Saturday, April 02, 2005

“Teman Sinyo-ku”

Hujan yang turun hari ini benar-benar deras. Ini membuat badan Ala’ basah kuyup. Meski ia dan kedua temannya mencoba menutupi kepala, namun tetap saja ujung rambut sampai kaki mereka tak ada yang kering sedikitpun.
“Sial! Kenapa tadi kita gak bawa payung? Kamu sih, Ka. Aku kan wis ngomong. Ala juga gitu. Kalau begini kita semua jadi basah, kan? Terus kalau besok sakit enggak bisa ke sekolah...”
Joko, pemuda bertubuh besar, berkulit legam itu memang gemar mengomel. Baik atau buruk keadaannya, pasti dia berkomentar. Menanggapi temannya ini, Ala’ hanya diam, mungkin bagi Ala, sudah terlalu sering mendengar gerutu-gerutunya.
Namun tidak untuk Kaka. Meski ia tahu sikap kawannya itu, ia pun bales berkomen. Akibatnya pertentanganpun terjadi. Baru kali ini Ala mengeluarkan suara untuk menenangkan adu mulut dua orang itu.
“Sudah! Sudah! Kita nyebrang apa enggak, sih. Ayo! Nanti jalannya makin rame!”
Akhirnya adu mulut itu dapat ditenangkan Ala’ dengan mengalihkan perhatian mereka untuk segera melintasi jalan itu. Masih dengan badan yang basah, Joko, Kaka dan Ala’ melintasi sepanjang jalan yang penuh dengan kendaraan sementara hujan juga masih belum kunjung reda. Ketiga pemuda itu dengan hati-hati berjalan, mengingat genangan-genangan air yang sampai mata kaki itu membuat keadaan jalan tidak terlihat.
Ciiittt!! BRAK!
Astaga! Hampir saja Kaka tertabrak sebuah mobil yang tiba-tiba melintas di depan mereka. Untungnya ia hanya terserempet saja.
“Kurang ajar! Apa tidak punya mata orang itu!!” umpatan seketika keluar dari mulut Joko. “Dasar singkek!”
Kata-kata itu membuat Ala’ memalingkan pandangan tajam pada Joko. Mata Ala’ terlihat serius. “Jok! Sudah berapa kali aku bilang. Jangan sembarangan bicara.”
“Ala’! Mereka itu emang sering kurang ajar...”
“Sudah Joko. Aku gak suka kamu begitu. Mereka juga kan bangsa kita”
“Buat apa sih kamu marah? Toh, kamu kan orang pribumi. Orang Jawa.”
Pembicaraan mereka terhenti. Mobil yang menyerempet Joko tadi kembali mundur. Perlahan pengemudi itu turun dengan payung kuning yang dipegang di tangan kanannya. Ternyata ia seusia dengan mereka. Tingginya kira-kira 162 senti. Ia berkulit kuning, matanya sipit, tidak lebar. Pemuda itu memang seorang warga keturunan, seperti dugaan Joko.
Melihat sinyo itu, Joko terlihat bertambah garang, “Hei Nyo! Kamu bisa nyetir gak sih? Hati-hati dong. Kamu jangan berani macem-macem sama kami, ya.”
Sinyo itu mulanya sedikit gemetar dengan kata-kata kasar Joko. “Saya minta sori, ya. Aku tadi gak liak kalian.”
Namun lagi-lagi Ala’ bisa jadi penengah yang baik, “Sudah. Kami enggak apa-apa, kok. Siapa namamu, Nyo?”
Ia mengulurkan tangannya pada Ala’ “Kenalkan, nama gua Fani. Fani Chen Wei. Panggil aja, Wewe. Sekali lagi, aku minta sori.”
