Beberapa waktu yang lalu aku mengunjungi sepupuku yang sedang dirawat di Rumah Sakit. Dia masih SD kelas 6 namun karena kamar rawat inap bagian anak-anak penuh, maka ia dirawat di kamar yang berisi orang-orang dewasa dan orang tua.
Pertama kali datang aku agak kaget. Hal ini disebabkan keadaan Rumah Sakit lebih ramai dari biasanya. Seperti kubilang tadi, hari-hari ini banyak orang yang dirawat di Rumah Sakit. Pasien dan pengunjung bertumpah menjadi satu. Sampai suatu saat aku ingin ke toilet, kata pamanku, di dekat kamar ini ada toilet untuk pasien tapi tak apa jika aku pakai. Kemudian aku menuju toilet yang ditunjukkan.
Ketika aku melihat dua suster perawat, aku memutuskan untuk bertanya di manakah toilet untuk umum lalu aku ditunjukkan pada satu jalan. Aku langsung menghampiri toilet yang dimaksud tersebut. Tidak aku duga ternyata, perjalanan menuju toilet itu aku banyak berpapasan dengan para perawat Rumah Sakit. Sebagian ada yang berkelompok mengobrol, sebagian lain sibuk mengerjakan sesuatu sementara yang lainnya berdiskusi tentang kondisi pasien. Sesaat aku memperhatikan wajah mereka satu per satu ; sama sekali belum ada guratan di wajah mereka. Ya. Para perawat itu adalah wanita-wanita muda yang masih energik dan penuh semangat. Mereka bekerja dengan senyum dan keramahan. Di dalam benakku, aku berdecak, ternyata masih ada ya, pemudi-pemudi yang masih mau peduli. Mereka mengorbankan waktu untuk menjadi perawat dan mencurahkan kasih sayang pada sesama. Hal itu semata-mata bukan karena profesi saja. Kupikir ini lebih kepada satu komitmen yang ada di setiap hati perawat-perawat muda itu. Di tengah dunia yang mengedepankan “ego” ternyata masih ada orang-orang muda yang masih peduli kepada sesama mereka. Bukan hanya itu, mereka dapat merealisasikan cinta mereka itu pada sesama (secara nyata).
Aku yang masih 21 tahun ini hanya hanya menunduk dan bertanya,
“Bagaimana aku dapat merealisasikan cintaku pada sesama ?”
Mungkin engkau juga sama denganku?
Jangan diam saja, segera lakukan disertai dengan komitmenmu.
Monday, February 27, 2006
Monday, February 20, 2006
fiuh....
HARI ini aku bertengkar dengan sahabatku (LAGI! Setelah berminggu-minggu DAMAI-damai saja...) Tapi, sekarang sudah selesai. Kami saling berdiskusi dan menyamakan persepsi. Masalahnya hanya SATU : Perbedaan karakter. Namun bukan berarti tidak bisa bersama, kan? Secara pemikiran tentang beberapa hal, kami sama. tetapi tentang prinsip dan karakter, jauh berbeda,... Namun aku berusaha mengerti dan mengerti.. Aku yakin, sahabatku juga melakukan hal yang sama. Semua orang butuh belajar, kan? Meski kami sudah kenal sejak kecil dan menjadi sahabat kurang lebih enam tahun terakhir, tetapi kami (aku, terutama- setidaknya buat diriku) butuh belajar mengerti. Justru inilah kebangganku... Aku mempunyai sahabat yang BERANI menegurku, bahkan membentakku (meskipun aku tidak senang, jika ia melakukan di depan beberapa orang... he,.he..).. karena seorang sahabat harus berani melakukan itu agar agar ada perubahan yang lebih baik.
Ada hal yang lucu. Kami bertengkar sebelum pergi ke tempat ibadah... namun ternyata pemimpin ibadah berkutbah tentang mengasihi sahabat, berani menegur sahabat... Skenario Sang KHALIK memang TOP banget.. Aku merasa tertegur dan makin mengasihi sahabatku. Aku TIDAK BOLEH marah, jika sahabatku menegur. Sebab aku harus tahu, kalau ia pasti menegur dengan kasih (meskipun ada bumbu jengkelnya... he,he...)
Yah,... sekarang AKU BELAJAR BANYAK (MAKIN belajar), sebuah hubungan persahabatana memang harus selalu begitu.. Kuncinya satu : Hadirkan Sang Khalik dalam persahabatan itu, dan kau akan mengerti serta belajar banyak hal yang POSITIF.
Damai bersamammu....
