi membasahi ..apa itu rintik bahkan deras bergelimang. Indonesia, negeri yang di sini aku nyaman tinggal. Pertama kali aku membuka mata di dunia, pertama kali aku menginjakkan kaki, pertama kali aku mengenal belajar bahkan pertama kali aku mengenal dosa. Aku selalu merasakan tenang tinggal di Ibu pertiwi ini...termasuk di bulan terakhir tahun 2006.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Tahun ini tahun paling berat bagi Ibu pertiwi...berbagai bencana dan derasnya tangisan turut menjadi hiasan yang tidak elok. Ketika umat Nasrani merayakan kelahiran seorang suci yang mereka sebut sebagai juruselamat, hujan di kota Surabaya pun jarang menyapa. Aku pikir, Natal tidak identik dengan hujan deras, hawa dingin atau bahkan salju yang tidak mungkin pernah jatuh di tanah Ibu pertiwi.&lt;/span&gt; Natal bukan perayaan pesta pora. Aku pikir bahkan secara ekstrem ; NATAL BUKAN SINTERKLAS atau KADO DI DALAM KAOS KAKI. Aku tahu, Natal itu peringatan lahirnya Isa, yang disebut Mesias...yang aku rasa, Isa itu lahir bukan cuman buat orang Kristen atau Katholik. ISA LAHIR KE DUNIA, BUAT ORANG YAHUDI, BUAT ORANG ARAB, BUAT ORANG AFRIKA, ORANG AMERIKA, EROPA, MEKSIKO, ISA LAHIR JUGA BUAT ORANG INDONESIA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia, sebuah negeri Ibu pertiwi yang sedang menangis karena tsunami, karena longsor, karena banjir, karena kebakaran, kriminal yang terus meningkat, karena lumpur...terlebih dari itu karena penduduk negeri in lebih senang kepada mistis dan melupakan SANG PENCIPTA mereka. PENCIPTA yang menganugerahkan Ibu Pertiwi untuk mereka tinggali sehingga penduduk Indonesia bisa selalu bersyukur...bukan datang ke kuburan, datang mencari tuyul, mencari hantu jeruk purut, pocong, kuntilanak dan roh-roh yang menjauhkan kita dari Sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu pertiwi sedang menangis karena anak-anak Indonesia tidak lagi mencari kehadiran ALLAH yaang dapat mengisi hati mereka, memberi damai dan bisa saling membagikan itu kepada semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kupikir, ISA ALMASIH yang lahir itu bukan cuman buat orang Kristen atau Katholik.&lt;br /&gt;ISA ALMASIH dilahirkan untuk membawa damai dan keselamatan abadi buat semua orang, buat semua bangsa di dunia, buat orang Indonesia. Rasakan kehadiran ISA ALMASIH itu di dalam hatimu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-116711215739836369?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/116711215739836369/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=116711215739836369&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/116711215739836369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/116711215739836369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/12/isa-almasih-itu-untuk-semua-orang.html' title='ISA ALMASIH ITU UNTUK SEMUA ORANG'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-116481841160171666</id><published>2006-11-29T23:39:00.000+07:00</published><updated>2006-11-29T23:40:12.396+07:00</updated><title type='text'>ratapanku jadi tarian</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;"&gt;ratapanku tl'ah Kau ubah jadi tarian...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;"&gt;aku harus tetap bersyukur meski dalam letih dan lemah...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;"&gt;karna aku mengamini ini...ratapanku tl'ah Kauubah jadi tarian.....&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-116481841160171666?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/116481841160171666/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=116481841160171666&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/116481841160171666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/116481841160171666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/11/ratapanku-jadi-tarian.html' title='ratapanku jadi tarian'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-116439313835293808</id><published>2006-11-25T01:25:00.000+07:00</published><updated>2006-11-25T01:34:57.966+07:00</updated><title type='text'>ada senyum, ada takut,... tapi ada SYUKUR pula =)</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.glittergraphics.us" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://pic.piczo.com/img/i100960163_78776.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;lembayung sekarang dalam ketakutan lagi...&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;setelah bulan Juni lalu - takut,... namun Sang KHALIK merangkul dan membawaku terbang ke langit dan memberiku kelegaan...&lt;br /&gt;kini, aku takut kembali pula... karena bumi selalu membuat aku merasakan berbagai hal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hanya saja berbagai hal itu tak selamanya putih, kuning, oranye namun sering pula hitam, hijau, kelam atau kelabu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Setiap hari pula tak ada satu pun yang tahu, mataku mengeluarkan butiran kristal-ksristalnya karena tak kuat lagi menahan itu dalam hati. Butiran kristal itu melelah dan membasahi pipi ketika lembayung dalam keadaan tak baik, terjepit dan kesesakan melanda... namun,... Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;gelisah dalam diriku? berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepadaNya, penolongku dan Allahku!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;lembayung merasa dirangkul sang KHALIK yang senantiasa setia ketika hati dalam sesak yang penuh...maka daku pun bisa mengucapkan rasa syukur yang mendalam ketika kesesakan itu melanda... Maka bukan lagi daku mengucap "mengapa, aku susah?" tetapi lebih dari itu, "Siapa penolong dalam susah-ku?" aku tahu, ada Sang KHALIK dengan penuh kelembutan membelaiku, dengan cinta yang benar-benar tulus... memberikan daku kelegaan dan ketenangan.... daku bersyukur...bersyukur dalam air mataku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-116439313835293808?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/116439313835293808/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=116439313835293808&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/116439313835293808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/116439313835293808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/11/ada-senyum-ada-takut-tapi-ada-syukur.html' title='ada senyum, ada takut,... tapi ada SYUKUR pula =)'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-114927249190181028</id><published>2006-06-03T01:17:00.000+07:00</published><updated>2006-06-03T01:21:38.043+07:00</updated><title type='text'>a   k u        t  ak     bis a        ter   sen y u  m</title><content type='html'>aku sedang mengalami suatu ketakutan...&lt;br /&gt;hebat dan letih sekali......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku mungkin bisa tersenyum (kelihatannya)&lt;br /&gt;tapi tidak dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mungkin bahkan menjadi tak bisa tersenyum....&lt;br /&gt;aku telah belajar sesuatu untuk tidak menyerah,&lt;br /&gt;tapi kali ini,&lt;br /&gt;aku benar2 takut....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sahabat disekitarkupun tidak tahu (mungkin) kalau aku sedang takut.&lt;br /&gt;takut sekali.&lt;br /&gt;seperti anak kecil yang sednag menangis dan berteriak ketika lampu di kamarnya tiba-tiba mati.&lt;br /&gt;HikZ!&lt;br /&gt;AKu takut,&lt;br /&gt;dan aku sendirian......&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-114927249190181028?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/114927249190181028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=114927249190181028&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/114927249190181028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/114927249190181028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/06/k-u-t-ak-bis-ter-sen-y-u-m.html' title='a   k u        t  ak     bis a        ter   sen y u  m'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-114793964023864343</id><published>2006-05-18T15:03:00.000+07:00</published><updated>2006-05-18T15:07:20.463+07:00</updated><title type='text'>BERBAGI SUAMI (Film karya sutradara NIA DINATA)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Menjawab Semua Keresahanku&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria keberadaannya selalu diagung-agungkan di negeri ini. Kerika ia memiliki banyak pendamping wanita (BACA: beristeri banyak), maka masyarakat cenderung menganggap biasa. Bahkan ketika ia mengungkapkan kepada khalayak bahwa ia dapat membagi dengan "adil" cintanya kepada seluruh isteri, masyarakat malah memuji sikapnya itu. Lain hal dengan seorang wanita yang berjuang keras untuk menghidupi keluarganya dengan menjadis eorang penyanyi dangdut, masyarakat cenderung mencemoohinya. Wanita itu dianggap tidak bermoral, goyangannya membuat lelaki bernafsu, seronok, merusak moral bangsa. Hingga akhirnya masalah poronografi dan pornoaksi menjadi polemik.&lt;br /&gt;Akhirnya bangsa ini lebih memilih kehidupan Poligami ketimbang memperhatikan masalah perempuan yang jauh lebih kompleks. Ini merupakan keresahan saya.&lt;br /&gt;Namun keresahan ini terjawab pada "BERBAGI SUAMI". Sutradara dan penulis film, Nia Dinata mungkin pula resah dengan kehidupan poligami yang sudah jadi pembicaraan di negeri ini. Agamamenjadi salah satu alasan untuk kehidupan poligami bangi kebanyakan pria.&lt;br /&gt;Salma. Seorang wanita yang berprofesi sebagai dokter, begitu sakit hati ketika tahu kalau Pak Haji, suaminya telah beristeri lagi bahkan mempunya anak lagi. Keberadaanya sebagai seorang dokter tidak menjamin akan meimiliki keluarga sempurna, idamannya. Mau tidak mau, Salma bahkan harus membiasakan diri berbagi suami dengan isteri kedua, bahkan isteri ketiga, yang usianya sebaya dengan Nadim, puteranya."Apa umi sayang abah?" pertanyaan Nadim ini dengan mudah dijawab, "Kalau tidak sayang, tidak keluar kamu.."Tetapi pertanyaan berikut membuat ia tidak berkutik, takut sendiri dengan keadaan &amp; realitanya, "APa abah sayang Umi?"Ukuran cinta seorang wanita memang tidak bisa bertitik tolak apakah suaminya setia kepadanya dengan tidak kawin lagi. Prinsip ini yang mau tidak mau (BACA:Terpaksa) dipegang Salma, ketika tahu suaminya berpoligami.&lt;br /&gt;Wanita berikutnya, Siti. Gadis kampung ini tahu kalau pamannya sudah punya 2 isteri. Ia bahkan telah membiasakan diri dengan 2 isteri pamannya itu dan keponakan-keponakannya.. Belum sempat ia memahami dengan jelas liku-liku kehidupan poligami pamannya ini,Sti pun dilamar menjadi isteri ketiga. Karena keadaan yang memaksa, ia pun hanya pasrah dikawini oleh paman yang ternyata hanya seorang sopir PH film.&lt;br /&gt;Ming. Dara cantikketurunan Tionghoa ini sempat melebur impiannya menjadi seorang aktris. Alsannya, ia bosan hidup susah. Llalu ia menerima tawaran KOh Abun, pemilih restoran bebek, tempat Ming bekerja. Gelar isteri muda yang disandangnya kini harus ia tutup rapat-rapat. Hadiah apartemen dan mobil menjadi fasilitasnya kini. Meskipun ia tahu resikonya jika isteri pertama (yang merupakan majikannya itu) suatu saat akan melihat sebuah kenyataan itu.&lt;br /&gt;Salma, Siti dan Ming adalah gambaran sebuah realita. Wanita-wanita yang menjadi korban nafsu para pria. Inilah yang sedang terjadi di Indonesia. Sekali lagi, masyarakat bahkan khanya menganggap itu "biasa". Wanita dengan seenaknya saja harus (BACA:Dipaksa) mengerti akan keadaan yang terjadi. Kenyataan bahwa pria itu tidak setia dan sellau ingin memuaskan hasratnya dibungkus indah dalam balutan alasan "menghindari zinah". Wanita hanya bisa mengelus dada dan pasrah...&lt;br /&gt;Namun film arahan Nia dinata ini moga-miga jadi wacana bagi seluruh rakyat Indonesia. Bahasa-bahasa sindiran khasnya yangh tertata dalam gambar-gambar indah penuh makna ini setidaknya akan membuat penonton terperangah. Mungkin kita akan tertawapada beberapa adegan di film itu. Tetapi tawa kita itu adalah tawa pahit pada sebuah realitas gaya hidup sebagian pria di negeri ini. Sekarang saatnya kita memilih. Kalua bisa memilih untuk tidak berpoligami jangan ragu untuk menjatuhkan pilihan ini, karena pilihan untuk tidak berpoligami akan menghapus sakit hati dua makhluk bernama : wanita dan anak. Ini pesan yang saya tangkap dari"BERBAGI SUAMI".&lt;br /&gt;Saya menjagokan film ini menjadi film terbaik tahun 2006. Sebuah gambaran kenyatan gaya hidup (sebagian) orang Indonesia yang tidak boleh dilestarikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-114793964023864343?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/114793964023864343/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=114793964023864343&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/114793964023864343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/114793964023864343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/05/berbagi-suami-film-karya-sutradara-nia.html' title='BERBAGI SUAMI (Film karya sutradara NIA DINATA)'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-114758349492217142</id><published>2006-05-14T12:07:00.001+07:00</published><updated>2006-05-14T12:11:34.993+07:00</updated><title type='text'>orange (from fang^, ma cute friend:)</title><content type='html'>orange angel? cool...aku kemaren nyari2 arti orange, ternyata artinya bagus ya cheezz...artinya tuh semangat cerita antusias (persis kayak kamu deh).dan yang lebih keren lagi oranye adalah warna yang mewakili perubahan. Oranye mewakili warna langit senja ketika sore mau berubah jadi malam. Oranye juga mewakili daun musim gugur yang menandai summer mau berubah jadi winter.And i hope your orange defines your change, cheez, closer to Jesus's image everyday... ^.^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-114758349492217142?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/114758349492217142/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=114758349492217142&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/114758349492217142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/114758349492217142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/05/orange-from-fang-ma-cute-friend.html' title='orange (from fang^, ma cute friend:)'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-114758340407151929</id><published>2006-05-14T12:07:00.000+07:00</published><updated>2006-05-14T12:10:04.396+07:00</updated><title type='text'>RUU APP (diskusi lanjutan)</title><content type='html'>RUU makin panas akhir2 ini... Pihak agamis semakin mengklaim diri, mereka paling bener, lantaran ingin menyelamatkan moral bangsa... Pake melempari rumah Inul, Melempari kantor Playboy... GOSH! Mana yg tidak bermoral. Definisi "Moral" memang makin melenceng di negara kita akhir2 ini.&lt;br /&gt;Kupikir, masih banyak anak2 jalanan yg tidak mampu buat sekolah, kayaknya membiayai mereka untuk sekolah,ITU BARU BERMORAL!&lt;br /&gt;atau....&lt;br /&gt;saya menjadi sangat khawatir, "Moral" di negara ini SAMA DENGAN :&lt;br /&gt;(bla) (bla) (bla)...... sesuatu yg sangat merugikan orang lain....&lt;br /&gt;begitukah?&lt;br /&gt;Apakah anda peduli dengan bangsa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa definisi moral menurut anda?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-114758340407151929?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/114758340407151929/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=114758340407151929&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/114758340407151929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/114758340407151929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/05/ruu-app-diskusi-lanjutan.html' title='RUU APP (diskusi lanjutan)'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-114312528434139031</id><published>2006-03-23T21:46:00.000+07:00</published><updated>2006-03-23T21:48:04.446+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://www.glittergraphics.us" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://pic.piczo.com/img/i100960163_78776.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-114312528434139031?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/114312528434139031/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=114312528434139031&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/114312528434139031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/114312528434139031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/03/blog-post.html' title=''/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-114129633277052888</id><published>2006-03-02T17:44:00.000+07:00</published><updated>2006-03-02T17:45:32.903+07:00</updated><title type='text'>UU Anti Pornografi dan Pornoaksi</title><content type='html'>Setuju aja asal batasannya jelas....&lt;br /&gt;karena kalo enggak, menurut saya ini bakal mematikan budaya kita sendiri, kan?&lt;br /&gt;Anda ingat kalau banyak budaya kita yang berkostum tidak tertutup. Begitu pula dengan tari-tarian dan budaya lain. Ini semua tergantung MATA orang yang melihatnya... Apakah ada yang berani menjamin bahwa orang-orang yang menuntut Inul dan kawan-kawan (dengan goyang nge-bornya) dapat merusak moral bangsa itu, di kamarnya tidak menyimpan VCD porno? Hem,... saya sih, kurang yakin. Sekali lagi tergantung MATA orang itu sendiri. Bagaimana dengan anda??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membuka diskusi ini....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-114129633277052888?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/114129633277052888/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=114129633277052888&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/114129633277052888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/114129633277052888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/03/uu-anti-pornografi-dan-pornoaksi_02.html' title='UU Anti Pornografi dan Pornoaksi'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-114103552520284813</id><published>2006-02-27T17:10:00.000+07:00</published><updated>2006-02-27T17:18:45.313+07:00</updated><title type='text'>Realita Cinta dan Rock ‘n Roll</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/7608/978/1600/realita%20cinta.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7608/978/400/realita%20cinta.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#ff0000;"&gt;BERANI menghadirkan KETERBUKAAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Nugi dan Ipang adalah wakil generasi muda saat ini. Generasi yang sedang mencari jati diri dan butuh kasih sayang, di sela realitas kehidupan yang tidak selalu manis. Dua pemuda ini bersahabat dan terlihat bandel. Mereka bosan dengan rutinitas sekolah dan mencintai musik rock &amp; roll sebagai jiwa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nugi berlatar belakang keluarga yang unik. Ia tinggal dengan ibunya, tanpa tahu jelas ayahnya. Sampai suatu realita membelalakkan matanya. Bayangan seorang ayah yang asyik, keren, bisa diajak melakukan hal-hal yang biasa dilakukan lelaki, menjadi sirna. Nugi harus berani melihat ayhnya sebagai seorang waria. Kekalutan hati dan pemberontakan menguasai diri. Ipang, sahabat Nugi pun harus belajar menerima kenyataan, kalau dirinya hanya anak adopsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penuturan cerita di film ini begitu natural, tanpa terlalu berbumbu dramatis dan teatrikal. Pembawaan akting Herjunot Ali dan Vino G. Bastian sebagai pemeran utama tampak dekat sekali dengan kahidupan sekitar. Karakter-karakter seperti ini mudah ditemui di sela-sela kesibukan Metropolitan. Seharusnya kisah Nugi dan Ipang dapat menjadi pelajaran bagi para orangtua dan anak. Keterbukaan dan komunikasi yang baik harusnya hadir di tengah keluarga. Jika seorang anak merasa nyaman dan diterima di lingkungan terkecilnya (KELUARGA) maka hal itu akan tercermin dengan sikapnya pada lingkungan sekitar. Sebuah sikap berani menerima kenyataan, rela mengasihi dan menyayangi meski harus menelan kepahitan dan hubungan persahabatan kuat yang berani marah untuk menegur, sangat kental serta menjadi kekuatan cerita film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik untuk film ini ; sebaiknya adegan merokok oleh kedua tokoh utama dapat dikurangi. Menurut saya, penggambaran kebandelan Nugi dan Ipang sudah cukup. Ada banyak adegan sebenarnya tidak penting disertai adegan merokok, ternyata dilakukan. Sehingga sedikit mengganggu keindahan gambar. Berikutnya tokoh Ayah Nugi yang melakukan transeksual pun kurang jelas. Kehadirannya sebagai pelengkap mengundang pertanyaan : Sebenarnya apa alasan dia berani meninggalkan keluarga dan menjadi waria? Hal ini dapat menimbulkan prasangka negatif di benak penonton. Tentu pula merusak keapikan jalinan cerita yang sudah ada. Namun semuanya itu meman harus menjadi pelajaran agar karya-karya berikutnya dapat memberikan pesan moral yang jelas terutama bagi generasi muda yang sedang mencari identitas diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya acungan jempol patut saya berikan pada seluruh kru dan pemain. Menurut saya, REALITA CINTA DAN ROCK ‘N ROLL ini layak masuk jajaran nominasi film terbaik tahun ini, karena keberaniannya mengangkat sebuah realitas kehidupan para muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maju terus perfilman Indonesia !&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-114103552520284813?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/114103552520284813/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=114103552520284813&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/114103552520284813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/114103552520284813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/02/realita-cinta-dan-rock-n-roll.html' title='Realita Cinta dan Rock ‘n Roll'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-114103305496345956</id><published>2006-02-27T16:34:00.000+07:00</published><updated>2006-02-27T16:42:36.913+07:00</updated><title type='text'>Masih Ada Yang Muda (ternyata)...</title><content type='html'>Beberapa waktu yang lalu aku mengunjungi sepupuku yang sedang dirawat di Rumah Sakit. Dia masih SD kelas 6 namun karena kamar rawat inap bagian anak-anak penuh, maka ia dirawat di kamar yang berisi orang-orang dewasa dan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali datang aku agak kaget. Hal ini disebabkan keadaan Rumah Sakit lebih ramai dari biasanya. Seperti kubilang tadi, hari-hari ini banyak orang yang dirawat di Rumah Sakit. Pasien dan pengunjung bertumpah menjadi satu. Sampai suatu saat aku ingin ke toilet, kata pamanku, di dekat kamar ini ada toilet untuk pasien tapi tak apa jika aku pakai. Kemudian aku menuju toilet yang ditunjukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku melihat dua suster perawat, aku memutuskan untuk bertanya di manakah toilet untuk umum lalu aku ditunjukkan pada satu jalan. Aku langsung menghampiri toilet yang dimaksud tersebut. Tidak aku duga ternyata, perjalanan menuju toilet itu aku banyak berpapasan dengan para perawat Rumah Sakit. Sebagian ada yang berkelompok mengobrol, sebagian lain sibuk mengerjakan sesuatu sementara yang lainnya berdiskusi tentang kondisi pasien. Sesaat aku memperhatikan wajah mereka satu per satu ; sama sekali belum ada guratan di wajah mereka. Ya. Para perawat itu adalah wanita-wanita muda yang masih energik dan penuh semangat. Mereka bekerja dengan senyum dan keramahan. Di dalam benakku, aku berdecak, ternyata masih ada ya, pemudi-pemudi yang masih mau peduli. Mereka mengorbankan waktu untuk menjadi perawat dan mencurahkan kasih sayang pada sesama. Hal itu semata-mata bukan karena profesi saja. Kupikir ini lebih kepada satu komitmen yang ada di setiap hati perawat-perawat muda itu. Di tengah dunia yang mengedepankan “ego” ternyata masih ada orang-orang muda yang masih peduli kepada sesama mereka. Bukan hanya itu, mereka dapat merealisasikan cinta mereka itu pada sesama (secara nyata).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang masih 21 tahun ini hanya hanya menunduk dan bertanya,&lt;br /&gt;“Bagaimana aku dapat merealisasikan cintaku pada sesama ?”&lt;br /&gt;Mungkin engkau juga sama denganku?&lt;br /&gt;Jangan diam saja, segera lakukan disertai dengan komitmenmu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-114103305496345956?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/114103305496345956/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=114103305496345956&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/114103305496345956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/114103305496345956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/02/masih-ada-yang-muda-ternyata.html' title='Masih Ada Yang Muda (ternyata)...'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-114037455077872442</id><published>2006-02-20T01:20:00.000+07:00</published><updated>2006-02-20T01:42:31.143+07:00</updated><title type='text'>fiuh....</title><content type='html'>HARI ini aku bertengkar dengan sahabatku (LAGI! Setelah berminggu-minggu DAMAI-damai saja...) Tapi, sekarang sudah selesai. Kami saling berdiskusi dan menyamakan persepsi. Masalahnya hanya SATU : Perbedaan karakter. Namun bukan berarti tidak bisa bersama, kan?  Secara pemikiran tentang beberapa hal, kami sama. tetapi tentang prinsip dan karakter, jauh berbeda,... Namun aku berusaha mengerti dan mengerti.. Aku yakin, sahabatku juga melakukan hal yang sama. Semua orang butuh belajar, kan? Meski kami sudah kenal sejak kecil dan menjadi sahabat kurang lebih enam tahun terakhir, tetapi kami (aku, terutama- setidaknya buat diriku) butuh belajar mengerti. Justru inilah kebangganku... Aku mempunyai sahabat yang BERANI menegurku, bahkan membentakku (meskipun aku tidak senang,  jika ia melakukan di depan beberapa orang... he,.he..).. karena seorang sahabat harus berani melakukan itu agar agar ada perubahan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal yang lucu. Kami bertengkar sebelum pergi ke tempat ibadah... namun ternyata pemimpin ibadah berkutbah tentang mengasihi sahabat, berani menegur sahabat... Skenario Sang KHALIK memang TOP banget.. Aku merasa tertegur dan makin mengasihi sahabatku. Aku TIDAK BOLEH marah, jika sahabatku menegur. Sebab aku harus tahu, kalau ia pasti menegur dengan kasih (meskipun ada bumbu jengkelnya... he,he...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah,... sekarang AKU BELAJAR BANYAK (MAKIN belajar), sebuah hubungan persahabatana memang harus selalu begitu.. Kuncinya satu : Hadirkan Sang Khalik dalam persahabatan itu, dan kau akan mengerti serta belajar banyak hal yang POSITIF.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damai bersamammu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(thank you, brotha 777 SN)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-114037455077872442?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/114037455077872442/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=114037455077872442&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/114037455077872442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/114037455077872442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/02/fiuh.html' title='fiuh....'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-113890434726019750</id><published>2006-02-03T01:17:00.000+07:00</published><updated>2006-02-03T01:19:07.430+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/7608/978/1600/lembayung%20malak%20icon.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7608/978/400/lembayung%20malak%20icon.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-113890434726019750?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/113890434726019750/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=113890434726019750&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113890434726019750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113890434726019750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/02/blog-post.html' title=''/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-113890379532914261</id><published>2006-02-03T01:01:00.000+07:00</published><updated>2006-02-03T01:09:55.590+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/7608/978/1600/keluarga%202.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7608/978/400/keluarga%202.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(31 Januari 2006, 00:58 wib)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku pergi ke dokter. Sudah lama Papa memintaku untuk kontrol, karena tekanan darahku yang beberapa kali mencapai 140. Mulannya agak takut juga. Bukan apa-apa. Kupikir ruang gerakku untuk beraktifitas akan jadi tidak bebas lagi. Pasti diminta beristirahat. Namun di depan perawat rumah sakit, tekanan darahku hanya 120. normal. Dokter malah menganalisa aku kurang darah, kurang zat besi lantaran keluhan pusingku. Aku bernapas lega. Aku bersama Papa Mamaku dan aku merasa nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini pula aku ke rumah kakekku. Ah, mencoba menjadi cucu yang baik. Kakekku sudah sebulan sakit stroke. Hari ini aku ingin merawatnya, melayaninya dan melakukan hal-hal yang dia minta. Tadi sore aku membasuhnya dengan air bersama tanteku. Kalau orang sehat, namanya : mandi sore. Aku memberi minyak kayu putih dan menaburi bedak di punggungnya. Entah kenapa aku merasa bahagia sekali ketika melakukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 9 malam pun tadi aku mengantarnya kontrol ke dokter bersama Papa Mama dan kedua om-ku. Sekali lagi ada perasaan bahagia kembali. Tidak hanya bisa melayaninya, tetapi aku menikmati bercengkerama bersama adik-adik Papaku itu. Aku tidak dianggap lagi anak kecil, tetapi seorang pria. Aku melakukan banyak hal dengan keluargaku hari ini dan aku sangat menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan anda?&lt;br /&gt;Sudah terlalu banyakkah waktu dengan keluarga?&lt;br /&gt;Mereka menganggap anda berharga, lho...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-113890379532914261?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/113890379532914261/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=113890379532914261&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113890379532914261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113890379532914261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/02/31-januari-2006-0058-wib-hari-ini-aku.html' title=''/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-113887252800202189</id><published>2006-02-02T16:10:00.001+07:00</published><updated>2006-02-02T16:28:48.160+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/7608/978/1600/dicintai2.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7608/978/400/dicintai2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;-bagian 2-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(29 Januari 2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangis dan mengalami ketakutan. Kukirimkan pesan pendek kepada seorang sahabat yang sudah kuanggap sebagai kakak perempuanku, bahwa aku ingin mengakhiri hidupku.... bukannya malah mencegahku dan membesarkan hatiku, ia malah menantangku dan memberi pertanyaan besar (sebenarnya aku pun tahu jawabannya). Hatiku terlalu keras untuk menjawabnya bahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa benar Sang Khalik tidak mencintai aku ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah melakukan kesalahan. Beban berat hidupku yang menghimpit seharusnya dapat kuselesaikan dengan BERANI menghadapinya. Sang Khalik cinta aku. Seharusnya aku meraih uluran TanganNya untuk menghadapi semua beban hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan singkat kembali kukirimkan pada seorang sahabat lainnya. Ia pun mengingatkan kalau aku TIDAK SENDIRI. Sang Khalik betapa menyayangi aku dan sanggup mengambil semua penatku dalam hidup. BELIAU terlampau mencintai aku. Semua usahaku mengakhiri hidup bukan jalan yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku tahu, jalan terbaik buatku adalah ikut jalan Sang Pencipta. Pencipta yang telah memberi banyak pelajaran dalam hidupku tidak penah meninggalkan aku. BELIAU bukan Pencipta yang jauh, tapi Pencipta yang dekat. Engkau pun dapat merasakannya, kawan. Ketika jantungmu berdetak dan nadimu berdenyut, itu berarti BELIAU ada untukmu. Beban hidup menghimpit hidupmu? Kau hanya perlu lakukan ini ; Diam dan katakan pada Sang Khalik, engkau mau berserah. BELIAU akan lakukan bagianNya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-113887252800202189?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/113887252800202189/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=113887252800202189&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113887252800202189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113887252800202189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/02/bagian-2-29-januari-2006-aku-menangis.html' title=''/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-113887220208814256</id><published>2006-02-02T16:10:00.000+07:00</published><updated>2006-02-02T16:23:22.336+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/7608/978/1600/suicide%202.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7608/978/400/suicide%202.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;-bagian 1-&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(29 Januari 2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedang duduk di salah satu bangku rumah ibadah. Kali ini aku datang jauh lebih pagi. Iringan lagu “Above All” membawa teduh suasana hatiku. Layangku menerawang menembus altar. Sebuah tempat pemimpin ibadahku nanti bertutur. Semua akan mendengarkannya, karena ia akan bertutur tentang Sang Khalik. Akupun masih duduk tenang menuliskan ini. Sejak tadi malam, aku ingin melakukannya. Kukira ini saat yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehm,...&lt;br /&gt;Aku pernah beberapa kali ingin bunuh diri pada tahun lalu. Jangan heran ! Mungkin beberapa orang mengenal aku orang yang ceria, selalu meramaikan suasana dan tidak pernah punya bebean hidup (SEPERTINYA). Namun tahun lalu itu merupakan proses hidupku yang paling mencapai klimaks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kali di pertengahan tahun :&lt;br /&gt;Aku bertumbuh secara spiritual, tapi ternyata aku malah jatuh secara manusiawi. Aku berusaha bangkit... selalu begitu. Kala itu adalah titik akhirku. Temperamenku yang cenderung melankolik, membawa hanya pada sisi negatifnya saja. Kesensitifanku menjadi sangat meledak-ledak. Beban hidupku yang teramat berat buatku (waktu itu) membuat aku menjadi tidak percaya pada sekitarku. Sahabat-sahabat yang mengasihiku, aku anggap menjauhiku. Semua keadaan itu menghancurkanku. Aku putus asa dan kehilangan kendali. Konsep spiritualku sejenak hilang dan terhempas jauuh... konsep bahwa aku ini dicintai Sang Khalik, konsep bahwa aku ini berharga, konsep bahwa aku ini sahabat Sang Khalik, sirna semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terlalu fokus pada diriku, mengasihani diriku dan menganggap aku ini manusia paling sengsara, paling penuh kesalahan dan kekhilafan memenuhi sekujur tubuh. Hal inilah yang membuat aku menjadi pengecut ! Aku takut menghadapi masa depan terutama diriku.