“Iya, We. Aku juga. Sebenernya kami juga salah. Udah We, ya. Kami buru-buru pulang nih...” Ala’ meraih kedua kawannya itu untuk segera menjauh dari Wewe. Ia tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Apa kalian gak butuh tumpangan? Ndek mana seh, rumahe? Tak anterno, ya”
Dari kejauhan, Ala’ menolak tawaran sinyo itu dengan ramah, “Tidak, We. Trim!” dan bayangan ketiga orang itu tak nampak lagi setelah mereka berbelok ke tikungan di seberang jalan.”
Sembari masuk ke dalam mobilnya, Wewe bergumam, “Untung, ada anak itu... Kalo gak, mati gua digampar temennya...” dan seketika melesatlah mobil dengan cat biru tua itu ke arah berlawanan.
* * *
Meski kini sekujur tubuh yang basah tadi telah kering, namun Ala’ masih memikirkan kejadian tadi. Ia tak habis pikir, mengapa orang-orang selalu memojokkan warga-warga keturunan. Memang terkadang sikap mereka ada yang tidak bisa diterima oleh warga pribumi. Tapi toh, itu kan tidak semua. Sama seperti bangsanya, ada yang suka judi, ada yang ngomongnya kasar, yang baik juga ada, itu kan kepribadian orang. Mengapa mesti dikaitkan dengan etnis mereka. Yang jelas, yang ada di benak Ala’ ia tidak mau begitu. Baginya semua manusia sama. Masalah etnis itu gak perlu diperpanjang. Setidaknya itu yang selalu diajarkan kedua orangtuanya sejak kecil.
“Lei!” suara bunda membuyarkan lamunan Ala’
“Ada apa, bunda?”
“Lei, ayo makan dulu.”
Ala’ kemudian berjalan ke balai-balai rumahnya. Ruangan yang sangat disenangi ayahandanya. Di situ juga, Ala’ belajar tentang kehidupan dari ayahnya.
“Ayah masih belum menyelesaikan lukisan itu?”
“Belum, Lei. Lukisan ini spesial. Ayah perlu ‘jiwa’ agar lukisan ini bisa nampak bernyawa.”
Ala’ memperhatikan lukisan ayahnya itu. Seekor burung Garuda yang besar dan gagah. Matanya tajam memandang. Namuan Ala’ masih melihat keramahan dari sorot mata itu. Sementara bulu-bulunya putih bersih, dengan cakar yang seolah sedang mencengkeram sesuatu. Tampaknya ayahanda belum menyelesaikan bagian bulu-bulunya. Entah ‘nyawa’ apa yang dimaksud ayahanda.
Ayah Ala’ bukan sepenuhnya seorang pelukis. Itu hanya sekedar hobi saja. Pekerjaan pokok pria setengah baya ini adalah seorang insinyur. Ia bekerja di sebuah perusahaan swasta di kotanya itu.
Sesaat Ala’ memandangi wajah ayahanda dengan penuh kagum. Kini, ia berniat untuk bercengkerama dengannya. Ala’ ingin mendapatkan sedikit wejangan dari ayahnya perihal sesuatu yang tidak ia mengerti sedari tadi ; tentang perbedaan yang tak bisa diterima oleh sebagian orang.
“Ayah, manusia diciptakan berbeda-beda. Ada yang hitam, ada yang cantik, ada yang sipit, ada yang mancung, ada yang gemuk,....” belum seleai Ala’ menyelesaikan kalimatnya ayahanda memotong.
“Lei... Ayah ngerti maksudmu....”
“Lei, perbedaan itu memang indah. Sudah. Tidak perlu dipertentangkan.”
“Ayahanda, tapi mengapa banyak orang masih juga tidak bisa menerima itu?”
“Lei, kamu mesti inget, Kalau orang itu sudah bisa menemukan keindahan dalam dirinya sendiri, ia pasti bisa juga menemukan keindahan dalam diri orang lain.”