(thank you, brotha 777 SN)
Ada hal yang lucu. Kami bertengkar sebelum pergi ke tempat ibadah... namun ternyata pemimpin ibadah berkutbah tentang mengasihi sahabat, berani menegur sahabat... Skenario Sang KHALIK memang TOP banget.. Aku merasa tertegur dan makin mengasihi sahabatku. Aku TIDAK BOLEH marah, jika sahabatku menegur. Sebab aku harus tahu, kalau ia pasti menegur dengan kasih (meskipun ada bumbu jengkelnya... he,he...)
Yah,... sekarang AKU BELAJAR BANYAK (MAKIN belajar), sebuah hubungan persahabatana memang harus selalu begitu.. Kuncinya satu : Hadirkan Sang Khalik dalam persahabatan itu, dan kau akan mengerti serta belajar banyak hal yang POSITIF.
Damai bersamammu....
(thank you, brotha 777 SN)
Friday, February 03, 2006

(31 Januari 2006, 00:58 wib)
Hari ini aku pergi ke dokter. Sudah lama Papa memintaku untuk kontrol, karena tekanan darahku yang beberapa kali mencapai 140. Mulannya agak takut juga. Bukan apa-apa. Kupikir ruang gerakku untuk beraktifitas akan jadi tidak bebas lagi. Pasti diminta beristirahat. Namun di depan perawat rumah sakit, tekanan darahku hanya 120. normal. Dokter malah menganalisa aku kurang darah, kurang zat besi lantaran keluhan pusingku. Aku bernapas lega. Aku bersama Papa Mamaku dan aku merasa nyaman.
Hari ini pula aku ke rumah kakekku. Ah, mencoba menjadi cucu yang baik. Kakekku sudah sebulan sakit stroke. Hari ini aku ingin merawatnya, melayaninya dan melakukan hal-hal yang dia minta. Tadi sore aku membasuhnya dengan air bersama tanteku. Kalau orang sehat, namanya : mandi sore. Aku memberi minyak kayu putih dan menaburi bedak di punggungnya. Entah kenapa aku merasa bahagia sekali ketika melakukan itu.
Jam 9 malam pun tadi aku mengantarnya kontrol ke dokter bersama Papa Mama dan kedua om-ku. Sekali lagi ada perasaan bahagia kembali. Tidak hanya bisa melayaninya, tetapi aku menikmati bercengkerama bersama adik-adik Papaku itu. Aku tidak dianggap lagi anak kecil, tetapi seorang pria. Aku melakukan banyak hal dengan keluargaku hari ini dan aku sangat menikmatinya.
Bagaimana dengan anda?
Sudah terlalu banyakkah waktu dengan keluarga?
Mereka menganggap anda berharga, lho...
Thursday, February 02, 2006

-bagian 2-
(29 Januari 2006)
Aku menangis dan mengalami ketakutan. Kukirimkan pesan pendek kepada seorang sahabat yang sudah kuanggap sebagai kakak perempuanku, bahwa aku ingin mengakhiri hidupku.... bukannya malah mencegahku dan membesarkan hatiku, ia malah menantangku dan memberi pertanyaan besar (sebenarnya aku pun tahu jawabannya). Hatiku terlalu keras untuk menjawabnya bahkan.
Apa benar Sang Khalik tidak mencintai aku ?
Aku telah melakukan kesalahan. Beban berat hidupku yang menghimpit seharusnya dapat kuselesaikan dengan BERANI menghadapinya. Sang Khalik cinta aku. Seharusnya aku meraih uluran TanganNya untuk menghadapi semua beban hidupku.
Pesan singkat kembali kukirimkan pada seorang sahabat lainnya. Ia pun mengingatkan kalau aku TIDAK SENDIRI. Sang Khalik betapa menyayangi aku dan sanggup mengambil semua penatku dalam hidup. BELIAU terlampau mencintai aku. Semua usahaku mengakhiri hidup bukan jalan yang terbaik.
Kini aku tahu, jalan terbaik buatku adalah ikut jalan Sang Pencipta. Pencipta yang telah memberi banyak pelajaran dalam hidupku tidak penah meninggalkan aku. BELIAU bukan Pencipta yang jauh, tapi Pencipta yang dekat. Engkau pun dapat merasakannya, kawan. Ketika jantungmu berdetak dan nadimu berdenyut, itu berarti BELIAU ada untukmu. Beban hidup menghimpit hidupmu? Kau hanya perlu lakukan ini ; Diam dan katakan pada Sang Khalik, engkau mau berserah. BELIAU akan lakukan bagianNya.