&lt;br /&gt;Jadi apalagi ? aku berlari ke dapur dan hendak menyayat tanganku bahkan menusukkannya di tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, aku pengecut !&lt;br /&gt;Aku masih ketakutan.&lt;br /&gt;Menghadapi hidup takut. Mengakhiri hidup malah takut. Aku harus bagaimana? Aku mengerang-erang kesakitan dalam kamarku. Kubentur-benturkan kepala ini melawan tembok. Aku menarik-narik rambutku dan napasku tersengal-sengal. Depresi luar biasa melandaku kala itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-113887220208814256?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/113887220208814256/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=113887220208814256&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113887220208814256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113887220208814256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/02/bagian-1-29-januari-2006-aku-sedang.html' title=''/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-113844679332754230</id><published>2006-01-28T18:11:00.000+07:00</published><updated>2006-01-28T18:13:13.476+07:00</updated><title type='text'>DALAM KERAPUHAN (ajarku bersyukur)</title><content type='html'>Pelita jiwaku entah sudah meredup atau tidak,&lt;br /&gt;Ketika lolongan serigala itu datang,&lt;br /&gt;Aku menjadi takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sebenarnya tidak suka dengan suara-suara itu!&lt;br /&gt;Tapi ia selalu datang dalam kesahku&lt;br /&gt;dan mengintip di rasa bahagiaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIDAKPASTIAN.&lt;br /&gt;Ini yang jadi ketakutanku juga.&lt;br /&gt;Sebuah perasaan yang menjadikanku lemah pun RAPUH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah lelah menjadi anak burung gereja&lt;br /&gt;Yang kecil dan selalu tidak dewasa, tampaknya.&lt;br /&gt;Meski aku bahagia dengan keria-ria-anku yang jadi&lt;br /&gt;penyemangat berkobar..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YA! Keria-riaan yang selalu jadi topeng dalam&lt;br /&gt;setiap aralku melintang.&lt;br /&gt;Aku burung gereja yang pemurung, lemah,&lt;br /&gt;tidak berdaya dan selalu RAPUH.&lt;br /&gt;Tetapi aku tidak ingin burung-burung lain tahu.&lt;br /&gt;Apalagi SERIGALA!&lt;br /&gt;Mendengar lolongannya pun aku sudah TAKUT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa menghempas sayapku,&lt;br /&gt;Pasti kau bertanya; Rajawalikah aku?&lt;br /&gt;Rajawali yang bersayap kokoh dan kuat&lt;br /&gt;Melewati samudera dan pulau-pulau.&lt;br /&gt;Sebuah ejekan, kan, pasti?&lt;br /&gt;Seperti kubilang; aku hanya burung gereja kecil,&lt;br /&gt;Yang tentu bersayap kecil.&lt;br /&gt;Aku tak sanggup mengitari dunia ciptaan KHALIK.&lt;br /&gt;Aku hanya mampu mengitari&lt;br /&gt;Bangunan kokoh, yang selalu&lt;br /&gt;memperdengarkan kidung-kidung sorgawi,&lt;br /&gt;Bangunan kokoh yang selalu memampang&lt;br /&gt;garis vertikal dan horisontal sebagai simbol kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya mampu menjadi daya tarik orang-orang itu.&lt;br /&gt;Orang-orang yang sedang menyanyikan pujian KHALIK,&lt;br /&gt;Orang-orang yang sedang duduk diam,&lt;br /&gt;mendengarkan Imam KHALIK berkotbah,&lt;br /&gt;atau hanya menarik perhatian anak kecil yang ada dalam&lt;br /&gt;pangkuan ibunya yang sedang berbakti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyayangi bangunan kokoh itu.&lt;br /&gt;Karena disitulah aku bisa berteduh,&lt;br /&gt;Aku tenteram dalam sayup-sayup pujian megah bagi KHALIK.&lt;br /&gt;Aku menjadi pusat perhatian anak-anak manusia,&lt;br /&gt;yang mungkin aku lebih besar dari lalat atau serangga (bagi mereka)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Burung gereja kecil, burung gereja kecil”&lt;br /&gt;OUGH! Aku benci kalimat itu.&lt;br /&gt;Seperti nada mengejek atau merendahkan,&lt;br /&gt;Seperti terjemahan lolongan serigala&lt;br /&gt;yang selalu memperdengarkan suaranya di malam hari..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak tahu apa aku bosan menjadi burung gereja kecil,&lt;br /&gt;yang RAPUH dan sama sekali tak menarik perhatian,&lt;br /&gt;yang hanya ‘jago kandang’&lt;br /&gt;yang hnya memakai topeng keria-riaan belaka…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ingin bisa terbang bebas seperti rajawali,&lt;br /&gt;tanpa beban pikiran atau keresahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku memang kecil,&lt;br /&gt;tetapi beban pikiranku besar.&lt;br /&gt;Aku penat dan aku lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi satu saat, Sang KHALIK&lt;br /&gt;Menyapaku dan mengajak-ku untuk :&lt;br /&gt;“Bersyukur…”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-113844679332754230?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/113844679332754230/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=113844679332754230&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113844679332754230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113844679332754230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/01/dalam-kerapuhan-ajarku-bersyukur.html' title='DALAM KERAPUHAN (ajarku bersyukur)'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-113844655142618855</id><published>2006-01-28T18:01:00.000+07:00</published><updated>2006-01-28T18:09:11.540+07:00</updated><title type='text'>BALADA ASAP 16: Ke-Eksisan Sebuah Puntung</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/7608/978/1600/rokok.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7608/978/320/rokok.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/7608/978/1600/penjual%20sate.0.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/7608/978/1600/penjual%20sate.0.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Sebuah catatan cerita, dalam bingkai uneg-uneg tentang sebuah fenomena……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cakrawala hari ini memamerkan keindahan sinarnya. Tingkap-tingkap langit menjadi begitu terbuka turut memperlihatkan kuat sinar sang surya. Kebetulan sekarang hari minggu. Terdengar sayup-sayup suara nyaring mengalunkan lagu-lagu pujian bagi Khalik. Lantunannya lembut hingga terasa nuansa kesucian yang terbalut apik dalam mahligai sorgawi. Kebaktian pertama yang berlangsung itu menyisakan makna tersendiri bagi jemaat yang telah beribadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Penyampai Firman keluar pintu dibarengi petugas gerejawi yang katanya disebut majelis. Senyum pun bermekaran di sana-sini wajah mereka, menebarkan kepada semua jemaat sebuah rasa damai dari sorgawi. Tugas selesai. Sang Penyampai Firman meletakkan lelah sembari mengumpulkan tenaga untuk persiapan kebaktian selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak kecil baru saja menghentakkan kaki mungilnya di halaman gereja. Ia berlari kecil menuju sekolah minggu. Sesuatu yang sangat dinantinya di akhir hari sekolahnya. Senandung kecil terlantun di bibirnya. Itu terjadi sebelum saat ia terbatuk-batuk karena bertemu dengan asap. Asap yang tentu kental dengan pekat tembakau berbaur racun itu hebat berbaur dengan udara. Anak kecil itu berhenti. Ia menghentikan langkah, menengadah ke atas. Terlihat asap yang begitu tebal berwarna putih –bukan suci– dengan arogannya menguasai udara di sekitar gereja. Dalam benaknya terlintas satu hal: rokok. Puntung yang selalu dipuja sebagai simbol kemaskulinan itu menyisakan kekecewaan tersendiri buatnya. Ayahnya meninggal karenanya… Kini sebuah perenungan kecil menjadi ritual mendadak anak itu. Ia terduduk di tengah asap yang pekat. Meski ia tak mau bertemu dengan asap itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian terdengar langkah kaki yang semakin mendekat. Beberapa orang yang baru saja menyebarkan senyum damai kepada semua jemaat ternyata sedang lewat. Mereka berseragam dengan warna khusus, lambang pelayan Tuhan yang setia, pendamping sang Penyampai Firman. Anak itu hendak memberikan wajahnya dan menyapa mereka. Tentu pula seperti seorang anak yang sedang mengadukan sesuatu kepada ayahnya. Ia begitu terganggu dengan pasukan asap rokok yang bergelimang bebas menguasai udara gereja,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Om Majelis, om majelis…” sapa anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ketika matanya beradu dengan wajah-wajah mereka, anak ini begitu tersentak. Mulut-mulut mereka mengeluarkan asap, tangan-tangan mereka bersela puntung berasap, di sekitar mereka penuh asap. Anak kecil itu terbatuk-batuk sampai kelelahan, sampai ia memutuskan untuk berlari. Ia berlari kencang keluar gereja, jauuuh… jauuuuuuuuh, semakin JAUH. Ia tak mau lagi kembali ke gereja manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pertanyaan-pertanyan bercokol tajam dalam pikirnya,&lt;br /&gt;“Apakah pelayan-pelayan Tuhan itu seperti ayahnya: Menikmati puntung beracun dan terbuai karena memuja sang Asap beracun??? Apakah semua pelayan begitu?? Haruskah sejuk udara gereja yang harusnya KUDUS menjadi RAKUS memakan semua ASAP???”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kecil ini tidak bisa menjawab, yang jelas ia selalu kehilangan sukacita di hari-hari minggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku harap ilustrasi di atas TIDAK TERJADI LAGI di ressud 16…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-113844655142618855?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/113844655142618855/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=113844655142618855&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113844655142618855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113844655142618855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/01/balada-asap-16-ke-eksisan-sebuah.html' title='BALADA ASAP 16: Ke-Eksisan Sebuah Puntung'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-113844546839138361</id><published>2006-01-28T17:50:00.000+07:00</published><updated>2006-01-28T17:51:08.476+07:00</updated><title type='text'>Konsumsi Syuting untuk Tukang Sate</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/7608/978/1600/penjual%20sate.0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7608/978/200/penjual%20sate.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kali aku punya cerita di bulan November/Desember lalu (agak lupa).&lt;br /&gt;Kala itu aku hendak pulang dari lokasi syuting. Tepatnya di rumah seorang kru (Bibi, penata kostum &amp;amp; rias). Dia dan keluarganya menyediakan makanan untuk kami, para kru dan pemain. Namun ternyata konsumsi itu sisa, kurang lebih 4 bungkus. Bibi memintaku membawa pulang atau membagikannnya pada yang lain. Mulanya aku menolak. Aku menduga kalau teman-teman yang lain pasti menolak. Apalagi aku sendiri. Bibi tetap memintaku membawa pulang. Kuputuskan untuk membawanya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di rumah, ternyata seluruh keluarga telah makan malam. Aku sedikit khawatir, mau diapakan nasi yang kubawa ini... Lalu kupaksakan makan satu bungkus, itupun bersama Mama. Beberapa saat kemudian Mama keluar rumah untuk membeli sate, langganana kami. Beliau kemudian masuk rumah kembali dan membawa 3 bungkus nasi konsumsi itu. Tak berapa lama Mama masuk dengan membawa beberapa tusuk sate di piring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Lho, nasi itu ditukar sate?” tanyaku heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan ! Mama beli Sate, dan nasi itu Mama berikan pada Ibu penjual Sate...”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku agak mengekeh. Penjual makanan kok, diberi makanan. Mama kemudian bertutur kalau nasi itu langsung dimakan oleh Ibu penjual Sate. Katanya enak, enak sekali....&lt;br /&gt;Dari cerita Mama itu aku menyimpulkan kalau ibu Sate ini sangat menikmati nasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kemudian trenyuh dengan kisah Mama selanjutanya. Ternyata Ibu Sate itu punya 4 anak, jadi 2 bungkus itu akan ia bawa pulang, ia ‘persembahkan’ untuk anak-anaknya. Aku memakai kata ‘persembahkan’ karena menurutku, itu kata yang tepat. Seorang ibu muda yang bekerja susah payah berjualan sate, keliling tempat satu ke tempat lain. Ia berjalan kaki membawa barang dagangan di atas kepala. Ketika ia mendapatkan makanan yang tidak pernah ia makan, ibu ini masih ingat akan anak-anaknya di rumah. Aku menjadi tertegun. Andai saja aku benar aku benar-benar menolak nasi itu, Ibu Sate ini tidak jadi makan nasi itu dan keempat anknya pun tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;Kawan, jika Sang Khalik menitipkan rejeki untuk orang yang membutuhkannya jangan menolak atau menundanya, ya...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Terimakasih, Bibi untuk Nasi Bu Kris pemberianmu)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-113844546839138361?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/113844546839138361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=113844546839138361&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113844546839138361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113844546839138361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/01/konsumsi-syuting-untuk-tuk_113844546839138361.html' title='Konsumsi Syuting untuk Tukang Sate'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-113770216939913251</id><published>2006-01-20T03:07:00.000+07:00</published><updated>2006-01-20T03:22:49.526+07:00</updated><title type='text'>semangati aku, ya...</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;aku cuman pengen nulis ini sekarang....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;&lt;strong&gt;"&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;semangati&lt;/span&gt; aku, ya&lt;/span&gt;......&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;siapapun&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; yg kenal aku......"&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-113770216939913251?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/113770216939913251/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=113770216939913251&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113770216939913251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113770216939913251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/01/semangati-aku-ya.html' title='semangati aku, ya...'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-113770101815264330</id><published>2006-01-20T03:01:00.000+07:00</published><updated>2006-01-20T03:03:38.276+07:00</updated><title type='text'>...Pertengkaran Tengah Malam....</title><content type='html'>(November 2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;(Aku sedikit malu sebenarnya mengingat kejadian itu, tapi aku enggak pernah lupa...Karna aku belajar tentang sesuatu)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku tegang sekali.. Seharian kami telah lelah syuting, Kala itu kami ambil gambar di Tretes, dekat Vila Stefy. Sepanjang sore kami menghabiskan waktu di padang rumput di atas bukit (bermandikan kemilau surya dan desiran angin sepoi). Namun esok hari pukul 4 pagi kami harus bangun dan ambil gambar lagi sampai sore (karna sebelum pukul 18.30 kami harus pulang ke Surabaya).&lt;br /&gt;AKu tidak bisa memejamkan mata. Entah kenapa aku sangat terganggu dengan suara-suara obrolan. Dua sahabatku (mereka Produser dan mitra Sutradaraku di film ini) di ruang tengah dan aku di kamar. Mereka berisik sekali (menurutku waktu itu). AKu meminta mereka beberapa kali untuk segera tidur saja, karna ini sudah jam 12 malam, sedangkan jam 4 pagi semua harus sudah siap-siap ambil gambar. Semua kru dan pemain telah berada dalam kamar masing-masing kecuali mereka berdua, bahkan. Aku sangat2 khawatir dengan kesehatan mereka. Semua butuh istirahat di tengah2 kerja keras seperti waktu itu.&lt;br /&gt;Kepalaku mau pecah dan aku JENGKEL SEKALI , karena mereka tidak kunjung beristirahat. Emosiku berhamburan keluar. AKu benar-benar MEMAKSA MEREKA untuk segera masuk kamar. Tentu saja respon keduanya yang masih membandel (- menurutku waktu itu) samakin membuatku bernafsu untuk marah. Usahaku berhasil. Meski aku harus menuai CELAAN yang SANGAT MENYAKITKAN hatiku, mereka dengan terpaksa berbaring tidur. Kepalaku pecah dan aku sangat-sangat depresi. Jantungku berdebar dan darah tinggiku kumat seketika...&lt;br /&gt;Fiuh... Aku hanya ingin menyayangi mereka dg meminta mereka untuk beristirahat. Menurutku itu yang terbaik. Aku menyadari beberapa hal kini bahwa yang terbaik buatku belum tentu buat orang lain. Kedua : Kalaupun itu yang terbaik, setidaknya aku harus dapat mengungkapkan itu dengan kasih tulus, seperti yang diajarkan Sang Khalik padaku selama ini. Ketiga : aku harus bersabar. Keempat : aku harus bersabar. Kelima : aku harus bersabar. Keenam : aku harus bersabar. Ketujuh, kedelapan, keduaribu delapan ratus.. bla...bla...bla... aku harus bersabar&lt;br /&gt;Fiuh......&lt;br /&gt;Susah juga! Namun kalau aku bersabar waktu itu, Pertengkaran itu pasti tidak pernah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;("Sorry Stefy, Sorry Danu.. I love you bro...")&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-113770101815264330?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/113770101815264330/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=113770101815264330&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113770101815264330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113770101815264330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/01/pertengkaran-tengah-malam_19.html' title='...Pertengkaran Tengah Malam....'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-113770190123750731</id><published>2006-01-20T02:57:00.000+07:00</published><updated>2006-01-20T03:18:21.363+07:00</updated><title type='text'>Aku sedang khawatir</title><content type='html'>(22 januari 2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-Akhir ini aku menjadi orang yg sangat khawatir.&lt;br /&gt;AKu memendam itu sendirian. Biasanya aku dapat membagikan itu kepada sahabat-sahabatku yang selalu aku anggap mereka saudara sendiri. Namun kali ini kulihat mereka sangat sibuk dan banyak hal yang harusnya lebih prioritas mereka pikirkan. Sampai selalu saja aku urungkan niatku untuk berbagi cerita dengan mereka berLima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku khawatir dengan studiku.&lt;br /&gt;AKu semester 7 dan menjelang 8.&lt;br /&gt;Beberapa di antara kawan-kawanku, pada semester 8 mendatang sudah bisa mengambil Skripsi. Sementara aku belum...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kredit-ku sudah habis, tinggal finishing touched macam : Magang, Seminar dan tentu saja KKN (Kuliah Kerja Nyata). Semua kawanku SUDAH KKN. AKu belum. karena waktu itu aku belum terlalu yakin untuk ikut lagipula ada beberapa tanggung jawab yang belum aku kerjakan. AKhir2 ini aku sering dihina (dengan nada bercanda), kalau aku belum KKN, masih kecil dan sebagainya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar2 khawatir, karena aku ingin segera selesai kuliah dan mengejar cita-citaku.&lt;br /&gt;Sementara itu, lamaran magangku di sebuah perusahaan di Jakarta belum mendapat jawaban... Aku benar2 khawatir. Sampai aku akhirnya aku mengSMS sahabat-sahabat dekatku agar berdoa bagiku...&lt;br /&gt;Sebuah SMS yang menguatkanku mampir dan ini kekuatan dari Sang Khalik ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Suatu anugrah yg besar. Ketika kita dipercayakan sebuah pekerjaan yg di luar jangkauan kita sebagai manusia. Tidak ada pekerjaan yg tidak bisa diselesaikan oleh Tuhan kita. Kita pun juga diperlengkapiNya IMAN dan Diapun tidak pernah menyuruh kita bekerja sendiri atau dengan kemanusiaan kita. Saat kita mendapat pekerjaan besarlah IMAN kita diuji...&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#ff6600;"&gt;(tengkyu 'dik...)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-113770190123750731?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/113770190123750731/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=113770190123750731&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113770190123750731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113770190123750731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/01/aku-sedang-khawatir.html' title='Aku sedang khawatir'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-113769950103935680</id><published>2006-01-20T02:37:00.000+07:00</published><updated>2006-01-20T02:38:21.400+07:00</updated><title type='text'>aku baru saja merampungkan filmku</title><content type='html'>(januari 2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehm, sesaat aku memandang CD film hasil buatanku bersama teman-teman di 'muvee buzZer' (komunitas pembuat film pemula). AKu menggelengkan kepala dan terlontar kalimat ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sebenarnya aku kurang puas (baca jujur : Tidak Puas) dengan editanku di film panjang pertama ini.. AKu beri nilai 5 deh...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sesaat sahabatku berkomentar ;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aku nilai 1 (baca: SATU).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kaget sekali aku! Nilainya rendah sekali...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sobatku berkomentar lagi ;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;...tadinya aku mau beri nilai &lt;/em&gt;9 bahkan 10...&lt;br /&gt;tapi gimana lagi?? yang bersangkutan cuma kasih 5....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OUW!&lt;br /&gt;Aku emang gak puas dengan apa yg kukerjakan. Tetapi aku harus menyadari sesuatu bahwa: Film panjang pertama (dengan durasi 1 jam 45 menit) ini merupakan kerja tim. Bahkan Penata suaraku memberi label discnya dg nama : "Hasil Perjuangan.."&lt;br /&gt;Sobat, tahukan bahwa film ini merupakan anugerah Sang Khalik? Kami bahkan menyelesaikannya serba TEPAT WAKTU!&lt;br /&gt;CD ke dua selesai di"burn" pada pk. 23.00 dan pk 00.20, Film ditayangkan...&lt;br /&gt;Luar biasa, kan?&lt;br /&gt;Karena Sang Khalik yang ternyata juga Sahabatku sendiri, film "Cerita Desember" SELESAI.. Itu ANugerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku ralat : Bahwa yg berhak menilai itu hanya Sang Khalik, sahabatku...&lt;br /&gt;Sahabatmu juga, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Aku ingin menunjukkan film "Cerita Desember padamu juga.... Nantikan ya di Bulan Febuari kami tayangkan lagi...)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-113769950103935680?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/113769950103935680/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=113769950103935680&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113769950103935680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113769950103935680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/01/aku-baru-saja-merampungkan-filmku.html' title='aku baru saja merampungkan filmku'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-113769868073306151</id><published>2006-01-20T02:15:00.000+07:00</published><updated>2006-01-20T02:24:40.756+07:00</updated><title type='text'>akhirnya aku nulis...</title><content type='html'>Susah juga ternyata mengungkapkan ide melalui cerita pendek.&lt;br /&gt;aku suka menggambarkan suatu ide, perasaan, uneg-uneg dan inspirasi kepada semua orang melalui deskripsi sebuah cerita. Ternyata enggak terlalu mudah..&lt;br /&gt;Berbulan-bulan aku menanti komen2 ttg tulisanku,tapi enggak ada tuh... (HikZ)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya dawlah... maybe next time...&lt;br /&gt;lagipula aku rindu untuk membagikan banyak hal yang telah aku dapat kini.&lt;br /&gt;Banyak hal tentang kehidupanku yang jadi inspirasiku sendiri. Siapa penulisnya?Sang Khalik kebangganku yang tidak pernah habis menorehkan tintanya melalui cerita-cerita hidupku, walaupun sering aku tanpa izin menuliskan sendiri jalan pikirku untuk hidupku sendiri..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow! aku sudah siap untuk berbagi banyak hal kini...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-113769868073306151?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/113769868073306151/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=113769868073306151&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113769868073306151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/113769868073306151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2006/01/akhirnya-aku-nulis.html' title='akhirnya aku nulis...'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-111240435115849029</id><published>2005-04-02T08:12:00.000+07:00</published><updated>2005-04-02T08:12:31.163+07:00</updated><title type='text'>“Semanggi  Suroboyo”</title><content type='html'>Aku berjalan di bawah terik dengan telapak kepanasan. Sampah yang kudapat hari ini sudah banyak. Semoga setoranku akan bertambah. Memang terkadang lelah juga menjadi pemulung. Tetapi bagaimana lagi, aku harus melakukakannya.&lt;br /&gt;Lamunanku terhenti. Dari jauh aku melihat Bapak tergopoh-gopoh. Kuberlari menghampirinya.&lt;br /&gt;“Cepat bantu bapak ! Mau ada obrakan !” aku langsung tanggap mendengarnya. Segera kuringkas semua botol Legen dagangan bapak. Bergegas kami mendorong rombong kecil yang sudah  menjadi tumpuan hidup kami bertahun-tahun.&lt;br /&gt;“Untung ‘le, Kamtib belum sampai membongkar...”  kata bapak saat kami tiba di rumah.  “Ibumu belum datang ‘le?”&lt;br /&gt;Aku menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;“Kita makan saja dulu, ya.”&lt;br /&gt;Terkadang aku trenyuh melihat melihat keluargaku. Bapak hanya seorang pedagang kecil es Legen. Ibu membantu bekerja berkeliling berjualan Semanggi. Mereka berdua menghidupiku dan dua adikku dengan ngos-ngosan.&lt;br /&gt;“Bapak gak sampai diobrak kan ?” ibu datang dengan kecemasan.&lt;br /&gt;“Tidak sampai kok, bu.”&lt;br /&gt;“Alhamdullilah.” Ibu meletakkan bakul semangginya.&lt;br /&gt;“Laku hari ini ?”&lt;br /&gt;“Biasa saja, pak.” Ibu berkata dengan kecewa. “Terkadang ibu heran, mengapa makanan daerah sendiri malah kalah dengan ayam Amerika.”&lt;br /&gt;“Jualan ayam Amerika saja.” celetuk Cuplis si bungsu. Aku hanya mengulum senyum sementara bapak dan ibu tertawa terbahak-bahak. Kegembiraan itulah yang selalu menguatkanku saat merasa susah menghadapi hidup.&lt;br /&gt;“Oh ya, Tole. Tolong antarkan pesanan mbak Miranda, ya.” aku langsung terkejut mendengar nama itu. Mbak Miranda tinggal di satu perkampungan terkenal di kotaku. Selalu ramai tiap malam dipenuhi wanita-wanita penjaja cinta dan ia termasuk di dalamnya.&lt;br /&gt;“Gak usah takut. Siang-siang sepi. Ibu masih repot, le. Tolong, ya.” Ibu menyodori bungkusan Semanggi. Sebenarnya aku ragu, namun demi ibu akhirnya segera kukayuh sepeda menuju kesana.&lt;br /&gt;Bulu kudukku merinding. Aku merasakan suasana aneh di tempat ini. Untung segera kutemukan wajah mbak Miranda. “Eh Tole. Nganter Semanggi?”&lt;br /&gt;Segera kusodorkan bungkusan padanya.&lt;br /&gt;“Semanggi ibumu paling enak, gak ada yang menandingi.” Ia lalu mengeluarkan selembar sepuluh ribu dari dadanya. Aku jadi jijik dan menunduk.&lt;br /&gt;“Nih ! terima kasih, ya.” Ia mengenggamkannya di telapakku sambil berbisik mendekat dan menyentuh pipiku, “Kembaliannya buat kamu.”&lt;br /&gt;Aku mengangguk dan segera meninggalkannya.&lt;br /&gt;“Besok antar 5 bungkus lagi, le !” suaranya terdengar dari jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini Surabaya terasa dingin sekali. Aku merapatkan tubuh di sudut ranjang, kesepian. Sudah dua hari keluargaku pergi ke rumah Budhe di Malang untuk pinjam uang.  Sejenak kumendengar gedoran pintu yang keras sekali. Kuberanikan untuk membukanya.&lt;br /&gt;“Tole, tolong Mbak Miranda.” wanita ini tampak tergopoh. Ia mengenakan busana ketat berwarna merah minim.  “Boleh mbak masuk ?”&lt;br /&gt;Kemudian segera kututup rapat pintu rumahku. Aku begitu heran, mengapa tengah malam begini ia datang ke rumah. Aku memandanginya terus.&lt;br /&gt;“Ah, Mbak enggak mau beli Semanggi. Mana keluargamu yang lain ?”&lt;br /&gt;Aku menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;“Pergi ?”&lt;br /&gt;Aku menggangguk. Kemudian kusodorkan segelas air, karna kulihat wajahnya pucat sekali. Mbak Miranda meminumnya seteguk demi seteguk lalu mengembalikan gelas itu padaku. Ia mengeluarkan tissue dari tas tangan dan mengelap keningnya&lt;br /&gt;“Terima kasih.” Katanya sambil terduduk di lantai. Aku memandangnya lagi. Ia meneteskan air mata dan beberapa detik kemudian menangis. Hatiku tersentuh. Ternyata wanita yang selalu terlihat ceria di hadapan para lelaki hidung belang ini bisa juga menangis.&lt;br /&gt;“Sebenarnya mbak tadi kena razia, le. Untung, berhasil kabur. Makanya mbak buru-buru ke rumahmu. Karena ini yang terdekat. Enggak apa-apa kan ?”&lt;br /&gt;Aku  mengangguk.&lt;br /&gt;“Mbak tahu, mungkin kamu jijik dengan mbak. Karena mbak seorang WTS.”&lt;br /&gt;Aku buru-buru menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;“Enggak apa-apa. Mbak sudah terbiasa.” Ia mengusap air matanya.&lt;br /&gt;“Orang selalu begitu. Mereka tidak tahu sebenarnya. Dari lubuk hati yang terdalam, sebenarnya mbak selalu menangis. Menyesali pekerjaan ini.” Mbak Miranda memandangku, aku hanya menunduk.&lt;br /&gt;“Apa daya, sudah masuk dalam lumpur...”&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sebulan kami sekeluarga tak mendengar kabar mbak Miranda, sejak razia itu. Kata ibu, ia kembali ke kampung karena sakit parah. Kabar terakhir dari teman-temannya malah menyebutkan kalau Mbak Miranda sudah meninggal karena HIV/AIDS. Sungguh tragis..... !&lt;br /&gt;Sementara keadaan ekonomi keluargaku semakin memburuk. Uang pinjaman dari Budhe tidak bisa menolong. Kini daerah jualan bapak sudah dinyatakan bebas PKL. Akibatnya bapak sekarang jadi kuli. Dagangan Semanggi ibupun makin hari makin sepi, namun beliau tetap ngotot berjualan.&lt;br /&gt;Aku dan adik-adikku tak lagi sekolah. Buat makan saja kurang.&lt;br /&gt;“Le, semiskin apapun kita, jangan pernah jadi pencuri, ya.” kata-kata bapak itu selalu jadi peganganku saat bekerja mengais sampah. Meski pemulung, aku bukan pencuri. Tetapi kadang aku jengkel juga pada orang-orang. Mereka selalu memarahiku saat aku mengobrak-abrik sampah. Mereka bilang itulah sebabnya kota ini bau. Mereka tidak tahu betapa sulitnya aku mencari sampah yang dapat didaur ulang agar setorannya dapat membantu biaya hidup keluargaku.&lt;br /&gt;Aku melangkah pulang dengan sejuta lelah. Alangkah terkejutnya diriku melihat ramai orang-orang di sekitar rumah.&lt;br /&gt;“Le, rumah kita digusur.” Ibu menangis menghampiriku.&lt;br /&gt;Segera aku berlari membantu bapak meringkas sisa bangunan kami.&lt;br /&gt;“Kita akan kemana, pak ?” tanya Burhan adik kedua-ku. Bapak hanya menggeleng. Sementara perkampungan kami ramai dan sesak. Orang-orang kebanyakan tidak terima dengan pembongkaran tiba-tiba ini.&lt;br /&gt;“Sudahlah, le. Ini memang bukan milik kita. Tanah ini milik pemerintah.” Bapak tegar bernasihat. Aku hanya meneteskan air mata kesedihan. Kemudian kami pergi meninggalkan perkampungan penuh kenangan itu.&lt;br /&gt;Saat aku dan bapak keluar kampung, kami tidak mendapati ibu dan Cuplis.&lt;br /&gt;“Kemana mereka, le ?”&lt;br /&gt;Aku menggeleng.&lt;br /&gt;“Kita berpencar. Bapak cari bersama Burhan, kamu cari di tempat-tempat ibu biasa berjualan.” aku mengangguk dan kami berpisah.&lt;br /&gt;Aku menelusuri perkampungan mencari ibu. Setidaknya sudah puluhan gang aku masuki. Kakiku sakit sekali. Tak terasa suara adzan sudah mengalun. Aku sandarkan tubuh sejenak. Sayup-sayup, kutatatap langit senja, lalu kuteringat bapak dan Burhan. Jangan sampai aku kehilangan mereka juga. Bergegas kutuju bekas perkampunganku yang kini telah rata, namun tidak kutemui mereka. Tanpa sadar, lelah aku tertidur di emperan toko.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama seminggu aku mencari keluargaku, namun tak dapat kutemukan. Hatiku menjerit pilu. Di saat seperti ini aku butuh keceriaan mereka. Sekarang aku mesti sendiri menghadapi pahitnya hidup di kota yang tak pernah menjadi pahlawan buatku, tetapi malah menyusahkanku. Satu yang membuat aku bingung, bagaimana aku hidup tanpa keluargaku dengan keadaanku ini. Bagaimana aku akan berkomunikasi dengan orang lain, sementara aku bisu ?! (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-111240435115849029?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/111240435115849029/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=111240435115849029&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111240435115849029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111240435115849029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2005/04/semanggi-suroboyo_01.html' title='“Semanggi  Suroboyo”'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-111240430563876084</id><published>2005-04-02T08:10:00.000+07:00</published><updated>2005-04-02T08:11:45.643+07:00</updated><title type='text'>terasing dan MATI [Kebenaran yang Terbenam]</title><content type='html'>‘Kan kuingat di dalam hatiku, betapa indah semalam di Cianjur….¯&lt;br /&gt;Nada itu baru terlantun di bibir. Riuh audiens menghantarku kembali ke meja. Sebenarnya tak satu pun pengunjung yang kukenal di kafe ini. Mungkin mereka hanya suka lagu lawas yang baru kulantunkan. &lt;br /&gt;Mas, suaranya bagus.&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Ritual kesantunan. Sesaat aku menunduk. Rendah sekali. Sebuah memori berterbangan halus di alam sadar...&lt;br /&gt;Ada luka di balik lagu itu. Bukan karena aku yang mencipta. Entah siapa yang membuatnya?! Yang jelas aku hidup dari lagu ini. Aku mau melupakan saja pengalaman menyakitkan itu. Mungkin buatku dulu, menggembirakan. Menyenangkan. Saat ibu menyanyikan lagu itu, aku turut melafalkan.&lt;br /&gt;Uh... hatiku begitu miris. Lebih tepatnya, trenyuh.. Sekarang aku kehilangan dia. Di mana ibu? Aku sudah berusaha mencari. Sebuah pencarian detektif. Kenapa? aku belum siap semua orang tahu. Titik. Ingin tahu? Dengarkan saja. Diam, jangan komen. Aku tidak suka.&lt;br /&gt;Deep Blue Kiss, satu.&lt;br /&gt;Pelayan itu mengangguk setelah aku memesan minuman.&lt;br /&gt;Sekarang aku hidup sendiri. Aku punya perusahaan, sebuah swalayan berisi kebutuhan rumah tangga. Aku sudah buka 5 cabang di kota ini. Terlampau cukup untuk penghasilanku. Sangat tidak cukup untuk kebahagiaan batinku. Aku tidak pernah tersenyum saat tahu ibuku pergi.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;wanita 30 tahun-an itu berjalan dengan alas kaki dan pakaian seadanya. Ia selalu membawa tutup-tutup botol, dipaku jadi satu pada kayu kecil. Ecek-ecek, orang Jawa menyebut.&lt;br /&gt;Ia dipanggil ‘Ti dan hanya seorang anak 3 tahun saja yang ada di gendongannya. Ia bernyanyi dari angkutan umum satu ke angkutan umum lain. ‘Ti berkeliling di terminal sepanjang hari.&lt;br /&gt;Setangkai anggrek bulan....¯&lt;br /&gt;Widuri,... engkau bagai rembulan, sayang.... ¯&lt;br /&gt;Bengawan Solo.... riwayatmu kini....¯&lt;br /&gt;Suara ‘Ti tidak terlalu sumbang. Ia bernyanyi dengan ramah dan selalu mendoakan penumpang agar selamat sampai di tujuan mereka. Banyak yang simpatik. Tidak sedikit yang mencibir.&lt;br /&gt;Masa, ngamen ngajak anaknya? Mau ngajari males?&lt;br /&gt;Keluhan sok peduli itu selalu diberi hadiah senyuman. ‘Ti sadar, mereka tidak empati padanya. Tidak perlu melakukan itu juga tak apa.