Ala’ berbisik lirih, “Perbedaan... Keindahan.”
Ia lalu berjalan menjauh dari balai-balai. Kata-kata ayahanda terus terngiang dalam benaknya, dalam nadinya.
* * *
Panas yang terik menjadikan basah seragam putih yang dikenakan Ala’. Ia usap keningnya dengan sehelai sapu tangan. Hari ini langit memasang wajah garangnya. Panaas sekali ! Ala’ masih terus berjalan dengan satu harapan, segera sampai ke rumahnya. Namuan ketika ia akan melangkahkan kaki menuju arah rumahnya, wajahnya berpaling. Ia mendengar suara ribut di salah satu gang yang sepi. Ia kemudian berlari kecil untuk melongoknya. Ada apa gerangan?
“Ayo Nyo, serahkan duikmu! Kalao gak gelem....” laki-laki itu tampak menyodorkan sebilah pisau pada seorang pemuda berkulit kuning. Sementara yang satunya lagi berdiri dengan wajah mengancam.
“Astaga! Wewe.” Ala’ teringat pemuda Tionghoa yang hampir saja menabrak Joko beberapa waktu lalu. Kini dalam dirinya bertaut, apakah ia mesti menolong Wewe, ataukah... Tidak! Kalau ia sendiri yang melawan dua laki-laki bertubuh besar itu, ia pasti babak belur. Sesaat ia menemukan akal. Ia lalu berjalan agak menjauh. Ia buka telapak tangan di samping mulutnya dan berteriak, “Polisi! Polisi! Cepat lari! Ada polisi!!”
Seketika dua laki-laki itu lari tunggang langgang menjauh dari Wewe. Dalam benak Ala’ ternyata kecil juga nyali mereka. Ia lalu menghampiri Wewe, “Kamu gak apa-apa kan?”
“Aduh, kamsia aku nek gini, Aku wis utang ambek lu lagi...”
“Ada yang hilang, We?”
“Lu sek inget namaku?... Eh, nggak apa-apa. Paling juga duikku. Tapi gak apa-apa sing penting aku selamat, aku udah bersyukur.”
Sejenak Ala’ memandangi pemuda itu. Wajahnya masih tampak ketakutan, seragam sekolahnya tampak kotor dan lusuh. “Kamu,.. Apa yang kamu lakukan di sini?.... Ia lalu pandangi gang kecil itu. “Di jalan yang sepi ini...”
“Aku, aku hanya mau beli jajanan di ujung jalan sana, aku baru pulang sekolah.”
Ala’ memandang Wewe. Ia mengikuti arah matanya. Ia melihat mobil yang sedang di parkir di seberang jalan. Rupanya pemuda ini membawa mobil kalau sekolah. Enak benar? Ia tidak perlu menikmati panas yang hebat setiap siang.
Ia lalu bertanya pada Wewe, “Bukankah, kamu bisa membeli roti-roti mahal di supermarket? Kenapa mesti beli di sini?”
“Aku kan juga ingin merasakan jajan-jajan pasar. Apa aku salah kalau.....”
“Ya. Ya. Aku tahu.”
“Sori. Aku belon tahu nama lu.”
“Cakrawala.”
“Ah, nama yang....”
“Aneh?”
“Tidak. Aku tidak berkata demikian. Namamu apik.”
“Terima kasih. Teman-teman memanggilku Ala’ ”
“Oh, iya, karna kamu udah nolong aku bolak-balik, rasanya aku perlu membalasnya”
“Tidak perlu. Aku tulus melakukannya.”
“Tidak. Tidak. Maaf, jangan tersinggung. Please, biarkan kuungkapkan rasa terima kasihku ini.”
“Rasa terima kasih tidak selalu perlu untuk diwujudkan” Ala’ kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan pemuda Tionghoa itu dengan ramah.