-bagian 1-
(29 Januari 2006)
Aku sedang duduk di salah satu bangku rumah ibadah. Kali ini aku datang jauh lebih pagi. Iringan lagu “Above All” membawa teduh suasana hatiku. Layangku menerawang menembus altar. Sebuah tempat pemimpin ibadahku nanti bertutur. Semua akan mendengarkannya, karena ia akan bertutur tentang Sang Khalik. Akupun masih duduk tenang menuliskan ini. Sejak tadi malam, aku ingin melakukannya. Kukira ini saat yang tepat.
Ehm,...
Aku pernah beberapa kali ingin bunuh diri pada tahun lalu. Jangan heran ! Mungkin beberapa orang mengenal aku orang yang ceria, selalu meramaikan suasana dan tidak pernah punya bebean hidup (SEPERTINYA). Namun tahun lalu itu merupakan proses hidupku yang paling mencapai klimaks.
Satu kali di pertengahan tahun :
Aku bertumbuh secara spiritual, tapi ternyata aku malah jatuh secara manusiawi. Aku berusaha bangkit... selalu begitu. Kala itu adalah titik akhirku. Temperamenku yang cenderung melankolik, membawa hanya pada sisi negatifnya saja. Kesensitifanku menjadi sangat meledak-ledak. Beban hidupku yang teramat berat buatku (waktu itu) membuat aku menjadi tidak percaya pada sekitarku. Sahabat-sahabat yang mengasihiku, aku anggap menjauhiku. Semua keadaan itu menghancurkanku. Aku putus asa dan kehilangan kendali. Konsep spiritualku sejenak hilang dan terhempas jauuh... konsep bahwa aku ini dicintai Sang Khalik, konsep bahwa aku ini berharga, konsep bahwa aku ini sahabat Sang Khalik, sirna semua.
Aku terlalu fokus pada diriku, mengasihani diriku dan menganggap aku ini manusia paling sengsara, paling penuh kesalahan dan kekhilafan memenuhi sekujur tubuh. Hal inilah yang membuat aku menjadi pengecut ! Aku takut menghadapi masa depan terutama diriku.
Jadi apalagi ? aku berlari ke dapur dan hendak menyayat tanganku bahkan menusukkannya di tubuhku.
Sekali lagi, aku pengecut !
Aku masih ketakutan.
Menghadapi hidup takut. Mengakhiri hidup malah takut. Aku harus bagaimana? Aku mengerang-erang kesakitan dalam kamarku. Kubentur-benturkan kepala ini melawan tembok. Aku menarik-narik rambutku dan napasku tersengal-sengal. Depresi luar biasa melandaku kala itu.
Saturday, January 28, 2006
DALAM KERAPUHAN (ajarku bersyukur)
Pelita jiwaku entah sudah meredup atau tidak,
Ketika lolongan serigala itu datang,
Aku menjadi takut.
Aku sebenarnya tidak suka dengan suara-suara itu!
Tapi ia selalu datang dalam kesahku
dan mengintip di rasa bahagiaku
KETIDAKPASTIAN.
Ini yang jadi ketakutanku juga.
Sebuah perasaan yang menjadikanku lemah pun RAPUH.
Aku sudah lelah menjadi anak burung gereja
Yang kecil dan selalu tidak dewasa, tampaknya.
Meski aku bahagia dengan keria-ria-anku yang jadi
penyemangat berkobar..
YA! Keria-riaan yang selalu jadi topeng dalam
setiap aralku melintang.
Aku burung gereja yang pemurung, lemah,
tidak berdaya dan selalu RAPUH.
Tetapi aku tidak ingin burung-burung lain tahu.
Apalagi SERIGALA!
Mendengar lolongannya pun aku sudah TAKUT.
Aku hanya bisa menghempas sayapku,
Pasti kau bertanya; Rajawalikah aku?
Rajawali yang bersayap kokoh dan kuat
Melewati samudera dan pulau-pulau.
Sebuah ejekan, kan, pasti?
Seperti kubilang; aku hanya burung gereja kecil,
Yang tentu bersayap kecil.
Aku tak sanggup mengitari dunia ciptaan KHALIK.
Aku hanya mampu mengitari
Bangunan kokoh, yang selalu
memperdengarkan kidung-kidung sorgawi,
Bangunan kokoh yang selalu memampang
garis vertikal dan horisontal sebagai simbol kemenangan.
Aku hanya mampu menjadi daya tarik orang-orang itu.