&lt;br /&gt;Maafkan ibu ya, ‘ngger....&lt;br /&gt;Kalimat itu yang selalu ia bisikkan kepada gendongannya.&lt;br /&gt;Tak terasa pipiku dialiri air mata mengingingatnya. Aku benar-benar tahu mengapa ;’ibu melakukan itu. Aku tidak merasa diajari malas olehnya. Aku malah tahu bagaimana harus menghargai uang, keping demi keping. Aku benci orang-orang yang memandang ibuku sebelah mata. Aku ingin berteriak kepada mereka dari dulu, aku bangga pada mbak ‘Ti, ibuku....!!!&lt;br /&gt;Pasti kau bertanya, di mana ayahku, kan? Aku tidak pernah melihatnya! Sejak aku pertama membuka mata di dunia ini, bahkan. Kata ibu dia dipenjara. Dihukum negara karena tindakannya dianggap merusak nama baik seorang jenderal. Ia membawa lari hartanya dan memfitnah Jenderal itu.&lt;br /&gt;Kata ibu, semua kata orang itu bohong. Ia tidak pernah melakukan itu. Ayah hanya alat ketenaran. Semua karena Jenderal itu ingin kekuasaan dan ingin menghapus kebejatannya sendiri. Ayah digunakan sebagai kambing hitam. Kambing congek Jenderal itu. Ayahku lalu tewas tertembak.&lt;br /&gt;Sekarang aku ingin berteriak lagi, kalau ayahku bukan kambing congek....!!!!&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;‘Kan kuingat di dalam hatiku, betapa indah….¯&lt;br /&gt;‘Ngger, jangan ikut-ikut! Kamu sekolah saja. Ibu masih sanggup bekerja.&lt;br /&gt;Biasanya aku langsung ngeloyor pergi ke kasur kalau ibu menegur seperti itu. Aku hanya ingin mencari uang sendiri. Ibu sama sekali tidak mengijinkan. Katanya, wajahku sangat mirip ayah.&lt;br /&gt;Berbahaya, ‘ngger kalau kamu nanti ada yang menculik....&lt;br /&gt;Aneh? Itu pikirmu, kan? Sama. Apa hubungannya ngamen dengan aku mirip ayah. Bukankah itu lumrah, kan?&lt;br /&gt;Selain ibu tidak ingin kamu bekerja keras, ada alasan lain...&lt;br /&gt;Apa?&lt;br /&gt;Nanti saja kalau sudah waktunya.&lt;br /&gt;Tapi, bukankah dulu aku juga ikut ibu ngamen?&lt;br /&gt;Sudahlah, ngger....&lt;br /&gt;Kalau sudah begitu aku pasti diam. Aku tidak ingin membuat ibu gundah. Menurut saja, apa susahnya. Aku yakin ibu punya alasan kuat di balik itu. Aku akan menunggu penjelasan itu. Aku menantinya sampai aku besar, mungkin.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;‘Ngger sudah waktunya.&lt;br /&gt;Ah, sebenarnya aku benci ini. Aku sudah besar, ingin rambutku panjang. Tapi lebih baik menurut saja. Aku kemudian duduk di kursi dan ibu mencukurku. Helai demi helai rambut lurusku yang sudah panjang itu berjatuhan di lantai.&lt;br /&gt;Tidak butuh waktu lama, kepalaku sudah licin.&lt;br /&gt;Kalau begini kamu tidak terlalu mirip ayah.&lt;br /&gt;Aku memandangi wajahku di depan cermin. Kuelus perlahan kepala ini. Plontosnya aku... dan aku belum berani bertanya lagi mengapa ibu selalu berkata seperti itu. Aku lebih rela tampak seperti Pak Ogah.&lt;br /&gt;‘Ngger ingat, jangan pernah memelihara jambang, kumis, jenggot dan rambut panjang. Ibu tidak pernah meminta apa-apa, turuti saja ini, ya...&lt;br /&gt;Aku mengangguk. Lagi-lagi.&lt;br /&gt;Kubasuh kepala licin ini, bersih dari sisa-sisa cukuran.&lt;br /&gt;Ayahmu tewaspun, masih dibebani dendam Jenderal gadungan itu. Ia akan membunuh keturunannya.&lt;br /&gt;Apa? Aku sangat tersentak.&lt;br /&gt;Jangan takut, ‘ngger... selama ada ibu, aku akan menjagamu.&lt;br /&gt;Pantas, ibu begitu risau kalau aku mirip ayah.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Mau pesan anggur?&lt;br /&gt;Aku hanya menggeleng membalas tawaran pelayan kafe.&lt;br /&gt;Kalau dipikir-pikir kisah ayahku itu seperti sinetron. Sebuah kehidupan yang dramatik. Gara-gara dendam itu aku dan ibuku hidup dalam ketakutan. Tetapi inilah kehidupanku yang sebenarnya. Sebuah realitas. Bukan mimpi sinema elektronik.&lt;br /&gt;Kamu, Anto Johan?&lt;br /&gt;Seorang tua mendekati wajahku dan mengernyitkan dahi.&lt;br /&gt;Aku buru-buru menggeleng dan membayar minuman ke pelayan.&lt;br /&gt;Langkahku harus cepat, pikirku. Kuayunkan langkah dan berlari jauh sekali dari kafe. Ternyata Pak Tua itu mengejar di belakangku. Kutambah kecepatan ‘bak kijang yang diburu. Jangan-jangan ia Jenderal itu?!&lt;br /&gt;Sebenarnya kuingin berbalik dan kubunuh dia. Tetapi kalau itu benar? Kalau tidak?! Lagipula, ibu selalu memintaku untuk memaafkan dan melupakan semua kejadian masa lalu keluarga kami.&lt;br /&gt;Berhenti...!!!!&lt;br /&gt;Pak Tua itu berteriak seperti orang gila. Aku kemudian berlari terus menuju apartemen dan kututup rapat-rapat pintunya. Segera kuberlari ke wastafel. Napasku tersengal dan kudapati wajahku telah lusuh di cermin. Rambutku telah mulai panjang, bulu-bulu simbol kemaskulinan ini ternyata sudah liar berhias.&lt;br /&gt;Perlahan kuraih alat cukur itu dan segera kuhabiskan rambut di kepala. Cambang dan jenggot pun kutebas habis.&lt;br /&gt;Setiap hari aku selalu digelayuti ketakutan. Semua karena dendam membara. Aku telah memaafkan pembunuh ayahku. Namun aku juga berhak hidup bebas tanpa takut ancaman. Aku tidak protes kalau aku harus melicinkan kepala dan wajah, tetapi itu akan kulakukan kalau aku bisa hidup bebas.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Alat perekam itu telah selesai diputar. Aku masih duduk di kursi terdakwa.  Terdiam dituduh membunuh Jenderal Urya. Aku bahkan tak tahu mengapa ia mati? Bukankah dia yang mengejarku?! Kini seantero jagad tahu kalau aku anak Anto Johan, provokator rakyat. Hal yang tidak pernah dilakukan ayah.&lt;br /&gt;Apa keadilan tidak memihakku lagi seperti tidak membela ayah?&lt;br /&gt;Pembunuhan terhadap Jenderal Urya. Terdakwa : Fajar Nusantoro, dijatuhi hukuman mati.&lt;br /&gt;Oh, tidak?!?!!!! Ajal akan menjemputku. Hakim sudah mengetokkan palunya...! (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-111240430563876084?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/111240430563876084/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=111240430563876084&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111240430563876084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111240430563876084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2005/04/terasing-dan-mati-kebenaran-yang_01.html' title='terasing dan MATI [Kebenaran yang Terbenam]'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-111238619353956160</id><published>2005-04-02T03:09:00.000+07:00</published><updated>2005-04-02T03:09:53.543+07:00</updated><title type='text'>Joko Dolog</title><content type='html'>Hariku begitu melelahkan tampaknya. Bagaimana tidak ?! Seluruh kegiatan yang kulakukan aku sambung secara berturut-turut dalam sehari. Berangkat jam enam pagi dari rumah, kuliah sampai jam satu, terus janji ama Ria ke Mall, nemenin Ibu ke Pasar lalu nyambung lagi ngurusi kafe. Badanku rasanya terbelah-belah deh. Makanya kuhempaskan saja dengan pasrah di atas ranjang. Meski begitu, mata ini tak mau segera terpejam, terus memandangi langit-langit kamarku sembari inget kejadian di kampus siang tadi. Sungguh menambah beban lelahku.&lt;br /&gt;Aku kesel banget sama Arik. Bisa-bisanya dia bersikap dingin saat kami berpapasan. Bahkan aku yang senyum dan nyapa dia dulu, eh Arik cuman bales sekenanya aja. Ingin aku dorong dia, tapi untung aku masih bisa mengontrol diri. Sebenarnya aku agak bingung juga atas sikapnya yang aneh itu. Baru semalam kami bercanda di telepon, ketawa-ketawa, namun mengapa dia berubah hanya dalam sehari. Apa selama ini dia hanya mempermainkan aku? Kuharap tidak. Sebab aku sudah telanjur memberikan hatiku kepadanya.&lt;br /&gt;Sesaat aku membuka halaman-halaman buku harianku. Aku selalu menulis setiap hal tentang Arik. Aku inget saat kami pertama ketemu dulu. Waktu OSPEK, doi satu-satunya senior yang aku kagumi. Orangnya tidak banyak cakap namun ramah, wajahnya terlihat cool dan smart. Itu alasannya aku jadi menaruh hati. Belum lagi Arik jago banget main piano. Bagiku, itu menambah kesempurnannya.&lt;br /&gt;Sedari awal aku sadar kalo Arik itu bukan tipe cowok yang rame dan friendly. Lain denganku yang selalu heboh kalo lagi gaul. Terlalu beda memang. Tetapi setelah aku berusaha menjadi temen deketnya selama beberapa bulan ini, aku belajar banyak hal dari dia.  Mulai kedisplinan sampai kesabaran. Bagiku, Arik itu cowok yang spesial banget dari semua yang pernah aku kenal.&lt;br /&gt;“Jangan terlalu mengharapkannya, Lia.” Itu yang selalu Dina, sobatku, katakan. Tetapi aku seakan tak pernah mempedulikan itu. Meski aku telah banyak kecewa akan semua sikap-sikapnya yang sulit ditebak, aku malah bertambah sayang sama Arik. Dia selalu membuat aku penasaran, itu yang kusuka darinya.&lt;br /&gt;Arik terkadang ramah dan enak diajak ngobrol kalo di telepon. Namun kalo kami ketemu, terkadang doi jadi cowok yang pendiam banget, seperti patung ‘Joko Dolog’ yang ada di kotaku. Kami memang belum mengikat apa-apa, apalagi jadian. Mungkin hanya sebatas temen deket. Habis bagaimana, Arik itu terlalu pasif. Sampai detik ini pun aku nggak ngerti apa dia juga menaruh hati kepadaku. Entahlah, aku terlalu lelah memikirkan semua ini. Tak sadar aku sudah terlelap dalam mimpi.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak Lia. Kak.” Teriakan Marcel adikku membangunkanku dari lelap. Aku lalu membalasnya dengan malas. “Ada apa, Cel?”&lt;br /&gt;“Ada yang cari kakak.” Aku sesaat kaget mendengar suara adik cewekku satu-satunya ini. Kulirik wekerku, astaga sudah jam sembilan! Kemudian aku membuka pintu kamar dan segera aku menjumpai wajah mungilnya ini.&lt;br /&gt;“Siapa?”&lt;br /&gt;“Enggak tahu.”&lt;br /&gt;“Kamu gak tanya namanya?”&lt;br /&gt;“Laki-laki, orangnya tinggi, putih, kurus, rambutnya lurus,...”&lt;br /&gt;“Heh, sudah-sudah. Aku tahu yang kau maksud.”&lt;br /&gt;“Pacar kakak, ya?”&lt;br /&gt;“Ssst! Ngawur kamu. Suruh tunggu sebebentar.” Aku langsung beranjak dan buru-buru ke kamar mandi. Sebenarnya aku sungguh terkejut, buat apa Arik, si Joko Dolog itu pagi-pagi datang ke rumah. Apa ada yang penting, ya?&lt;br /&gt;Setelah kurasa sudah rapi, kemudian aku berjalan ke ruang tamu menemuinya.&lt;br /&gt;“Hai Lia, selamat pagi.” dia menyapaku dulu dengan senyum ramahnya yang khas.&lt;br /&gt;“Maaf, aku lama. Baru bangun, nih. Kamu sih, datangnya kepagian.”&lt;br /&gt;“Oh, jadi aku mengganggu ?”&lt;br /&gt;“Oh, tidak. Tidak. Hanya bercanda. Oh, ya ada perlu apa ?”&lt;br /&gt;Arik terdiam sejenak ketika aku bertanya begitu. Namun beberapa saat kemudian ia mengeluarkan suara, “Apa kamu hari ini ada acara? Bisa nemenin aku jalan-jalan?”&lt;br /&gt;Jantungku rasanya copot mendengar ia berkata seperti itu. Sama sekali aku tak menduganya. Ingin aku melompat saking girangnya, inilah saat-saat yang aku tunggu. Tetapi karena Arik ada di depanku, aku pun diam aja, memastikan apa dia sungguh-sungguh atau tidak.&lt;br /&gt;“Lia, kamu bisa atau tidak?” suaranya yang cool itu menyadarkanku.&lt;br /&gt;Kemudian aku bangkit dan tersenyum kepadanya. “Ok. Ok. Aku bisa. Tetapi dalam rangka apa nih, kamu ngajak jalan?”&lt;br /&gt;Raut mukanya berubah jadi serius ketika aku berkata seperti itu.&lt;br /&gt;“Aku, mau ngomong satu hal ke kamu?”&lt;br /&gt;Betapa hatiku terkejut mendengarnya, jangan-jangan Arik mau nembak aku hari ini. Tapi, enggaklah aku gak mau ‘GR’ dulu.&lt;br /&gt;“Ada satu masalahku yang perlu aku ceritakan......”&lt;br /&gt;Tuh kan, bener. Arik bukan mau ‘nembak’. Melihat wajahnya yang serius itu, pasti ada yang penting banget buat dia.&lt;br /&gt;Di mataku, Arik itu termasuk orang yang tertutup sekali. Mana pernah ia punya temen deket di kampus atau di manapun. Tetapi semenjak dia deket denganku akhir-akhir ini, ia mulai membuka sedikit demi sedikit kepribadiannya kepadaku. Itupun kalo aku tanya, dia mau bercerita atau terkadang dia sendiri malah yang cerita tentang keluarganya.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sudah sampai di warung kaki lima, taman kota. Cerahnya hari membuat suasana tambah sejuk. Aku kemudian menghampiri salah satu meja diikuti Arik. Perutku keroncongan lalu segera saja kupesan masakan kesukaanku dan Arik memesan bubur ayam. Mataku lalu berkeliling ke sekitar warung itu.&lt;br /&gt;“Tumben, minggu-minggu gini kok sepi ya, Rik ?” aku membuka percakapan dengannya sekedar melepas ketegangan yang nampak dari wajah Arik.&lt;br /&gt;“Eh, tahu enggak, Rik. Waktu kecil aku sering maen ke sini sama ayahku, lho. Pernah ya, aku salah memukul orang. Mulanya aku kira itu ayahku, ternyata bukan. Aku langsung malu dan lari deh.”&lt;br /&gt;“Lia,.... apakah sekarang kamu sedang mencintai seseorang ?” pertanyaan Arik itu rasanya membuat aku pingsan. Aduh, Joko Dolog...... !!!&lt;br /&gt;Aku tidak berani menatap matanya yang penuh tanda tanya yang besar.&lt;br /&gt;“Baiklah. Maaf. Pertanyaanku mungkin terlalu mengagetkanmu. Tapi sekali lagi aku mau minta maaf terlebih dahulu. Ini adalah saat yang mendesak yang harus aku lakukan.” Sekali lagi Arik terus menatapku tanpa berpaling.&lt;br /&gt;“Lia,.... maukah kau jadi kekasihku ?”&lt;br /&gt;ASTAGA ?! Gila!! Kata-kata itulah yang selalu kutunggu selama ini.&lt;br /&gt;“Untuk sebuah alasan apa ?” tak sadar bibirku berucap.&lt;br /&gt;“Ayahku sakit keras dan kemungkinan untuk hidup sudah kecil. Beliau ingin melihat calon istiriku, sebelum.....” Arik tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Kini dia tertunduk dan kulihat satu titik air ada di sudut matanya.&lt;br /&gt;Tanganku mengusap-usap pundaknya.&lt;br /&gt;“Lia, kumohon....”&lt;br /&gt;“Baiklah.” Oh, my God ?! aku mengiyakan untuk jadi kekasihnya ?!!! Apa-apaan ini? Jantungku bahkan berdegup kencaaang sekali.&lt;br /&gt;“Aku janji, setelah itu, aku akan meninggalkanmu dan kamu bebas memilih kekasih, siapapun itu.” Kata-kata Arik yang terakhir inilah yang tidak aku harapkan..... o&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-111238619353956160?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/111238619353956160/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=111238619353956160&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238619353956160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238619353956160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2005/04/joko-dolog.html' title='Joko Dolog'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-111238617504765900</id><published>2005-04-02T03:08:00.001+07:00</published><updated>2005-04-02T03:09:35.056+07:00</updated><title type='text'>Kidung Bingung</title><content type='html'>Perasaan Tia terus gelisah terngiang kata-kata Sandy tadi sore. Meski detak jam makin cepat berputar serta waktu terus bergulir, namun kata-kata Sandy terus terngiang di benaknya. “Cowok yang naksir kamu itu, bukan Alex, Dio, atau Fadly ! Tapi Randy !”&lt;br /&gt;Benarkah Randy yang dimaksud Sherly itu ? Atau cuma Sandy yang salah tebak ?&lt;br /&gt;Tidak ! Oh, tidak, Tuhan. Jangan Randy ! Cowok possesive itu yang tak tahu memperlakukan seorang cewek. Andai saja, yang dimaksud Sherly itu Alex atau Dio, pasti Tia bisa saja menerimanya meski ia sama sekali tak menaruh hati pada mereka. Tapi setidaknya Tia bisa menolaknya secara baik-baik.&lt;br /&gt;Randy ? Oh ! Nafas Tia kembali berhembus untuk kesekian kali. Bola matanya terus menerus berkeliling mencari jawab. Lamunannya tentang Randy bergulir melewati pikirannya.&lt;br /&gt;Randy. Seorang drumer yang gabung di Bandnya Sandy empat bulan lalu. Seorang cowok yang bisa juga dikatakan cakep. Tapi sikapnya yang agak kasar dan egonya yang tinggi bikin Tia jadi senewen tiap kali dia jemput Sandy, sobatnya seusai latihan. Memang Tia selama ini tidak pernah menunjukkan sikap yang sinis pada Randy. Tapi di dalam hatinya itu tersimpan ketidaksukaannya yang dalam.&lt;br /&gt;“Tia !” suara mama yang terdengar diiringi ketukan pintu membuat wajah imut gadis itu menoleh.&lt;br /&gt;“Iya, ma.”&lt;br /&gt;“Ada telpon buat kamu.”&lt;br /&gt;“Siapa ?”&lt;br /&gt;“Diangkat dulu, dong sayang !” ucapan mesra dari seorang mama yang sangat mengasihi putri sulungnya itu terdengar syahdu seiring musik klasik yang terlantun.&lt;br /&gt;“Sandy ?”&lt;br /&gt;“Bukan ! Kalau dia, pasti mama sudah kenal. Mungkin temen sekolahmu.”&lt;br /&gt;Tia langsung menyambar gagang telpon tanpa berpikir panjang lagi, siapa yang menelpon dia di saat kegalauannya seperti ini. “Halo…….”&lt;br /&gt;“Tia ?”&lt;br /&gt;“Iya, ini siapa, ya ?”&lt;br /&gt;“Ah, masak kamu lupa ?”&lt;br /&gt;“Eh, jangan main-main dong ! Kalau memang cuman main-main besok aja di sekolah ! Halo, siapa sih ini ? Halo,…..” suara Tia yang ketus karena jengkel itu sempat bikin kaget si penelpon.&lt;br /&gt;“Ah ! Begitu saja marah, Non ! Ini Randy !”&lt;br /&gt;Seketika itu juga petir serasa menyambar rumah hati Tia. Sosok yang dia pikirkan tadi kini suaranya telah ada di telinga Tia. Alamak ! Bagaimana ini ? Tia langsung jadi gugup saat itu juga.&lt;br /&gt;“Ada apa, Ran ? Mau tanya nomor HPnya Sandy ? 081 120 04 84. Kebetulan saat ini dia ada di konsernya PADI di Gedung Kesenian !”   Salting (salah tingkah) Tia makin menjadi-jadi. Rasanya ia pengen segera nutup telpon itu.&lt;br /&gt;“Lho ! lho ! kok Sandy, sih ? Siapa yang tanya HPnya Sandy ? Orang sudah tahu, kok !”&lt;br /&gt;Wajah Tia makin memerah. Jika saja itu bukan di telpon, pasti Tia sudah langsung menutup wajahnya.&lt;br /&gt;“Aku nelpon, bukan tanya Sandy. Aku cuman pengen ngobrol sama kamu. Kebetulan aku lagi nganggur banget !”&lt;br /&gt;“Memangnya di sekolahmu nggak lagi musim Ulangan Harian, Ran?”&lt;br /&gt;“Musim Duren ada ! Ha….ha…ha……ha…”&lt;br /&gt;Tawa lebar Randy di telpon sama sekali tidak menciptakan kegembiraan sedikitpun di hati Tia. Yang ada di benaknya sekarang, ialah bagaimana cara nutup telponnya agar Randy nggak tersinggung.&lt;br /&gt;“Memangnya kamu besok ada ulangan, Tia ?” pertanyaan inilah yang ditunggu Tia sedari tadi agar ia dapat segera menutup telponnya.&lt;br /&gt;“Oh, iya ! Iya ! betul ! Pasti Sandy udah cerita kalo aku akhir-akhir ini banyak ulangan dan tugas. Besok saja aku ulangan Tata Negara, belum lagi tugas Antro untuk buat makalah.”&lt;br /&gt;“Wah, jadi,…  aku ganggu, dong !”&lt;br /&gt;“Eh, Iya ‘sih …”&lt;br /&gt;“OK, deh kalo gitu. Udah dulu ya ! ‘Met belajar, Non Tia !  Malem !”&lt;br /&gt;Lega rasanya saat gagang telpon itu sudah ditutup. Baru saja kakinya melangkah, telepon sudah berdering lagi. Mati, deh ! pikir Tia. Kalau sampai itu Randy lagi,…..&lt;br /&gt;“Ha..lo …. “&lt;br /&gt;“Ada apa, Ya’ ! Kok kelihatannya ragu-ragu ?”&lt;br /&gt;“Uh, kamu, San ! Aku pikir siapa !”&lt;br /&gt;“Siapa emangnya ?”&lt;br /&gt;“Tebak siapa tadi yang barusan nelpon aku ?”&lt;br /&gt;“Sherly ? Alex ? Dio ? Dani ? atau,… Kepala sekolah ?”&lt;br /&gt;“Mending kalo cuman kepala sekolah ! cowok yang kamu ceritakan tadi sore itu, tuh ! Sang drumer possesive kebanggaan goup bandmu!”&lt;br /&gt;“Maksudmu Randy ?”&lt;br /&gt;“Iya ! Eh, ngomong-ngomong kamu lagi di mana ‘nih ?”&lt;br /&gt;“Di rumah. “&lt;br /&gt;“Hah ?! Jadi, bukannya di konsernya PADI ?’&lt;br /&gt;“Konsernya besok, Tia sobatku !”&lt;br /&gt;“Yah ! Aku tadi bohong ‘dong ama Randy.” Tia kemudian menceritakan segala keresahan dan kegugupannya menghadapi Randy barusan. Dengan detailnya, tanpa pengurangan sedikitpun ia luapkan pada sobat tercintanya yang satu tahun lebih muda darinya itu.&lt;br /&gt;“Memangnya kamu besok bener-bener Ulangan Tata Negara ?”&lt;br /&gt;“Enak aja ! emangnya aku tukang bohong ?”&lt;br /&gt;“Yah, bisa saja itu. Namanya juga orang lagi salting !”&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Pagi itu seperti biasa, Tia diantar Papa ke sekolah. Dengan ditemani udara pagi yang dingin, motor Papa melaju memecah keheningan pagi. Meski catatan Ta.Neg. udah ada di tangan, namun sedari tadi Tia hanya melamun saja. Memikirkan cara yang baik untuk menghindari Randy. Untung Randy nggak satu sekolah. Itu yang ada di benak Tia saat ini. Sehingga setidaknya, ia kini bisa konsen pada mata pelajaran.&lt;br /&gt;Tatapan Tia beralih pada gerbang coklat yang besar. Gerbang sekolahnya. Ia lalu turun dari motor dan mengucapkan sepatah dua patah pada Papa.&lt;br /&gt;Kini Tia berjalan menelusuri lorong panjang menuju kelasnya.&lt;br /&gt;“Ya’ ! kamu udah belajar Ta.Neg ?” kata-kata Sherly itu sempet bikin Tia kaget dan menoleh, “Sudah. Emangnya kenapa, Sher ?’&lt;br /&gt;“Ah, nggak ! Cuman tanya doang !” Sherly kemudian menghampiri Bangku Tia dengan masih memegang catatan Ta.Neg di tangan kirinya. “”Ya’ ! Kamu pasti udah tahu dong, cowok yang aku ceritain itu. Yang naksir kamu, …”&lt;br /&gt;“Iya. Sandy udah cerita sama aku, kemarin.”&lt;br /&gt;“Ooh !”&lt;br /&gt;“Bahkan dia udah telpon, saat aku sedang belajar !” gambaran kekesalannya kembali terlukis dalam wajah Tia mengingat kejadian semalam.&lt;br /&gt;Sementara Sherly hanya memandang wajah Tia dengan tatapan berbinar-binar. “Ya’ ! kamu tahu nggak ?! Si Randy itu udah naksir kamu sejak tiga tahun yang lalu !”&lt;br /&gt;“Tiga tahun ?!” alamak ! Berita apa lagi itu ? Hati Tia terus berdegup.  “Bukankah dia baru gabung di band kalian, empat bulan lalu ?” kini rasa resah Tia makin mengalir memenuhi hatinya.&lt;br /&gt;“Iya, tapi bukankah juga kalian pernah satu les-lesan, waktu SMP?”&lt;br /&gt;“Ah, iya. Aku baru inget. Lantas kenapa baru sekarang ia ungkapkan perasaannya ? Pakai orang ketiga lagi. Bukan hanya orang ketiga lagi, bahkan orang keempat, kelima, keenam. Semua orang sampai sudah tahu mengenai hal itu !” kekesalan Tia makin menjadi-jadi.&lt;br /&gt;“Tapi Randy itu tipe cowok setia, lho. Dia tidak gampang ‘nembak’ cewek !”&lt;br /&gt;“Bukankah dia itu terkenal sebagai cowok possesive ?! Semua orang yang terlibat di Band kalian sudah tahu itu. Bahwa Randy bisa bersikap demikian, meskipun masih dalam PDKT. ……. Masih PDKT aja udah demikian possesive-nya, apalagi udah ‘jadian’ ?! Nggak kebayang deh !”&lt;br /&gt;“Ya’! Kamu pasti belum tahu ! Randy udah berubah sejak dia putus ama pacarnya.”&lt;br /&gt;“Kapan ?”&lt;br /&gt;“Dua bulan yang lalu !”&lt;br /&gt;Pembicaraan mereka terhenti karena bel masuk udah terdengar. Dan tak terasa, kelas yang tadinya masih dihuni baru dua orang saja, kini sudah penuh.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Randy udah berubah ? Pikiran Tia melayang sejak ia meletakkan tas sekolah di meja belajarnya. Ia lalu mengingat moment yang terjadi sebulan terakhir. Memang benar. Akhir-akhir ini, Randy nggak pernah lagi membentaknya kalau ia nggak sengaja ganggu latihan mereka. Randy pernah nawarin segelas soft drink padanya. Bahkan pernah memberi Tia boneka panda, saat Tia, Sandy, Sherly dan temen-temen lain lagi JJS di mall.&lt;br /&gt;Tapi bagaimanapun, Tia tidak menaruh hati sedikitpun pada Randy. Pandangan Tia tanpa sengaja beralih pada sebuah boneka panda kecil yang berwarna kuning, terletak rapi diantara deretan boneka lain. “Randy,….  Meski kamu telah berubah sebaik apapun, aku nggak bisa nerima kamu. Aku nggak naruh perasaan apa-apa sama kamu.” Tidak terasa bibir Tia melantunkan kata-kata setelah ia mengambil panda kuning itu dan memain-mainkan ujung hidungnya.&lt;br /&gt;Sesaat lamunan Tia terhenti oleh dering suara telepon. Ia lalu melangkah ke luar kamar.&lt;br /&gt;“Halo,..”&lt;br /&gt;“Selamat siang, non Tia, lagi ngapain ?”&lt;br /&gt;“Randy ?”&lt;br /&gt;“Benar sekali. Akhirnya kamu nggak bentak-bentak aku lagi. Aku seneng lho !”&lt;br /&gt;“Kamu di mana, Ran ?”&lt;br /&gt;“Di rumah. Oh, iya, entar malem kamu ada acar nggak ? Ikut yuk nonton konsernya PADI. Nanti kujemput deh !”&lt;br /&gt;“Eh, tapi….”&lt;br /&gt;“Katanya Sherly, besok nggak ada ulangan. Aku nanti ke rumahmu jam enam, ya. Udah, ya ! Sampai nanti ….!”&lt;br /&gt;Suara Randy telah hilang. Tapi Tia belum menjawab apa-apa. Meski kini dalam hatinya tidak lagi menaruh benci pada Randy, namun dinding-dinding hatinya gelisah dan bingung. Bagaimana nanti kalau Randy ‘nembak’ dia. Tapi,.. ia bukan tipe cowok yang gampang ‘nembak’ ! Serentetan pertanyaan itu terus berjamur di pikirannya.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Gaun biru itu telah menempel pada tubuh Tia. Sementara tangannya memain-mainkan ujung tasnya. Gelisah menunggu Randy menjemput. Mama kebetulan pergi dan sudah pula mengijinkan putri kesayangannya untuk nonton konser. Pandangan mata Tia tak pernah tetap. Ia terus gelisah. Entah perasaan apa yang ada di hatinya ? Perasaan cintakah ? Entah. Tia terus bingung dan gelisah.&lt;br /&gt;Suara pagar yang sengaja diketuk itu membuat Tia berdiri dan merapikan kembali gaunnya. Ia langsung meraih daun pintu dan keluar dengan wajah berbinar. Setelah ia mengunci pintu depan ia lalu berjalan dan membuka pintu pagar.&lt;br /&gt;“Selamat malam, Tia.” Suara Randy itu membuat Tia makin resah, namun ia berhasil menutupnya dengan sedikit lengkung bibir yang menghiasi wajahnya.&lt;br /&gt;Taxi mereka telah melaju turut ramai malam minggu.&lt;br /&gt;“Memangnya, Sandy nggak cerita apa-apa ?”&lt;br /&gt;“Soal apa ? ….  Memang akhir-akhir ini, kami jarang kontak. Habis,.. dia sibuk terus sih !”&lt;br /&gt;“Band kami jadi band pembuka Padi !”&lt;br /&gt;“Masak ? Wah, hebat !”&lt;br /&gt;Tak terasa, setelah melalui berbagai obrolan panjang, mereka telah tiba di gedung Kesenian. Dengan romantisnya, Randy membukakan pintu taxi untuk Tia, sang ‘maha dewi’-nya.&lt;br /&gt;“Memangnya kalian membawakan lagu apa ?”&lt;br /&gt;“Lagu ciptaan Sandy, yang kemudian diaransemen oleh anak-anak.”&lt;br /&gt;“Apa judulnya ?’&lt;br /&gt;“Kidung Bingung.” Mendengar judul lagu itu Tia jadi tertawa terbahak-bahak.&lt;br /&gt;“Lho, kok, ketawa ?”&lt;br /&gt;“Nggak apa-apa ! Eh, itu Sandy !”  melihat Sandy, Tia langsung meninggalakn Randy yang kebingungan karna tawa Tia tadi. Dengan sedikit berbisik, Tia berkata pada Sandy dengan cubitan kecil di lengan Sandy, “Kamu jahat. Mau konser ama Padi, nggak bilang-bilang !”&lt;br /&gt;Sambil menahan sakit cubitan sobatnya itu, Randy juga berbisik, “Sorry ! Sorry ! kamunya juga sih, yang sibuk terus waktu kuhubungi !”&lt;br /&gt;Kali ini cubitan yang mendarat di lengan Sandy telah dilepaskannya. “Pakai lagunya orang, lagi !”&lt;br /&gt;“Dari mana kamu tahu ?”&lt;br /&gt;“Tuh !” arah pandangan Tia lalu menunjuk pada Randy yang telah duduk diantara personil BIRU, Bandnya Sandy di depan ruang ganti. Spontan Sandy langsung menarik lengan Tia dan bergeser sedikit dari tempat ngobrol mereka. Seraya masih berbisik, Sandy berkata, “Enak aja ! itu kan lagu ciptaanku sendiri !”&lt;br /&gt;“Tapi, pakai perasaannya siapa waktu itu ?”&lt;br /&gt;“Iya deh ! Aku ngaku, itu perasaan resahmu waktu ditaksir Randy !” Tia langsung terdiam. Pikirannya teringat kejadian waktu itu. Sementara Sandy berbisik lagi, “Eh, tapi, kamu kok mau dijemput Randy, ‘sih ? …. Jangan-jangan kamu udah bener-bener jatuh cintrong, ya ?”&lt;br /&gt;Cubitan kedua langsung ia layangkan lagi ke lengan Sandy, “Hush ! enak aja ! Justru saat ini aku masih bingung. Aku ini bener-bener jatuh cinta, atau hanya perasaan resah saja. “&lt;br /&gt;“San, udah waktunya, nih !” suara mas Franky, manager BIRU membuat pembicaraan Tia jadi berakhir.&lt;br /&gt;“Oh, iya, Ya’ ! Ini,..” Randy mengeluarkan sesuatu dari saku jas hitamnya, “Ini, aku hampir lupa. Ini tiketnya dan ini ada sesuatu buat kamu. Udah dulu ya !” Randy kemudian berjalan menjauh sementara Tia membalas senyum Sherly, bassist group band mereka, yang juga temen sekelasnya.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Tia kini telah duduk di kursi penonton. Di deretan VIP lagi. Sejenak matanya berkeliling memperhatikan panggung dan penonton lain, wah ! banyak juga ya, yang nonton, gumam Tia. Sesaat kemudian Tia ingat sesuatu. Sesutau yang diberikan Randy padanya. Sebenarnya, ia ingin membukanya di rumah, namun perasaannya terus membuat ia terdorong untuk segera membukanya. Kemudian ia buka bungkusan kado mungil warna biru itu.&lt;br /&gt;Ternyata isinya kalung dengan liontin berbentuk hati, berwarna perak. Di baliknya terselip kartu bertuliskan : “ Aku sayang kamu, Tia ! ... dari : Randy “&lt;br /&gt;Jantungnya kembali berdegup membaca kata-kata itu. Pandangannya lalu beralih pada pentas yang telah diisi oleh personil-personil BIRU BAND. Tatapannya langsung ia tujuakan pada sang drummer. Randy langsung membalas dengan senyuman manis, namun Tia hanya memberi sedikit lengkung bibir karna hatinya yang resah.&lt;br /&gt;Tak lama lagu itu terlantun. “Kidung Bingung” lagu yang melukiskan keresahan hatinya. Sandy, sang vokalis telah mulai masuk ke bait pertama. Tak terasa bibir Tiapun ikut melatunkan lagu itu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jalinan hasrat mengais asa yang membumbung&lt;br /&gt;Tak ada yang berani mencuri pandang&lt;br /&gt;Melati di hati terpetik kembali.&lt;br /&gt;Lirikan mata jadi suatu perhentian&lt;br /&gt;Tak ada yang berani menyentuh hati&lt;br /&gt;Mawar berduri menusuk jiwa.&lt;br /&gt;Sementara kegelisahan menghantui,&lt;br /&gt;( reff : ) Bunga-bunga di hati gugur membasahi&lt;br /&gt;Jiwa yang kosong, galau tak terisi.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ekspresi wajah Sandy begitu menghayati lagu ini. Sementara dengan keseriusannya memperhatikan tempo-tempo, Randy menabuh drumnya dengan tatapan mata yang tak lagi diarahkakan pada Tia.&lt;br /&gt;Hati Tia begitu resah. Ia gigit kedua ujung bibirnya menahan rasa getir. Ternyata cowok seperti Randy, bisa berubah sedemikian baiknya demi mendapatkan cinta Tia.&lt;br /&gt;Tapi bagaimanapun, Tia tidak dapat menerima cinta Randy. Karena dia tak punya perasaan apapun pada diri Randy, apalagi cinta. Namun di lain sisi, Tia takut menolak cinta Randy. Bukan lagi karna dia possesive. Randy kini telah berubah total. Cowok yang dulunya begitu tidak bisa memperlakukan seorang cewek dengan egonya yang tinggi, bisa berubah sedemikian. Tia takut kalau ia menolak Randy, sifatnya yang dahulu bisa-bisa timbul lagi, dan pastilah itu karna tolakan Tia.&lt;br /&gt;Persaan kalut itu terus menerus menghantui perasaannya.&lt;br /&gt;Randy,… andai kamu tahu perasaanku, andai kamu tahu rasa kalutku yang tertuang dalam kidung bingung itu. Tapi, aku takut mengungkapkannya padamu. ……&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-111238617504765900?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/111238617504765900/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=111238617504765900&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238617504765900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238617504765900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2005/04/kidung-bingung.html' title='Kidung Bingung'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-111238611724019234</id><published>2005-04-02T03:08:00.000+07:00</published><updated>2005-04-02T03:08:37.246+07:00</updated><title type='text'>Cerpen Kontroversial</title><content type='html'>Hari ini adalah hari yang penuh degup jantung buat Dido. Bagaimana enggak, baru saja ia memasuki gerbang sekolah, terdengar rumpian dari para gadis yang membicarakan cerpen buatan Dido itu. Baru sepuluh langkah, cengengas-cengenges cowok-cowok yang mengutarakan bahwa bodo banget pria bernama Galuh yang mau mati tragis membela mantan kekasih yang sudah mengkhianatinya. Belum lagi warga kelasnya yang ramai juga membahas cerpennya itu, sembari berhias tanda tanya, sebenarnya yang menulis cerpen itu cewek atau cowok hingga sebegitu romantisnya.&lt;br /&gt;“Do’! Gue kan editor majalah. Kok aku gak tahu sih, siapa yang bikin cerpen itu. Lu tahu siapa ?” suara Wewe itu membuat jantung Dido tambah semakin copot. Dido gelagapan menjawab pertanyaan temen satu redaksi majalah skul-nya.&lt;br /&gt;“Eh, e,…Cerpen yang mana sih ?” pertanyaan yang seakan-akan Dido ciptakan untuk menutupi rasa takutnya itu bikin Wewe geleng-geleng, “Masa kamu gak denger? Cerpen halaman 20. Yang hari ini bikin heboh sekolah… Tapi aku seneng kok. Sebagai editor, kayaknya usaha kita gak sia-sia membuat pembaca puas. … Eh, Lu tahu gak ?”&lt;br /&gt;“Oh, yang itu. Enggak. Enggak. Aku gak tahu.”&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Menderita rasanya menahan rasa takut. Dido benar-benar khawatir cerpen-nya itu akan membuat Bunga marah dan gak mau menyapanya lagi. Yang ia lakukan hari ini adalah bagaimana supaya ia gak bertemu Bunga. Dido berusaha keras untuk tidak melewati kelas Bunga dan tempat-tempat dimana doi dan kawan-kawannya nongkrong. Alhasil, Dido cuman mangkal di kelasnya aja.&lt;br /&gt;“Ibu jadi ingat masa-masa SMA dulu. Pacaran SMA memang bener-bener indah. Terus terang Ibu salut sama yang membuat cerpen ini. sayang sekali ia tidak mau menyebutkan namanya..” kata-kata Bu Lina itu benar-benar mengagetkan! Siapa yang nyangka guru cantik dan centil itu  juga membaca Cerpen Dido. Pake dibahas di kelas lagi. Bener-bener kurang kerjaan banget nih, guru. Gumam Dido pada dirinya.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;“Aku takut, Stef !” suara Dido yang sedikit gemetar itu berdengung di gagang telpon Stefy, sobat kentalnya. “Sekarang aku nyesel banget buat cerpen itu.”&lt;br /&gt;“Awalnya, ‘kan kamu pengen Bunga tahu kalo kamu masih sayang banget sama dia. Kok, sekarang kamu nyesel, sih ?” dengan posisi terlentang di ranjang, Stefy mencoba mencari jawab, kenapa sobatnya tiba-tiba jadi sangat menyesal. Sementara tangan kanannya merasakan getaran dari telepon selularnya. Sejenak ia lirik layar Hp itu. Tertera nama ‘Honey’ cewek tinggi nan ayu yang udah dia pacari selama setahun. “Eh, iya. Iya, Do. Eh, sebentar ya. Entar kamu ku telpon, deh.”&lt;br /&gt;“Lho, kenapa ?”&lt;br /&gt;“Ini. Doi misscall terus, nih dari tadi.... Bentar ya, Do ”&lt;br /&gt;“Yah, elu! Giliran lagi butuh aja,..lu gak bisa…”&lt;br /&gt;“Janji. Janji, deh. Nanti malem aku yang nelpon. Yah, Do’ ya… Please….”&lt;br /&gt; “Ok! Kalo gitu aku yang sori, nih. Ganggu pacaran lu…”&lt;br /&gt;“Yah… Jangan nyindir, dong! Iya. Iya. Nanti aku nelpon. Sudah dulu, ya…”&lt;br /&gt;*  *  *&lt;br /&gt;Resah yang mengikat hati Dido kini tambah memuncak. Rasanya, sarapan yang disediakan Mami gak buat dia selera. Sedari tadi ia hanya memandangi piring dengan tatapan kosong. Sementara layangnya terus membumbung, membayangkan hal-hal mengerikan buatnya yang akan terjadi. Mami yang sedang asyik di dapur memperhatikan kelakuan anak bungsunya ini. Tak ada yang Mami katakan, beliau hanya geleng-geleng kepala seakan tahu apa yang dialami Dido.&lt;br /&gt;KRIIING ! KRIING ! KRIING ! ….&lt;br /&gt;Dering itu membuat Dido terjingkat dan spontan ia raih telpon berwarna biru yang berada tepat di sampingnya. “Ya. Halo.”&lt;br /&gt;“Eh,.. kamu, Do.”&lt;br /&gt;“Masih hidup lu, Stef ?’&lt;br /&gt;“Jangan gitu, dong ! Sori. Semalem ketiduran…”&lt;br /&gt;“Gak apa-apa kok. Aku juga lagi nerima telpon dari pacarku. Maklum, kan cari pacar lebih susah daripada bantuin temen….” kata-kata sinis sindiran Dido yang tanpa sadar terucap dari bibirnya itu seketika bikin kaget Stefy.&lt;br /&gt;“Yah ! Jangan gondok gitu, dong! Masak gitu aja marah ?! Bener nih, gak mau terima telponku ?… Aku tutup, loh…” ultimatum Stefy itu benar-benar mengagetkan. Dalam benak, Dido berpikir, daripada BT apa salahnya menerima telpon Stefy. Lagian dia juga butuh banget Curhat.&lt;br /&gt;“Eeit ! Kok kamu yang marah, sih ?! Iya. Aku yang butuh, kok.”&lt;br /&gt;“He…he…  Gitu dong !” kekeh Stefy menyejukkan lagi konflik di antara mereka.&lt;br /&gt;“So, What ?” lanjut Stefy sambil mengunyah kue kering buatan Honey, ceweknya.