Wewe kemudian mengejarnya dan menatap wajahnya, “Please... Ikutlah denganku sebentar. Bagaimana kalau aku minta tolong sekali lagi. Temani aku makan siang, ya...”
“Bunda sudah menyiapkan di rumah.”
“Ala’... Ayolah.”
Sejenak ia menatap wajah melas Sinyo itu. Matanya yang sudah sipit itu makin menciut. Ia lalu tertawa terbahak-bahak. Tentu saja ini membuat Wewe keheranan.
“Lho, kok tertawa?”
“Lucu”
“Apa?”
“Mata kamu kalau begitu makin sipit. Ha...ha..”
“Tapi kamu mau kan?”
“Baiklah teman sinyo-ku... Ha...ha...”
“Teman? Jadi kamu udah nganggep aku temen?”
“Ya. Ya. Ya. ....ha.. ha...”
Tampaknya kini di antara mereka mulai terjalin satu relasi. Kejadian-kejadian yang tidak di duga bisa jadi pemicu hubungan itu.
“Kamu beruntung. Setiap hari tidak perlu kepanasan”
“Apa? Justru kamu yang beruntung. Kamu bisa sehat alami dengan menikmati panas matahari”
“Manusia itu selalu pengen hal-hal yang tidak dimilikinya.” Mereka berdua lalu terbahak-bahak lagi.
“Ala, kamu boleh memilih tempat di mana kita makan.”
“Aku ditraktir, nih..”
“Wah. Wah. Aku kan wis bilang, to ?”
“Terserah kamu, deh. Kan kamu yang ngajak.”
* * *
Mereka berdua sampai di sebuah Plaza yang terbesar di kota itu. Saat hendak naik eskalator, Ala mendengar satu keributan kecil di sebuah toko sebelahnya. Langkahnya terhenti sejenak untuk sekedar memperhatikan.
“Lu itu jadi orang goblok banget. Masa lu kagak ngerti-negrti terus. Sudah tak bilangin! Kalo gini gua kan jadi rugi lagi! Memangnya semua orang pribumi goblok-goblok apa, heh?!!”
Ala’ melihat seorang Majikan yang sedang memaki pelayannya. Pembicaraan itu jadi menarik Ala’ lantaran majikan itu seorang Tionghoa, sedang pelayannya seorang pribumi. Dalam hati kecilnya bergaung, ternyata tidak hanya bangsanya saja yang suka mengejek para warga keturunan. Mereka-pun juga sering melakukannya. Aduh, kalau begini terus, bagaimana bisa menemukan keindahan diri sendiri dalam diri orang lain, seperti kata ayahanda. Begitu pikir Ala’.
Tidak ia sangka, Wewe memperhatikannya. Ia peka dengan kejadian itu. Ia kini jadi sedikit tidak enak pada Ala’ karena ia seorang Jawa.
“Maaf, La’ ”
“Untuk apa?”
“Terkadang kami orang-orang Cina suka keterlaluan dengan bangsamu. Kami tidak sadar, kalau kami ini orang asing yang mengaduh nasib di sini. Tetapi terkadang kami sering semena-mena pada bangsamu.”
“Tidak perlu kamu begitu. Kalian kan sudah sejak kecil, bahkan sejak lahir tinggal di Indonesia. Aku menganggap kalian sudah seperti bangsaku. Aku juga sadar, sering juga orang-orang pribumi mengejek dan menyudutkan kalian dalam beberapa hal.”
“Memang masalah etnis itu adalah satu problema yang kompleks.”
“Itu tidak akan terjadi, kalau seseorang sudah menemukan keindahan dalam dirinya lalu menemukan keindahan itu dalam diri orang lain..”
“Filosofis sekali”
“Ayahanda yang mengajarkan itu kepadaku.”
“Ayahmu seorang budayawan?”