Orang-orang yang sedang menyanyikan pujian KHALIK,
Orang-orang yang sedang duduk diam,
mendengarkan Imam KHALIK berkotbah,
atau hanya menarik perhatian anak kecil yang ada dalam
pangkuan ibunya yang sedang berbakti.
Aku menyayangi bangunan kokoh itu.
Karena disitulah aku bisa berteduh,
Aku tenteram dalam sayup-sayup pujian megah bagi KHALIK.
Aku menjadi pusat perhatian anak-anak manusia,
yang mungkin aku lebih besar dari lalat atau serangga (bagi mereka)
“Burung gereja kecil, burung gereja kecil”
OUGH! Aku benci kalimat itu.
Seperti nada mengejek atau merendahkan,
Seperti terjemahan lolongan serigala
yang selalu memperdengarkan suaranya di malam hari..
aku tak tahu apa aku bosan menjadi burung gereja kecil,
yang RAPUH dan sama sekali tak menarik perhatian,
yang hanya ‘jago kandang’
yang hnya memakai topeng keria-riaan belaka…
aku ingin bisa terbang bebas seperti rajawali,
tanpa beban pikiran atau keresahan
aku memang kecil,
tetapi beban pikiranku besar.
Aku penat dan aku lelah.
Tetapi satu saat, Sang KHALIK
Menyapaku dan mengajak-ku untuk :
“Bersyukur…”
Ketika lolongan serigala itu datang,
Aku menjadi takut.
Aku sebenarnya tidak suka dengan suara-suara itu!
Tapi ia selalu datang dalam kesahku
dan mengintip di rasa bahagiaku
KETIDAKPASTIAN.
Ini yang jadi ketakutanku juga.
Sebuah perasaan yang menjadikanku lemah pun RAPUH.
Aku sudah lelah menjadi anak burung gereja
Yang kecil dan selalu tidak dewasa, tampaknya.
Meski aku bahagia dengan keria-ria-anku yang jadi
penyemangat berkobar..
YA! Keria-riaan yang selalu jadi topeng dalam
setiap aralku melintang.
Aku burung gereja yang pemurung, lemah,
tidak berdaya dan selalu RAPUH.
Tetapi aku tidak ingin burung-burung lain tahu.
Apalagi SERIGALA!
Mendengar lolongannya pun aku sudah TAKUT.
Aku hanya bisa menghempas sayapku,
Pasti kau bertanya; Rajawalikah aku?
Rajawali yang bersayap kokoh dan kuat
Melewati samudera dan pulau-pulau.
Sebuah ejekan, kan, pasti?
Seperti kubilang; aku hanya burung gereja kecil,
Yang tentu bersayap kecil.
Aku tak sanggup mengitari dunia ciptaan KHALIK.
Aku hanya mampu mengitari
Bangunan kokoh, yang selalu
memperdengarkan kidung-kidung sorgawi,
Bangunan kokoh yang selalu memampang
garis vertikal dan horisontal sebagai simbol kemenangan.
Aku hanya mampu menjadi daya tarik orang-orang itu.
Orang-orang yang sedang menyanyikan pujian KHALIK,
Orang-orang yang sedang duduk diam,
mendengarkan Imam KHALIK berkotbah,
atau hanya menarik perhatian anak kecil yang ada dalam
pangkuan ibunya yang sedang berbakti.
Aku menyayangi bangunan kokoh itu.
Karena disitulah aku bisa berteduh,
Aku tenteram dalam sayup-sayup pujian megah bagi KHALIK.
Aku menjadi pusat perhatian anak-anak manusia,
yang mungkin aku lebih besar dari lalat atau serangga (bagi mereka)
“Burung gereja kecil, burung gereja kecil”
OUGH! Aku benci kalimat itu.
Seperti nada mengejek atau merendahkan,
Seperti terjemahan lolongan serigala
yang selalu memperdengarkan suaranya di malam hari..
aku tak tahu apa aku bosan menjadi burung gereja kecil,
yang RAPUH dan sama sekali tak menarik perhatian,
yang hanya ‘jago kandang’
yang hnya memakai topeng keria-riaan belaka…
aku ingin bisa terbang bebas seperti rajawali,
tanpa beban pikiran atau keresahan
aku memang kecil,
tetapi beban pikiranku besar.
Aku penat dan aku lelah.
Tetapi satu saat, Sang KHALIK
Menyapaku dan mengajak-ku untuk :
“Bersyukur…”
Subscribe to:
Posts (Atom)