&lt;br /&gt;“Iya, Stef. Aku takut Bunga marah sama aku. Apa yang mesti aku perbuat ? Aku sama sekali gak nyangka kalo cerpen yang kubikin untuk majalah skul-ku itu bener-bener kontroversial ! Bayangin aja ya, dalam sehari kemaren, aku sudah terima 3 SMS, 5 telpon yang nanyain tuh Cerpen bikinan siapa ?”&lt;br /&gt;“Terus, kamu jawab kalo Cerpen itu bikinan elu ?”&lt;br /&gt;“Gimana sih, kamu?! Bego banget kalo aku obral nama. Ya tentu aja kubantah mentah-mentah walaupun agak sedikit nyesel sih, udah bohong... Tapi yang bikin aku heran, kenapa ya, orang-orang pada gak mikir inisialku di bawah Cerpen itu. Yah, tapi bagus aku gak nurut kata-kata lu yang suruh gua nulis jelas-jelas namaku supaya si Bunga gak ‘salah alamat’ ” &lt;br /&gt;Kali ini Stefy mikir, kenapa Cerpen yang hanya Dido beri inisial ‘DK’ itu bikin hebohh warga sekolahnya. Lagian, siapa aja sih yang repot-repot nanya, bikinan siapa cerpen yang dibuat Dido buat mantan-nya itu. Padahal, gak kontroversi-kontroversi amat. Begitu pikir Stefy.&lt;br /&gt;“Lu lupa, kalo isi Cerpen itu beda-beda tipis dengan kejadianku dengan Bunga ?”&lt;br /&gt; “Oke, Do’ nurut aku nih, Bunga gak bakalan marah deh, ama kamu. Kalian kan udah gak berhubungan lagi, maksudku cuman sebagai temen aja selama 2 taon ini, kan ? Lagian, si Bunga katamu udah punya…...  Siapa?…..   Itu tuh yang bikin kamu cemburu berat…?”&lt;br /&gt;Kata-kata Stefy kali ini mengingatkan sakit hatinya sebulan lalu, manakala dia mendengar dari teman sebangkunya kalo si Bunga itu udah dapet cowok baru. Yang lebih membuat Dido gak terima lagi, cowok barunya itu orang yang pernah Bunga benci semasa mereka masih menjalin hubungan. Memang, Bunga dan Dido telah lama putus. Namun, memang Dido masih cinta setengah mati ama Bunga. Hingga ia nekad mengungkapkan isi hatinya itu melalui cerpen.&lt;br /&gt;Dalam cerpen itu, Dido melukiskan seorang tokoh bernama Galuh yang rela menyerahkan diri kepada gerombolan teroris yang sedang membajak pesawat yang ditumpanginya. Kenekatan tokoh ini dikarenakan para teroris itu hendak menembak Astuti, istri pejabat tinggi yang tak lain adalah mantan kekasih Galuh. Semuanya itu dilakukan untuk membuktikkan masih bermekarnya cinta Galuh, meski Astuti telah mengkhianati cintanya demi satu ambisi. Di akhir cerita, Dido menggambarkan bagaimana derita tokoh Galuh yang berkorban demi melindungi Astuti dari para teroris. Hingga akhirnya Galuh ditembak dengan puluhan peluru dan ia dijatuhkan dari pesawat itu dalam keadaan terluka.&lt;br /&gt;Begitu hebatnya Dido mendramatisir tulisannya itu hingga membuat pembaca tersentuh. Yang lebih membuat pembaca kagum sekaligus penuh tanda tanya besar, apa maksud tulisan di bawah cerpen itu yang berbunyi :&lt;br /&gt; “From the bottom of my heart, To someone who always rock &amp; ‘change’ my world (dk) “&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Derap langkah Dido cepat sekali. Setelah kemarin dan siang ini ia mengalami masa-masa berat buatnya. Ia lewati lorong sekolahnya itu dengan harap-harap cemas, semoga gak ketemu Bunga. Ia terus dihantui perasaan, mengapa ia mesti jadi pengecut? Kenapa sulit banget mengakui kalo cerpen itu buatannya. Entah. Rasa sesalnya itu muncul karena Dido hanya tidak ingin merusak hubungan Bunga dengan cowok barunya. Ia ingin Bunga bahagia dengan cowok barunya itu, meski sakit hati Dido setiap melihat dua bayangan itu sedang melintasi dirinya.&lt;br /&gt;Dalam cerpen itu jelas tertera banyak kata-kata Dido yang pernah ia ungkapkan pada Bunga saat mereka akan putus. Kalimat-kalimat itu diucapkan tokoh Galuh pada Astuti. Jadi, mustahil jika Bunga tidak tahu kalo cerpen itu memang buatan Dido untuknya.&lt;br /&gt;Sebenarnya cerpen itu sudah lama sekali dibuat Dido saat ia masih sangat menyesal diputuskan oleh Bunga. Namun Fa, pimpinan majalah sekolahnya telah menemukan cerpen itu di meja redaksi. Sehingga membuat temennya itu tertarik memasukkan pada majalah yang akan terbit. Mulanya Dido Ok-Ok aja cerpen itu masuk, tapi ia sangat tidak menyangka kalau hasilnya akan heboh. Lagian, ia juga sama sekali tak menduga kalau Bunga akan menerima cinta Zen.&lt;br /&gt;Pandangan Dido pada sekelompok gadis itu membuat lamunannya terhenti. Tak terasa dadanya berdetak lagi, jangan-jangan di antara mereka ada Bunga.&lt;br /&gt;Ia lewati mereka sembari memandang satu persatu wajahnya.&lt;br /&gt;Ia menghela nafas. Thanks God! Gumamnya. Tidak ada Bunga diantara mereka. Kini ia kembali memantapkan langkahnya menuju gerbang sekolah, untuk satu tujuan.&lt;br /&gt;“Dido…”&lt;br /&gt;Entah apa yang membuat Dido menjadi memalingkan wajah mendengar suara itu&lt;br /&gt;Ups!! Bunga ? seseorang yang berusaha mati-matian ia hindari selama dua hari ini, kini telah ada di hadapannya. Kenapa kamu muncul, Bunga? Aku belum siap untuk menjelaskan. Begitu yang ada dalam fikir Dido. Spontan saja ia hentakkan langkahnya lebih cepat untuk pergi darinya.&lt;br /&gt;“Dido ! Tunggu…!” teriakan Bunga tidak dihiraukan Dido.&lt;br /&gt;Namun ia jadi tak tega membuat Bunga mengejarnya. Ia hentikan langkah dan tangan Bunga berhasil meraih bahunya. Dido tidak memalingkan pandangan sama sekali. Kini bukan karna ia pengecut. Hanya saja ia tidak ingin menaruh harapan dalam dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Mereka sempat beku dalam beberapa saat. Tanpa ucap. Tanpa pandangan Dido pada Bunga. Dua orang itu saling menunggu salah satu mengucapkan kata.&lt;br /&gt;Namun kali ini, Bunga menyerah. Ia tak kuasa menahan ucapnya, “Aku. Aku masih sayang kamu…, Do’ ”&lt;br /&gt;Dido sangat kaget mendengar desah suara Bunga itu. Ia  seakan tidak percaya ! Lalu, Bagaimana dengan Zen? Itu yang ada di hati Dido.&lt;br /&gt;“Aku. Aku sayang kamu, Do.” Meski Bunga telah mengulang kata-katanya itu, tidak membuat Dido sedikitpun memalingkan wajah. Kali ini ia tambah bergegas pergi dari hadapannya. Leleh air mata membasahi pipi gadis ayu itu.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Di perjalanan pulangnya Dido hanya bergumam, “Sudah terlambat, Bunga !  Kamu sudah menyakiti hatiku…! Sama seperti mantan-mantanku sebelumnya yang juga pernah mengecewakan aku !!”&lt;br /&gt;Dido turun dari mobilnya. Ia masuk dalam satu Kafe yang berisi banyak lelaki-lelaki muda. Suatu komunitas yang punya nasib sama. Sama-sama pernah dikecewakan oleh para wanita.&lt;br /&gt;Dido bergumam lagi dalam pikirnya, “Terlambat Bunga. Aku sudah tidak bisa lagi mencintai seorang gadis. Sejak aku kau putuskan, aku bergabung dengan mereka. Hanya mereka yang tahu semua rasa kecewaku….” Memang telah lama Dido bergabung dalam komunitas gay yang ada di kotanya itu…..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-111238611724019234?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/111238611724019234/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=111238611724019234&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238611724019234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238611724019234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2005/04/cerpen-kontroversial.html' title='Cerpen Kontroversial'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-111238608375715198</id><published>2005-04-02T03:06:00.000+07:00</published><updated>2005-04-02T03:08:03.763+07:00</updated><title type='text'>Tragedi Seminggu</title><content type='html'>“Nggak bisa ! Gimana caranya ? Susah, Rom ! “&lt;br /&gt;“Sssst !” &lt;br /&gt;Suara Jo yang sedikit ngotot itu membuat semua yang di kantin jadi menoleh pada meja mereka. Mungkin saking kesel en betenya kali, Jo jadi salting gitu.&lt;br /&gt;“Udah, Jo ! Sekarang kamu nggak perlu lagi ngomong gitu. Yang penting sekarang, kamu harus bisa cari cara, gimana supaya kamu bisa minta maaf sama Angel !”&lt;br /&gt;Otak Jo yang sedari tadi muter-muter buat cari cara minta maaf ama Angel tiba-tiba terhenti oleh dering bel masuk.&lt;br /&gt;“Benernya sih, perasaanku mengatakan bahwa aku harus minta maaf secepatnya. Tapi, Rom, tiap kali aku berhadapan dengan dia, bibirku ini rasanya terkatup rapat sekali. Susah banget, Rom !”&lt;br /&gt;“Udahlah ! Pokoknya aku nggak mau tahu ! Pulang sekolah nanti, kamu harus sudah bisa minta maaf ama Angel !”&lt;br /&gt;“Kalo nggak, Rom ?”&lt;br /&gt;“Yah, kamu pengecut banget ! Dan temen-temen siap ngejulukin ‘ayam pelari’ buat si tampan en si beken, JO Nathanhaell !”&lt;br /&gt;“Ssst ! jangan keras-keras dong !”. Dengan tanpa menoleh sedikitpun, Romy pergi dengan perasaan kesalnya.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Di kelas, Jo sama sekali nggak konsen dengan pelajaran Kimia. Memang sih, sebenernya dia nggak terlalu suka ama gurunya yang terkenal kiler itu. Rasa-rasanya lebih banyak pandangan Jo beralih ke wajah putih kalem, dengan bibir tipis yang senantiasa siap melempar senyum ramah pada siapa saja. Angel, andai kamu tahu kesulitan bibirku untuk minta maaf sama kamu.&lt;br /&gt;Pikiran Jo semakin melayang pada peristiwa dua hari lalu. Tatkala ia menelpon pujaan hatinya, yang walaupun sampai sekarang belum berani ia ‘tembak’. Karna PDKT ! itu alasannya tiap kali temen-temen nanya.&lt;br /&gt;Memang sih, Jo suka nelpon Angel tiap malem. Dan hari itu seperti biasa mereka ngobrol-ngobrol tentang banyak hal. Ada aja yang diceritakan. Mulai dari musik, film, olahraga, pokoknya banyak deh ! yah, namanya juga orang lagi PDKT. Sampai pada menit tertentu, Jo bikin kesalahan yang fatal. Entah kenapa, ia jadi salah ngomong dan nyinggung perasaan Angel yang melebihi kehalusan sutra termahal di dunia. Sebenarnya Jo, udah terasa sejak awal Angel menanggapi omongannya itu. Tapi namanya cowok, ya Jo nggak terlalu mikir sedetail dan serumit itu.&lt;br /&gt;Lain Jo, lain Angel. Cewek kalem yang selalu bikin deg-degan Jo itu, jadi gelisah karna kecewa akan omongan Jo. Air yang mengalir dari mata bersinar yang indah itu, membasahi pipi halusnya.&lt;br /&gt;Pikiran Jo makin membumbung tinggi, mengingat setiap kejadian yang bikin dia deg-deg-ser. Setelah Jo menutup gagang telpon itu, ia jadi mikir lagi omongan yang baru saja ia lontarkan pada pujaan hatinya itu.&lt;br /&gt;Ia makin yakin, kalau Angel bener-bener ngambek sama dia. Sebab saat Jo menyapanya pagi itu, ia sama sekali tidak mendapat lemparan senyum indah dari wajah cantik melebihi karya seni abadi. Wah, gawat ! pikir Jo. Maka hari itu rasanya hari terBt baginya sama seperti kemarin, hari ini, entah sampai kapan ia berani minta maaf.&lt;br /&gt;“Coba kau kerjakan, Jo nomer selanjutnya”, Suara Pak Hadi belum saja membuyarkan lamunannya. Namun saat Pak Hadi memanggil namanya lagi, “Jo !” kepalanya yang semula tertunduk pada buku catatan, kini ia angkat dengan tetap Jaim (jaga image) pada warga sekelas. Tapi, kebohongannya itu tak dapat menembus dinding hati Angel yang memandang Jo saat ia mulai menulis-nulis angka dengan spidol biru, warna favoritnya.&lt;br /&gt;Andai kamu tahu, Jo, perasaan hatiku yang terluka. Tapi, bagaimanapun, aku akan selalu membuka pintu maafku padamu Jo, asalkan kau mengetuk dinding-dinding hatiku. Tapi, sampai kapan, Jo, kau akan mengetuk pintu maaf itu padaku. Aku pengen segera membukakan pintu itu untukmu.&lt;br /&gt;Sekarang giliran Angel yang melayang-layang pikirannya. Namun ia masih dapat mengontrol diri dengan tetap konsen pada penjelasan Pak Hadi.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Pelajaran Kimia sudah berlalu. Jo masih dengan perasaan gelisahnya. Ia keluarkan  NOKIA birunya itu. Ternyata ia dapet messages lewat SMS, yang berbunyi : “Jo, nanti sore aku ke rumahmu. (Kris).”  Ternyata Kris, sobatnya.&lt;br /&gt;Canda tawa teman-teman Jo memang telah bisa menciptakan lebar lengkung bibirnya. Tapi, sekali lagi itu tak dapat menembus dinding hati Angel. Ia yakin, bahwa itu hanya tawa semu, yang sama sekali lain dari hati Jo. Sesaat Angel menatap mata Jo yang kecoklatan itu. Namun ketika Jo membalasnya, ia buru-buru memalingkan pandangannya.&lt;br /&gt;Rasa kecut bertabur dalam hati Jo.&lt;br /&gt;Sementara tatapan mata dan gerakan kepala Romy untuk mengisyaratkan pada Jo, untuk segera minta maaf, bikin Jo tambah gelisah. Dengan suara berbisik, Jo mendesahkannya pada Romy, “Nggak bisa hari ini, Rom ! Aku belum siap. “&lt;br /&gt;“Terus sampai kapan siapmu ? Sampai ayam jago bertelur ?”&lt;br /&gt;“Ssstt !!”&lt;br /&gt;“Dasar ayam pelari !” kali ini, Romy tidak lagi berbisik, ia mengatakannya dengan suaranya.&lt;br /&gt;“Apa, Rom ?” si gembul, Freedly menimpali, “Si Jo ‘ayam pelari’ ?” dan dengan tawanya yang heboh itu bikin gerrr yang duduk di deretan mereka.&lt;br /&gt;“Tuh, lihat akibatnya seorang ‘ayam pelari’ ! Emang enak ?!”&lt;br /&gt;&lt;a name="_Hlt508348559"&gt;&lt;/a&gt;Ejekan temen-temen Jo bikin tambah resah en miris hatinya. Pandangannya terus menerus ia layangkan pada Angel. Was-was. Kalau-kalau ia sampai menoleh, bisa tambah runyam masalahnya.&lt;br /&gt;“Rom ! Aku nggak suka dengan caramu yang seperti ini. Kalau Angel sampai dengar, aku nggak mau ambil resiko !” bisiknya pada Romy.&lt;br /&gt;“Tapi, Jo, aku kan hanya membantumu !”&lt;br /&gt;“Membantu ?”&lt;br /&gt;“Kalau saja kamu segera minta maaf, pasti aku nggak akan berbuat begini !”&lt;br /&gt;“Andai saja bibirku nggak terkatup, saat di hadapannya, aku juga nggak akan menunda-nunda maafku.”&lt;br /&gt;“Iya ! Tapi sampai kapan ?”&lt;br /&gt;“Entahlah, Rom !”&lt;br /&gt;“Huh ! Jo ! Jo !”&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Sepertinya, rasa Bt Jo ia luapkan pada bola sepak yang ia tendang kencaaang sekali. Kali ini, bukan Gol tujuan utamanya. Namun rasa kalut di dadanya ia luapakan semuanya. Kasihan bola itu ! Andai saja ia dapat berteriak. Pasti ia akan langsung melakukannya.&lt;br /&gt;Romy memegang pundak Jo saat mereka hendak pulang, “Gimana ’ayam pelari’ ? Udah bisa luapkan emosi ?”   Jo hanya bisa memandang sengit karna kekesalannya.&lt;br /&gt;“Sampai jumpa ‘ayam pelari’ ! Moga-moga besok kamu udah bisa segera mencapai garis finish !”, teriak Romy saat Jo akan melajukan mobilnya.&lt;br /&gt;“Hoe, cowok cakep, jangan ngebut, lho ! Entar kamu koid  sebelum minta maaf !”, Teriakan Romy yang kedua itu sayup-sayup tak terdengar di daun telinga Jo. Dan sedan putihnya itu semakin melaju, turut menghias keindahan senja kota.&lt;br /&gt;Sampai di rumah, langsung ia lempar tas kuningnya di atas tempat tidur. Ia putar keras-keras musik Red hot chili peppers  yang makin menambah ke-hot-an hatinya itu.&lt;br /&gt;Jo berbaring di ranjang dengan otak berputar, mencari cara yang baik untuk minta maaf. Angel, andai kau tahu kesulitan hatiku….&lt;br /&gt;Ia pandangi kayu berlekuk dengan susunan senar dan lubang resonansi. Ia ambil alat musik petik itu, ia lantunkan sebait dua bait lagu.&lt;br /&gt;Jo mengungkapkan seluruh isi hatinya. Ia tuangkan dalam sebuah lagu yang ia tulis sendiri.&lt;br /&gt;“…….maaf kasih……maafkan aku………” Sementara ia lantunkan itu, terlintas terus wajah Angel dengan dua ekspresi, satu dengan seyum ramahnya, yang satunya lagi dengan ekspresi dinginnya. Angel….. I want to say sorry,…… but,… but, I can’t ! ……&lt;br /&gt;“Hai, Jo !”, suara Kris membuyarkan lamunannya. Setelah ia menutup pintu kamar Jo, ia menghampirinya dan mengeluarkan buku dari tas birunya. “Ini, Jo, bukumu ! Thank’s, ya !”&lt;br /&gt;“Kamu besok nggak ulangan ?”&lt;br /&gt;“Benernya, ada sih, tapi aku lagi Bt di rumah. So, aku ke sini, yahh….! Untuk sekedar melupakannnya.”, ujar Kris sembari mengeluarkan buku kumpulan sajaknya yang ia buat sendiri.&lt;br /&gt;Dan dua sobat itu menghabiskan senja dengan mengarang lagu. Dengan rasa bt mereka masing-masing. Namun, tak ada diantara mereka yang menceritakan perihal keBt-annya. Tapi yang jelas, tampaknya problem Jo lebih serius daripada Kris.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Hari-hari telah dilalui Jo dengan perasaan gelisah. Tak ada yang lain yang ia pikirkan, kecuali cara minta maaf. Tiap malam ia susah tidur memikirkannya. Kini, ia jarang telpon Angel lagi. Walaupun di sekolah, Jo sudah bertegur sapa dengannya, tapi perasaan Jo tetap tak enak. Minta maaflah…. Minta maaflah….… Itu yang selalu terngiang di lubuk hatinya yang terdalam. Tapi, kapankah itu bisa terjadi ? Menunggu ayam jago bertelur ? Perkataan Romy yang menjengkelkan itu terus ada di pikirannya.&lt;br /&gt;Gelisah di hati Jo, kecewa juga memenuhi hati Angel. Perasaannya selalu saja ada yang kurang. Seperti ada seseorang yang telah membawanya pergi. Tiap malam, Angel menuliskan perasaannya dalam bait kata-kaya yang indah. Hingga tak terasa, tulisan-tulisan yang melukiskan hati kalutnya itu, kini sudah tebal.&lt;br /&gt;Romy dan teman-teman lain, selalu saja mengejek Jo setiap hari. Tapi, rasanya kini Jo sudah kebal, sehingga ia hanya mencibir saja.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Ini adalah malam yang mendebarkan. Sudah ia putuskan untuk telpon Angel. Ia angkat gagang itu, dan ia tekan nomornya. Baru beberapa nada panggil terdengar, Jo sudah memutuskan hubungan telpon itu. Hatinya berdebar-debar, takut harus bilang apa dulu sama Angel. Akhirnya ia tekadkan sekali lagi. Ia tekan nomornya, dan telah ada yang mengangkatnya. Ternyata Angel sendiri. “Sebentar, ya, Jo, ini masih ada telpon masuk. Tunggu dulu, ya.” Suara Angel itu bikin greget hati, “Ee,..iya.”  Keringat dingin membasahi tubuh cowok tercakep di sekolah itu. Hatinya terus gelisah menanti jawaban Angel lagi. Tuhan, tolong aku... Tolong aku….  Itu yang selalu terngiang di hatinya.&lt;br /&gt;“Iya, ada apa, Jo ?” suara Angel semakin menghentak debar jantung Jo.&lt;br /&gt;“Eh,..ehm… nggak ! aku hanya lagi nganggur dan telpon kamu.”&lt;br /&gt;Sekali lagi bibir Jo terkatup rapat, bagai bunga yang menguncup. Rangkaian kata yang telah ia pikirkan itu telah hilang entah kemana, setelah mendengar suara lembut Angel. Akhirnya yang terjadi hanya obrolan-obrolan biasa. Tak ada kata “maaf” sama sekali. Betapa getir hati Angel. Jo,…. Kenapa ? ……&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Kini telah genap seminggu peristiwa itu terjadi. Dan genap seminggu jualah perasaan gelisah menghantui dua hati, Jo dan Angel. Jo terus mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan maafnya. Sementara kelembutan dan ketegaran hati Angel selalu setia menanti dan menanti kata maaf yang terucap dari sang pujaan hatinya itu.&lt;br /&gt;Kris telah meyakinkan hati Jo untuk segera minta maaf dengan menemuinya langsung. “Tapi, Kris, nggak bisa ! Susah !” Itu yang selalu Jo ucapkan. “Jo, kamu harus bisa !”&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau telpon, Kris ?”&lt;br /&gt;“Itu sih, terserah kamu ! Asalkan kamu berani mengungkapkan, It’s Ok !”&lt;br /&gt;“Baiklah, kris….” Dengan perasaan mantap, Jo bertekad untuk telpon Angel sekali lagi. “Jo, aku percaya, kamu pasti bisa ! Good luck, sobat !”&lt;br /&gt;Sepulang Kris dari rumahnya, Jo langsung menekan nomor telpon gadis dambaan hatinya. “Halo, Angel,….”&lt;br /&gt;“Iya, Jo….. Ada apa ?” dengan perasaan gelisah, Angel menjawabnya.&lt;br /&gt;“Angel,…” meski keringat dingin telah basah di sekujur tubuh, tapi kali ini, Jo dengan mantap dan bibir tak lagi terkatup, ia coba ungkapkan perasaan hatinya meski harus melewati serentetan obrolan sebagai tumbal pembuka.&lt;br /&gt;“Angel, maaf, waktu itu,… aku hanya bercanda. Waktu aku ngomong bahwa aku nggak serius, itu hanya candaanku. Tapi, kau terburu menduga bahwa selama ini aku hanya mempermainkanmu. Angel, itu nggak bener. Selama ini aku serius. Bener Angel ! Maafkan aku, ya….. “&lt;br /&gt;“Jo, aku sudah maafkanmu sejak awal. Namun, aku hanya seorang wanita yang harus menunggu jawaban maaf dari seorang pria. Kini, kau telah berani mengetuk pintu maafku, dan dengan tulus hati, kubukakan bagimu, Jo Nathanhael,….. “ Perasaan lega terhembus dari nafasnya.&lt;br /&gt;“Terima kasih, Angel…..”&lt;br /&gt;Jo telah lega mengungkapkan itu semua. Kini hanya perlu menunggu dan menanti saat yang tepat untuk mengungkapkan cintanya pada Angel. Tapi, sampai kapan ? ……..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-111238608375715198?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/111238608375715198/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=111238608375715198&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238608375715198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238608375715198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2005/04/tragedi-seminggu.html' title='Tragedi Seminggu'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-111238604845687114</id><published>2005-04-02T03:05:00.000+07:00</published><updated>2005-04-02T03:07:28.470+07:00</updated><title type='text'>Arigato Gozaimasu</title><content type='html'>Teh yang kuseduh ini terasa hangat, sedikit melonggarkan bebanku. Dalam benak aku terus terngiang kata-kata Yudhi. Aku takut dia tersinggung dengan ucapan Mami tadi. Terkadang aku merasa heran dengan kedua ortuku, mengapa di jaman serba modern ini mereka masih tetap tidak setuju pada hubunganku dengan Yudhi. Padahal aku sudah berusaha menjelaskan bahwa kami tidak pernah melakukan hal-hal yang di luar batas norma. Cium pipi saja tidak pernah. Paling kami hanya bergandengan tangan. Itu pun baru kami lakukan pada saat-saat tertentu.&lt;br /&gt;Aku heran mengapa Papi dan Mami tidak memberiku kepercayaan untuk menjalin hubungan dengan seorang cowok. Aku merasa kalau aku sekarang sudah besar dan cukup dewasa untuk mengatasi semua problem hubungan berpacaran. Aku bahkan telah menginjak usia 18.&lt;br /&gt;Aku kini menyesal mengapa aku cepat memutuskan untuk mengenalkan Yudhi pada Papi dan Mami. Mulanya aku berpikir, kalau waktu setahun usia pacaran kami sudah cukup untuk diketahui mereka. Memang kami sempet ‘backstreet’, namun Yudhi terus mendesak agar sebaiknya aku berterus terang.&lt;br /&gt;Kenyataan tidak seperti yang aku bayangkan. Tadi sore, saat dengan gembiranya aku mengenalkan cowok ceking hitam manis itu, ternyata ortu-ku langsung menunjukkan sikap antipati pada Yudhi. Mulanya aku tidak merasakan hal itu. Namun saat dia aku ajak makan malam, semeja dengan papi, mami dan kedua kakakku, aku langsung sadar kalau kehadiran Yudhi tidak terlalu dipedulikan. Kayaknya Yudhi bener-bener dicuekin. Aku jadi tidak enak padanya.&lt;br /&gt;“Percuma saja hubungan kita diteruskan. Mami Papi-mu tidak akan pernah setuju. Mereka benar. Kita memang berbeda...”&lt;br /&gt;Itu yang Yudhi katakan sebelum dia pulang. Bagaimanapun aku tidak ingin kehilangan dia. Waktu setahun bukan waktu yang cepat. Setahun itu lama sekali. Dalam waktu itulah aku dapat mengenal Yudhi, begitupun sebaliknya. Dalam waktu itulah aku merasa kalo Yudhi orang tepat bersanding denganku. Ia selalu dapat mengerti diriku.&lt;br /&gt;Sejak kecil, aku memang terbiasa hidup enak dengan uang ortu, dan tanpa sadar mereka menanamkan dalam pola pikirku bahwa semua dapat diselesaikan dengan uang. Namun saat aku bertemu Yudhi, aku belajar banyak darinya. Ia mengajarkan kepadaku tentang menghargai uang, menghargai waktu dan terutama menghargai orang lain.&lt;br /&gt;Yudhi terbiasa hidup mandiri sejak kelas dua SMP, hingga kini, kami baru lulus SMU, ia masih mandiri. Hal itulah yang membuat aku jatuh cinta kepadanya. Ia begitu dewasa dan dapat menjaga diriku. Sedikit demi sedikit sikap-sikapku yang negatif mulai pudar. Jadi Yudhi sangat berpengaruh besar terhadapku.&lt;br /&gt;Tak terasa mataku terasa berat sekali. Aku lelah memikirkan masalahku dengan Yudhi. Akhirnya aku terlelap.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;“Pagi, Mi!”&lt;br /&gt;“Mau kemana pagi-pagi, Reina?”&lt;br /&gt;“Em,.. Reina mesti urus regirtrasi mahasiswa baru kan, Mi. Reina mesti memberikan ijazah ini dan banyak hal.” Akhirnya aku menemukan alasan yang bikin Mami percaya.&lt;br /&gt;“Sama siapa, kamu pergi ?”&lt;br /&gt;“Dengan Tri. Ya udah Rein mau berangkat dulu..” aku berkata sambil lalu, setelah melihat jam tanganku sudah menunjukkan jam sepuluh pagi. Sebenarnya hari ini aku bermaksud ke kos-kosannya Yudhi. Tentu kalo aku berterus terang, Mami tidak akan mengijinkan, karena semalam kedua ortuku itu benar-benar mengultimatum bahwa aku tidak boleh berhubungan lagi dengannya. Seperti biasa, mereka hanya melihat materi. Yudhi memang orang yang sederhana, bahkan ia tidak kaya. Aku belum mengetahui dengan jelas mengenai asal-usulnya. Tetapi ia selalu bercerita mengenai keluarganya. Tentang Bapaknya yang berwibawa, ibunya yang bijak dan adik perempuannya yang lucu. Yudhi tidak pernah cerita tentang materi keluarganya.&lt;br /&gt;“Kamu serius mau ke Yudhi?” pertanyaan Tri itu tentu membuat aku aneh.&lt;br /&gt;“Tentu saja, Tri. Aku serius dengannya.”&lt;br /&gt;“Tapi, bagaimana dengan Papi Mami-mu?”&lt;br /&gt;“Aku tidak peduli! Aku udah besar. Saatnya aku menentukan masa depanku sendiri.”&lt;br /&gt;Mobilku aku lajukan kencang menuju jalan Kembang Sepatu, temapt Yudhi kos. Hanya satu yang aku pengen, memeluk Yudhi erat-erat saat kami nanti bertemu.&lt;br /&gt;“Oh, ini tempat Yudhi kos?” kata-kata Tri itu tampak sekali kalo sedang mengejek. Ia seperti keluargaku yang lain, selalu melihat sesuatu dari segi materi. Papanya teman bisnis ayahku, jadi kami berteman sejak kecil.&lt;br /&gt;“Sudahlah, ayo masuk!”  aku lalu segera menggan dengan tangnnya itu dan segera menuju ke ruang tanu kos-kosan itu. Aku melihat Beni menyapaku dengan ramah.&lt;br /&gt;“Yudhi-nya ada, Ben?” entah kenapa setelah mendengar pertanyaanku itu raut mukanya langsung berubah. Ia lalu menyilahkan kami berdua duduk.&lt;br /&gt;“Maafkan Yudhi, ya, Rein.”&lt;br /&gt;“Kenapa ?”&lt;br /&gt;“Dia sudah berangkat ke bandara. Hari ini dia mesti ke Jepang.”&lt;br /&gt;“Ke Jepang? Mengapa ia tak pernah...”&lt;br /&gt;“Kata dia sih, belum sempat mengatakannya itu semalam padamu. Oh iya. Ada titipan darinya, sebentar, ya.”&lt;br /&gt;Beni berdiri dan berlalu menuju ke kamarnya. Sementara tubuh ini langsung lemas dan merebah di bahu Tri. Ia mengusap rambutku. Tak kuasa aku menahan tangis. Sedih rasnya. Sesaat aku berdiri setelah melihat Beni menyodorkan sesuatu.&lt;br /&gt;“Tetapi katanya, ia mesti ke Malang dulu, ke rumah neneknya. Jadi ia tadi pergi ke stasiun jam 2 pagi dan baru balik ke Surabaya jam.... Yah, mungkin siang nanti, Rein.”&lt;br /&gt;“Ia tidak berkata apa-apa untukku?”&lt;br /&gt;“Ia tidak sempat. Hanya Organizer dan sepucuk surat ini yang dia berikan. Katanya itu mesti aku berikan padamu.”&lt;br /&gt;“Barang-barangnya?”&lt;br /&gt;“Ia sudah meringkas dan membawanya pergi semua.”&lt;br /&gt;Mendengar itu aku jadi bertambah putus asa. Rupanya semalam adalah pertemuan terakhirku bersamanya. Entah kapan lagi aku akan memandang wajah imutnya lagi.&lt;br /&gt;“Terima kasih, Beni.”  Setelah berpamitan aku memutuskan untuk pulang. Aku tidak tahu, hatiku merasa pilu. Rasanya untuk membuka pintu mobil saja aku tak kuat. Tri lalu mengisyaratkan sebaiknya dia saja yang menyetir. Saat aku mulai masuk aku mendengar Beni berteriak dari jauh.&lt;br /&gt;“Rein, pesawatnya mungkin sekitar jam satua-an.”&lt;br /&gt;Mataku langsung kutujukan ke arah jam yang aku pakan di tangan kiriku. Ternyata sekarang masih setengah satu.&lt;br /&gt;“Tri kita bandara.”&lt;br /&gt;“Tapi itu jauh. Butuh satu jam paling tidak kita sampai ke Juanda.”&lt;br /&gt;“Ayolah, please.. Jangan menambah bebanku, dong!”&lt;br /&gt;“Oke.” Mobilku langsung dibawa Tri melesat meninggalkan perkampungan kumuh, tempat Yudhi kos. Aku berharap, pesawat itu datang terlambat hari ini. Paling tidak, aku bisa memeluk Yudhi untuk terakhir kali. Sementara Tri konsen dengan kemudinya, perlahan aku membuka organizer Yudhi. Semua tampak rapi. Halaman depannya ia tempel foto kami. Ia nampak sayang sekali padaku. Akhirnya aku memutuskan untuk membaca suratnya terlebih dahulu, siapa tahu ada pesan penting di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear Reina,&lt;br /&gt;Aku minta maaf kalo aku enggak sempat memberitahukan ini kepadamu. Sebenarnya aku mendapat surat dari keluargaku di Jepang, bahwa ibuku sakit, kata Bapak lebih baik aku kuliah di sana, sebab ibu sudah kangen padaku. Surat itu telah aku terima 3 hari yang lalu, namun aku lupa membukanya. Baru sore, sebelum aku ke rumahmu, aku membacanya. Aku juga minta maaf, kalo selama ini aku tidak pernah bercerita mengenai keberadaan keluargaku.&lt;br /&gt;Reina, maafkan aku, ya...&lt;br /&gt;Selama ini Bapak, Ibu, dan Ryoko adikku, mereka telah tinggal di Tokyo.&lt;br /&gt;Bapak seorang Jawa tulen yang menikah dengan wanita Jepang, Minami Matsuda.&lt;br /&gt;Aku tidak menceritakan hal ini padamu, karena aku tidak ingin materi turut jadi pertimbanganmu untuk menjalin hubungan denganku.&lt;br /&gt;Aku salah, ternyata kau tetap sayang padaku siapapun diriku.&lt;br /&gt;Kalo aku sudah sampai ke Jepang, aku janji akan segera e-mail kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangku selalu untukmu,&lt;br /&gt;Kawaguchi Yudhi Setiawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku begitu kaget membaca surat Yudhi. Aku tidak menduga sama sekali kalau Yudhi seorang blasteran Indo-Jepang. Memang kulitnya putih, tetapi kalau dilihat matanya yang lebar itu, lebih mirip seorang Jawa tulen. Ia mungkin mewarisi wajah ayahnya.  Aku kini jadi ingat, nama ‘Kawaguchi’ itu selalu ia singkat “K” di absen sekolah dulu. Meski diejek dengan sebutan yang aneh-aneh, ia tak pernah mengakuinya. Entah kenapa.&lt;br /&gt;Meski aku meneteskan air mata, aku masih juga sempet ketawa kecil, ternyata pacarku seorang Jepang. Melihat itu, Tri jadi heran.&lt;br /&gt;“Kok ketawa? Katanya sedih?....”&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa.” Aku tidak mau orang-orang tahu kalo Yudhi seorang indo. Lebih baik aku merahasiakan sampai datang waktunya.&lt;br /&gt;Jam menunjukkan jam 1 lewat 20, saat mobil sudah terparkir. Kami lalu bergegas masuk ke bandara. Jantungku berdegup kencang, sepertinya aku nervous banget. Aku benar-benar bersyukur saat aku dengar pesawat yang berangkat ke Tokyo hari ini terlambat, karena masalah cuaca.&lt;br /&gt;Tapi, dimana Yudhi? Aku belum melihatnya. Aku kemudian meraih ponsel yang ada di tasku. “Yudhi, kamu dimana ?”&lt;br /&gt;“Reina, aku di bandara...” suaranya terdengar parau.&lt;br /&gt;“Iya, tapi di mana? Aku mencarimu.”&lt;br /&gt;“Reina, kau..”&lt;br /&gt;“Iya, Yudhi, cepat katakan kau di bagian mana ?” aku memegang ponsel sambil berjalan mencari cowok putih yang membuat hatiku tertambat.&lt;br /&gt;“Aku ada di....” belum sempat ia meneruskan kata-katanya aku sudah melihat Yudhi di hadapanku. Ia duduk di salah satu kursi. Aku langsung berlari menghampirinya, aku peluk ia erat-erat dan air mataku meleleh.&lt;br /&gt;“Reina, maafkan aku..”&lt;br /&gt;“Sudah. Tidak apa-apa, aku sayang kamu, Mr. Kawaguchi!”&lt;br /&gt;Ia menghapus air mataku, dengan senyuman haru.&lt;br /&gt;“Kapan kau kembali ?” setelah beberapa menit kami terdiam, akhirnya kutemukan tanya.&lt;br /&gt;“Empat tahun.”&lt;br /&gt;“Oh! Lama sekali!” mendengar itu aku kembali memeluknya erat-erat. Aku merasa waktu itu begitu lama, apalagi keluarganya tinggal di sana. Namun aku mesti merelakannya demi dia. “Aku akan tetap setia.”&lt;br /&gt;Kemudian ia mengeluarkan cincin dari jari manis kanannya. Ia masukkan itu ke dalam jari manisku. Aku menatapnya dengan wajah penuh keharuan.&lt;br /&gt;“Ini sebagi bukti janjiku. Tunggu aku, Rein. Aku pasti kembali.”&lt;br /&gt;Aku kemudian mengangguk. Kemudian terdengar pengumuman bahwa pesawat ke Tokyo segera berangkat. Aku peluk dia untuk kesekian kali, tetapi yang ini lebih erat karena untuk yang terakhir. Tak terasa saat aku memejamkan mata, ia melepaskan pelukanku dan masih dengan mata terpejam aku merasakan bibirku basah oleh sentuhan bibir lain. Oh, dia menciumku! Aku merasakan cinta yang dalam sekali.&lt;br /&gt;Setelah itu ia mengangkat kopornya dan berjalan berlalu dari hadapanku. Aku hanya membisu. Baru setelah dia beberapa meter dariku, kulambaikan tanganku dan kuteriakkan satu-satunya bahasa Jepang yang aku mengerti.&lt;br /&gt;“Arigato gozaimasu!”&lt;br /&gt;Sejenak ia menoleh ke arahku dan melambaikan tangannya juga. Ia tersenyum. Manis sekali. Kemudian aku merasakan sebuah tangan meraih bahuku dan memelukku. Aku bersandar di bahunya.&lt;br /&gt;“Tri, dia pergi” aku menangis lagi “Jangan katakan pada Papi, Mami kalo ia ke Jepang, ya. Kalo mereka tanya ke kamu, bilang saja ia pergi ke luar kota, entah kemana.” Tri kemudian mengangguk dan membawaku pulang. Meski aku sedih, namun dalam benak aku merasa yakin, kalau dia tak akan jauh dariku. Karna dia dekat dalam hati.  &lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Seminggu aku lalui tanpa kehadiran Yudhi di sisiku. Aku sudah menerima e-mailnya bahwa ia sampai dengan selamat di sana. Ibunya begitu gembira saat Yudhi datang. Yudhi juga mengirimkan foto keluarganya di e-mailku. Aku memandanginya beberapa waktu. Benar-benar keluarga yang bahagia, begitu pikirku.&lt;br /&gt;Aku menoleh, setelah mendengar Mami membuka pintu kamarku. Aku melihat wajahnya begitu serius.&lt;br /&gt;“Papi-mu ingin berbicara padamu.”&lt;br /&gt;“Ada apa?”&lt;br /&gt;“Sudahlah. Ayo, dia ada di ruang tengah untuk menunggumu.”&lt;br /&gt;Aku kemudian berjalan dan menemui Papi. Beliau sangat serius. Jantungku berdegup. Aku hanya diam mendengarkan kata-katanya.&lt;br /&gt;“Reina, kau harus membatalkan niatmu kuliah di Universitas itu.”&lt;br /&gt;“Papi tidak setuju ?”&lt;br /&gt;“Atasan Papi yang ada di Jepang memberikan hadiah pada Papi. Ia memberikan biaya pendidikan kuliah di Tokyo. Jadi ayah tidak bisa menolak pemberian atasan ayah itu. Kau harus segera ke sana.”&lt;br /&gt;Entah perasaan apa yang ada, hatiku melonjak kegiarangan mendengar kata-kata Papi barusan. Tokyo?! Mimpi apa aku bisa pergi ke sana, bukankah itu tempat tingal Yudhi. Papi kemudian memelukku. Ini yang pertama, mungkin. Beliau merasa sedih. Namun tidak bagiku. Aku kini bahagaia dalam pelukan papi, karna aku tidak akan berpisah dengan Yudhi.&lt;br /&gt;“Kapan Reina mesti berangkat, Pi?”&lt;br /&gt;“Atasan Papi memberi tiket pesawat bulan depan...” kali ini setelah mendengar kata-kata Papi, giliran Mami yang memelukku. Mereka merasa kehilangan sekali. Sebenarnya aku juga sedih berpisah dengan mereka.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Aku sudah ada di bandara menunggu pesawat ke Tokyo. Sedari tadi Mami terus memberikan petuah-petuah. Tampak sekali beliau sangat khawatir. Aku kemudian meyakinkan pada kedua orangtuaku, bahwa aku akan baik-baik saja. Meski aku tidak bisa bahasa Jepang, tetapi aku fasih dalam berbahasa Inggris. Tri yang ada di sampingku, terus tersenyum. Lalu aku mengisyaratkan agar ia diam. Aku tidak ingin Papi-Mami tahu kalo Yudhi juga sedang berada di sana.&lt;br /&gt;Aku juga tidak memberitahu Yudhi kalau aku akan ke Tokyo. Aku ingin memberi surprise padanya nanti, begitu pikirku. Setelah terdengar pengumuman, aku lalu memeluk kedua ortuku, satu-satu. Kini aku juga merasa sedih berpisah dengan mereka. Aku kemudian berjalan menuju pesawat. Kulihat Papi dan Mami meneteskan air mata, melepas kepergianku.&lt;br /&gt;Ternyata perjalanan ke Tokyo begitu melelahkan. Baru pertama aku ke luar negeri sendiri dan agak jauh. Biasanya bersama keluargaku, paling juga ke Singapura atau Batam dan itu sangat jarang.&lt;br /&gt;Aku memandang sekeliling bandara. Aku harus mencari Yochi yang akan menjemputku. Kata papi, dia adalah anak atasannya. Aku tidak tahu wajahnya, karena Papi tidak menunjukkan fotonya. Tetapi aku tidak khawatir, sebelum atasannya kemarin kembali ke Jepang, Papi memberikan fotoku agar Yochi mengenalku saat menjemput.