“Sebenarnya ayahanda seorang Insinyur. Tapi ia seorang yang bijak, karna ia seorang seniman juga.”
“Wah hebat.”
“Terima kasih.”
“Untuk apa terima kasih, La’?”
“Setiap pujian itu sebenarnya bukan untuk diri kita. Karena itu untuk Tuhan. Kita tidak punya apa-apa untuk dibanggakan, meski kita juga punya keajaiban dalam diri, tapi itu semua dari Tuhan...”
“Wah, belum sehari jadi temanmu, sudah belajar banyak. Tampaknya kita mesti bersahabat, Ala’ ”
“Aku senang menerima persahabatan ini.”
* * *
Kini dua orang itu sudah berhadapan di salah satu meja di sebuah kafe yang mewah. Ala’ melihat sekeliling Kafe itu. Meja-mejanya bergaya Eropa. Semua pelayan ber-jas. Tampaknya pengunjung kafe ini para eksekutif menengah ke atas.
“Kamu sengaja mengajak aku ke tempat mewah ini?”
Wewe yang sedari tadi sangat menikmati makan siangnya itu seketika kaget mendengar ucapan kawan barunya. “Ah, maaf, apa kamu tidak nyaman di sini ? Tapi, kita bisa pindah kok...”
“Ah, tidak. Tidak. Tidak perlu. Aku hanya... “ Ala’ tidak jadi melanjutkan kalimatnya itu. Entah. Dia sendiri juga tidak tahu akan berkata apa. Untung ia menemukan bahan obrolan sehingga diantara mereka tidak tercipta satu jarak yang jauh.
“Wewe, kamu sekolah di mana?”
“Aku, di San Chou Peter.”
“Itu sekolah mahal untuk para Tionghoa.”
“Sudah. Jangan menghina..”
“Aku tidak menghina. Aku kagum.”
“Tapi kebanyakan, siswa-siswa pribumi agak risih mendengar nama sekolahku. Karena seluruh siswanya keturunan Cina. Tapi kamu beda, Ala’ ”
“Wewe, bagaimana kalo kita membangun jembatan yang indah, dengan beton-beton kuat sebagai penghubung diantara kita.”
“Ha...Ha... Mentang-mentang anak Insinyur, ngomongnya gitu.”
“Maksudku, kita bangun jembatan itu untuk menghilangkan status etnis kita. Kalau kamu mau jadi temanku, mesti hapuskan, aku Jawa, kamu Cina. Tapi,.. Bukannya aku tak bangga lho, jadi seorang Jawa.”
“Ya. Ya. Aku tahu. Itu akan lebih indah. Menemukan keindahan diri dalam orang lain. Tampaknya, aku sudah menemukannya dalam dirimu.”
“Ha..ha.. aku juga, teman sinyo-ku!”
* * *
Sungguh menakjubkan. Obrolannya dengan Wewe hari ini benar-benar satu hal yang baru. Sepertinya ia mendapat banyak hal baru. Ia dan Wewe bisa bebas bercerita apa saja perihal perbedaan etnis mereka. Terbuka satu sama lain. Tanpa sadar ia sudah ada di depan rumahnya.
Ala membuka pintu pagarnya. Ia melihat Bunda sudah ada di teras, beliau sedang menyulam. Kemudian Bunda bertutur lembut padanya, “Darimana Cakrawala?”
Ala’ kamudian meceritakan panjang lebar apa saja yang ia alami hari ini bersama Wewe. Ia merasa ada satu getaran yang luar biasa di antara mereka berdua. Satu hubungan komunikasi yang terjalin sangat berbeda dari hubungan pertemannnya dengan kawan yang lain.
Kini Ala’ semakin yakin dengan kata bijak ayahanda, menemukan keindahan dalam diri itu sangat penting, karena dengan begitu, keindahan dalam orang lain pun dapat dirasakan. (*)

“Tidak terjadi LAGI, kan?”

Sisi kekhawatiran membelah buritan hati Yatman. Tidak pernah ia merasa was-was seperti ini sejak setahun terakhir. Rasanya ada sesuatu yang akan terjadi. Yatman berpasrah saja kepada sang Ilahi. Meski begitu, ia tetap merasakan getaran-getaran yang hanya dimengerti olehnya saja. Sudah ia berbagi dengan nadim-nadim[1]nya, namun tetap saja hanya Yatman yang merasakan itu.
Doakan aku ya, karena aku punya perasaan tidak enak terus dari kemarin.
* * *

Rasa lelah menggelantungi Yatman. Semua itu terasa saat ia baru meletakkan ransel di gerbang kampus. Berkemah 3 hari di pegunungan menyisakan kepenatan, selain rasa enjoy tentunya.
Teman-teman, aku pulang ya?
Segera Yatman meluncur bersama Taxi yang sedari tadi ia nanti. Sebenarnya kepulangan Yatman kali ini masih dihiasi risau, namun ia sudah mulai biasa. Alunan nada dalam balutan lagu melo yang diputar pak sopir sedikit membuainya.
Nada dering telepon selularnya tiba-tiba berbunyi. Itu memecah kenikmatan yang baru saja dirasakaan.
Kenapa?
Sista, kawan karib Yatman meminta untuk menemuinya.
Penting sekali! Ada masalah besar. Kutunggu di kafe ‘Daisy’ ya…
Tanpa pikir panjang, Yatman meminta sopir untuk segera ke sana. Sementara jauh di lubuk hatinya tersimpan tanda tanya besar. ???
Yatman disambut alunan Jazzy yang sedang mengiring kafe. Para muda bercengkerama, saling menatap. Keakraban terasa dalam hadir. Namun Yatman masih terus mencari sepasang mata indah milik Sista. Ia sudah membayangkan pasti bola mata itu sedang basah dan Sista terduduk lemas di satu kursi.
Hai, Yatman? Liburanmu menyenangkan?
Sista memakai kemeja pendek dipadu rok berwarna. Jauh dari kesan sedih.
Ikut aku ke gereja. Woody sudah di sana bersama kawannya. Ia ingin memperkenalkan padamu.
Woody, lelaki muda seusia dengannya. Kawan karib Yatman dan Sista ini memang tidak nampak sedari tadi. Tidak seperti biasa, mereka selalu bertiga jika bertemu di kafe ‘Daisy’.
Sista meraih tangan Yatman yang masih kebingungan. Mereka segera membelah kerumunan orang-orang muda itu. Berdua menyisir kafe dan kini mereka berlarian di hamparan padang kecil di belakangnya.
Tepat, kini dua orang itu sudah beradu pandang dengan sebuah gereja yang masih kokoh berdiri. Cahaya salib itu benderang sampai ke bola mata Yatman. Keduanya lalu masuk gereja.
Di tengah bangku-bangku jemaat yang telah kosong itu, Woody keluar dan menyapa Yatman.
Yatman, kenalkan temanku...
Kini Sista dan Woody tersenyum menyambut keluarnya seorang perempuan anggun. Yatman memandangi dari ujung kaki sampai ia tersentak ketika mulai memandang wajah putih bersinar itu.
Hai, Yatman...
Ransel dan jaketnya terjatuh di lantai gereja. Mata Yatman terbelalak dan mulutnya hanya menganga.
Woody dan Sista tertawa kecil.
Monix? Kamu kok, di Indonesia ?
Hai Yatman? Apa kabar?
Kini suasana mulai mencair. Yatman, Monix, Woody dan Sista bercanda dan bercengkerama. Keempatnya adalah karib mulai kecil. Namun Monix harus berpisah dengan ketiganya karena ikut orang tua ke Inggris.
Wah, kamu tambah ayu, Monix...
Tapi bukan karena Inggris, kan?
Kenangan indah sejak lulus SMU –awal kepergian Monik– terkuak kembali. Sebuah memori indah dan pahit menghiasi malam ini. Keempatnya terlentang di padang kecil dengan menatap taburan bintang.
Itu bintang kesukaan Monix, Sista...
Salah, Monix! Itu bintang Woody.
Monix. Jangan salah terus, dong. Tapi bintang Yatman mana, ya? Kok tidak muncul?
HA..ha... Lagi tidur, mungkin.... ha..ha....ha..ha...
Tidak ada hal yang paling menyenangkan buat para nadim1 ini selain saling memiliki bintang. Buat keempatnya, bintang merupakan simbol pribadi yang akan selalu memancar dimanapun dan kapanpun. Semua itu tervalut dalam sukacita. Namun entah mengapa, perasaan Yatman masih terus risau. Seperti sebuah pertanda. Aneh?!