&lt;br /&gt;Sudah lima menit aku mencari orang yang akan menjemputku, namun aku tak menemukan. Aku memutuskan untuk menunggu sambil duduk. Kuharap Yochi, anak atasan Papi itu dapat melihatku.&lt;br /&gt;Sepuluh menit, lima belas menit, sampai satu jam, aku menunggu namun tak kunjung datang. Aku merasa putus asa sebab aku tidak mengenal siapapun di Tokyo ini. Tak terasa aku menangis karena takut. Aku lalu menundukkan wajahku.&lt;br /&gt;“Can i help you, miss ?” aku mendengar satu suara yang ramah. Kemudian aku menghapus air mataku.&lt;br /&gt;“Yes. I looking for....” belum selesai aku meneruskan kata-kata ternyata aku melihat Yudhi yang ada di depanku. Kami hanya terdiam beberapa saat, setelah kemudian ia memelukku.&lt;br /&gt;“Sori. Aku tidak memberitahumu, aku ingin kasih surprise, Yud.”&lt;br /&gt;Yudhi hanya tersenyum. Lalu kulanjutkan ceritaku,&lt;br /&gt;“Papi mengirimku ke sini karna ia dapat sejumlah uang dari atasannya untuk menyekolahkanku di sini. Dan sekarang aku menunggu...”&lt;br /&gt;“Anak atasan papimu?”&lt;br /&gt;“Ya. Mr. Gaguk Sudjatmiko. Anak lelakinya itu katanya akan menjemputku jam....” kalimatku lalu terhenti melihat sikapnya. Ia berjalan mundur dan membungkukkan badan, seperti layaknya orang Jepang, ia raih tas-tas koporku serta mengucapkan satu kalimat kepadaku.&lt;br /&gt;“Yochi siap membantu anda untuk mengantar ke apartement.”&lt;br /&gt;“Jadi kamu,...”&lt;br /&gt;“Aku juga baru tahu bulan lalu saat aku bertandang ke kantor Bapak. Aku melihat nama ayahmu di buku kerjanya. Kemudian aku menceritakan semua tentang kita, semua tentang sikap ayahmu yamg sombong itu dan...”&lt;br /&gt;Aku langsung memeluk dia. Kejutan apa lagi ini ?  Kenapa semua baru kuketahui saat ini?! Tentu saja ayah akan merestui hubungan kami.&lt;br /&gt;“Jangan beritahu ayahmu dulu, sampai tiba waktunya.” Kata-kata Yudhi itu seakan dapat membaca pikirku. &lt;br /&gt;“Kamu tidak akan memecat ayahku, kan?” aku lalu berseloroh. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arigato gozaimasu = Terima kasih&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-111238604845687114?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/111238604845687114/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=111238604845687114&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238604845687114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238604845687114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2005/04/arigato-gozaimasu.html' title='Arigato Gozaimasu'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-111238598129188222</id><published>2005-04-02T03:04:00.000+07:00</published><updated>2005-04-02T03:06:21.296+07:00</updated><title type='text'>17+</title><content type='html'>“Good morning, students!” suara Mrs. Rini, wanita bertubuh tinggi itu sedikit mengusik. Semula kelas yang dihuni 35 siswa itu terdengar gaduh. Maklum baru pertama kali mereka bertemu di Cawu kedua kelas tiga ini. Kehadiran guru itu sedikit menoreh tanya dalam benak mereka. Kira-kira pelajaran apakah yang akan ia ajarkan.&lt;br /&gt;“This is my first time to meet you in this class.”&lt;br /&gt;Sepertinya semua mata menatap dengan seksama ke depan. Ia beruntung dapat dengan cepat menarik perhatian penghuni kelas dengan program IPS itu. Karena kelas ini dikenal dengan kelas yang bandel meski selalu juara diantara kelas-kelas lain. Banyak guru yang sudah angkat tangan menghadapi kelas satu ini. Sebenarnya nakal mereka yang wajar-wajar saja. Namun yang bikin mereka beda adalah kenakalan mereka itu lebih kreatif alias usilnya minta ampun dengan guru. Kepala sekolah tidak terlalu ambil pusing, karena keusilan itu diimbangi dengan prestasi yang patut diacungi dua jempol sekaligus&lt;br /&gt;“Saya menggantikan Mr. Wiliam yang melanjutkan studi ke Jerman. Karena baru pertama kalinya, so i want to know your name, one by one.” Guru itu mengenakan setelan baju kerja berwarna pastel. Rambutnya yang ia ikat rapi itu menambah keanggunannya.&lt;br /&gt;“Kalo Pak Wiliam pergi, enggak ada Bahasa Inggris lagi dong! Ibu terus ngajar apa?” pertanyaan konyol keluar dari mulut Bagda yang agak tulalit itu bikin ‘gerr’ penduduk kelas. Melihat semua pada ketawa, dia hanya cengar-cengir aja sambil garuk-garuk.&lt;br /&gt;“Tulalit banget sih, lu!” timpal Hendro, sang Ketua kelas.&lt;br /&gt;“Ok, silent, please. Saya akan segera meng-absen, jadi harap tenang”&lt;br /&gt;Sesaat Andri yang duduk paling belakang menepuk bahu Yuke, yg terkenal dengan segudang ide gilanya ngerjain guru.&lt;br /&gt;“Yuk, oke juga nih, guru ini.” Yuke hanya mengangguk dan mengulum senyum sembari mengangkat alis.&lt;br /&gt;“He. Jangan-jangan di otakmu udah bercokol ide”&lt;br /&gt;“Bukan Yuke kalo enggak penuh ide gila?!”&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;“Sst!”&lt;br /&gt;Yuke memang jahil. Namun yang bikin orang enggak pernah benci padanya, karna keusilannya itu masih dalam norma-norma kesopanan. Itu yang bikin dia beda dengan yang lain. Wajahnya tidak terlalu tampan, meski kulitnya putih. Namun jika dipandang wajahnya selalu nampak manis. Karenanya dia masuk dalam daftar cowok keren di sekolah itu.&lt;br /&gt;“Excuse me, mom!” Yuke mengangkat tangannya.&lt;br /&gt;“Yes please,” guru itu mencari darimana suara datang. Kemudian pandangannya langsung ke arah Yuke.&lt;br /&gt;“Can i know your name” tampangnya ia pasang sok cool abis.&lt;br /&gt;“Oh, sure. Sorry, i forget it.” Wanita itu lantas mengambil spidol dan menuliskan sesuatu di white board kelas.&lt;br /&gt;“Rini Suratmi Warsito...? It’s beautiful!”  cara pengucapan Yuke kali ini sungguh terasa dibuat-buat. Jika didengar telinga, seperti suatu ejekan.  Karna itulah, seluruh warga kelas jadi ketawa habis-habisan dengan celoteh Yuke itu.&lt;br /&gt;Mulanya Mrs. Rini agak tersinggung dengan pengucapan Yuke, namun kemudian ia ingat semua wanti-wanti dari para guru mengenai kelas ini. Sejenak ia menghela nafas dan berkata bijak kepada Yuke, “Thank you, Mr.....”&lt;br /&gt;“Yuke.”&lt;br /&gt;“Oh sure. Tapi lain kali saudara mesti agak sopan, ya.”&lt;br /&gt;“Maaf, Mam. Saya tadi hanya bercanda, jadi maafkan saya.” Kata-kata Yuke tadi sedikit mengagetkan Mrs. Rini. Ternyata anak ini ‘gentle’ juga. Ia berani mengakui kesalahannya. Di dalam hati Mrs. Rini menyimpan simpatik pada Yuke.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Mrs. Rini di sekolah ini ternyata mendapat hati para siswa. Keanggunannya yang alami seta keramahan dan kesabarannya itu menjadikan dia dihormati. Mrs. Rini seorang yang ‘friendly’ dengan para murid, tetapi jika mereka melakukan kesalahan, wanita berwajah ayu ini tak segan dengan tegas memberi sanksi. Semuanya itu membuat dia tidak pernah dibenci tetapi malah semakin disayang.&lt;br /&gt;Begitu pula dengan Yuke. Cowok jangkung berkulit putih ini diam-diam menyimpan hati pada Mrs. Rini. Menurut Yuke Mrs. Rini sangat beda dengan guru-guru yang lain. Dia tidak hanya dapat memberi materi pada murid, tetapi juga dapat mendidik dan menyayangi mereka seperti anak-anaknya sendiri.&lt;br /&gt;“Sejak kecil saya yatim piatu. Saya tinggal di panti asuhan dan harus berjuang menghadapi hidup sendiri.” Yuke ingat kata-kata Mrs. Rini beberapa waktu lalu. Sejak saat itu ia menjadi salut pada guru bahasa Inggris ini. Menghadapi hidup sendirian itu sama sekali tidak mudah. Apalagi jika dibandingkan dengan dirinya yang apa-apa selalu tergantung pada kedua orangtua meski ia juga nge-kos di kota itu.&lt;br /&gt; Dari Mrs. Rini, Yuke belajar banyak hal. Yuke juga sering bertukar pikiran dengannya, karena Mrs. Rini orang yang enak diajak bicara.&lt;br /&gt;“Yuk!” suara Andri yang nge-bass itu membuyarkan lamunannya. Ia lalu menurunkan kaki dari bangku dan memeperhatikan temen sekelasnya ini.&lt;br /&gt;“Ini berita terbaru, Yuk!” Andri membentangkan tangannya berekspresi.&lt;br /&gt;“Berita apa?”&lt;br /&gt;“Mrs. Rini.”&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;“Aku melihat dia di lokalisasi!” kata-kata Andri  membuat Yuke terbelalak.&lt;br /&gt;“Kamu jangan ngomong sembarangan! Dia kan lagi seminar?!”&lt;br /&gt;“Bener kok. Kemarin aku melihat dia berbincang-bincang dengan para pria hidung belang.”&lt;br /&gt;“Kamu lihat dimana?”&lt;br /&gt;“Dimana lagi tempat lokalisasi di kota ini...” Andri kemudian berpaling.&lt;br /&gt;“Terus, buat apa kamu kesana?”&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaan Yuke ini, Andri jadi berbalik lagi dan mendekatkan dirinya ke Yuke, “Ssst!! Jangan keras-keras. Suer! Aku enggak ngapa-ngapain. Aku kan,... aku... aku, cuman lewat !”&lt;br /&gt;“Jangan-jangan malah kamunya yang...”&lt;br /&gt;“Eh, sembarangan!” Andri kemudian berlalu dari hadapan Yuke. Ia tidak terlalu percaya dengan omongan Andri itu.&lt;br /&gt;Yuke lalu berpikir sejenak. Memang gosip itu baru beredar di sekolahnya kemarin. Dia sendiri dengar dari adiknya yang duduk di kelas satu. Tidak jelas siapa yang menghembuskannya. Yuke selama ini cuman cuek bebek aja. Karna Yuke tahu Mrs. Rini gak mungkin terlibat hal-hal aneh seperti itu.&lt;br /&gt;Yuke lalu berjalan keluar kelas. Ia kemudian lewat di depan koperasi sekolah. Ia mendengar bisik-bisik di ruang guru yang berada tepat di depan Koperasi.&lt;br /&gt;“Nggak nyangka ya, wajahnya aja yang baik-baik, tetapi ternyata...”&lt;br /&gt;“Iya. Nggak cukup mungkin gajinya jadi guru. Hati-hati aja sekarang deh sama Bu Rini itu. Jangan-jangan sekarang di gak masuk gara-gara kecapekan malamnya.”&lt;br /&gt;“Dasar Pelacur!”&lt;br /&gt;Yuke langsung terperanjat mendengar kata-kata terakhir dari perbincangan guru-guru itu. Dia langsung berlari ke kelas. Hatinya dipenuhi gejolak dan tanda tanya besar, sebenernya apa yang sedang terjadi. Apa benar Mrs. Rini, pujaan hatinya itu seorang wanita tuna susila seperti yang diomongin orang-orang satu sekolah saat ini. Yuke kemudian tertunduk lesu. Menyesal sekali Mrs. Rini sedang seminar selama 4 hari sehingga ia tidak bisa langsung menyelidiki dan bertanya kepada Mrs. Rini perihal kebenaranannya.&lt;br /&gt;Angannya melayang jauh mengingat kejadian seminggu lalu, saat Yuke bertandang ke rumah Mrs. Rini. Beliau menerima Yuke dengan sangat ramah. Ia membagi cerita tentang masa kecil dan masa-masa sekolahnya dulu dengan Yuke. Dalam benak Yuke ingin berterus terang kalau dia jatuh hati dengan gurunya ini meski ia tahu perbedaan umur yang terlalu jauh.&lt;br /&gt;Yuke belum mengatakan apa-apa pada Mrs. Rini, kalau dia cinta. Yang ada di benaknya saat itu adalah ingin mengenal Mrs. Rini lebih lagi. Ternyata cowok ini berhasil. Melalui obrolan mereka itu, Yuke mulai mengenal sedikit demi sedikit kepribadian Mrs. Rini. Ia jadi bertambah simpatik padanya.&lt;br /&gt;Bel pulang itu tidak membuat girang hati cowok ini. Ketika ia sudah sampai di rumah, ia bertambah resah akan semua perasaannya. Yuke mesti menunggu 2 hari lagi untuk bertanya kepadanya. Menurut Yuke orang yang menyebarkan berita itu licik. Ia menunggu Mrs. Rini tidak ada di sekolah baru menghembuskan gosip itu.&lt;br /&gt;Yuke kini ingat kalo Mrs. Rini pernah bercerita bahwa di sekolah Yuke itu ada beberapa kelompok guru yang tidak suka kepadanya. Tampaknya mereka iri, karena kelompok guru-guru itu tidak terlalu disukai oleh para murid. Mrs. Rini juga bilang bahwa mereka akan menghalalkan berbagai cara untuk menyingkirkan dirinya.&lt;br /&gt;Sekarang Yuke yakin kalau berita itu benar-benar bohong belaka. Yuke merasa kasihan pada Mrs. Rini. Baru 6 bulan ia bekerja sudah mendapat tantangan seperti itu. Yuke  merasa patut membela Mrs Rini.&lt;br /&gt;“Halo, Yuke.” di telinganya kini telah bertengger suara Melati, temen kelasnya. “Yuk, aku denger dari anak Ipa, kalo Bu Rini itu, Bu Rini itu.....”&lt;br /&gt;“Sudahlah Melati. Kamu enggak percaya sama Mrs. Rini lagi?”&lt;br /&gt; “Bukannya aku enggak percaya. Gimana ya, orang semalam aku membuktikan sendiri bersama temen-temenku yang anak Ipa itu kok.”&lt;br /&gt;“Beliau kan lagi seminar? Kamu salah orang kali...!”&lt;br /&gt;“Tapi apa kamu percaya ada orang semirip Mrs. Rini, apalagi katanya dia anak yatim. Yah, mudah-mudahan aja aku salah. Udah ya, Yuk. Bye.”&lt;br /&gt;Yuke menutup telepon Melati dengan gelisah. Bukan tidak percaya dengan Mrs. Rini tetapi kasihan kan nanti dia pulang dari seminar udah dapet suguhan gosip seperti itu. Namun di lain sisi, Yuke juga penasaran apa benar yang dilihat teman-temannya itu adalah Mrs. Rini yang ia kenal dan ia cintai itu.&lt;br /&gt;Belum genap lima langkah ia tinggalkan telepon itu, sudah berdering lagi. Ia angkat dengan agak malas. Ternyata itu Abdul. Lagi-lagi sama dengan Melati, ia mencoba meyakinkan bahwa gosip Mrs. Rini itu benar. Yuke tetap berpegang pada prisipnya kalau ia tidak percaya dengan gosip yang menyebutkan Mrs. Rini wanita murahan.&lt;br /&gt;“OK. Kalo kamu enggak percaya, kita lihat sama-sama. Tunggu aku akan menjemputmu !” Abdul ngotot ngajak Yuke untuk melihat sendiri apa yang dilihatnya. Sebenarnya Yuke juga penasaran sih, tetapi dia juga takut bagaimana kalau yang dikatakan orang-orang itu benar. Tapi sesaat ia tampik ketakutan itu, bagaimana mungkin itu benar? Ia lebih percaya Mrs. Rini ketimbang orang-orang.&lt;br /&gt;Hanya dalam lima belas menit, Abdul telah sampai di rumah Yuke. Kemudian masih di atas motornya ia beri isyarat pada Yuke agar segera ikut diboncengnya. Yuke bergegas berlari dan mereka kemudian melesat memecah sunyinya malam.&lt;br /&gt;Jantung Yuke begitu berdebar. Ia telah sampai di tempat terkutuk itu ; lokalisasi. Tempat para wanita nakal menjajakan tubuhnya. Mereka kemudian mencari tempat yang aman untuk mengintip. Abdul memandang sekeliling pondok yang telah ramai itu. Ia mencari-mencari wanita yang dia maksudkan.&lt;br /&gt;Pondok tampak hiruk pikuk oleh suara manja dari wanita-wanita nakal. Sebenarnya Yuke merasa risih berada di samping pondok itu. Namun ini semua demi menjawab gosip tenteng Mrs. Rini. Ia ingin mengetahuinya sendiri.&lt;br /&gt;Sekarang kaki Yuke lelah setelah sedari tadi berdiri. Ia merasa kesemutan. Sementara Abdul matanya terus mengawasi tempat itu.&lt;br /&gt;“Mana? Sudah hampir sejam kita di  sini. Sudahlah, aku lelah. Ayo pulang!”&lt;br /&gt;“Tunggulah, Yuk! Sebentar lagi.”&lt;br /&gt;“Ah, sudah. Sudah. Aku kini bener-bener enggak percaya. Kita pulang!”&lt;br /&gt;Dua pemuda itu kemudian berjalan menghampiri motor. Yuke sudah putus asa dan ia benar-benar mengutuk gosip itu. Sekarang mereka bersiap untuk kembali ke rumah.&lt;br /&gt;Baru ia akan menaiki motor, ia melihat seorang wanita yang sedang berjalan menuju pondok. Ia bersama denan seorang pria. Wanita itu memalingkan wajahnya. ASTAGA!! Itu Mrs. Rini !&lt;br /&gt;Yuke seakan mau pingsan melihat itu. Ia kemudian berjalan menghampirinya. “Maaf, Mam. Ternyata yang diomongkan orang-orang itu benar. Kalau,.. kalau...” Yuke berkata sengit.&lt;br /&gt;Mrs. Rini memandangnya dengan pandangan tak mengerti. Ia bermaksud mengatakan sesuatu kepadanya, “Yuk, semua ini bisa ibu jelaskan. Kalau ibu....”&lt;br /&gt;“Saya menyesal. Sungguh tidak disangka, ibu seorang wanita tuna susila!” Yuke langsung pergi setelah mengatakan itu. Motor yang disetir Abdul berjalan menjauh dari pondok dengan sangat kencangnya.&lt;br /&gt;“Yuke..... !!” teriakan Mrs. Rini itu sudah tak didengar lagi oleh Yuke.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuke menghempaskan tubuhnya di ranjang. Pikirannya kalut. Ia tak tahan dengan apa yang dilihatnya barusan. Ia sama sekali tidak menyangka kalau wanita yang sangat dihormati dan dicintainya itu adalah seorang WTS. Ia lalu berteriak-teriak histeris. Wajahnya merah. Ia kepalkan tangan kanannya dan ia pukul-pukulkan ke tembok kamarnya itu. Sedih, tangis bercampur marah kini sesak ia rasakan di dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TING. TONG.&lt;br /&gt;Suara bel itu sedikit mengusik. Setelah mengelap air mata amarah itu, ia kemudian membuka pintu kamar kos-kosan. Di depan Yuke kini telah ia lihat seorang wanita yang membuatnya histeris mati-matian. Ia lalu memalingkan pandangan.&lt;br /&gt;“Buat apa ibu datang kemari ?”&lt;br /&gt;Wanita itu tersenyum, “Bisa kita bicara sebentar di luar?”&lt;br /&gt;Yuke mengikuti Mrs. Rini ke teras. Ia hanya diam saja dengan wajah penuh murka. Mrs. Rini memandang murid kesayangannya ini dengan bijak.&lt;br /&gt;“Yuke, apa yang kamu lihat tadi tidak seperti yang kamu pikirkan.”&lt;br /&gt;“Bagaiamana enggak?! Di sekolah sudah beredar gosip kalau ibu, kalo ibu,..”&lt;br /&gt;“Kalau apa ?”&lt;br /&gt;“Kalau Ibu seorang pelacur!” kali ini Yuke berbisik lirih.&lt;br /&gt;“Yuke, semuanya itu tidak benar.” Ia mengusap bahu cowok itu. “Apa kamu enggak percaya lagi dengan ibu?”&lt;br /&gt;“Ibu bilang, ibu ikut seminar. Lalu bagaimana ibu berada di tempat terkutuk seperti itu. Malam-malam bersama para pria hidung belang lagi. Orang akan menduga yang tidak-tidak pada ibu.” suara Yuke tampak meluap-luap.&lt;br /&gt;“Baiklah, akan ibu jelaskan.” Wanita itu lalu kembali ke tempat duduknya. “Seminggu lalu ibu bergabung dengan Lembaga Sosial ‘17+’. Lembaga ini bertujuan untuk menangani kepincangan-kepincangan moral yang ada di masyarakat. Salah satunya adalah masalah AIDS. Kegiatan lembaga ini adalah memberikan penyuluhan-penyuluhan tentang bahaya virus HIV, Narkotika dan penyakit kelamin lainnya. Ibu mengajukan ijin ke sekolah untuk ikut seminar, itu memang benar.”&lt;br /&gt;“Lalu?” Yuke menatap wanita itu dengan wajah penuh tanya.&lt;br /&gt;“Salah satu kegiatan seminar itu adalah praktek. Ibu harus mempraktekkan bagaimana memberikan penyuluhan pada para wanita tuna susila itu, bagaimana mencegah HIV yang sangat berpotensi terjadi pada mereka.”&lt;br /&gt;“Karena itu, ibu setiap malam pergi ke sana?”&lt;br /&gt;“Kamu tidak percaya pada ibu ?” mendengar itu, Yuke hanya tertunduk lemas. Ia menyesal telah menuduh yang tidak-tidak pada Mrs. Rini. Ia kini semakin mencintai dan menyanjung wanita itu. Tidak disangka, ia punya tujuan mulia.&lt;br /&gt;“Mrs. Rini, ada yang ingin saya katakan.”&lt;br /&gt;“Apa itu, Yuke ?”&lt;br /&gt;“Sebenarnya selama ini, saya menyimpan perasaan pada ibu. Saya,... saya,.. saya mencintai ibu.” Yuke akhirnya mengungkapakan perasaan jujurnya.&lt;br /&gt;Mrs. Rini kemudian terdiam sejenak dan ia tertawa, “Yuke, kau ini masih muda, anakku. Kau sudah aku anggap adikku sendiri. Mana mungkin kita berpacaran. Yuke, kamu adalah muridku. Kamu bercanda pasti, ya? Ha..ha...”&lt;br /&gt;Yuke hanya menggiggit bibirnya tersipu.&lt;br /&gt;“Sudah. Sudah jangan bercanda. Ada kabar baik buatmu. Ibu memberi kejutan, kalau bulan depan ibu akan menikah. Maaf tidak pernah bercerita. Sebenarnya calon suami ibu itu berada di Surabaya. Kami sudah berpacaran selama 5 tahun. Ibu minta kamu menjadi pendamping pengantin, kamu mau kan ?”&lt;br /&gt;Yuke langsung lemas mendengarnya. Guru yang selama ini dicintainya itu akan menikah ?! (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-111238598129188222?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/111238598129188222/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=111238598129188222&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238598129188222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238598129188222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2005/04/17.html' title='17+'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-111238571162323177</id><published>2005-04-02T03:00:00.000+07:00</published><updated>2005-04-02T03:01:51.626+07:00</updated><title type='text'>“Dia Kekasihku, Ia Kekasihku, Keduanya Kekasihku..."</title><content type='html'>Pintu kamar kos-ku digedor keras seperti gempa. Sebenarnya enggan untuk membuka karena keletihan berat menggantung di tubuh. Sesaat pria bertubuh kekar itu sudah ada di hadapan. Wajahnya pucat pasi penuh ketakutan. Aku mengisyaratkan supaya ia masuk saja.&lt;br /&gt;“Kenapa? Kamu ngobat lagi, ya ?” aku coba dudukkan tubuhku di atas ranjang sementara Media masih terogopoh di hadapanku.&lt;br /&gt;“Gila?! Bandar itu kejar-kejar terus, Sen!! Padahal aku sudah putuskan hubungan.”&lt;br /&gt;“Baguslah !” kurebah di atas ranjang, tak kuat menahan ngantuk dan terlelap. Sesaat aku merasa Media mengusap wajahku.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;TIT.TIT.TIT.    TIT. TIT. TIT..... &lt;br /&gt;Ah, weker ini cepat sekali berbunyi?! Tidur seperti lima menit. Kuberanjak dan kulihat Media masih pulas. Tanpa menunggu waktu kuceburkan saja tubuh ke dalam air mengundang kesegaran.&lt;br /&gt;Kemudian kubuat secangkir teh sambil kupandangi wajah Media sesaat. Kubelai rambutnya. Kupikir usahanya keras sekali untuk lepas dari obat-obatan terlarang. Kini ia ingin benar-benar bersih dari ‘barang’ haram itu. Tanpa sadar wajahku kudekatkan hendak mengecupnya, tapi kemudian ia terbangun dan melihat wajahku di hadapannya. Media kini yang mengecupku.&lt;br /&gt;“Tinggal saja di sini dulu, gak usah kemana-mana” aku memberi saran.&lt;br /&gt;“Tapi....” Media menjawab sambil beranjak dari ranjang&lt;br /&gt; “Media..... keselamatanmu lebih penting!” Aku lalu mengambil buku-buku kuliah dan beranjak keluar.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;BRRRM...&lt;br /&gt;Aku kulajukan mobil cepat. Hanya 20 menit aku sampai di rumah Siulvia.&lt;br /&gt;Siulvia melambaikan tangan dan tersenyum manja.&lt;br /&gt;“Ia’!” itu panggilan sayangku padanya.&lt;br /&gt;“Kok lama?” Ia’ kini sudah di sebelahku.&lt;br /&gt;“Maaf sayang,...” aku genggam tangannya.&lt;br /&gt;Kulajukan mobil kembali. Aku merasa ia sedang memandangi wajahku&lt;br /&gt;“Kenapa ?”&lt;br /&gt;Siulvia membelai rambutku, “Aku sayang sama kamu, Sen.”&lt;br /&gt;Aku menepuk pipinya lembut.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Selama kuliah aku tak bisa berhenti memikirkan Media. Semoga saja bandar itu sudah melupakannya. Aku percaya Media nggak akan mutauw lagi. Setelah ikut ‘rehab’ Media sudah memilih yang terbaik buat hidupnya, kembali mengejar cita-citanya menjadi seorang arsitek.&lt;br /&gt;Tak terasa kuliah telah usai. Aku meninggalkan kelas dan pergi menghampiri Siulvia.&lt;br /&gt;“Sen, kayaknya aku pulang sendiri, mau ke mall. Mau titip apa?“ Ia’ mencubit pipiku.&lt;br /&gt;“Ehm,... ayam goreng.” kuraih bahunya dan kudekapkan dalam rangkulanku.&lt;br /&gt;“Ya udah, abis dari mall aku langsung ke kos” Ia menyambut rangkulanku.&lt;br /&gt;“Oh ya, ‘yang! Media juga ada di kos.” Kali ini aku bisikkan di telinganya, “Jangan bilang siapa-siapa... soalnya kan dia lagi menghindari Tompret, bandar sial itu...”&lt;br /&gt;“Pasti aku bawakan makanan buat dia juga, deh...”&lt;br /&gt;Kemudian kuhantar Ia’ bersama kawan-kawannya, gadis-gadis rumpi. Tapi satu hal, aku nggak lupa mengecup keningnya.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;“Dia! Aku tadi lihat Tompret. Untung kamu sudah aman!” Kututup pintu Kos rapat-rapat setelah kepulanganku.&lt;br /&gt;“Aduh! Gimana kalo ke sini?” Dia malah jadi panik.&lt;br /&gt;“Tenang. Tompret kan gak kenal aku? Enggak mungkin kalau dia kesini?” aku menyodorkan roti keju kesukaannya.&lt;br /&gt;“Sial! Kenapa dulu aku mesti kenal Tompret?!?!” Dia bersimpuh di sudut kamar.&lt;br /&gt;“Sudah. Semua sudah terjadi. Sekarang tinggal pemecahannya saja.”&lt;br /&gt;Kami hanya terdiam sampai beberapa lama sambil kemudian aku memutar musik jazz kesukaanku. Dia terus diam dan tentu sedang memikirkan masalah ini. Aku sangat tahu Dia. Jika dia sedang terpukul, hanya sepi baginya sebagai sahabat sejati, maka itu aku meninggalkannya di kamar.  Aku memilih untuk duduk-duduk di teras saja.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Sebenarnya aku juga mempunyai beban sangat berat. Aku tak mau untuk menjadi seperti ini terus?! Aku ingin hidup sebagaimana orang lain hidup. Pikiran-pikiran ini terus bertaut dalam benakku.&lt;br /&gt;Di alam bawah sadar dan kehidupanku, aku sangat mencintai Media (terlalu dalam). Media tahu itu. Bahkan aku tak ingin meninggalkannya karena sangat lama mengenal.&lt;br /&gt;Memang dulu ia seorang ‘pemakai’ berat. Aku kemudian bertemu dengannya dan membantunya untuk berhenti.  Aku sangat menegerti, karena ayahku juga seorang ‘pemakai’ sepanjang hidupnya. Ia meninggal saat aku masih balita. Aku sangat benci barang haram itu.  Gara-gara puttauw aku jadi berpisah dengan ayahku untuk selama-lamanya. Tanpa pernah merasakan cinta seorang ayah. Itulah sebabnya aku ingin Media meninggalkan puttauw yang telah menguasai hidupnya. Karena kedekatan dan kerinduanku terhadap cinta seorang ayah aku jadi mencintai Media juga.&lt;br /&gt;Ough!! Sungguh berat!!!&lt;br /&gt;Aku juga punya perasaan dalam terhadap Siulvia. Gadis pujaan jiwaku, cinta dan permata hatiku. Ia selalu dapat menyejukkanku. Aku tak pernah bisa pergi jauh darinya.&lt;br /&gt;Siulvia, seorang yang perhatian dan selalu mengerti semua mauku. Ia membuatku belajar bagaimana aku harus memberikan cinta. Aku benar-benar bisa menghargai keberadaan seorang wanita tanpa memandang sebelah mata makhluk -yang kata orang lemah- ini.&lt;br /&gt;Media. Siulvia.&lt;br /&gt;Mereka berdua telah lama saling mengenal. Aku sendiri yang mengenalkan mereka.&lt;br /&gt;Media telah tahu hubunganku dengan Siulvia, meski ia juga paham kalau aku memerlukan hubungan di antara kami.&lt;br /&gt;Tetapi, Siulvia? Ia tidak tahu. Aku tidak ingin menyakiti hatinya, namun aku juga tak ingin mendustainya.&lt;br /&gt;Ough! Konflik batinku ini sarat kepenatan. Aku mencintai keduanya. Dia kekasihku, Ia kekasihku, keduanya kekasihku...&lt;br /&gt;“Sen! Kok, ngelamun?”&lt;br /&gt;Tiba-tiba Siulvia ada di hadapanku. Jantungku makin berdebar.&lt;br /&gt;“Ini ayam goreng buat kamu...” ia tampak ceria kemudian ia berbisik dan menanyakan Media.&lt;br /&gt;“Dia lagi bingung di kamar.”&lt;br /&gt;“Aku punya berita bagus! Tompret sudah ditangkap!” Ia’ seakan memberi pemecahan masalah.&lt;br /&gt;“Terus Media?”&lt;br /&gt;“Nggak usah khawatir, Sen. Media itu cuman korban. Lagian korban Tompret itu puluhan, jadi...” aku langsung memeluknya sebelum Ia’ menyelesaikan kalimat.&lt;br /&gt;“Ayo! Kita beritahu Media...” kami kemudian menghampiri Media.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;ASTAGAAA....!!!&lt;br /&gt;Media sudah tergeletak dengan darah di pergelangan tangan.&lt;br /&gt;“Media.........!” aku memeluknya dan menangis seperti anak kehilangan ayahnya. Ya, seperti dulu.&lt;br /&gt;“Aku gak mau kehilangan kamu. Media....”&lt;br /&gt;“Tenang, Sen. Tenang.” Siulvia memeluk erat diriku dan mengusap-usap bahuku.&lt;br /&gt;Aku menangis histeris.... Sisi melankolikku keluar meski aku lelaki.&lt;br /&gt;Sesaat aku punya sedikit keberanian, kemudian kukumpulkan semuanya untuk memberi pengakuan jujurku kepada Ia’.&lt;br /&gt;Siulvia kini sedang memeriksa nadi Media, lalu suara parau-ku berani keluar.&lt;br /&gt;“Ia’! Aku sangat mencintai Media... sama seperti aku mencintaimu...”&lt;br /&gt;“Ya, Sen. Aku sudah tahu dari dulu....”&lt;br /&gt;Aku langsung terhentak. Ternyata Siulvia sudah tahu kalau....&lt;br /&gt;“Kamu dan Media sahabat karib sejati. Aku salut.”&lt;br /&gt;Nyaliku jadi mengecil lagi. Teryata Siulvia hanya menganggap kami karib.&lt;br /&gt;“Sen! Media masih hidup. Kita bawa dia ke rumah sakit segera...!”&lt;br /&gt;Aku sumringah meski konflik batinku terus terdengar. (*just the little story. Life must go on!)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-111238571162323177?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/111238571162323177/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=111238571162323177&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238571162323177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238571162323177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2005/04/dia-kekasihku-ia-kekasihku-keduanya.html' title='“Dia Kekasihku, Ia Kekasihku, Keduanya Kekasihku...&quot;'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-111238554447133275</id><published>2005-04-02T02:58:00.000+07:00</published><updated>2005-04-02T02:59:04.486+07:00</updated><title type='text'>Sobat Mimpi</title><content type='html'>“Enggak ada apa-apa!”&lt;br /&gt;“ Tapi, Mo’ aku merasa ada sesuatu yang terjadi di antara kalian...”&lt;br /&gt;“Ah, sudahlah!! Antara aku dan Chica gak ada apa-apa. Tidak ada yang terjadi di antara kami !!!”&lt;br /&gt;Elmo langsung menutup gagang telepon itu. Saking kerasnya terdengar sampai di  teleponku. Aku tidak tahu, kenapa kali ini Elmo tidak mau percaya kata-kataku. Ah, entahlah. Aku sendiri juga tidak tahu, apakah semua yang ada di mimpiku itu akan terjadi ataukah itu hanyalah mimpi. Ya.apalah arti sebuah mimpi ?!&lt;br /&gt;Tapi, tidak. Rasanya apa yang ada di mimpiku lain dengan mimpi siapapun. Aku merasa setiap kejadian yang kulihat di mimpi itu benar-benar nyata. Dan biasanya hal itu pasti terjadi. Karena memang sudah beberapa kali terjadi. Aku sendiri mengalaminya.&lt;br /&gt;Oh,.. Dalam mimpiku semalam itu aku melihat ada seorang wanita yang cantik namun di balik itu, hatinya begitu buruk. Aku melihat dia mencoba membunuh Chica, pacar Elmo, sobatku. Chica tidak berdaya menghadapi wanita kurang ajar itu, karena tangannya menebarkan sihir yang begitu kuat. Kemudian aku melihat lagi Chica datang dengan tubuh yang terluka dan berdarah. Sayang sekali pada saat itu aku langsung terbangun karena kaget.&lt;br /&gt;Elmo benar. Kuharap ini hanyalah ilusiku yang ada di mimpi. Sejenak aku baringkan kembali tubuhku di ranjang. Hari telah larut. Sudah jam 11 malam tampaknya. Karena aku mendengar raung suara Disang yang diparkir di depan rumah. Disang itu milik Pak Haden, seorang angkatan laut yang rumahnya persis di sebelah rumahku. Sayup-sayup aku mendengar lolongan serigala yang jauh di bukit. Memang itu sudah jadi ‘musik pengirng’-ku menjelang tidur. Rumah baruku yang letaknya tak jauh dari perkebunan menjadi ajang suara-suara lolongan saat malam.&lt;br /&gt;Mataku sulit aku pejamkan. Meski tubuhku lelah karena harus mengurus registrasi mahasiswa di kampusku yang baru, aku tak dapat memejamkan mata. Masih terbayang terus mimpi yang seakan menghimpitku tadi. Aku tidak ingin itu terjadi pada Elmo, sobat karibku. Aku masih ingat, saat dia dengan susahnya mendapatkan Chica dulu. Chica memang seorang yang cantik dan kalem. Meski ia seorang model yang beken, dia tidak sombong. Tutur katanya lembut dan santun. Karna itulah, Elmo jatuh cinta.&lt;br /&gt;Elmo selalu curhat denganku saat ia masih PDKT. Rasanya usaha keras itu tidak sia-sia. Chica kini takluk di pelukannya. Kini usia pacaran mereka bukan seumur jagung lagi. Sudah 3 tahun lebih mereka memadu kasih. Elmo sering datang ke rumahku dan bercerita banyak tentang hubungan mereka, meski aku sudah pindah ke perkebunan ini. Satu hal yang aku tangkap dari setiap cerita itu, dia tidak ingin berpisah dari Chica.&lt;br /&gt;Karena alasan itu, setiap aku merasa ada firasat tidak enak tentang Elmo aku selalu cerita kepadanya, agar ia waspada dan hati-hati. Tapi entah malam ini. Ia begitu marah saat aku menceritakan mimpi aneh itu kepadanya. Aku kini tambah merasa kuatir, kalau-kalau ada kejadian aneh lagi yang bakal datang.&lt;br /&gt;Tak terasa aku kembali larut dalam tidurku. Hatiku benar-benar berharap tidak mengalami mimpi aneh lagi. Dalam pandanganku aku hanya melihat langit hitam yang kelam tanpa berhias satu bintang-pun.&lt;br /&gt;Rasanya baru sepuluh menit lalu aku tenang tertidur, kini dalam penglihatanku aku sudah melihat sesosok tubuh yang terkulai. Tangannya berlumuran darah. Wajahnya lusuh dan tak jelas terlihat. Aku hanya mendengan gelegar-gelegar tawa yang keras. Sebenarnya ingin kulihat tubuh siapa itu, namun aku urungkan niat dulu. Setelah suara itu hilang, barulah aku menghampirinya.&lt;br /&gt;Tapi, mengapa aku tidak dapat menyentuhnya dan membalik wajahnya. Aduh, bagaimana ini ?!  Sesaat aku hanya terdiam. Aku berharap dapat segera keluar dari mimpi ini. Namun, aku tidak bisa. Aku mencoba menyentuh tubuh itu. Aneh. Masih tidak bisa.&lt;br /&gt;Akhirnya aku mendengar rintihan dari mulutnya. Ia palingkan wajahnya. Astaga! Chica! Apa yang terjadi dengan dirimu? Aku mencoba untuk memanggil namanya, namun tidak bisa. Chi.... C... Mulutku terkunci. Dan yang lebih mengejutkan, ia tidak dapat melihatku. Aku mencoba melambai-lambaikan tangan, tapi tetap saja ia tak dapat melihatku. Chica bangkit dan berjalan tertatih kemudian bayangannya menjauh, sesaat hilang. Ooh. Mau kemana dia dengan tubuh penuh luka dan darah yang mengalir.&lt;br /&gt;Kini aku sendirian dalam gelap. Aku bingung. Apa yang harus aku lakukan? Aku terjebak dalam lingkaran mimpi ini. Aku mencoba untuk keluar, namun bagaimana caranya?&lt;br /&gt;Sesaat aku mendengar suara tawa tadi. Kali ini, diikuti sesosok makhluk yang bertubuh besar dengan jubah hitam yang sangar. Aku lalu bersembunyi dibalik bebatuan. Sesaat aku perhatikan tempat ini. Rasanya ini seperti di dalam gua yang besar dan begitu banyak batu.&lt;br /&gt;“Ah... Lepaskan!”&lt;br /&gt;Kenapa makhluk itu mencengkeram Elmo dan membawanya menjauh dari Chica. Aku menyebut dia makhluk, karena memang postur tubuhnya yang raksasa itu, tidak se-sempurna manusia. Ia tampak seperti iblis. Kemudian aku melihat jari-jari tangannya yang besar itu melemparkan Chica dalam kurungan dan pergi dengan tawa yang menggelegar. Isak tangis Chica terdengar memelas. Ia menyebut-nyebut nama Elmo.&lt;br /&gt;Aku lalu menghampirinya, “Ssst. Chica.”&lt;br /&gt;“Hei! ini aku, Kiki. Bagaiman kamu ada di tempat seperti ini....?”&lt;br /&gt;Sama seperti tadi. Mereka tidak dapat mendengarku apalagi melihatku. Lalu mengapa aku ada di tempat seperti ini? Apa gunanya? Mereka tidak dapat mendengar aku, aku juga tidak dapat menolong mereka...&lt;br /&gt;“Tidak!!” tak sadar aku berteriak dan bangkit dari tidurku. Oh, akhirnya aku keluar dari mimpi ini. Tapi, tunggu dulu, aku belum melakukkan apa-apa. Pandanganku kemudian tertuju pada ponsel yang tergeletak di meja belajar. Aku kemudian meraihnya. Kurasa aku perlu menceritakan semuanya pada Elmo. Ah, untung sudah tersambung. Ponselnya tidak ia matikan.&lt;br /&gt;Sudah beberapa kali aku tekan nomornya, tapi kenapa tidak ia angkat juga. Kenapa Elmo tidak terbangun dan mengangkatnya. Tapi aku tidak menyerah. Aku mencobanya lagi. Sayup-sayup aku mendengar suaranya, “Ada apa lagi, Ki?”&lt;br /&gt;“Mo! Kali ini engkau harus mendengarkan aku. Aku tidak mau terjadi hal-hal yang membahayakan bagi Chica. Mo, dengarkan aku,... Tadi aku melihat Chica ada dalam jeruji besi. Ia disekap oleh se... se... seekor. Ya. Seekor iblis di dalam gua yang mengerikan. Mo.. Aku melihatnya.... “&lt;br /&gt;“Dalam mimpimu ?!... Ah, sudahlah! Kiki, Itu hanya mimpimu saja. Kau lihat, sekarang sudah jam setengah satu. Kamu mesti istirahat. Karna besok aku enggak mau kau terlambat ke rumahku. Bukankah besok kita akan bersenang-senang?”&lt;br /&gt;“Elmo. Ini benar, aku berani jamin. Coba kau telpon dulu Chica...”&lt;br /&gt;“Kiki. Sekarang sudah malam.”&lt;br /&gt;“Telepon selularnya. Please....”&lt;br /&gt;“Baiklah. Tapi, kalo sampai tidak terjadi apa-apa...”&lt;br /&gt;“Sudahlah, Mo. Cobalah dulu.”&lt;br /&gt;“Baik aku akan segera menghubungimu nanti.”&lt;br /&gt;“Elmo, terima kasih masih mempercayaiku.”&lt;br /&gt;Aku senang akhirnya Elmo mau mendengar kata-kataku. Kini aku tinggal menunggu telponnya, apakah Chica dalam keadaan baik atau,... Sebenarnya aku berharap itu hanya mimpi. Aku harap Chica tidak apa.&lt;br /&gt;Kuseret langkahku menuju ruang makan, kerongkonganku rasanya kering sekali. Sesaat terdengar suara teguk air yang masuk. Semua memecah sunyi. Suara lolongan serigala itu tak kunjung berhenti juga. Sebenarnya aku berniat untuk menengoknya ke luar, tapi sesaat, bulu kudukku berdiri. Kuputuskan saja untuk masuk kembali ke dalam kamarku.&lt;br /&gt;“Ya, halo.”&lt;br /&gt;“Kiki, aku sudah menelpon Chica. Dan dia tidak apa-apa.”&lt;br /&gt;“Tapi, apa kau benar-benar yakin ?”&lt;br /&gt;“Memang mulanya suara Chica agak aneh, tidak seperti biasa. Kata-katanya terbata-bata. Tapi, aku maklum. Dia kan bangun tidur.”&lt;br /&gt;“Kenapa kamu tidak menanyakan...”&lt;br /&gt;“Ah, sudahlah, Ki! Aku mau tidur dulu. Kamu juga harus beristirahat, bukan ?”&lt;br /&gt;“ Tapi, Mo.”&lt;br /&gt;Ah, Elmo sudah keburu menutup telponnya. Ya, Tuhan. Bagaimana ini? Aku merasa mimpi itu benar-benar akan terjadi? Bagaiman aku meyakinkan Elmo. Masak, aku sendiri yang akan menelpon Chica. Itu tidak mungkin. Chica itu pacar Elmo, sobatku. Lagipula aku tidak tahu nomornya.&lt;br /&gt;BRAK! BRAK! BRAK!&lt;br /&gt;Suara apa itu? Aku jadi merinding. Sebulan  aku tinggal di rumah baru ini, tidak pernah ada gangguan seperti itu. Apa itu suara perampok perkebunan atau... suara....&lt;br /&gt;KRIEK. KRIEK. KRIEK. KRIEK.&lt;br /&gt;Oh, belum tuntas aku mencari tahu suara tadi, sudah muncul suara mengerikan lain.  Ya, Tuhan... Suara apa itu? Seperti bunyi himpitan-himpitan bambu. Tetapi, mana ada tanaman itu di daerah seperti ini ? Oh. Bulu kudukku semakin berdiri.&lt;br /&gt;Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku masukkan tubuhku ke dalam selimut dan menutup mataku. Sayup-sayup malah kudengar suara bunyi itu jadi satu. Aku takut. Badanku menggigil, tubuhku lemas. Aku berada dimana ini, apakah aku telah terbangun dan berada dalam dunia nyata ataukah masih dalam alam mimpi. Akhirnya aku memutuskan untuk membuka selimut ini, dan aku sungguh berharap saat aku membukanya hari telah pagi dan aku sudah melewati malam aneh dan mengerikan ini.&lt;br /&gt;Betapa terkejutnya diriku. Aku kembali dalam gua tadi, ke dalam  lingkaran mimpi. Posisiku masih sama persis seprti tadi. Namun kali ini aku lebih takut, dalam sayup-sayup bayangan dari balik bebatuan, kulihat sekumpulan makhluk-makhluk mengerikan berkumpul. Tampaknya seperti sebuah pertemuan. Aku tidak dapat mendengar jelas apa yang mereka katakan karena bahasa mereka aneh. Namun, tiba-tiba dengan sendirinya perbincangan itu dapat aku mengerti. Aneh.&lt;br /&gt;“Kita harus menghancurkan hubungan kedua orang itu.” Bayangan putih dengan wajah mengerikan itu berteriak. Saat aku melihat ke bawah, ah, dia tidak mempunyai kaki ! Dia melyang-layang di atas tanah.&lt;br /&gt;“Benar. Mereka berdua memang brengsek! Masa dua orang itu mencoba mempengarungi Doni, anak buah kita.” balas makhluk bertubuh tinggi sekali, dengan taring-taring yang tajam. Di ujung-ujung giginya terdapat cairan-cairan merah. Sementara wajahnya yang pucat pasi itu selalu menyorotkan pandangan yang tajam.&lt;br /&gt;“Kita buat gadis itu terombang-ambing sendiri dengan perasaan cintanya pada laki-laki itu. Hi... hi.... dengan begitu kita bisa meretakkan hubungan keduanya. Hi... Hi...” wanita sangar yang wajahnya cantik tetapi berbau busuk itu kulihat turut andil juga dalam rencana jahat mereka.&lt;br /&gt;Kerongkonganku terasa kering sekali. Bahkan, ludah sendiri pun tak dapat aku telan. Oh, Tuhan... pasti yang dimaksud para iblis itu adalah Elmo dan Chica. Memang Elmo pernah bercerita kalau mereka berdua itu sedang berteman dengan seorang pecandu narkotik. Misi mereka adalah menarik Doni agar berhenti jadi pecandu. Aku sendiri agak takut saat Elmo bercerita padaku dan bahkan sempat melarang tindakan itu lantaran aku tahu, Doni itu punya satu kekuatan supranatural jahat  yang ia dapat dari ayahnya.&lt;br /&gt;Tetapi minggu lalu aku sedikit tenang mendengar kabar dari Elmo, bahwa Doni sudah meninggal. Meskipun ia sudah berhenti ‘nyandu’ dan bertobat, tapi zat-zat narkotik yang ada dalam darahnya itu tetap membunuh dia. Elmo juga tampak senang meski ia begitu terpukul. Karena Doni benar-benar berhenti menjadi pecandu, seminggu sebelum ia pergi untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;Namun rupa-rupanya iblis-iblis jahat yang ada di tubuh Doni itu tidak terima. Mereka dendam pada Elmo dan Chica. Setidaknya itu yang aku tangkap dari pembicaraan mereka.&lt;br /&gt;Kalau tadi aku melihat Chica sedang dikurung di lingkaran mimpi, lalu apa yang terjadi dengan Chica di dunia nyata? Sesaat aku memejamkan mata. Jantungku begitu berdegup saat aku buka kembali mataku, sudah berada di kamar Chica. Bagaimana ini bisa terjadi?&lt;br /&gt;Aku melihat Chica terlentang di ranjangnya. Matanya sembab dan merah. Ia terlihat gelisah dan tidak dapat tidur. Oh! Ada dua iblis di sampingnya. Mereka membisik-bisikkan sesuatu. Itu membuat Chica mengucurkan air mata dengan deras. Tapi tubuhnya tetap terkulai tak berdaya. Kaku. Sementara diriku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku kembali memejamkan mata, karena aku juga merasa takut sekali.&lt;br /&gt;“Diam!” iblis berwajah merah itu menyentak Chica. Tangannya yang berbulu, nampak seperti serigala ia dekatkan ke jeruji besi. Ternyata aku kembali lagi ke lingkaran mimpi ini lagi. Aku terombang-ambing. Namun sesaat aku mencoba untuk sadar dan berkonsentrasi, siapa tahu dengan memejamkan mata sekali lagi, aku dapat menuju ke Elmo. Aku berusah keras untuk berkonsentrasi.&lt;br /&gt;Yap. Berhasil. Kini aku sudah ada di sampingnya. Meski lidahku kelu, aku mencoba menggerak-gerakkan tubuhnya. Betapa usahaku itu sia-sia. Ia tidak juga bangun. Bagaimana ini? Aku tidak dapat menyelamatkannya. Aku lalu kembali lagi ke lingkaran mimpi itu. Aku mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang ada untuk menyerang iblis-iblis itu. Satu... Dua... Tiga... Yak! Aku berhasil menghantam iblis berbulu serigala itu !&lt;br /&gt;Tapi. Hei! Ada apa ini? Mengapa aku hanya menembusnya? Aku mencoba menikamkan pisau yang kudapat entah dari mana itu ke wajahnya. Namun itu tidak berhasil. Ternyata aku tidak dapat terlihat oleh siapapun di lingkaran mimpi ini. Kemudian aku mencoba berteriak-teriak sekuat tenaga, tapi aku sendiri tidak dapat mendengar suaraku, apalagi mereka. Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?&lt;br /&gt;Kemudian kuputuskan untuk berjalan menelusuri lorong gua. Meski aku merinding dan takut karna banyak sekali makhluk-makhluk seram yang berkeliaran, aku mencoba untuk melakukannya. Toh, aku tak dapat terlihat oleh mereka.&lt;br /&gt;Baru aku melewati tiga atau empat lorong, aku melihat satu cahaya putih yang terang dan kuat. Cahaya itu sangat menyilaukan mataku. Aku lalu menutup wajah dengan tangan kananku. Kemudian sayup-sayup aku mendengar satu suara yang biasa kukenal.&lt;br /&gt;Aku ingat itu suara ponselku. Sejenak aku meraihnya dan terdengar suara Elmo. Astaga. Lagi-lagi aku kembali ke dunia nyata lagi tanpa berbuat sesuatu apapun yang berguna.&lt;br /&gt;“Ki, saat ini aku sedang menuju ke rumahmu. Sementara itu kamu mesti bersiap-siap untuk ikut denganku.”&lt;br /&gt;“Eh... Kemana, Mo? Aku baru bangun, nih...”&lt;br /&gt;“Chica ditemukan mati di kamarnya...!!.”&lt;br /&gt;TUT. TUT. TUT. TUT.&lt;br /&gt;Telepon Elmo itu terputus. Aku langsung bangkit dari ranjang, dan bergegas mandi serta bersiap. Apa-apaan ini? Mengapa mimpi itu benar-benar terjadi? Seribu tanya bercokol di pikiranku. Ternyata firasat dan mimpi-mimpiku semalam benar. Namun rasa bersalah terus mengiang. Mengapa aku tidak dapat menyelamatkan Chica, mengapa aku hanya diam dan tak dapat berbuat apa-apa? Mengapa dan mengapa? !!!&lt;br /&gt;Kini Elmo sudah ada di hadapanku. Matanya merah. Ia langsung memelukku dengan tangis yang berisak. Ia berbisik di telingaku, “Maaf. Aku tidak mempercayaimu semalam....”&lt;br /&gt;Aku membelai rambutnya. Aku merasa sayang sekali padanya. Tak sadar aku juga meneteskan air mata. Dalam hati kecilku menggema, apa-apaan ini? Dua orang pria menangis dan berpelukan? Menggelikan.&lt;br /&gt;Namun aku cepat tersadar, bahwa hal ini merupakan satu tragedi. Jadi apalah salahnya jika pria mengungkapakan rasa sedihnya bersama. Kami memang sudah seperti saudara, bahkan lebih dari itu. Kemudian aku mengisyaratkan padanya untuk segera bergegas menuju rumah Chica yang jaraknya hampir sejam dari rumahku kalau naik mobil.&lt;br /&gt;Ternyata kami terlambat. Tidak sempat kami datang ke lokasi kejadian dan melihat bagaiman sebenarnya kejadian itu. Tubuh Chica sudah disemayamkan di sebuah peti kayu berukir indah. Elmo langsung menujunya. Perlahan ia membuka cadar wajah Chica. Aku juga turut di sampingnya melihat wajah Chica yang ayu itu terseyum damai. Chica mengenakan gaun putih yang indah. Tangannya dilipatkan, seperti orang berdoa sambil membawa bunga.&lt;br /&gt;Aku melihat, Elmo tidak dapat mengontrol diri. Ia terus menangis sampai saat pemakamannya. Ia masih menyesali kematian kekasihnya itu. Sementara aku sendiri heran, bagaimana mungkin Chica sampai over dosis, sementara tak pernah sekalipun kulihat ia minum obat-obat terlarang.&lt;br /&gt;Ternyata  diketahui, bahwa menurut penyidikan polisi, di tempat agency model-nya itu, setiap akan peragaan busana, ia diberi minuman oleh Warty, teman sesama model Chica. Warty membujuk Chica untuk meminumnya dengan dalih bahwa minuman itu minuman kesehatan yang dapat menambah stamina. Berturut-turut sampai setahun Chica selalu melakukannya setiap sebelum show. Ia tak sadar kalau yang dimunimnya itu obat terlarang. Obat itu terus meracuni tubuhnya. Memang kelihatannya ia selalu tampak segar, karena memang obat itu baru bisa menunjukkan reaksi bahayanya dalam jangka waktu kurang lebih satu tahun. Begitu ganas memang. Obat itu sungguh merenggut nyawa.&lt;br /&gt;Warty melakukan itu pada Chica semata-mata karna iri pada kesuksesan Chica sebagai model. Selain itu ia juga naksir berat sama Elmo. Dalam benakku aku bertanya, mengapa hanya karna itu, ia tega membunuh kawannya sendiri.&lt;br /&gt;Pak Pendeta sudah melakukan upacara tutup peti di pemakaman. Kini wajah Chica tak akan pernah terlihat lagi untuk selama-lamanya. Ia sudah menyatu dengan tanah. Aku terus membujuk Elmo untuk merelakan kepergian kekasihnya itu. Ia terus meraung dan memeluk gundukan tanah tempat Chica dimakamkan.&lt;br /&gt;Akhirnya kuputuskan untuk membiarkan dulu Elmo meluapkan rasa sedihnya. Sejenak aku berdiri dan berpaling pada pepohonan yang rindang di hadapanku yang letaknya tak begitu jauh. Astaga! Apalagi ini? Aku melihat 2 bayangan putih yang tersenyum damai dan melambaikan tangan kepadaku. Doni dan Chica!&lt;br /&gt;Belum sempat aku membalas lambaian itu aku melihat bayangan-bayangan iblis yang kulihat di mimpiku itu berusaha mengejar mereka berdua. Tapi usaha itu sia-sia. 2 bayangan putih itu pergi dengan sinar yang kuat penuh damai.&lt;br /&gt;Aku lalu kembali duduk dan kurangkulkan tanganku di pundak Elmo, sembari berbisik kepadanya, “Ia sudah pergi... dengan damai...” (q)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-111238554447133275?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/111238554447133275/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=111238554447133275&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238554447133275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238554447133275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2005/04/sobat-mimpi.html' title='Sobat Mimpi'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-111238546862338568</id><published>2005-04-02T02:54:00.000+07:00</published><updated>2005-04-02T02:57:48.630+07:00</updated><title type='text'>“Teman Sinyo-ku”</title><content type='html'>Hujan yang turun hari ini benar-benar deras. Ini membuat badan Ala’ basah kuyup. Meski ia dan kedua temannya mencoba menutupi kepala, namun tetap saja ujung rambut sampai kaki mereka tak ada yang kering sedikitpun.&lt;br /&gt;“Sial! Kenapa tadi kita gak bawa payung? Kamu sih, Ka. Aku kan wis ngomong. Ala juga gitu. Kalau begini kita semua jadi basah, kan? Terus kalau besok sakit enggak bisa ke sekolah...”&lt;br /&gt;Joko, pemuda bertubuh besar, berkulit legam itu memang gemar mengomel. Baik atau buruk keadaannya, pasti dia berkomentar. Menanggapi temannya ini, Ala’ hanya diam, mungkin bagi Ala, sudah terlalu sering mendengar gerutu-gerutunya.&lt;br /&gt;Namun tidak untuk Kaka. Meski ia tahu sikap kawannya itu, ia pun bales berkomen. Akibatnya pertentanganpun terjadi. Baru kali ini Ala mengeluarkan suara untuk menenangkan adu mulut dua orang itu.&lt;br /&gt;“Sudah! Sudah! Kita nyebrang apa enggak, sih. Ayo! Nanti jalannya makin rame!”&lt;br /&gt;Akhirnya adu mulut itu dapat ditenangkan Ala’ dengan mengalihkan perhatian mereka untuk segera melintasi jalan itu. Masih dengan badan yang basah, Joko, Kaka dan Ala’ melintasi sepanjang jalan yang penuh dengan kendaraan sementara hujan juga masih belum kunjung reda. Ketiga pemuda itu dengan hati-hati berjalan, mengingat genangan-genangan air yang sampai mata kaki itu membuat keadaan jalan tidak terlihat.&lt;br /&gt;Ciiittt!! BRAK!&lt;br /&gt;Astaga! Hampir saja Kaka tertabrak sebuah mobil yang tiba-tiba melintas di depan mereka. Untungnya ia hanya terserempet saja.&lt;br /&gt;“Kurang ajar! Apa tidak punya mata orang itu!!” umpatan seketika keluar dari mulut Joko. “Dasar singkek!”&lt;br /&gt;Kata-kata itu membuat Ala’ memalingkan pandangan tajam pada Joko. Mata Ala’ terlihat serius. “Jok! Sudah berapa kali aku bilang. Jangan sembarangan bicara.”&lt;br /&gt;“Ala’! Mereka itu emang sering kurang ajar...”&lt;br /&gt;“Sudah Joko. Aku gak suka kamu begitu. Mereka juga kan bangsa kita”&lt;br /&gt;“Buat apa sih kamu marah? Toh, kamu kan orang pribumi. Orang Jawa.”&lt;br /&gt;Pembicaraan mereka terhenti. Mobil yang menyerempet Joko tadi kembali mundur. Perlahan pengemudi itu turun dengan payung kuning yang dipegang di tangan kanannya. Ternyata ia seusia dengan mereka. Tingginya kira-kira 162 senti. Ia berkulit kuning, matanya sipit, tidak lebar. Pemuda itu memang seorang warga keturunan, seperti dugaan Joko.&lt;br /&gt;Melihat sinyo itu, Joko terlihat bertambah garang, “Hei Nyo! Kamu bisa nyetir gak sih? Hati-hati dong. Kamu jangan berani macem-macem sama kami, ya.”&lt;br /&gt;Sinyo itu mulanya sedikit gemetar dengan kata-kata kasar Joko. “Saya minta sori, ya. Aku tadi gak liak kalian.”&lt;br /&gt;Namun lagi-lagi Ala’ bisa jadi penengah yang baik, “Sudah. Kami enggak apa-apa, kok. Siapa namamu, Nyo?”&lt;br /&gt;Ia mengulurkan tangannya pada Ala’ “Kenalkan, nama gua Fani. Fani Chen Wei. Panggil aja, Wewe. Sekali lagi, aku minta sori.”&lt;br /&gt;“Iya, We. Aku juga. Sebenernya kami juga salah. Udah We, ya. Kami buru-buru pulang nih...” Ala’ meraih kedua kawannya itu untuk segera menjauh dari Wewe. Ia tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.&lt;br /&gt; “Apa kalian gak butuh tumpangan? Ndek mana seh, rumahe? Tak anterno, ya”&lt;br /&gt;Dari kejauhan, Ala’ menolak tawaran sinyo itu dengan ramah, “Tidak, We. Trim!” dan bayangan ketiga orang itu tak nampak lagi setelah mereka berbelok ke tikungan di seberang jalan.”&lt;br /&gt;Sembari masuk ke dalam mobilnya, Wewe bergumam, “Untung, ada anak itu... Kalo gak, mati gua digampar temennya...” dan seketika melesatlah mobil dengan cat biru tua itu ke arah berlawanan.&lt;br /&gt;*   *   *&lt;br /&gt;Meski kini sekujur tubuh yang basah tadi telah kering, namun Ala’ masih memikirkan kejadian tadi. Ia tak habis pikir, mengapa orang-orang selalu memojokkan warga-warga keturunan. Memang terkadang sikap mereka ada yang tidak bisa diterima oleh warga pribumi. Tapi toh, itu kan tidak semua. Sama seperti bangsanya, ada yang suka judi, ada yang ngomongnya kasar, yang baik juga ada, itu kan kepribadian orang. Mengapa mesti dikaitkan dengan etnis mereka. Yang jelas, yang ada di benak Ala’ ia tidak mau begitu. Baginya semua manusia sama. Masalah etnis itu gak perlu diperpanjang. Setidaknya itu yang selalu diajarkan kedua orangtuanya sejak kecil.&lt;br /&gt;“Lei!” suara bunda membuyarkan lamunan Ala’&lt;br /&gt;“Ada apa, bunda?”&lt;br /&gt;“Lei, ayo makan dulu.”&lt;br /&gt;Ala’ kemudian berjalan ke balai-balai rumahnya. Ruangan yang sangat disenangi ayahandanya. Di situ juga, Ala’ belajar tentang kehidupan dari ayahnya.&lt;br /&gt;“Ayah masih belum menyelesaikan lukisan itu?”&lt;br /&gt;“Belum, Lei. Lukisan ini spesial. Ayah perlu ‘jiwa’ agar lukisan ini bisa nampak bernyawa.”&lt;br /&gt;Ala’ memperhatikan lukisan ayahnya itu. Seekor burung Garuda yang besar dan gagah. Matanya tajam memandang. Namuan Ala’ masih melihat keramahan dari sorot mata itu. Sementara bulu-bulunya putih bersih, dengan cakar yang seolah sedang mencengkeram sesuatu. Tampaknya ayahanda belum menyelesaikan bagian bulu-bulunya. Entah ‘nyawa’ apa yang dimaksud ayahanda.&lt;br /&gt;Ayah Ala’ bukan sepenuhnya seorang pelukis. Itu hanya sekedar hobi saja. Pekerjaan pokok pria setengah baya ini adalah seorang insinyur. Ia bekerja di sebuah perusahaan swasta di kotanya itu.&lt;br /&gt;Sesaat Ala’ memandangi wajah ayahanda dengan penuh kagum. Kini, ia berniat untuk bercengkerama dengannya. Ala’ ingin mendapatkan sedikit wejangan dari ayahnya perihal sesuatu yang tidak ia mengerti sedari tadi ; tentang perbedaan yang tak bisa diterima oleh sebagian orang.&lt;br /&gt;“Ayah, manusia diciptakan berbeda-beda. Ada yang hitam, ada yang cantik, ada yang sipit, ada yang mancung, ada yang gemuk,....” belum seleai Ala’ menyelesaikan kalimatnya ayahanda memotong.&lt;br /&gt;“Lei... Ayah ngerti maksudmu....”&lt;br /&gt;“Lei, perbedaan itu memang indah. Sudah. Tidak perlu dipertentangkan.”&lt;br /&gt;“Ayahanda, tapi mengapa banyak orang masih juga tidak bisa menerima itu?”&lt;br /&gt;“Lei, kamu mesti inget, Kalau orang itu sudah bisa menemukan keindahan dalam dirinya sendiri, ia pasti bisa juga menemukan keindahan dalam diri orang lain.”&lt;br /&gt;Ala’ berbisik lirih, “Perbedaan... Keindahan.”&lt;br /&gt;Ia lalu berjalan menjauh dari balai-balai. Kata-kata ayahanda terus terngiang dalam benaknya, dalam nadinya.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Panas yang terik menjadikan basah seragam putih yang dikenakan Ala’. Ia usap keningnya dengan sehelai sapu tangan. Hari ini langit memasang wajah garangnya. Panaas sekali !  Ala’ masih terus berjalan dengan satu harapan, segera sampai ke rumahnya. Namuan ketika ia akan melangkahkan kaki menuju arah rumahnya, wajahnya berpaling. Ia mendengar suara ribut di salah satu gang yang sepi. Ia kemudian berlari kecil untuk melongoknya. Ada apa gerangan?&lt;br /&gt;“Ayo Nyo, serahkan duikmu! Kalao gak gelem....” laki-laki itu tampak menyodorkan sebilah pisau pada seorang pemuda berkulit kuning. Sementara yang satunya lagi berdiri dengan wajah mengancam.&lt;br /&gt;“Astaga! Wewe.” Ala’ teringat pemuda Tionghoa yang hampir saja menabrak Joko beberapa waktu lalu. Kini dalam dirinya bertaut, apakah ia mesti menolong Wewe, ataukah... Tidak! Kalau ia sendiri yang melawan dua laki-laki bertubuh besar itu, ia pasti babak belur. Sesaat ia menemukan akal. Ia lalu berjalan agak menjauh. Ia buka telapak tangan di samping mulutnya dan berteriak, “Polisi! Polisi! Cepat lari! Ada polisi!!”&lt;br /&gt;Seketika dua laki-laki itu lari tunggang langgang menjauh dari Wewe. Dalam benak Ala’ ternyata kecil juga nyali mereka. Ia lalu menghampiri Wewe, “Kamu gak apa-apa kan?”&lt;br /&gt;“Aduh, kamsia aku nek gini, Aku wis utang ambek lu lagi...”&lt;br /&gt;“Ada yang hilang, We?”&lt;br /&gt;“Lu sek inget namaku?...  Eh, nggak apa-apa. Paling juga duikku. Tapi gak apa-apa sing penting aku selamat, aku udah bersyukur.”&lt;br /&gt;Sejenak Ala’ memandangi pemuda itu. Wajahnya masih tampak ketakutan, seragam sekolahnya tampak kotor dan lusuh. “Kamu,.. Apa yang kamu lakukan di sini?.... Ia lalu pandangi gang kecil itu. “Di jalan yang sepi ini...”&lt;br /&gt;“Aku, aku hanya mau beli jajanan di ujung jalan sana, aku baru pulang sekolah.”&lt;br /&gt;Ala’ memandang Wewe. Ia mengikuti arah matanya. Ia melihat mobil yang sedang di parkir di seberang jalan. Rupanya pemuda ini membawa mobil kalau sekolah. Enak benar? Ia tidak perlu menikmati panas yang hebat setiap siang.&lt;br /&gt;Ia lalu bertanya pada Wewe, “Bukankah, kamu bisa membeli roti-roti mahal di supermarket? Kenapa mesti beli di sini?”&lt;br /&gt;“Aku kan juga ingin merasakan jajan-jajan pasar. Apa aku salah kalau.....”&lt;br /&gt;“Ya. Ya. Aku tahu.”&lt;br /&gt;“Sori. Aku belon tahu nama lu.”&lt;br /&gt;“Cakrawala.”&lt;br /&gt;“Ah, nama yang....”&lt;br /&gt;“Aneh?”&lt;br /&gt;“Tidak. Aku tidak berkata demikian. Namamu apik.”&lt;br /&gt;“Terima kasih. Teman-teman memanggilku Ala’ ”&lt;br /&gt;“Oh, iya, karna kamu udah nolong aku bolak-balik, rasanya aku perlu membalasnya”&lt;br /&gt;“Tidak perlu. Aku tulus melakukannya.”&lt;br /&gt;“Tidak. Tidak. Maaf, jangan tersinggung. Please, biarkan kuungkapkan rasa terima kasihku ini.”&lt;br /&gt;“Rasa terima kasih tidak selalu perlu untuk diwujudkan” Ala’ kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan pemuda Tionghoa itu dengan ramah.&lt;br /&gt;Wewe kemudian mengejarnya dan menatap wajahnya, “Please... Ikutlah denganku sebentar. Bagaimana kalau aku minta tolong sekali lagi. Temani aku makan siang, ya...”&lt;br /&gt;“Bunda sudah menyiapkan di rumah.”&lt;br /&gt;“Ala’... Ayolah.”&lt;br /&gt;Sejenak ia menatap wajah melas Sinyo itu. Matanya yang sudah sipit itu makin menciut. Ia lalu tertawa terbahak-bahak. Tentu saja ini membuat Wewe keheranan.&lt;br /&gt;“Lho, kok tertawa?”&lt;br /&gt;“Lucu”&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;“Mata kamu kalau begitu makin sipit. Ha...ha..”&lt;br /&gt;“Tapi kamu mau kan?”&lt;br /&gt;“Baiklah teman sinyo-ku... Ha...ha...”&lt;br /&gt;“Teman? Jadi kamu udah nganggep aku temen?”&lt;br /&gt;“Ya. Ya. Ya. ....ha.. ha...”&lt;br /&gt;Tampaknya kini di antara mereka mulai terjalin satu relasi. Kejadian-kejadian yang tidak di duga bisa jadi pemicu hubungan itu.&lt;br /&gt;“Kamu beruntung. Setiap hari tidak perlu kepanasan”&lt;br /&gt;“Apa? Justru kamu yang beruntung. Kamu bisa sehat alami dengan menikmati panas matahari”&lt;br /&gt;“Manusia itu selalu pengen hal-hal yang tidak dimilikinya.”   Mereka berdua lalu terbahak-bahak lagi.&lt;br /&gt;“Ala, kamu boleh memilih tempat di mana kita makan.”&lt;br /&gt;“Aku ditraktir, nih..”&lt;br /&gt;“Wah. Wah. Aku kan wis bilang, to ?”&lt;br /&gt;“Terserah kamu, deh. Kan kamu yang ngajak.”&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Mereka berdua sampai di sebuah Plaza yang terbesar di kota itu. Saat hendak naik eskalator, Ala mendengar satu keributan kecil di sebuah toko sebelahnya. Langkahnya terhenti sejenak untuk sekedar memperhatikan.&lt;br /&gt;“Lu itu jadi orang goblok banget. Masa lu kagak ngerti-negrti terus. Sudah tak bilangin! Kalo gini gua kan jadi rugi lagi! Memangnya semua orang pribumi goblok-goblok apa, heh?!!”&lt;br /&gt;Ala’ melihat seorang Majikan yang sedang memaki pelayannya. Pembicaraan itu jadi menarik Ala’ lantaran majikan itu seorang Tionghoa, sedang pelayannya seorang pribumi.  Dalam hati kecilnya bergaung, ternyata tidak hanya bangsanya saja yang suka mengejek para warga keturunan. Mereka-pun juga sering melakukannya. Aduh, kalau begini terus, bagaimana bisa menemukan keindahan diri sendiri dalam diri orang lain, seperti kata ayahanda. Begitu pikir Ala’.&lt;br /&gt;Tidak ia sangka, Wewe memperhatikannya. Ia peka dengan kejadian itu. Ia kini jadi sedikit tidak enak pada Ala’ karena ia seorang Jawa.&lt;br /&gt;“Maaf, La’ ”&lt;br /&gt;“Untuk apa?”&lt;br /&gt;“Terkadang kami orang-orang Cina suka keterlaluan dengan bangsamu. Kami tidak sadar, kalau kami ini orang asing yang mengaduh nasib di sini. Tetapi terkadang kami sering semena-mena pada bangsamu.”&lt;br /&gt;“Tidak perlu kamu begitu. Kalian kan sudah sejak kecil, bahkan sejak lahir tinggal di Indonesia. Aku menganggap kalian sudah seperti bangsaku. Aku juga sadar, sering juga orang-orang pribumi mengejek dan menyudutkan kalian dalam beberapa hal.” &lt;br /&gt;“Memang masalah etnis itu adalah satu problema yang kompleks.”&lt;br /&gt;“Itu tidak akan terjadi, kalau seseorang sudah menemukan keindahan dalam dirinya lalu menemukan keindahan itu dalam diri orang lain..”&lt;br /&gt;“Filosofis sekali”&lt;br /&gt;“Ayahanda yang mengajarkan itu kepadaku.”&lt;br /&gt;“Ayahmu seorang budayawan?”&lt;br /&gt;“Sebenarnya ayahanda seorang Insinyur. Tapi ia seorang yang bijak, karna ia seorang seniman juga.”&lt;br /&gt;“Wah hebat.”&lt;br /&gt;“Terima kasih.”&lt;br /&gt;“Untuk apa terima kasih, La’?”&lt;br /&gt;“Setiap pujian itu sebenarnya bukan untuk diri kita. Karena itu untuk Tuhan. Kita tidak punya apa-apa untuk dibanggakan, meski kita juga punya keajaiban dalam diri, tapi itu semua dari Tuhan...”&lt;br /&gt;“Wah, belum sehari jadi temanmu, sudah belajar banyak. Tampaknya kita mesti bersahabat, Ala’ ”&lt;br /&gt;“Aku senang menerima persahabatan ini.”&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Kini dua orang itu sudah berhadapan di salah satu meja di sebuah kafe yang mewah. Ala’ melihat sekeliling Kafe itu. Meja-mejanya bergaya Eropa. Semua pelayan ber-jas. Tampaknya pengunjung kafe ini para eksekutif menengah ke atas.&lt;br /&gt;“Kamu sengaja mengajak aku ke tempat mewah ini?”&lt;br /&gt;Wewe yang sedari tadi sangat menikmati makan siangnya itu seketika kaget mendengar ucapan kawan barunya. “Ah, maaf, apa kamu tidak nyaman di sini ? Tapi, kita bisa pindah kok...”&lt;br /&gt;“Ah, tidak. Tidak. Tidak perlu. Aku hanya... “ Ala’ tidak jadi melanjutkan kalimatnya itu. Entah. Dia sendiri juga tidak tahu akan berkata apa. Untung ia menemukan bahan obrolan sehingga diantara mereka tidak tercipta satu jarak yang jauh.&lt;br /&gt;“Wewe, kamu sekolah di mana?”&lt;br /&gt;“Aku, di San Chou Peter.”&lt;br /&gt;“Itu sekolah mahal untuk para Tionghoa.”&lt;br /&gt;“Sudah. Jangan menghina..”&lt;br /&gt;“Aku tidak menghina. Aku kagum.”&lt;br /&gt;“Tapi kebanyakan, siswa-siswa pribumi agak risih mendengar nama sekolahku. Karena seluruh siswanya keturunan Cina. Tapi kamu beda, Ala’ ”&lt;br /&gt;“Wewe, bagaimana kalo kita membangun jembatan yang indah, dengan beton-beton kuat sebagai penghubung diantara kita.”&lt;br /&gt;“Ha...Ha... Mentang-mentang anak Insinyur, ngomongnya gitu.”&lt;br /&gt;“Maksudku, kita bangun jembatan itu untuk menghilangkan status etnis kita. Kalau kamu mau jadi temanku, mesti hapuskan, aku Jawa, kamu Cina. Tapi,.. Bukannya aku tak bangga lho, jadi seorang Jawa.”&lt;br /&gt;“Ya. Ya. Aku tahu. Itu akan lebih indah. Menemukan keindahan diri dalam orang lain. Tampaknya, aku sudah menemukannya dalam dirimu.”&lt;br /&gt;“Ha..ha.. aku juga, teman sinyo-ku!”&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Sungguh menakjubkan. Obrolannya dengan Wewe hari ini benar-benar satu hal yang baru. Sepertinya ia mendapat banyak hal baru. Ia dan Wewe bisa bebas bercerita apa saja perihal perbedaan etnis mereka. Terbuka satu sama lain. Tanpa sadar ia sudah ada di depan rumahnya.&lt;br /&gt;Ala membuka pintu pagarnya. Ia melihat Bunda sudah ada di teras, beliau sedang menyulam. Kemudian Bunda bertutur lembut padanya, “Darimana Cakrawala?”&lt;br /&gt;Ala’ kamudian meceritakan panjang lebar apa saja yang ia alami hari ini bersama Wewe. Ia merasa ada satu getaran yang luar biasa di antara mereka berdua. Satu hubungan komunikasi yang terjalin sangat berbeda dari hubungan pertemannnya dengan kawan yang lain.&lt;br /&gt;Kini Ala’ semakin yakin dengan kata bijak ayahanda, menemukan keindahan dalam diri itu sangat penting, karena dengan begitu, keindahan dalam orang lain pun dapat dirasakan.  (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-111238546862338568?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/111238546862338568/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=111238546862338568&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238546862338568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238546862338568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2005/04/teman-sinyo-ku.html' title='“Teman Sinyo-ku”'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-111238501686507195</id><published>2005-04-02T02:49:00.000+07:00</published><updated>2005-04-02T02:50:16.873+07:00</updated><title type='text'>“Tidak terjadi LAGI, kan?”</title><content type='html'>Sisi kekhawatiran membelah buritan hati Yatman. Tidak pernah ia merasa was-was seperti ini sejak setahun terakhir. Rasanya ada sesuatu yang akan terjadi. Yatman berpasrah saja kepada sang Ilahi. Meski begitu, ia tetap merasakan getaran-getaran yang hanya dimengerti olehnya saja. Sudah ia berbagi dengan nadim-nadim&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=11857266#_edn1" name="_ednref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;nya, namun tetap saja hanya Yatman yang merasakan itu.&lt;br /&gt;Doakan aku ya, karena aku punya perasaan tidak enak terus dari kemarin.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa lelah menggelantungi Yatman.  Semua itu terasa saat ia baru meletakkan ransel di gerbang kampus. Berkemah 3 hari di pegunungan menyisakan kepenatan, selain rasa enjoy tentunya.&lt;br /&gt;Teman-teman, aku pulang ya?&lt;br /&gt;Segera Yatman meluncur bersama Taxi yang sedari tadi ia nanti. Sebenarnya kepulangan Yatman kali ini masih dihiasi risau, namun ia sudah mulai biasa. Alunan nada dalam balutan lagu melo yang diputar pak sopir sedikit membuainya.&lt;br /&gt;Nada dering telepon selularnya tiba-tiba berbunyi. Itu memecah kenikmatan yang baru saja dirasakaan.&lt;br /&gt;Kenapa?&lt;br /&gt;Sista, kawan karib Yatman meminta untuk menemuinya.&lt;br /&gt;Penting sekali! Ada masalah besar. Kutunggu di kafe ‘Daisy’ ya…&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang, Yatman meminta sopir untuk segera ke sana. Sementara jauh di lubuk hatinya tersimpan tanda tanya besar. ???&lt;br /&gt;Yatman disambut alunan Jazzy yang sedang mengiring kafe. Para muda bercengkerama, saling menatap. Keakraban terasa dalam hadir. Namun Yatman masih terus mencari sepasang mata indah milik Sista. Ia sudah membayangkan pasti bola mata itu sedang basah dan Sista terduduk lemas di satu kursi.&lt;br /&gt;Hai, Yatman? Liburanmu menyenangkan?&lt;br /&gt;Sista memakai kemeja pendek dipadu rok berwarna. Jauh dari kesan sedih.&lt;br /&gt;Ikut aku ke gereja. Woody sudah di sana bersama kawannya. Ia ingin memperkenalkan padamu.&lt;br /&gt;Woody, lelaki muda seusia dengannya. Kawan karib Yatman dan Sista ini memang tidak nampak sedari tadi. Tidak seperti biasa, mereka selalu bertiga jika bertemu di kafe ‘Daisy’.&lt;br /&gt;Sista meraih tangan Yatman yang masih kebingungan. Mereka segera membelah kerumunan orang-orang muda itu. Berdua menyisir kafe dan kini mereka berlarian di hamparan padang kecil di belakangnya.&lt;br /&gt;Tepat, kini dua orang itu sudah beradu pandang dengan sebuah gereja yang masih kokoh berdiri. Cahaya salib itu benderang sampai ke bola mata Yatman. Keduanya lalu masuk gereja.&lt;br /&gt;Di tengah bangku-bangku jemaat yang telah kosong itu, Woody keluar dan menyapa Yatman.&lt;br /&gt;Yatman, kenalkan temanku...&lt;br /&gt;Kini Sista dan Woody tersenyum menyambut keluarnya seorang perempuan anggun. Yatman memandangi dari ujung kaki sampai ia tersentak ketika mulai memandang wajah putih bersinar itu.&lt;br /&gt;Hai, Yatman...&lt;br /&gt;Ransel dan jaketnya terjatuh di lantai gereja. Mata Yatman terbelalak dan mulutnya hanya menganga.&lt;br /&gt;Woody dan Sista tertawa kecil.&lt;br /&gt;Monix? Kamu kok, di Indonesia ?&lt;br /&gt;Hai Yatman? Apa kabar?&lt;br /&gt;Kini suasana mulai mencair. Yatman, Monix, Woody dan Sista bercanda dan bercengkerama. Keempatnya adalah karib mulai kecil. Namun Monix harus berpisah dengan ketiganya karena ikut orang tua ke Inggris.&lt;br /&gt;Wah, kamu tambah ayu, Monix...&lt;br /&gt;Tapi bukan karena Inggris, kan?&lt;br /&gt;Kenangan indah sejak lulus SMU –awal kepergian Monik– terkuak kembali. Sebuah memori indah dan pahit menghiasi malam ini. Keempatnya terlentang di padang kecil dengan menatap taburan bintang.&lt;br /&gt;Itu bintang kesukaan Monix, Sista...&lt;br /&gt;Salah, Monix! Itu bintang Woody.&lt;br /&gt;Monix. Jangan salah terus, dong. Tapi bintang Yatman mana, ya? Kok tidak muncul?&lt;br /&gt;HA..ha... Lagi tidur, mungkin.... ha..ha....ha..ha...&lt;br /&gt;Tidak ada hal yang paling menyenangkan buat para nadim1 ini selain saling memiliki bintang. Buat keempatnya, bintang merupakan simbol pribadi yang akan selalu memancar dimanapun dan kapanpun. Semua itu tervalut dalam sukacita. Namun entah mengapa, perasaan Yatman masih terus risau. Seperti sebuah pertanda. Aneh?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Ayo, Yatman! Nanti keburu matahari tinggi.&lt;br /&gt;Woody menarik lengan Yatman dan segera mereka beranjak menyusuri jalan menuju pemakaman umum di kota itu. Sekali lagi, jantung Yatman terus berdegup kencang dan entah kenapa. Makanya ia memilih diam.&lt;br /&gt;Mereka pasti senang melihat aku kembali ke Indonesia...&lt;br /&gt;Monix tersenyum dengan mawar-mawar putih di genggamannya,&lt;br /&gt;Huh! GR kamu..!!!&lt;br /&gt;Woody meledek.&lt;br /&gt;Sudah. Sudah. Kita di pemakaman! Kok, malah bercanda?!&lt;br /&gt;Sista bijak mengingatkan.&lt;br /&gt;Kini keempatnya sudah ada di hadapan nisan Ani, Jay dan Rahmat. Bagian dari para Nadim. Mereka meninggal saat tragedi Bom Bali.&lt;br /&gt;Pagi, para Nadim... Monix pulang...&lt;br /&gt;Sudah tidak ada tawa lagi dalam ekspresi Woody, Yatman, Monix apalagi Sista. Bahkan bola-bola mata mereka terlihat basah. Tak lama meneteslah kristal-kristal yang disebut orang sebagai ungkapan kesedihan.&lt;br /&gt;Monix memeluk Sista. Yatman malah tersungkur dan hampir meraih ketiga tempat peristirahatan terakhir para karibnya.&lt;br /&gt;Andai saja aku tidak ngotot kita berlibur di Bali waktu itu....&lt;br /&gt;Yatman meratap dengan sesal.&lt;br /&gt;Sudah. Percuma untuk disesali..... Mereka sudah bahagia di sana.&lt;br /&gt;Woody menepuk-nepuk bahu Yatman.&lt;br /&gt;Seperti sama-sama sedang melihat tayangan film, begitu pula dengan memori keempaatnya. Bertujuh, mereka dulu bersama. Berlarian di padang, memutari gereja dan tentu saling memilih bintang. Serentak memori itu mengembang di layang fikir Woody, Yatman, Monix dan Sista. Serentak pula kembali kristal tangis itu menetes. Sampai beberapa saat.&lt;br /&gt;Tak ada kata. Hanya tatapan sayu pada ketiga nisan. Semua berhias isak tangis.&lt;br /&gt;Dalam hitungan menit.&lt;br /&gt;..............&lt;br /&gt;Sudah. Sudah. Biarkan kita relakan mereka.&lt;br /&gt;Suara Woody berani memecah.&lt;br /&gt;Tapi tidak, jika sebuah bom yang membuat kita kehilangan mereka.&lt;br /&gt;Ani, Jay dan Rahmat juga kehilangan masa depan yang seharusnya mereka punyai. Hanya sekejap saja itu hilang!! Hanya karena orang-orang taak bertanggung jawab...&lt;br /&gt;Monix protes.&lt;br /&gt;Sudahlah, Monix. Semua sudah berlalu. Tuhan akan memberi yang terbaik untuk kita semua. Tidak mungkin Allah memberi batu kepada anak-Nya yang meminta roti, kan? Percayalah, DIA memberi kita yang terbaik.&lt;br /&gt;Sista memeluk kembali Monix dan dalam pelukan itu Monix menyelesaikan tangisnya. Seikat mawar putih yang masing-masing mereka letakkan di nisan para karib menutup perjumpaan tak nyata. Kedukaan mereka kubur dalam-dalam. Tetapi tidak bagi kenangan indah dalam persahabatan yang mendalam.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Aku besok kembali ke Inggris. Jangan lupa e-mail!! Aku pasti selalu merindukan Indonesia.&lt;br /&gt;Maksudmu merindukan kami, kan? Ha..ha.... ha..ha...&lt;br /&gt;Woody mencoba mencairkan keadaan.&lt;br /&gt;Oya, 2 minggu lagi aku berangkat ke Jakarta, lo. Aku diterima magang&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=11857266#_edn2" name="_ednref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; di sana.&lt;br /&gt;Selamat, Yatman. Apapun yang terjadi, kita tetap menjaga persahabatn ini kan?&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Kelabu melingkupi hati nan gelisah. Kabut membawa kedukaan dalam bencana besar. Perasaan itu yang mengiring woody membuka e-mail dari Monix.&lt;br /&gt;Date        : 10 sept.2004&lt;br /&gt;From       : monix@frenzip.com&lt;br /&gt;To           : woody@freenzip.com&lt;br /&gt;Subject    : NIGHTMARE!!! What’s up?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Woody, aku denger di Indonesia ada bom. Bener di Jakarta, ya? Yatman magang di sana, kan?&lt;br /&gt;Tapi jauh dari Kedubes Aussie, kan? Dia enggak apa-apa? SEGERA KABARI, thx.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Date        : 10 sept.2004&lt;br /&gt;From       : woody@freenzip.com&lt;br /&gt;To           : monix@frenzip.com&lt;br /&gt;Subject    : .......................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan Yatman berada di daerah Kuningan waktu kejadian.&lt;br /&gt;Kini kita tinggal bertiga. Yatman telah pergi....  :’ (&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=11857266#_ednref1" name="_edn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Nadim : Karib, kawan akrab&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=11857266#_ednref2" name="_edn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; magang : kuliaah praaktek&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-111238501686507195?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/111238501686507195/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=111238501686507195&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238501686507195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238501686507195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2005/04/tidak-terjadi-lagi-kan.html' title='“Tidak terjadi LAGI, kan?”'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-111238493784833500</id><published>2005-04-02T02:48:00.000+07:00</published><updated>2005-04-02T02:48:57.853+07:00</updated><title type='text'>resah di peraduan</title><content type='html'>Bola matanya belum terpejam. Degup-degup semakin kencang. Itu musik yang mengiring hati dan jiwanya sekarang. Tangannya memeluk erat benda empuk yang seharusnya ia gunakan untuk meletakkan kepalanya.&lt;br /&gt;Mendung terpejam.&lt;br /&gt;“Aaaarrrrrrrgggggghhhhhh................. !!!!!!!!!!!!”&lt;br /&gt;Ia berteriak-teriak....&lt;br /&gt;Hanya di dalam hatinya.&lt;br /&gt;Desahan saja. Desahan saja yang keluar dan didengar oleh dinding-dinding ruangan itu. Terus, dan terus.... Terus.... dan hanya berhenti saat serigala malam melolong.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu Mendung tertawa kecil. Mengekeh. Lalu ia akhiri dengan senyuman. Seperti kebahagiaan cinta. Seseorang yang ia sebut dengan ‘maha Jelita’. Puteri dari khayangan. Semerbak dari ujung mahkotanya mengalir hingga telapaknya.&lt;br /&gt;“Maha jelita,... nafasmu adalah nafasku....”&lt;br /&gt;Sebuah permohonan yang mengikat. Keterlaluan. Namun itu yang diiinginkan Mendung. Tidak ada yang bisa menghalangi dirinya. Tidak bumi maupun mentari.  Seakan diri Mendung sendiri yang mengiyakan permohonan yang terlampau possesif. Sang maha jelita ingin dimilikinya sepanjang masa.&lt;br /&gt;Terus dan terus. Itulah permohonan yang mungkin terlampau abadi dalam diri Mendung untuk mencintai maha jelita.&lt;br /&gt;“Tidak untukmu, Mendung. Bukan untukku engkau...” ucapan maha jelita membuat Mendung hancur tetapi tidak untuk kata gentar.&lt;br /&gt;Maha jelita menjauhi Mendung.&lt;br /&gt;Ingatan yang tak terlupa. Untuk pertama.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam yang dingin ini hanya serigala yang memperdengarkan suaranya. Tetapi mereka ternyata juga mendengar seret langkah Mendung.&lt;br /&gt;Sret. Sret. Sret. Dan suara bisik dari empat roda kayu juga....&lt;br /&gt;Ia membawa mawar-mawar putih. Tidak hanya setangkai. Tidak hanya sekuntum. Ia tarik dengan geledek kayu. Banyak. Lebih dari seratus kuntum.&lt;br /&gt;“Maha jelita....... !  Maha jelita.......!”&lt;br /&gt;Mendung berteriak di bawah jendela kamarnya.&lt;br /&gt;“Biar bangsa mawar putih ini menghiasi mimpimu. Biar mereka menyenangkan mata indahmu yang senantiasa bersinar itu..........”&lt;br /&gt;Maha jelita keluar dan melongok ke bawah.&lt;br /&gt;Merekahlah wajah Mendung. Seakan tidak akan ada hujan lagi.&lt;br /&gt;“Harum benar yang kau bawa. Seperti taman langit. Akankah kau persembahkan itu?”&lt;br /&gt;Maha jelita langsung melesat setelah melihat anggukan Mendung.&lt;br /&gt;Taman langit itu langsung ia lompati dan ia di atas geledek kayu. Mawar-mawar putih sungguh membuat luluh. Mendung langsung menarik Maha jelita. Ia akan bawa terbang setinggi yang ia bisa.&lt;br /&gt;Sekarang keduanya telah berhadapan langsung. Mendung menatap sinar kegembiraan maha jelita. Bola-bola mata mereka beradu dalam sebuah pertemuan. Cinta di mata Mendung, keraguan mendalam di mata Jelita.&lt;br /&gt;Di malam yang telah dirangkai indah oleh Mendung itu, maha jelita bertamu. Di samping ribuan lilin yang ia nyalakan. Semua untuk maha jelita. Sang ratu abadi dalam hati Mendung.&lt;br /&gt;“Ribuan mawar indah ini hanya untukmu, sayang...”&lt;br /&gt;Maha jelita makin sumringah melihat sekelilingnya yang penuh dengan tanaman langit buatnya. Ia menari dan bernyanyi. Berputar diantara hangatnya api kecil lilin-lilin itu.&lt;br /&gt;“Cintailah aku, seperti engkau mencintai mawar-mawar itu....”&lt;br /&gt;Maha jelita langsung menghentikan tariannya. Ia hanya terdiam. Diam. Diam dan membisu.&lt;br /&gt;“Maha jelita,... nafasmu adalah nafasku....”&lt;br /&gt;Mendung membisikkan itu di telinganya.&lt;br /&gt;Keduanya lalu diam.&lt;br /&gt;Hanya suara api kecil. Hanya suara jengkerik dan suara lolongan serigala.&lt;br /&gt;Purnama saksi semua ini.&lt;br /&gt;Ingatan kedua.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesendirian dalam kegelapan membuat Mendung terpukul. Senandung badani pun tak terlantun. Mawar-mawar putih hanya tinggal separuh nafas harumnya. Mereka tidak sejuta lagi kuntumnya.&lt;br /&gt;Mendung tergolek. Jiwanya terdiam, ketakutan terus menyelimuti.&lt;br /&gt;Apa yang sebenarnya membuat ini? Bagaimana keranda itu harus terusung?&lt;br /&gt;Maha Jelita yang beribu hati begitu ia harapkan, tak lagi nampak.&lt;br /&gt;Kalau begini, lebih baik ia rela saja sang Maha jelita kawin dengan pangeran negeri dongeng. Bapak dari segala anak dan kurcaci yang pekerjaanya menari dan bernyanyi. Pangeran yang tidak buruk rupa tapi begitu rupawan. Bahkan Mendung sebut, ia cantik. Meski seorang pangeran, bukan puteri.&lt;br /&gt;Tampaknya sang ayah Maha jelita menyukai pangeran cantik ini karena ia terus menari dan bernyanyi. Menghibur ribuan anak dan kurcaci di negeri ini. Tanpa menyadari beragam momentum dan fakta kesengsaraan yang ada. Ayah Maha jelita hanya senang dihibur tanpa selesai sejuta konflik. Penyelesaian hanya ibarat mimpi dan semua mimpi hanya bernyanyi dan menari.&lt;br /&gt;Sesaat Mendung mengerang marah. Meski hanya di hatinya.&lt;br /&gt;Penolakan ayah sang Maha jelita menciptakan ribuan kesal, gundah dan murka. Bukan ia tak mau disaingi pangeran negeri dongeng, hanya saja sebaga seorang raja, ia terlampau jauh dari kesan bijak. Ia berpikir kalau rakyat akan terus berpesta dan menari tanpa rindu sebuah kehidupan sebenarnya.&lt;br /&gt;Namun itu semua telah terjadi.&lt;br /&gt;Seluruh negeri menyambut sukacita pesta kawin itu. Semua ikut menari dan bernyanyi. Tua, muda, tinggi, pendek, anak, orang tua, semua kerdil dan kurcaci. Hanya Mendung yang tersudut sendiri di lorong kota. Ia tak bisa menangis, apalagi tertawa. Ia bermuram durja dan murka terus menyulut. Bukan ia sayang telah mengusahakan ribuan mawar putih dan lilin itu. Tetapi ia begitu dalam mencinta dan memiliki sang maha Jelita dalam hatinya. Mendung tak ingin pula Meha jelita hidup dalam mimpinya, terus menari dan bernyanyi.&lt;br /&gt;Sampai pesta kawin itu berhenti karena Mendung berteriak lantang. Semua menutup mulut, semua merinding bergidik.  Mendung memaksa turun Pangeran cantik dari kuda putihnya beradu dengan dia.&lt;br /&gt;Maha Jelita menangis.&lt;br /&gt;Tetapi Mendung dan Pangeran dongeng itu tetap beradu dengan pedang dan panah yang terus melesat ke semua sudut . keluarga-keluarga negeri itu pulang bersembunyi di rumah mereka.&lt;br /&gt;Suasana terus memanas dan api bersemburan kemana-mana. Semua itu karena cinta Mendung yamg dalam kepada Maha jelita. Ia tak rela wanita abadinya jatuh ke pelukan siapapun. Hingga panah dan peraduan pedang memang harus terjadi.&lt;br /&gt;Ingatan inilah yang tak terlupa : maha jelita terpanah olehnya sendiri, karena pangeran dongeng itu menghindarinya.&lt;br /&gt;Maha jelita mengerang..... Mendung mencabut dan memeluk. Tentu saja pelukan dan cinta sekalipun tidak membuat Maha jelita mendapatkan kehidupannya. Pangeran dongeng pun tidak. Karena ia telah melesat jauh....&lt;br /&gt;Ingatan ketiga.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bola matanya belum terpejam, dan takkan pernah terpejam. Musik penyesalan dan ketakutan saja yang mengiring hati dan jiwanya. Tangannya kini memgang anak panah yang telah melukai maha jelita.&lt;br /&gt;“Aaaarrrrrrrgggggghhhhhh................. !!!!!!!!!!!!”&lt;br /&gt;Ia berteriak-teriak....&lt;br /&gt;Tidak hanya dalam hatinya.&lt;br /&gt;Ia menusuk dan membunuh jiwanya.&lt;br /&gt;Satu desahan, “Maha jelita,... nafasmu adalah nafasku....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Cinta yang terlalu buta. Tulus, tetapi tanpa pemikiran. Dalam, tetapi picik.&lt;br /&gt;Resah di peraduan menjadi darah dan kematian. Karena murka, dendam dan penyesalan itu menjadikan cinta tidak abadi.  (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-111238493784833500?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/111238493784833500/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=111238493784833500&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238493784833500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238493784833500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2005/04/resah-di-peraduan.html' title='resah di peraduan'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-111238488942468144</id><published>2005-04-02T02:47:00.000+07:00</published><updated>2005-04-02T02:48:09.426+07:00</updated><title type='text'>namanya:pesona cantika</title><content type='html'>Suara jengkerik mengiringku menghabiskan malam. Degup-degup jantung tidak pernah berhenti menghiasi tabir hatiku. Oh! Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan diriku?! Sama sekali tidak aku duga! Jika sebuah rasa aneh masuk dalam mahligai kepekaan dalam diriku. Aku ingin berlari, aku ingin menghempas sepi. Aku ingin berbaring, bahkan ku ingin terbang tinggiiiii…. dan jauh.&lt;br /&gt;Perasaan ini terus membakar sisi kalbu. Sementara binar-binar matanya terus bersinar meneruskan keceriaan yang terpancar dari wajahnya. Senyum yang kurasa hangat menjadikan aku selalu mengingatnya. Ya! Bayangan tentang dirinya terus bersinar dan berkelebat di mataku.&lt;br /&gt;Aku tidak bisa melupakan dirinya.&lt;br /&gt;Benarkah kalau aku mencintainya?&lt;br /&gt;Memang aku tidak lama mengenalnya namun mengapa bayangannya itu tidak bisa aku lepaskan? Aku benar-benar memimpikan dan memikirkannya di saat pertama aku memulai hari.&lt;br /&gt;Namanya Pesona. Pesona Cantika. Aku menyebutnya demikian. Aku tidak benar-benar mengenalnya. Meski begitu rasa penasaran terus mencuri perhatian. Bilakah aku dapat mengenal Pesona lebih dekat?&lt;br /&gt;Ingin aku memberinya luang waktu dan rasa untuk masuk dalam mahligaiku. Kuberi bunga merah untuk aku persembahkan di hadapannya. Biarlah ia nikmati keharuman bunga yang memang terpancar dari kecintaanku. Kuukirkan nama Pesona Cantika dalam jantung dan semua nadiku. Semua karena kesejatian dan kedalaman cintaku kepada wanita pujaan.&lt;br /&gt;Pesona Cantika. Ia benar-benar melelehkan ujung-ujung keperkasaanku. Ia menghangatkan sekujur tubuhku yang telah suam-suam kuku. Biarlah kunyalakan semilyar lilin-lilin kecil penuh warna di hadapannya. Itulah tanda romansa kelembutan, sisi lain dari diriku.&lt;br /&gt;Aku benar-benar tak bisa melepaskan pikiranku tentang dirinya. Ia punya sejuta kata untuk mengungkap sukma. Namun tanpa itupun aku telah benar-benar dibuatnya tergolek karena rasa cintaku.&lt;br /&gt;Sekali lagi: Aku belum mengenalnya! Bilakah itu?&lt;br /&gt;Ya. Benarlah jika keinginan itu terus meluap-luap bagai waterfall yang tak pernah menghentikan air segarnya untuk jatuh dari tinggi-tinggi bebatuan untuk menjatuhkan air suci itu ke sungai. Ia deras mengalir. Ia terus mengalir. Supaya makhluk terus memanfaatkan kesegaran air itu sampai masuk ke sukma karena sucinya. Demikian cinta yang terus mengalir dari sukmaku, deras kuungkapkan ke dalam bait-bait puisi yang terungkap dalam kecintaanku yang begitu dalam.&lt;br /&gt;Nyala apiku memang masih kecil. Meski begitu aku terus menjaganya supaya ia tidak redup apalagi padam. Api ini tentu tidak terlalu besar. Tetapi biru-merahnya terus memberi warna dalam kehangataan.&lt;br /&gt;Cintaku pada Pesona Cantika memang terdalam.&lt;br /&gt;Bilakah aku dan dia memadu cinta?&lt;br /&gt;Aku yakin akan tiba waktuku. Kuimpikan, kupikirkan dan kunantikan….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-111238488942468144?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/111238488942468144/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=111238488942468144&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238488942468144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238488942468144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2005/04/namanyapesona-cantika.html' title='namanya:pesona cantika'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-111238481566385709</id><published>2005-04-02T02:46:00.000+07:00</published><updated>2005-04-02T02:46:55.670+07:00</updated><title type='text'>God  is  mij  een  helper</title><content type='html'>Alunan lagu “Mimpi Terindah” oleh Tofu itu bikin hatiku sedikit adem. Ditambah guyuran gerimis yang menambah suasana senja di kotaku. Aku lajukan mobilku ini dengan tenang, namun tentu dengan langkah yang pasti. Sebab aku gak pengen terlambat sampai di Bandara. Hari ini akan menjadi hari terakhirku memandang wajah Nat-Tha, cewek tinggi berkulit kuning langsat, yang membuat hatiku tertambat padanya. Cewek yang selalu menghiasi hari-hariku dengan suaranya yang merdu.&lt;br /&gt;……Dan kauberikan mimpi yang terindah, Di setiap malam agar, aku bahagia……&lt;br /&gt;Tak terasa bibirku ikut melantunkan bait lagu. Layangku mebumbung tinggi menngingat kejadian 18 bulan lalu, saat aku ‘nembak’ Nat-Tha. Entah perasaan apa yang membuat aku memilih dia menjadi kekasihku? Yang jelas rasa cinta dan sayangku padanya yang membuat aku dengan YAKIN mengungkapkan isi hatiku.&lt;br /&gt;“Nat-Tha,… Emang udah lama aku suka ama kamu. Jadi, aku harap kamu bisa memikirkan hal ini. Untuk…. Untuk selanjutnya, apakah kamu mau menerima aku atau tidak…… Tapi satu hal, kali ini aku bener-bener serius…”    Aku jadi ketawa sendiri kalo inget saat aku nembak doi di telpon. Aku emang bukan orang yang pandai merangkai kata. Bahkan di mata Nat-Tha aku cowok yang terkesan cuek, dengan gaya cool-ku tapi gak lepas dari sikapku yang friendly. Tapi, itu sih kata Nat-Tha. Aku sendiri gak pernah mengategorikan diriku pada satu karakter tertentu. Yang jelas aku suka tampil apa adanya.&lt;br /&gt;Sesaat aku menghela nafas dan bergumam, Heh ! Masa SMU yang indah…. Kenangku. Memang, baru di bangku SMU aku merasakan hal yang namanya pacaran. Tepatnya saat aku duduk di kelas dua. Kini aku telah kuliah. Waktu memang terlalu cepat mengalir. Rasanya ingin aku putar balik saat aku SMU dulu. Waktu yang indah bersama Nat-Tha. Aku inget. Semasa sekolah dulu, rasanya aku gak pernah ada keinginan buat bolos barang seharipun. Aku berpikir, kalo aku lakukan itu aku bakal kehilangan waktuku bersama Nat-Tha. Sekali lagi. Aku tidak mau kehilangan waktu satu hari saja bersamanya.&lt;br /&gt;Meski saban malem aku selalu nelpon doi, saat semua orang pada terlelap namun aku gak akan pernah merasa bosan bersamanya. Dan tentu saat ini adalah saat terberatku untuk melepas kepergiannya ke Belanda. Aku sudah mengetahui bahwa hal ini akan terjadi semenjak usia pacaran kami yang baru empat bulan waktu lalu. Karna itu aku telah mempersiapkan diri untuk mencoba pacaran ‘long distance’.&lt;br /&gt;Rasanya pengen ketawa kalo aku inget ide bodohnya saat itu. Nat-Tha malah bermaksud akan menjodohkan aku dengan Shasha, saat ia ungkapkan rencana Mamanya untuk mengirimnya kuliah ke Belanda. Shasha adalah cewek yang pernah aku taksir. Namun tentu saja aku bantah mentah-mentah ‘maksud baik’ doi itu karna aku masih sayang sama dia. Enggak mungkin aku berpindah ke lain hati dong ! Resiko apapun mesti kami berdua jalani meski kami jauh, toh itu tidak akan membuat hubungan pacaran kami putus. Aku akan berusaha menjaga hubungan itu. Bahkan aku tolak mentah-mentah ide gilanya bahwa satu hari nanti saat ia akan berangkat, ia minta untuk aku putuskan saja. Alasannya, bahwa dia tidak ingin aku menunggunya terlalu lama. Ibaratnya aku menunggu hal yang tidak pasti. Daripada begitu, lebih baik aku mencari gadis lain saja. Begitu pikirnya.&lt;br /&gt;Tapi tidak untukku. Aku berusaha keras memikirkan solusinya. Karna kabar terakhir darinya, bahwa Nat-Tha akan terus berlanjut hidup di Belanda, menjadi warga negara sana bersama keluarganya. Dan mustahil untuk kembali lagi ke tanah air untuk waktu yang panjang. Dadaku rasanya sesak dan terhentak mendengar kabar itu darinya. Hampir 3 jam lebih aku sendengkan telingaku di gagang telepon untuk mendiskusikan masalah ini dengannya. Sementara ia terus mendorongku bahwa daripada aku menunggu dengan tidak pasti, lebih baik aku meninggalkannya saja. Tapi aku berusaha keras untuk membantahnya. Aku tahu ia mengungkapkan hal itu bukan karna ia sudah tidak lagi sayang tapi justru betapa dalamnya cintanya hingga tidak ingin aku menderita.&lt;br /&gt;Akhirnya setelah diskusi panjang itu, aku menemukan jawab, “Nath, … Meski kamu akan tinggal selamanya di Belanda aku akan tetep sayang kamu dan gak akan putusin kamu. Aku yakin suatu hari nanti kita akan bertemu. Gak tahu aku yang nyusul ke sana, atau kamu yang akan ke Indonesia. Aku yakin, Nath…   Kamu percaya kan, sama aku. Aku pengen hubungan kita tetep berlanjut….”&lt;br /&gt;C I I T T ! ! !&lt;br /&gt;Hampir saja ! Saking larutnya aku dalam lamunan hingga tak melihat lampu merah. Untung aku bisa segera berhenti. Kukendorkan sedikit sabuk pengamanku sekedar melepaskan ketegangan yang melandaku. Aku benar-benar tegang. Aku gak tahu harus ngomong apa nanti. Aku juga takut nanti akan terlihat sedih di hadapannya. Oh tidak. Tidak. Aku nggak boleh terlihat sedih di hadapannya. Aku gak pengen buat dia tidak tenang nanti di Belanda.&lt;br /&gt;Sesaat kupalingkan pandangan ke kaca mobilku. Sesosok anak bertubuh kurus menengadahkan tangannya. Lalu kubuka kaca mobilku dan kuberi dia uang ratusan. Kudengar sayup-sayup suara gitar yang ada di seberang.&lt;br /&gt;Aku jadi ingat saat aku melihat Nat-Tha sedang memainkan piano di rumahnya. Ia tampak anggun kala itu. Denting-dentingnya terdengar damai sekali di hatiku. Saat aku bertandang ke rumahnya, ia mainkan satu lagu. Katanya spesial dia buatkan untukku.&lt;br /&gt;Satu hal yang tidak pernah kulupakan saat itu adalah, untuk pertama kalinya ia ajarkan kord-kord piano padaku. Ia berikan contoh bagaimana kunci C, G, D, E dan berbagai kord lain. Sejak saat itu aku jadi tertarik bermain piano. Memang bukan pertama kalinya aku bermain musik. Sebelum itu aku juga telah bisa bermain gitar. Hingga pada suatu saat kami ciptakan lagu bersama. Dia mainkan pianonya dan kupetik gitarku. Suaranya yang merdu melantunkan bait-bait lagu itu tidak pernah pergi dari ingatanku.&lt;br /&gt;Sebenarnya banyak sekali kejadian yang tidak bisa begitu saja aku biarkan berlalu. Masa setahun lebih bukanlah waktu yang pendek untuk bersama kami lewati. Banyak hal sudah kami alami bersama. Termasuk pertengkaran-pertengkaran dari yang kecil sampai besar pun telah bersama dilalui.&lt;br /&gt;Pernah suatu kali aku membuat Nat-Tha jengkel banget. Waktu itu aku baru saja sembuh dari sakit Tifus-ku. Bahkan aku sempet berbaring 3 hari di rumah sakit. Nat-Tha pengen aku bener-bener istirahat total di rumah. Aku masih ingat, kala itu kami sudah duduk di kelas 3. Aku ambil jurusan Sosial, sementara doi dengan kecerdasannya dijuskan ke program IPA.&lt;br /&gt;Selain hobiku bermain musik, aku juga seneng banget bermain sepak bola. Aku gabung dengan satu klub sepak bola terkenal di kotaku. Posisiku sebagai salah satu striker, membuat aku jadi orang yang diandalkan manger kami. Tepatnya empat hari setelah keluar dari rumah sakit, manager-ku telpon kalo Chun Ce, tidak bisa main karna ortunya sakit parah. Jadi terpaksa aku harus menggantikan posisinya kalo tidak mau merusak reputasi klubku lantaran ketidakhadiran striker. Om Tio tidak tahu kalo aku baru saja keluar dari R.S maka manager Klub-ku itu sedikit memaksaku untuk main. Aku juga tidak ingin mengecewekannya apalagi mengecewakan temen-temen klub. Akhirnya hari itu juga aku putuskan untuk ikut pertandingan.&lt;br /&gt;Aku sama sekali gak dapet kesulitan ijin dari Mama Papa, karna kebetulan sekali mereka pergi keluar kota. Di rumah hanya ada aku, adikku dan pegawai-pegawaiku. Langsung saja kuambil seluruh peralatan pertandingan dan dalam sekejap di tanganku sudah siap tas yang berisi perbekalan. Dengan bola di tangan, kucoba raih daun pintu mobilku. Mang Ujang, pria pendek berkulit gelap itu membukakan aku pintu dan langsung aku gas kencang menuju tempat pertandingan. Betapa aku tidak berpikir sama sekali untuk antisipasi, kalo saja Nat-Tha telpon ku pesan pada Mang Ujang kalo gak usah dibilang pergi ke Pertandingan saja. Tapi hal itu tidak aku lakukan. Yang ada di pikiranku hanyalah bertanding, bertanding dan bertanding. Aku lupa pesen Nat-Tha, agar aku untuk sementara tidak banyak kegiatan dulu. Ia sangat mengkhawatirkan kesehatanku.&lt;br /&gt; * * *&lt;br /&gt;Akhirnya aku pulang dengan perasaan bangga. Klub-ku berhasil mempertahankan reputasi dengan meraih gelar juara. Bukan main senangnya hati ini. Namun sesaat setelah aku keluar dari kamar mandi, fictor adikkku memberitahu bahwa tadi Nat-Tha telpon tapi yang menerima Mang Ujang. Seketika aku ingat pesan Nat-Tha. Langsung aku hampiri pegawai Papaku itu.&lt;br /&gt;“Saya teh, bilang kalo aden bertanding…” setelah denger kata-kata Mang Ujang itu rasanya ada petir yang menggelegar di atas kepalaku. Begitu cemasnya diriku, takut kalo Nat-Tha bakalan marah mendengar ini. Oh, Tuhan! Bodoh sekali aku ini….&lt;br /&gt;Sulit untuk mengungkapkan rasa maaf dan sesalku pada Nat-Tha waktu itu. Meski harus melewati berbagai rintangan, untunglah ! Nat-Tha akhirnya memaafkan aku. Sekarang aku jadi tambah sayaaang banget sama dia.&lt;br /&gt;Memang, semenjak aku berpacaran, aku rasa aku jadi tambah dewasa dalam berrpikir. Aku jadi mulai terbiasa dengan masalah-masalah yang harus aku pecahkan. Tapi aku tidak tahu, apakah setelah kepergian Nat-Tha nanti aku bisa tambah tetap dewasa atau tidak. Entahlah.&lt;br /&gt;Lega akhirnya. Aku sudah sampai di parkir Bandara. Aku mendengar HP-ku berbunyi. Ternyata Nat-Tha. “Iya. Sekarang aku sudah ada di parkiran. Tunggu ya, Nat..”&lt;br /&gt;Kaos putih dan jaket kulit hitam yang menempel di tubuh Nat-Tha itu tampak pas sekali. Ditambah Jeans biru yang ia kenakan itu bikin aku memandangnya dengan bersinar. Kini, sosok ayu itu sudah berada di depanku. Ia memandangku dengan wajah penuh harap-harap cemas. Entah kenapa, rasanya aku bisa mendengar degup jantungnya. Aku pegang kedua tangannya dan sedikit aku usap. Lidahku sendiri merasa kelu, meski aku ingin mengatakan bahwa ia mesti tenang. Tapi kata-kata itu susah keluar. Akhirnya hanya bahasa tubuh itu yang bisa mengungkapkan isi hatiku. Aku yakin dia mengerti. &lt;br /&gt;Om Hans dan Tante Hilda, ortu Nat-tha ada di samping kami. Dan mereka tak henti-hentinya memberikan banyak pesan pada putri sulungnya tercinta ini. sementara teman-teman Nat-Tha tampak agak jauh dari kami. Mereka melambai-lambaikan tangan. Lalu, Nat-Tha melepas tangannya dari tanganku untuk membalas lambaian itu.&lt;br /&gt;Hari ini aku tidak melihat wajah Nath yang ceria seperti biasa. Dia emang sedikit cerewet, tapi kata-katanya itu selalu mengesankan kalo doi cewek yang smart.&lt;br /&gt;Hampir saja aku lupa ! Kado yang telah aku siapkan buat pacarku ini kemudian ku keluarkan dari mantel, dan kugenggamkan pada tangan Nat-Tha. Ia buka kotak itu dan segera ia menemukan kalung emas putih dengan liontin berbentuk potongan hati. Ia balik hati itu dan ia melihat inisial “ S ” dari namaku ; Syhmphoni. Kemudian aku keluarkan kalung yang aku pakai dari balik kemeja biruku, aku tunjukkan padanya sambungan dari potongan hati dari kalung yang kuberikan. Aku balik liontin itu dan kutunjukkan inisal namanya, “ N ”&lt;br /&gt;Ia kemudian melinangkan air mata dan ia raih tubuhku untuk dipeluknya. Sungguh, aku tidak ingin menangis juga di hadapannya. Aku ingin terlihat tegar. Untuk itu aku alihkan dengan menunjukkan padanya bahwa kalung yang aku pakai adalah bagian dari kalungnya. Aku coba satukan potongan hati itu.&lt;br /&gt;“Pakaikan ini padaku, ‘Phon…” akhirnya ku dengar juga kata itu terucap dari bibirnya.&lt;br /&gt;Mulanya aku ragu. Namun kemudian setelah ia mengangguk dan membalikkan badan untuk mengisyaratkan agar aku segera memakaikannya, aku bentangkan kalung itu dan kupasangkan pada lehernya. Kemudian ia berbalik dan memelukku sekali lagi. Kali ini lebih rapat. Oh, Tuhan !  Aku gak mau kehilangan dia. Itu yang ada di benakku. Jaga dia, Tuhan. Tolonglah selalu dia, Tuhan. Itu yang selalu bergema dalam hatiku.&lt;br /&gt;Entah kenapa seakan dia mendengar jeritan hatiku, kemudian ia menjawab dalam bahasa Belanda, “God is mij een helper….”   Ia mengusap……. Oh,tidak ! Aku meneteskan air mata ! Ia mengusap air mata yang ada di pipiku itu seraya bertutur, “Gak usah khawatir ‘Phon, Tuhan akan menolong dan menjagaku. …….   Sampai jumpa..”&lt;br /&gt;Akhirnya aku temukan satu kata untuknya sebelum dia beranjak pergi dariku. Aku bisikkan itu liriiih sekali di telinganya, “Aku sayang kamu ! Percayalah. Kita tak akan lama berpisah….”&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya nyenyak sekali aku tidur hari ini. Entah kenapa. Meski semalam aku baru pulang dari Bandara pukul 12 malam. Aku sedikit menyeret ke kamar mandi dengan rasa lelah yang mendekap tubuhku. Ini adalah hari pertamaku yang bakal aku lalui tanpa suara Nat-Tha di telingaku. Namun aku harus terbiasa dengan itu.&lt;br /&gt;Aku nyalakan televisi di kamarku. Semua saluran sedang menayangkan program berita. Aku arahkan pandangan pada jam wekerku. Ternyata masih setengah tujuh pagi. Pantas! Begitu pikirku.&lt;br /&gt;Rasanya aku bosan dengan berita-berita itu. Aku berpikir lebih baik kumatikan saja. Namunn saat hendak kutekan tombol remote TV-ku, aku mendengar pembaca berita sedang menayangkan jatuhnya pesawat. Aku belalakkan mata sembari aku besarkan volume-nya.&lt;br /&gt;Oh Tuhan !  Apalgi ini ?!! Pesawat yang ditumpangi Nat-Tha…..  jatuh !&lt;br /&gt;Aku melesat secepat cahaya (mungkin) setelah aku mencoba mencari keterangan dari bandara melalui telpon, aku gas dengan kencang mobilku menuju Juanda, satu-satunya bandara di kota kami. Dalam pikiranku tergambar hal-hal yang jelek tentang Nat-Tha. Jangan biarkan itu terjadi, Tuhan…..&lt;br /&gt;Kini aku telah berdiri di depan salah seorang pegawai kantor Bandara. Aku begitu emosi. Tak terasa kata-kataku sedikit menyentak. Sementara Suherman, begitu nama staf bandara itu yang kubaca di atas sakunya, mencoba menenangkanku. Aku sudah tak sabar. Pria tinggi itu berkata kalo pesawat itu, jatuh di perairan Singapura dan seluruh penumpang akan segara dikirim kembali ke bandara ini satu setengah jam lagi. Namun yang bikin jantungku copot adalah kalimat terakhir Pan Herman, bahwa ada yang meninggal 3 orang. Semuanya wanita. Oh, Tuhan! Jangan ada Nat-Tha di antara mereka…….&lt;br /&gt;Akhirnya pesawat yang mengirim kembali para penumpang itu telah tiba di bandara, Om Hans sudah ada di sampingku bersama Tante Hilda yang menangis terus dari tadi. Ia sangat mengkhawatirkan anak gadisnya itu. Langsung kemudian aku berlari menghampiri daftar korban meninggal yang dibawa seorang pramugari. Ternyata aku tak menemukan nama Nath. Aku melihat kereta-kereta pasien yang didorong oleh para medis itu dan segera saja kuhampiri. Aku berlari dan kupandangi mereka satu-satu. Tak ada wajah Nath! Dimana dia?&lt;br /&gt;Kemudian aku melihat dari jauh seorang gadis yang duduk di kursi roda, didorong tim medis. Tanpa kubuang waktu lagi aku menghampirinya. Aku lihat gadis itu. Ia lusuh. Pipi kirinya bengkak. Pipi kanannya tergores. Sementara tangannya diinfus. Kaki gadis itu penuh dengan goresan luka.&lt;br /&gt;Astaga, Nat-Tha !  Aku peluk dia dan ia membelai kepalaku. Aku menteskan air mata. Nath-Tha tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa sedikit tersenyum padaku. Aku berbisik lirih, “God is mij een helper….” Sedih bercampur senang karna tidak jadi berpisah dengannya (setidaknya untuk beberapa waktu) berkecamuk dalam hatiku. (Thanx  MR. CHENG MAN &amp; BE2K LIM, you are my inspiration! –sorry, guys!– )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;God is mij een helper = Tuhan bagiku adalah penolong.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-111238481566385709?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/111238481566385709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=111238481566385709&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238481566385709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238481566385709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2005/04/god-is-mij-een-helper.html' title='God  is  mij  een  helper'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-111238471991111526</id><published>2005-04-02T02:43:00.000+07:00</published><updated>2005-04-02T02:45:19.926+07:00</updated><title type='text'>TRAGEDI KEPALA MOHAWK</title><content type='html'>Koran yang baru datang pagi ini dihempaskan begitu saja oleh Erni. Ia kemudian mengangkat kedua kakinya di atas kursi. Tubuhnya sesaat bergidik dan merasa merinding. Itu semua melanda karena semenit lalu ia membaca satu berita pembunuhan. Sebenarnya ia kini mulai terbiasa dengan berita macam itu lantaran hampir setiap hari terjadi. Namun yang membuat ia merinding adalah korban pembunuhan selalu kehilangan jari kelingking kirinya. Sampai saat ini aparat belum dapat menemukan pembunuh yang telah makan 10 korban.&lt;br /&gt;Erni kemudian melangkah ke kamarnya untuk melupakan berita itu. Biasanya ia langsung bisa menghempas berita pembunuhan yang ia baca. Tetapi entah mengapa ada perasaan yang tidak enak yang menghimpitnya. Ia kini hanya terbaring tidur dan berharap bisa melanjutkan mimpinya kembali. Ia berniat untuk tidur lagi.&lt;br /&gt;Di dalam hatinya terbersit tanya, mengapa pembunuh itu begitu nekat. Dan yang lebih aneh lagi, kesepuluh korban itu adalah para finalis pemilihan ajang ‘Sweet King’ yang  akan diselenggarakan kotanya itu minggu depan. Korban selalu ditemukan mati mengenaskan dengan kepala yang dicukur habis sisi kanan dan kirinya. Rambut korban yang tersisa hanya di tengah ala ‘mohican’ dengan kelingking yang telah hilang terpotong. Sungguh tragis!&lt;br /&gt;KRIING. KRIING.&lt;br /&gt;Deringan telepon itu sempet bikin deg-degan. Erni langsung bangkit dari ranjang untuk menerimanya.&lt;br /&gt;“Grek ternyata ikut terbunuh, Erni!”&lt;br /&gt;Suara Sari yang terlihat serak itu kini menambah shock. Grek adalah kekasih Verda, temen kelasnya.&lt;br /&gt;“Yang benar saja, Sar ?!”&lt;br /&gt;“Benar. Ia korban kesebelas..”&lt;br /&gt;Erni kini baru ingat kalau Grek turut jadi Finalis dalam pemilihan itu. Ia lalu bergegas bersiap untuk pergi ke rumah Grek, bersama kelima sohibnya yang lain.&lt;br /&gt;Kali ini Erni tergolong cepat. Hanya dalam lima belas menit ia sudah selesai. Bunyi klakson Handi yang keras itu membuat Erni langsung melesat. Di dalam mobil Kodok berwarna hijau itu telah ada Sari, Yone, Chaca di jok belakang dan Handi yang menyetir. Kelima sobatnya itu telah tahu sejak tadi pagi.&lt;br /&gt;“Kapan Grek....” belum sempat pertanyaan Erni itu keluar, ia langsung ditarik Sari untuk masuk ke dalam mobil. Segera Handi mengegas kencang mobilnya.&lt;br /&gt;“Tadi pagi, jam 5, Grek ditemukan tewas di kamar mandi.” Kali ini Yone, cowok putih pendek dengan rambut lurus itu menjelaskan.&lt;br /&gt;“Dengan cukuran kepala mohican ?”&lt;br /&gt;“Tentu saja.”&lt;br /&gt;“Astaga! Tragis benar.”&lt;br /&gt;“Kita harus membantu aparat menemukan pembunuh itu.” Chaca menyampaikan maksud ketiga kawan karib Erni yang lain.&lt;br /&gt;“Untuk apa?” pertanyaan Erni itu membuat keempat kawannya mengarahkan pandangan mengejutkan ke arahnya. Ia jadi tertunduk. Tetapi kemudian Handi yang bijaksana itu menjelaskan pada Erni.&lt;br /&gt;“Seluruh penduduk kota sangat ketakutan dengan kejadian ini. Kamu tahu kan, meskipun kota kita ini kecil, tetapi tentu tidak mudah menemukannya. Bapakku bilang, kalau di kantornya, tenaga polisi sudah cukup terkuras, sebab belum sempat menyelidik pembunuhan yang satu, sudah terjadi pembunuhan yang lain. Jadi kayaknya, mereka butuh bantuan kita.”&lt;br /&gt;“Pemilihan ‘Sweet King’ jadi tertunda”  Sari menambahkan.&lt;br /&gt;“Tidak. Aku tidak ingin ikut.”&lt;br /&gt;Chaca yang sedikit pemarah itu lalu menyorotkan pandangan tajam pada Erni sembari berkata sedikit sinis, “Kamu memang egois, Er!”&lt;br /&gt;“Heh, sudah! Sudah!” si pendiam Yone itu menengahi. “Erni, paling tidak kamu mesti ikut kami ke rumah Grek dulu. Setelah kamu melihat keadaanya, barulah memutuskan.” usul Yone ini dapat diterima oleh Erni.&lt;br /&gt;Kemudian mobil kodok itu telah sampai di depan rumah Grek. Terasnya telah penuh oleh orang-orang yang melayat. Erni memandangnya dengan penuh degup jantung. Ia memang belum pernah menghadiri pemakaman. Melihat raut kawannya, Sari kemudian menggandeng Erni. Kelima karib itu segera masuk. &lt;br /&gt;Di dalam telah bersemayam tubuh Grek. Perlahan mereka menghampirinya. Di sisi tubuh Grek yang telah tak bernyawa itu Erni melihat Verda menangis sesenggukan. Erni memeluk erat Verda dan mengusap-usap bahunya, “Yang tabah, ya, Ver...” tak terasa ia turut melinangkan air mata.&lt;br /&gt;Sementara Handi terus memperhatikan tubuh Grek yang telah terbungkus kafan itu. Yone hanya diam saja membisu. Lain dengan Chaca, ia bertanya pada Galih, kakak Grek sekedar mencari informasi.&lt;br /&gt;“Kakinya biru semua, seperti terpukul benda berat. Kami menemukan dia berlumuran darah. Perut Grek ditusuk pisau oleh pembunuhnya. Kelihatannya setelah tak bernyawa, barulah rambutnya dicukur. Sama seperti korban yang lain, rambut itu disisakan di tengah. Tetapi anehnya, sisa rambut itu tidak kami temukan.”&lt;br /&gt;“Masa tidak ada sama sekali?”&lt;br /&gt;“Ya, ada sedikit di lantai kamar mandi......  Aku nggak ngerti, mengapa mesti Grek yang jadi korban? Padahal seingat kakak, Grek tidak pernah punya musuh. Ia anak yang baik dan selalu nurut.” Kali ini cowok berbadan gede dan gempal itu tampak sedih. Tak diduga ia kini menangis.&lt;br /&gt;Melihat itu, Chaca jadi gak enak. “Eh, maaf.”&lt;br /&gt;“Tidak apa. Saya,.. permisi dulu, dik.”&lt;br /&gt;“Iya kak Galih.” Kening Chaca terlihat mengernyit mengiring berlalunya kak Galih dari hadapan cowok ganteng si pemikir itu.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Sudah sebulan ini, koto kecil itu diliputi ketakutan. Meski pembunuhan kelihatannya sudah mereda dan berhenti, namun penduduk masih tampak trauma atas kejadian aneh yang baru pertama di kota mereka. Untuk menghindari korban jatuh lagi, seluruh instansi diliburkan sementara, termasuk sekolah.  Walikota menghimbau agar para pria muda tetap tinggal di rumah.&lt;br /&gt;Sementara lima karib; Handi, Sari Yone, Chaca dan Erni belum menemukan petunjuk apa-apa tentang pembunuhan itu. Mereka hampir-hampir putus asa. Ternyata menemukan pembunuh itu tidak segampang mengerjakan tugas penelitian sosial yang selama ini mereka kerjakan. Kini mereka sedang mengadakan pertemuan di ruang bawah, gudang rumah Handi.&lt;br /&gt;“Sebenarnya apa sih, motif pembunuh itu ?” Chaca melempar tanya membuka obrolan.&lt;br /&gt;“Sebelumnya, mari kita telusuri satu persatu korbannya. Beruntung kita telah mengumpulkan berita yang ada sebagai bahan.” Handi cowok macho dengan rambut ombak sebahu yang dibiarkan tergerai itu lalu mengambil kapur dan menorehkan sesuatu di atasnya.&lt;br /&gt;“Agar lebih mudah, kita kaji perbedaannya lebih dulu.” Yone berpendapat.&lt;br /&gt;“Baiklah” Handi kemudian melanjutkan memimpin diskusi sementara yang lain tampak menyimak.&lt;br /&gt;“Korban pertama : Emen Simatupang, ditemukan tewas di toilet Plaza dengan tusukan tepat di jantung. Kedua : Harris, ditemukan dengan luka tembakan di punggung yang kemudian sampai menembus lambung...”&lt;br /&gt;“Ia ditemukan dalam keadaan tidak berpakaian di kamarnya.”  Sari menyahut.&lt;br /&gt;“Iya. Yang ketiga : Beni Ford, keponakan walikota, ditemukan tewas di mobil. Keempat : Wido Prasetya, masih sempet bertahan hidup, namun beberapa menit saat menuju ke Rumah Sakit ia menghembuskan nafas terakhir, tewas dengan 3 tusukan di lambung. Kemudian Aan, model terkenal itu, yang jadi korban kelima tidak jelas bagaimana ia mati karna keluarga tiidak mengijinkan proses otopsi. Korban keenam dan ketujuh, sepasang cowok kembar, Dhana dan Dani,  yang juga ditemukan mati di tempat terpisah, namun keduanya dengan cara dan waktu yang berbeda. Indra Husein, korban kedelapan ini yang paling mengenaskan. Ia ditemukan tak bernyawa di taman kota dengan tubuh biru dan penuh dengan luka benda tajam. Tampaknya ia sempat berkelahi dengan pembunuh itu.”&lt;br /&gt;“Maaf menyela. Ini sekedar informasi teman-teman, kalau Husein itu sebenarnya korban salah sasaran. Ia bukan salah satu dari 25 finalis “Sweet King’. Tampangnya memang mirip sekali dengan Giga, yang akan jadi korban kedelapan. Indra Husein hanyalah seorang yang berasal dari kota lain yang sedang berkunjung di rumah sanaknya. Jadi dalam hal ini pembunuh gagal menghabisi satu finalis.” Yone dengan lugas mencoba menjelaskan.&lt;br /&gt;“Oh.... sungguh tragis!” Erni berkomen dan tertunduk lesu.&lt;br /&gt;“Baiklah aku lanjutkan. Jarak waktu pembunuhan antara korban kesembilan dan kesepuluh tidak jauh. Hanya sekitar satu jam. Setelah pembunuh menembak Ardi Winarko tengah malam di jalanan yang sepi, kemudian jam satu paginya, ia menembak pula Raka J. T. di salah satu bar yang letaknya tak jauh dari lokasi pembunuhan Ardi.”   Handi kemudian meletakkan kertas-kertas putih tempat mencatat semua data yang ia temukan. Kemudian ia melanjutkan lagi, “Yang terakhir, Grek, teman kita, ia ditemukan tewas di kamar mandi dengan tusukan di perut.”&lt;br /&gt;Setelah beberapa detik mereka terdiam, Yone kemudian angkat suara. “Dari yang kau jelaskan tadi, aku menyimpulkan. Pertama : pembunuh itu menunggu sampai korban dalam keadaan sendiri, Kedua : Ia hanya bermodal pistol atau pisau ditambah alat cukur itu. Ketiga : arah tusukan atau tembakan sepertinya selalu diarahkan ke jantung, meskipun kadang-kadang meleset ke perut, lambung atau punggung.”&lt;br /&gt;Mendengar kesimpulan Yone itu Chaca langsung menyahut, “Tetapi, yang bikin aku enggak habis pikir, kenapa pembunuh itu selalu mencukur ‘Mohawk’ para korbannya dan memotong kelingkingnya? Apa mungkin ia anggota ‘Punk’? Karna gaya-gaya rambut ‘Mohawk’ itu khas dengan style ‘Punk’ kan ?”&lt;br /&gt;“Tidak. Bukan. Anak buah ayahku sudah menyelidik sampai ke sana, dan telah memastikan bahwa gank-gank ‘Punk’ sama sekali tidak terlibat.” Handi langsung menjawab.&lt;br /&gt;“Mungkin pembunuh itu hanya mencari ‘kambing hitam’ saja.” Erni menambahkan.&lt;br /&gt;Sari yang sedari tadi diam, kini teringat sesuatu, “Han! Bukankah kau pernah bercerita padaku kalau sebelum mati, Wido Prasetya sempet mengatakan sesuatu.”&lt;br /&gt;“Ah, iya!” telapak tangan Handi itu langsung mendarat di keningnya. “Benar. Ayahku bilang kalau Wido sempet mengatakan,... tidak seberapa jelas. Hanya,.. Kalau enggak salah, kepala botak, cincin besar.”&lt;br /&gt;“Hanya itu saja yang...” belum sempat Chaca melanjutkan, Yone langsung memotong.&lt;br /&gt;“Apakah hanya korban Wido yang memberi petunjuk itu?”&lt;br /&gt;“Sebenarnya sesaat sebelum meninggal, Haris, korban kedua sedang merekam suaranya. Ia melakukan itu setiap malam, seperti menulis buku harian. Nah, waktu pembunuh itu datang, tape kecilnya itu masih dalam keadaan ‘rekam’.” Handi menjelaskan.&lt;br /&gt;“Berarti suara pembunuh itu terekam dong! Lalu dimana kita bisa mendapatkan kaset rekaman itu?” kali ini Chaca beranjak berdiri seperti kegirangan.&lt;br /&gt;“Itulah masalahnya, Cha! Kaset itu tidak ditemukan. Sepertinya pembunuh tahu dan membuang ke luar jendela.”  mendengar kata-kata Handi itu, Chaca terduduk lagi.&lt;br /&gt;Yone lalu mengernyitkan dahi, “Darimana kamu tahu semua itu?”&lt;br /&gt;“Aku tahu dari seorang anak SD yang melihat kaset itu jatuh dari jendela rumah Haris. Aku sudah tanya padanya. Ia tidak melihat apapun, karna jendela kamar Haris itu terlalu tinggi dan ia langsung berlari ke rumahnya setelah itu.” Setelah lelah berdiri Handi lalu mendaratkan tubuhnya, duduk di atas meja.&lt;br /&gt;“Apa kamu tidak mendapat informasi lain dari anak itu?” timpal Yone lagi.&lt;br /&gt;“Dia seorang murid SLB. Jadi aku tidak banyak mendapatkan info karena ia tuna rungu.” Handi menjelaskan sembari menyambar secangkir teh dan meneguknya perlahan.&lt;br /&gt;“Sebentar, mengapa kita tidak mencarinya di sekitar rumah Haris itu?” sesaat setelah Chaca berkata seperti itu, Handi langsung mengambil kunci mobil dan berlari keluar diikuti yang lain. Kali ini Chaca hanya melongo melihat kecepatan sobat-sobatnya itu, kemudian setengah menyeret langkah, ia menyusul.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;“Kita mesti berpencar agar cepat.” ujar Handi setelah mereka tiba di sekitar rumah Haris. Kemudian kelima karib itu mencoba mencari kaset yang bisa jadi petunjuk. Sari lebih memilih mencari bersama Handi, mereka menyisir daerah semak-semak, Yone mencari di sekitar taman yang agak jauh, Erni lebih tertarik pada pohon-pohon besar dan Chaca mencari di pinggir-pinggir tembok rumah Haris. Dengan teliti, satu persatu tempat ditelusuri.&lt;br /&gt;Akhirnya sudah hampir dua jam mereka menggunakan waktu untuk melakukan pencarian itu. Erni sudah terduduk lemas di bawah pohon, Handi, Sari dan Yone malah tidur-tiduran di jok mobil saking lelahnya. Sementara Chaca masih belum putus asa.&lt;br /&gt;Handi kemudian bangkit dari tidurnya, ia lalu mengelap keningnya. Namun saat ia melihat spion, tampak anak yang pernah melihat kaset itu menghampiri mobilnya. Setelah ia berjalan mendekat Handi menyapa ramah.&lt;br /&gt;“Hallo adik kecil ? Apa Kabar?” kemudian Handi berkomunikasi dengan bocah 7 tahun itu dengan bahasa isyarat, karena itu satu-satunya bahasa yang anak itu mengerti mengingat dia seorang tuna rungu. Setelah itu Handi tampak mengikuti bocah itu berlari ke rumahnya yang ada di seberang jalan.&lt;br /&gt;Hanya dalam 5 menit, ia sudah kembali dengan kaset di tangannya. Melihat itu Erni langsung berdiri, “Apa benar itu kasetnya, Han?”&lt;br /&gt;“Ya. Sebaiknya kita dengarkan di rumahku saja, sebab di sini tidak aman.” Handi lalu memberi komando pada Chaca yang baru datang untuk segera masuk ke mobilnya.&lt;br /&gt;“Teman-teman lihat!” Chaca membuka bungkusan kain putih yang ada ditangannya. “Siapa tahu pisau ini yang digunakan pembunuh itu.” Spontan yang lain langsung kaget.&lt;br /&gt;“Ayo, Cha, masuk dulu. Kami sudah menemukan kaset itu.”&lt;br /&gt;Kemudian melesatlah mobil Handi kembali ke rumah.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;“Aduh aku ngeri banget nih.” Sari kemudian merapatkan tubuh di sofa. Ia dekatkan ke tubuh Erni setelah kelima karib itu mendengar rekaman kaset milik Haris.&lt;br /&gt;“Ok! Tadi kita udah dengerin kaset itu. Paling tidak, kita sudah mengenal suara pembunuhnya.” masih tetap diskusi dipimpin Haris. Karena selain ia seorang anak Kepala Polisi di kota itu, ia seorang yang bijak dan paling bisa menjadi penengah.&lt;br /&gt;Namun kini pandangan tertuju pada Erni. Sejak ia mendengar kaset itu, ia seperti menyimpan sesuatu. Yone yang terkenal paling peka itu langsung mencari jawab. “Kenapa, Er? Apa ada sesuatu yang kau simpan atau kau ketahui?”&lt;br /&gt;“Apa katamu tadi ? Ciri fisik pembunuh itu yang...” pandangan Erni tertuju pada Handi.&lt;br /&gt;“Aku tidak seberapa jelas. Kepala botak, cincin besar...?”&lt;br /&gt;“Sepertinya aku mengenal sesuatu itu...” kata-kata Erni kali ini mengundang perhatian banyak dari kawan-kawannya. Ia sadar dan kemudian melanjutkan kalimatnya, “Sebenernya sih, aku tidak seberapa yakin. Sebulan ini kami punya tetangga baru. Orangnya aneh banget. Ia enggak pernah keluar, rumahnyapun selalu tertutup rapat. Aku pernah melihatnya sekali. Itupun saat ia membuang sampah di ujung jalan.”&lt;br /&gt;“Ciri-ciri fisiknya?” Chaca yang selalu tidak sabaran melempar pertanyaan.&lt;br /&gt;“Yang aku lihat, kepalanya botak licin, tubuhnya gede dan gempal. Ia berkulit putih. Yang bikin aneh lagi, ia memakai cincin besar-besar di seluruh jarinya.” Erni menjelaskan.&lt;br /&gt;“Baiklah. Kita mesti cepat. Teman-teman, kita mesti menyelidiki ke rumah pria mencurigakan itu. Besok malam sekitar jam sembilan, semua berkumpul di rumah Erni.”  Handi memutuskan.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Malam ini adalah malam yang menegangkan buat Handi, Yone, Sari, Chaca dan Erni. Mereka sebenarnya tidak begitu yakin, apakah benar-benar dapat menemukan semua misteri itu malam ini. Memang selama beberapa minggu ini mereka telah menyelidiki rumah pria itu saat sedang kosong. Dan semua bukti ada. Mulai kesebelas kelingking korban yang direndam satu-satu dalam toples. Pisau yang masih terkena darah meski telah mengering. Ditambah alat cukur yang digunakan pembunuh itu. Semua bukti mengarah pada pria berkepala licin itu.&lt;br /&gt;Kelima karib itu telah berkumpul di teras belakang rumah Erni. Semua saling melempar pandang dan hanya terdiam seperti menyirat satu pesan, ‘aku takut’. Namun akhirnya Handi mencoba memberi semangat pada yang lain.&lt;br /&gt;“Teman-teman, kita harus yakin, kita bisa. Ini semua demi keamanan kota ini. Ingat, apapun yang terjadi nanti, kita harus saling melindungi.” Semuanya mengangguk setuju pada kata-kata Handi dan segera kelima karib itu berjalan mendekati rumah yang mereka tuju. Sementara para polisi, anak buah ayah Handi telah mengepung rumah itu dan kini tugas kelima karib untuk membantu masuk kedalam rumah, memancing si pria pembunuh.&lt;br /&gt;Rumah pria misterius yang dimaksud Erni itu tampak sepi dan suram. Semuanya berdebu dan kotor. Tembok-temboknya yang sebenarnya bagus itu tak pernah dirawat. Kemudian Handi melompat ke jendela rumah diikuti yang lain.&lt;br /&gt;Kini mereka sudah ada di dalam rumah itu. Mereka tidak mendapati apa-apa, karna sepertinya sedang tidak berpenghuni. Chaca lalu mengintip ke ruang yang lain ia melihat seorang pria botak dengan cincin besar di seluruh jemarinya itu sedang menulis sesuatu di meja. Ia mengenakan pakaian serba hitam. Kemudian Chaca memberitahukan ini kepada kawan-kawannya.&lt;br /&gt;“Siapkan semua peralatan kalian.” Handi memberi komando lirih.&lt;br /&gt;Namun sesaat setelah itu terdengar bunyi tembakan yang sangat keras. Mulanya mereka takut untuk melihat, tapi setelah mengumpulkan segala keberanian mereka menghampiri tempat asal suara tembakan.&lt;br /&gt;Betapa terkejutnya Handi, Yone, Sari, Erni dan Chaca mendapati pria itu sudah tak bernyawa. Ia membunuh dirinya dengan sebuah pistol yang juga dipakai membunuh korban-korbannya. Yone kemudian memerikasa, apakah ia masih hidup ataukah telah mati. Handi berlari keluar memberitahu polisi.&lt;br /&gt;“Dia sudah mati.” Yone berjalan mundur bersamaan dengan kedatangan Handi dan ayahnya bersama para polisi. Kemudian pasukan kepolisian itu memerikasa seluruh rumah itu dan membawa semua barang bukti.&lt;br /&gt;“Kami tidak melihat apa-apa, yah. Hanya suara tembakan keras sesaat sebelum kami menghampirinya.” Handi menjelaskan kepada ayahandanya.&lt;br /&gt;“Baiklah, terimakasih atas bantuan kalian selama ini, anak-anak. Kalian memang pemberani. Ada satu hadiah buat kalian.” Ayah Handi menyalami satu persatu kelima karib itu.&lt;br /&gt;“Pak, saya menemukan surat di bawah mayat pria ini.” Seorang polisi menyerahkan kertas yang terkena lumuran darah pembunuh itu. Kemudian ayah Handi segera memakai sarung tangan membaca pesan terakhir dari sang pembunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Saya, Jaka Rahmat, mengakui semua perbuatan yang saya lakukan ini. Saya telah membunuh kesebelas pria muda tampan yang menjadi finalis ‘Sweet King’.&lt;br /&gt;Saya melakukannya didasari atas dendam saya pada kesebelas orang itu. Mereka telah menghina dan menginjak-injak harkat anak tunggal saya, Laki Rahmat. Saya tidak terima atas penghinaan yang diterima anak saya. Laki seorang anak yang baik. Wajahnya tampan dan otaknya encer. Karena itu saya ingin mengikutkan dia ajang ‘SWEET KING’. Saya tahu,Laki seorang anak luar biasa. Ia berbeda dengan yang anak-anak muda yang lain. Apa salahnya seorang anak tuna rungu seperti dia ikut ajang itu. Tubuhnya juga sehat-sehat saja, walaupun ia tidak mempunyai jari kelingking di tangan kirinya, Laki seorang yang sehat mental dan rohaninya. Saya menyesal atas semua perlakuan juri yang melarang keras Laki ikut ajang itu. Bahkan mereka berteriak keras di depan orang banyak. Saya masih ingat cerita Laki bahwa mereka mengatai anak saya, “Ini bukan ajang bagi orang cacat!” mendengar itu Laki langsung menangis pulang dan menceritakan semua perlakuan mereka. Saya sedih dan begiru marah.&lt;br /&gt;Sejak saat itu, Laki yang biasanya selalu ceria menjadi anak yang pendiam, ia tidak mau makan, dan mengurung diri terus menerus di dalam kamarnya. Mungkin ia merasa minder dan trauma dengan perlakuan orang-orang itu. Saya bingung mesti bagaimana mengatasi semua ini.&lt;br /&gt;Namun belum sampai saya menemukan solusinya, suatu pagi, saya menemukan Laki sudah tak bernyawa di kamarnya..... Ohh,... Anakku satu-satunya ini bunuh diri!!!!  Ia memotong nadinya sendiri. Sebelum ia mati, ia mencukur kepalanya dengan tidak karuan. Saya BENCI mereka semua yang telah menyakiti Laki !!!!&lt;br /&gt;Sejak kematian Laki itu, saya dendam dan benci pada semua yang terlibat dalam ajang yang membuat anak saya mati itu. Saya bertekad akan menghabisi siapapun yang jadi finalis. Saya terbakar murka yang menyla-nyala.&lt;br /&gt;Dan sekarang, saya menyesal. Mungkin nyawa saya ini tidak berarti untuk menebus kesebelas nyawa anak-anak muda yang saya bunuh. Tapi setidaknya, saya bisa menemui Laki sekarang!”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Semua terharu setelah mendengar isi surat dari sang pembunuh. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-111238471991111526?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/111238471991111526/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=111238471991111526&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238471991111526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238471991111526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2005/04/tragedi-kepala-mohawk.html' title='TRAGEDI KEPALA MOHAWK'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-111238459535665047</id><published>2005-04-02T02:41:00.000+07:00</published><updated>2005-04-02T03:25:29.093+07:00</updated><title type='text'>terasing dan MATI [Kebenaran yang Terbenam]</title><content type='html'>‘Kan kuingat di dalam hatiku, betapa indah semalam di Cianjur….¯&lt;br /&gt;Nada itu baru terlantun di bibir. Riuh audiens menghantarku kembali ke meja. Sebenarnya tak satu pun pengunjung yang kukenal di kafe ini. Mungkin mereka hanya suka lagu lawas yang baru kulantunkan.&lt;br /&gt;Mas, suaranya bagus.&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Ritual kesantunan. Sesaat aku menunduk. Rendah sekali. Sebuah memori berterbangan halus di alam sadar...&lt;br /&gt;Ada luka di balik lagu itu. Bukan karena aku yang mencipta. Entah siapa yang membuatnya?! Yang jelas aku hidup dari lagu ini. Aku mau melupakan saja pengalaman menyakitkan itu. Mungkin buatku dulu, menggembirakan. Menyenangkan. Saat ibu menyanyikan lagu itu, aku turut melafalkan.&lt;br /&gt;Uh... hatiku begitu miris. Lebih tepatnya, trenyuh.. Sekarang aku kehilangan dia. Di mana ibu? Aku sudah berusaha mencari. Sebuah pencarian detektif. Kenapa? aku belum siap semua orang tahu. Titik. Ingin tahu? Dengarkan saja. Diam, jangan komen. Aku tidak suka.&lt;br /&gt;Deep Blue Kiss, satu.&lt;br /&gt;Pelayan itu mengangguk setelah aku memesan minuman.&lt;br /&gt;Sekarang aku hidup sendiri. Aku punya perusahaan, sebuah swalayan berisi kebutuhan rumah tangga. Aku sudah buka 5 cabang di kota ini. Terlampau cukup untuk penghasilanku. Sangat tidak cukup untuk kebahagiaan batinku. Aku tidak pernah tersenyum saat tahu ibuku pergi.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;wanita 30 tahun-an itu berjalan dengan alas kaki dan pakaian seadanya. Ia selalu membawa tutup-tutup botol, dipaku jadi satu pada kayu kecil. Ecek-ecek, orang Jawa menyebut.&lt;br /&gt;Ia dipanggil ‘Ti dan hanya seorang anak 3 tahun saja yang ada di gendongannya. Ia bernyanyi dari angkutan umum satu ke angkutan umum lain. ‘Ti berkeliling di terminal sepanjang hari.&lt;br /&gt;Setangkai anggrek bulan....¯&lt;br /&gt;Widuri,... engkau bagai rembulan, sayang.... ¯&lt;br /&gt;Bengawan Solo.... riwayatmu kini....¯&lt;br /&gt;Suara ‘Ti tidak terlalu sumbang. Ia bernyanyi dengan ramah dan selalu mendoakan penumpang agar selamat sampai di tujuan mereka. Banyak yang simpatik. Tidak sedikit yang mencibir.&lt;br /&gt;Masa, ngamen ngajak anaknya? Mau ngajari males?&lt;br /&gt;Keluhan sok peduli itu selalu diberi hadiah senyuman. ‘Ti sadar, mereka tidak empati padanya. Tidak perlu melakukan itu juga tak apa.&lt;br /&gt;Maafkan ibu ya, ‘ngger....&lt;br /&gt;Kalimat itu yang selalu ia bisikkan kepada gendongannya.&lt;br /&gt;Tak terasa pipiku dialiri air mata mengingingatnya. Aku benar-benar tahu mengapa ;’ibu melakukan itu. Aku tidak merasa diajari malas olehnya. Aku malah tahu bagaimana harus menghargai uang, keping demi keping. Aku benci orang-orang yang memandang ibuku sebelah mata. Aku ingin berteriak kepada mereka dari dulu, aku bangga pada mbak ‘Ti, ibuku....!!!&lt;br /&gt;Pasti kau bertanya, di mana ayahku, kan? Aku tidak pernah melihatnya! Sejak aku pertama membuka mata di dunia ini, bahkan. Kata ibu dia dipenjara. Dihukum negara karena tindakannya dianggap merusak nama baik seorang jenderal. Ia membawa lari hartanya dan memfitnah Jenderal itu.&lt;br /&gt;Kata ibu, semua kata orang itu bohong. Ia tidak pernah melakukan itu. Ayah hanya alat ketenaran. Semua karena Jenderal itu ingin kekuasaan dan ingin menghapus kebejatannya sendiri. Ayah digunakan sebagai kambing hitam. Kambing congek Jenderal itu. Ayahku lalu tewas tertembak.&lt;br /&gt;Sekarang aku ingin berteriak lagi, kalau ayahku bukan kambing congek....!!!!&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;‘Kan kuingat di dalam hatiku, betapa indah….¯&lt;br /&gt;‘Ngger, jangan ikut-ikut! Kamu sekolah saja. Ibu masih sanggup bekerja.&lt;br /&gt;Biasanya aku langsung ngeloyor pergi ke kasur kalau ibu menegur seperti itu. Aku hanya ingin mencari uang sendiri. Ibu sama sekali tidak mengijinkan. Katanya, wajahku sangat mirip ayah.&lt;br /&gt;Berbahaya, ‘ngger kalau kamu nanti ada yang menculik....&lt;br /&gt;Aneh? Itu pikirmu, kan? Sama. Apa hubungannya ngamen dengan aku mirip ayah. Bukankah itu lumrah, kan?&lt;br /&gt;Selain ibu tidak ingin kamu bekerja keras, ada alasan lain...&lt;br /&gt;Apa?&lt;br /&gt;Nanti saja kalau sudah waktunya.&lt;br /&gt;Tapi, bukankah dulu aku juga ikut ibu ngamen?&lt;br /&gt;Sudahlah, ngger....&lt;br /&gt;Kalau sudah begitu aku pasti diam. Aku tidak ingin membuat ibu gundah. Menurut saja, apa susahnya. Aku yakin ibu punya alasan kuat di balik itu. Aku akan menunggu penjelasan itu. Aku menantinya sampai aku besar, mungkin.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;‘Ngger sudah waktunya.&lt;br /&gt;Ah, sebenarnya aku benci ini. Aku sudah besar, ingin rambutku panjang. Tapi lebih baik menurut saja. Aku kemudian duduk di kursi dan ibu mencukurku. Helai demi helai rambut lurusku yang sudah panjang itu berjatuhan di lantai.&lt;br /&gt;Tidak butuh waktu lama, kepalaku sudah licin.&lt;br /&gt;Kalau begini kamu tidak terlalu mirip ayah.&lt;br /&gt;Aku memandangi wajahku di depan cermin. Kuelus perlahan kepala ini. Plontosnya aku... dan aku belum berani bertanya lagi mengapa ibu selalu berkata seperti itu. Aku lebih rela tampak seperti Pak Ogah.&lt;br /&gt;‘Ngger ingat, jangan pernah memelihara jambang, kumis, jenggot dan rambut panjang. Ibu tidak pernah meminta apa-apa, turuti saja ini, ya...&lt;br /&gt;Aku mengangguk. Lagi-lagi.&lt;br /&gt;Kubasuh kepala licin ini, bersih dari sisa-sisa cukuran.&lt;br /&gt;Ayahmu tewaspun, masih dibebani dendam Jenderal gadungan itu. Ia akan membunuh keturunannya.&lt;br /&gt;Apa? Aku sangat tersentak.&lt;br /&gt;Jangan takut, ‘ngger... selama ada ibu, aku akan menjagamu.&lt;br /&gt;Pantas, ibu begitu risau kalau aku mirip ayah.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Mau pesan anggur?&lt;br /&gt;Aku hanya menggeleng membalas tawaran pelayan kafe.&lt;br /&gt;Kalau dipikir-pikir kisah ayahku itu seperti sinetron. Sebuah kehidupan yang dramatik. Gara-gara dendam itu aku dan ibuku hidup dalam ketakutan. Tetapi inilah kehidupanku yang sebenarnya. Sebuah realitas. Bukan mimpi sinema elektronik.&lt;br /&gt;Kamu, Anto Johan?&lt;br /&gt;Seorang tua mendekati wajahku dan mengernyitkan dahi.&lt;br /&gt;Aku buru-buru menggeleng dan membayar minuman ke pelayan.&lt;br /&gt;Langkahku harus cepat, pikirku. Kuayunkan langkah dan berlari jauh sekali dari kafe. Ternyata Pak Tua itu mengejar di belakangku. Kutambah kecepatan ‘bak kijang yang diburu. Jangan-jangan ia Jenderal itu?!&lt;br /&gt;Sebenarnya kuingin berbalik dan kubunuh dia. Tetapi kalau itu benar? Kalau tidak?! Lagipula, ibu selalu memintaku untuk memaafkan dan melupakan semua kejadian masa lalu keluarga kami.&lt;br /&gt;Berhenti...!!!!&lt;br /&gt;Pak Tua itu berteriak seperti orang gila. Aku kemudian berlari terus menuju apartemen dan kututup rapat-rapat pintunya. Segera kuberlari ke wastafel. Napasku tersengal dan kudapati wajahku telah lusuh di cermin. Rambutku telah mulai panjang, bulu-bulu simbol kemaskulinan ini ternyata sudah liar berhias.&lt;br /&gt;Perlahan kuraih alat cukur itu dan segera kuhabiskan rambut di kepala. Cambang dan jenggot pun kutebas habis.&lt;br /&gt;Setiap hari aku selalu digelayuti ketakutan. Semua karena dendam membara. Aku telah memaafkan pembunuh ayahku. Namun aku juga berhak hidup bebas tanpa takut ancaman. Aku tidak protes kalau aku harus melicinkan kepala dan wajah, tetapi itu akan kulakukan kalau aku bisa hidup bebas.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Alat perekam itu telah selesai diputar. Aku masih duduk di kursi terdakwa. Terdiam dituduh membunuh Jenderal Urya. Aku bahkan tak tahu mengapa ia mati? Bukankah dia yang mengejarku?! Kini seantero jagad tahu kalau aku anak Anto Johan, provokator rakyat. Hal yang tidak pernah dilakukan ayah.&lt;br /&gt;Apa keadilan tidak memihakku lagi seperti tidak membela ayah?&lt;br /&gt;Pembunuhan terhadap Jenderal Urya. Terdakwa : Fajar Nusantoro, dijatuhi hukuman mati.&lt;br /&gt;Oh, tidak?!?!!!! Ajal akan menjemputku. Hakim sudah mengetokkan palunya...! (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-111238459535665047?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/111238459535665047/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=111238459535665047&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238459535665047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238459535665047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2005/04/terasing-dan-mati-kebenaran-yang.html' title='terasing dan MATI [Kebenaran yang Terbenam]'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-111238438874977088</id><published>2005-04-02T02:38:00.000+07:00</published><updated>2005-04-02T02:39:48.753+07:00</updated><title type='text'>“Semanggi  Suroboyo”</title><content type='html'>Aku berjalan di bawah terik dengan telapak kepanasan. Sampah yang kudapat hari ini sudah banyak. Semoga setoranku akan bertambah. Memang terkadang lelah juga menjadi pemulung. Tetapi bagaimana lagi, aku harus melakukakannya.&lt;br /&gt;Lamunanku terhenti. Dari jauh aku melihat Bapak tergopoh-gopoh. Kuberlari menghampirinya.&lt;br /&gt;“Cepat bantu bapak ! Mau ada obrakan !” aku langsung tanggap mendengarnya. Segera kuringkas semua botol Legen dagangan bapak. Bergegas kami mendorong rombong kecil yang sudah  menjadi tumpuan hidup kami bertahun-tahun.&lt;br /&gt;“Untung ‘le, Kamtib belum sampai membongkar...”  kata bapak saat kami tiba di rumah.  “Ibumu belum datang ‘le?”&lt;br /&gt;Aku menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;“Kita makan saja dulu, ya.”&lt;br /&gt;Terkadang aku trenyuh melihat melihat keluargaku. Bapak hanya seorang pedagang kecil es Legen. Ibu membantu bekerja berkeliling berjualan Semanggi. Mereka berdua menghidupiku dan dua adikku dengan ngos-ngosan.&lt;br /&gt;“Bapak gak sampai diobrak kan ?” ibu datang dengan kecemasan.&lt;br /&gt;“Tidak sampai kok, bu.”&lt;br /&gt;“Alhamdullilah.” Ibu meletakkan bakul semangginya.&lt;br /&gt;“Laku hari ini ?”&lt;br /&gt;“Biasa saja, pak.” Ibu berkata dengan kecewa. “Terkadang ibu heran, mengapa makanan daerah sendiri malah kalah dengan ayam Amerika.”&lt;br /&gt;“Jualan ayam Amerika saja.” celetuk Cuplis si bungsu. Aku hanya mengulum senyum sementara bapak dan ibu tertawa terbahak-bahak. Kegembiraan itulah yang selalu menguatkanku saat merasa susah menghadapi hidup.&lt;br /&gt;“Oh ya, Tole. Tolong antarkan pesanan mbak Miranda, ya.” aku langsung terkejut mendengar nama itu. Mbak Miranda tinggal di satu perkampungan terkenal di kotaku. Selalu ramai tiap malam dipenuhi wanita-wanita penjaja cinta dan ia termasuk di dalamnya.&lt;br /&gt;“Gak usah takut. Siang-siang sepi. Ibu masih repot, le. Tolong, ya.” Ibu menyodori bungkusan Semanggi. Sebenarnya aku ragu, namun demi ibu akhirnya segera kukayuh sepeda menuju kesana.&lt;br /&gt;Bulu kudukku merinding. Aku merasakan suasana aneh di tempat ini. Untung segera kutemukan wajah mbak Miranda. “Eh Tole. Nganter Semanggi?”&lt;br /&gt;Segera kusodorkan bungkusan padanya.&lt;br /&gt;“Semanggi ibumu paling enak, gak ada yang menandingi.” Ia lalu mengeluarkan selembar sepuluh ribu dari dadanya. Aku jadi jijik dan menunduk.&lt;br /&gt;“Nih ! terima kasih, ya.” Ia mengenggamkannya di telapakku sambil berbisik mendekat dan menyentuh pipiku, “Kembaliannya buat kamu.”&lt;br /&gt;Aku mengangguk dan segera meninggalkannya.&lt;br /&gt;“Besok antar 5 bungkus lagi, le !” suaranya terdengar dari jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini Surabaya terasa dingin sekali. Aku merapatkan tubuh di sudut ranjang, kesepian. Sudah dua hari keluargaku pergi ke rumah Budhe di Malang untuk pinjam uang.  Sejenak kumendengar gedoran pintu yang keras sekali. Kuberanikan untuk membukanya.&lt;br /&gt;“Tole, tolong Mbak Miranda.” wanita ini tampak tergopoh. Ia mengenakan busana ketat berwarna merah minim.  “Boleh mbak masuk ?”&lt;br /&gt;Kemudian segera kututup rapat pintu rumahku. Aku begitu heran, mengapa tengah malam begini ia datang ke rumah. Aku memandanginya terus.&lt;br /&gt;“Ah, Mbak enggak mau beli Semanggi. Mana keluargamu yang lain ?”&lt;br /&gt;Aku menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;“Pergi ?”&lt;br /&gt;Aku menggangguk. Kemudian kusodorkan segelas air, karna kulihat wajahnya pucat sekali. Mbak Miranda meminumnya seteguk demi seteguk lalu mengembalikan gelas itu padaku. Ia mengeluarkan tissue dari tas tangan dan mengelap keningnya&lt;br /&gt;“Terima kasih.” Katanya sambil terduduk di lantai. Aku memandangnya lagi. Ia meneteskan air mata dan beberapa detik kemudian menangis. Hatiku tersentuh. Ternyata wanita yang selalu terlihat ceria di hadapan para lelaki hidung belang ini bisa juga menangis.&lt;br /&gt;“Sebenarnya mbak tadi kena razia, le. Untung, berhasil kabur. Makanya mbak buru-buru ke rumahmu. Karena ini yang terdekat. Enggak apa-apa kan ?”&lt;br /&gt;Aku  mengangguk.&lt;br /&gt;“Mbak tahu, mungkin kamu jijik dengan mbak. Karena mbak seorang WTS.”&lt;br /&gt;Aku buru-buru menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;“Enggak apa-apa. Mbak sudah terbiasa.” Ia mengusap air matanya.&lt;br /&gt;“Orang selalu begitu. Mereka tidak tahu sebenarnya. Dari lubuk hati yang terdalam, sebenarnya mbak selalu menangis. Menyesali pekerjaan ini.” Mbak Miranda memandangku, aku hanya menunduk.&lt;br /&gt;“Apa daya, sudah masuk dalam lumpur...”&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sebulan kami sekeluarga tak mendengar kabar mbak Miranda, sejak razia itu. Kata ibu, ia kembali ke kampung karena sakit parah. Kabar terakhir dari teman-temannya malah menyebutkan kalau Mbak Miranda sudah meninggal karena HIV/AIDS. Sungguh tragis..... !&lt;br /&gt;Sementara keadaan ekonomi keluargaku semakin memburuk. Uang pinjaman dari Budhe tidak bisa menolong. Kini daerah jualan bapak sudah dinyatakan bebas PKL. Akibatnya bapak sekarang jadi kuli. Dagangan Semanggi ibupun makin hari makin sepi, namun beliau tetap ngotot berjualan.&lt;br /&gt;Aku dan adik-adikku tak lagi sekolah. Buat makan saja kurang.&lt;br /&gt;“Le, semiskin apapun kita, jangan pernah jadi pencuri, ya.” kata-kata bapak itu selalu jadi peganganku saat bekerja mengais sampah. Meski pemulung, aku bukan pencuri. Tetapi kadang aku jengkel juga pada orang-orang. Mereka selalu memarahiku saat aku mengobrak-abrik sampah. Mereka bilang itulah sebabnya kota ini bau. Mereka tidak tahu betapa sulitnya aku mencari sampah yang dapat didaur ulang agar setorannya dapat membantu biaya hidup keluargaku.&lt;br /&gt;Aku melangkah pulang dengan sejuta lelah. Alangkah terkejutnya diriku melihat ramai orang-orang di sekitar rumah.&lt;br /&gt;“Le, rumah kita digusur.” Ibu menangis menghampiriku.&lt;br /&gt;Segera aku berlari membantu bapak meringkas sisa bangunan kami.&lt;br /&gt;“Kita akan kemana, pak ?” tanya Burhan adik kedua-ku. Bapak hanya menggeleng. Sementara perkampungan kami ramai dan sesak. Orang-orang kebanyakan tidak terima dengan pembongkaran tiba-tiba ini.&lt;br /&gt;“Sudahlah, le. Ini memang bukan milik kita. Tanah ini milik pemerintah.” Bapak tegar bernasihat. Aku hanya meneteskan air mata kesedihan. Kemudian kami pergi meninggalkan perkampungan penuh kenangan itu.&lt;br /&gt;Saat aku dan bapak keluar kampung, kami tidak mendapati ibu dan Cuplis.&lt;br /&gt;“Kemana mereka, le ?”&lt;br /&gt;Aku menggeleng.&lt;br /&gt;“Kita berpencar. Bapak cari bersama Burhan, kamu cari di tempat-tempat ibu biasa berjualan.” aku mengangguk dan kami berpisah.&lt;br /&gt;Aku menelusuri perkampungan mencari ibu. Setidaknya sudah puluhan gang aku masuki. Kakiku sakit sekali. Tak terasa suara adzan sudah mengalun. Aku sandarkan tubuh sejenak. Sayup-sayup, kutatatap langit senja, lalu kuteringat bapak dan Burhan. Jangan sampai aku kehilangan mereka juga. Bergegas kutuju bekas perkampunganku yang kini telah rata, namun tidak kutemui mereka. Tanpa sadar, lelah aku tertidur di emperan toko.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama seminggu aku mencari keluargaku, namun tak dapat kutemukan. Hatiku menjerit pilu. Di saat seperti ini aku butuh keceriaan mereka. Sekarang aku mesti sendiri menghadapi pahitnya hidup di kota yang tak pernah menjadi pahlawan buatku, tetapi malah menyusahkanku. Satu yang membuat aku bingung, bagaimana aku hidup tanpa keluargaku dengan keadaanku ini. Bagaimana aku akan berkomunikasi dengan orang lain, sementara aku bisu ?! (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-111238438874977088?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/111238438874977088/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=111238438874977088&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238438874977088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238438874977088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2005/04/semanggi-suroboyo.html' title='“Semanggi  Suroboyo”'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11857266.post-111238401324572257</id><published>2005-04-02T02:29:00.000+07:00</published><updated>2005-04-02T02:33:33.246+07:00</updated><title type='text'>ini mula:</title><content type='html'>sebuah maha karya yang terinspirasi dari kehidupan,&lt;br /&gt;bisa jadi inspirasimu...&lt;br /&gt;pun jadi perenungan.&lt;br /&gt;(syukur pada sang Khalik, kecintaanku)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11857266-111238401324572257?l=lembayungmalak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/feeds/111238401324572257/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11857266&amp;postID=111238401324572257&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238401324572257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11857266/posts/default/111238401324572257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lembayungmalak.blogspot.com/2005/04/ini-mula.html' title='ini mula:'/><author><name>Lembayung Malak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04481476300122334482</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