* * *
Ayo, Yatman! Nanti keburu matahari tinggi.
Woody menarik lengan Yatman dan segera mereka beranjak menyusuri jalan menuju pemakaman umum di kota itu. Sekali lagi, jantung Yatman terus berdegup kencang dan entah kenapa. Makanya ia memilih diam.
Mereka pasti senang melihat aku kembali ke Indonesia...
Monix tersenyum dengan mawar-mawar putih di genggamannya,
Huh! GR kamu..!!!
Woody meledek.
Sudah. Sudah. Kita di pemakaman! Kok, malah bercanda?!
Sista bijak mengingatkan.
Kini keempatnya sudah ada di hadapan nisan Ani, Jay dan Rahmat. Bagian dari para Nadim. Mereka meninggal saat tragedi Bom Bali.
Pagi, para Nadim... Monix pulang...
Sudah tidak ada tawa lagi dalam ekspresi Woody, Yatman, Monix apalagi Sista. Bahkan bola-bola mata mereka terlihat basah. Tak lama meneteslah kristal-kristal yang disebut orang sebagai ungkapan kesedihan.
Monix memeluk Sista. Yatman malah tersungkur dan hampir meraih ketiga tempat peristirahatan terakhir para karibnya.
Andai saja aku tidak ngotot kita berlibur di Bali waktu itu....
Yatman meratap dengan sesal.
Sudah. Percuma untuk disesali..... Mereka sudah bahagia di sana.
Woody menepuk-nepuk bahu Yatman.
Seperti sama-sama sedang melihat tayangan film, begitu pula dengan memori keempaatnya. Bertujuh, mereka dulu bersama. Berlarian di padang, memutari gereja dan tentu saling memilih bintang. Serentak memori itu mengembang di layang fikir Woody, Yatman, Monix dan Sista. Serentak pula kembali kristal tangis itu menetes. Sampai beberapa saat.
Tak ada kata. Hanya tatapan sayu pada ketiga nisan. Semua berhias isak tangis.
Dalam hitungan menit.
..............
Sudah. Sudah. Biarkan kita relakan mereka.
Suara Woody berani memecah.
Tapi tidak, jika sebuah bom yang membuat kita kehilangan mereka.
Ani, Jay dan Rahmat juga kehilangan masa depan yang seharusnya mereka punyai. Hanya sekejap saja itu hilang!! Hanya karena orang-orang taak bertanggung jawab...
Monix protes.
Sudahlah, Monix. Semua sudah berlalu. Tuhan akan memberi yang terbaik untuk kita semua. Tidak mungkin Allah memberi batu kepada anak-Nya yang meminta roti, kan? Percayalah, DIA memberi kita yang terbaik.
Sista memeluk kembali Monix dan dalam pelukan itu Monix menyelesaikan tangisnya. Seikat mawar putih yang masing-masing mereka letakkan di nisan para karib menutup perjumpaan tak nyata. Kedukaan mereka kubur dalam-dalam. Tetapi tidak bagi kenangan indah dalam persahabatan yang mendalam.
* * *
Aku besok kembali ke Inggris. Jangan lupa e-mail!! Aku pasti selalu merindukan Indonesia.
Maksudmu merindukan kami, kan? Ha..ha.... ha..ha...
Woody mencoba mencairkan keadaan.
Oya, 2 minggu lagi aku berangkat ke Jakarta, lo. Aku diterima magang[2] di sana.
Selamat, Yatman. Apapun yang terjadi, kita tetap menjaga persahabatn ini kan?
* * *
Kelabu melingkupi hati nan gelisah. Kabut membawa kedukaan dalam bencana besar. Perasaan itu yang mengiring woody membuka e-mail dari Monix.
Date : 10 sept.2004
From : monix@frenzip.com
To : woody@freenzip.com
Subject : NIGHTMARE!!! What’s up?

Woody, aku denger di Indonesia ada bom. Bener di Jakarta, ya? Yatman magang di sana, kan?
Tapi jauh dari Kedubes Aussie, kan? Dia enggak apa-apa? SEGERA KABARI, thx.


Date : 10 sept.2004
From : woody@freenzip.com
To : monix@frenzip.com
Subject : .......................

Kebetulan Yatman berada di daerah Kuningan waktu kejadian.
Kini kita tinggal bertiga. Yatman telah pergi.... :’ (








* * *





[1] Nadim : Karib, kawan akrab
[2] magang : kuliaah praaktek

resah di peraduan

Bola matanya belum terpejam. Degup-degup semakin kencang. Itu musik yang mengiring hati dan jiwanya sekarang. Tangannya memeluk erat benda empuk yang seharusnya ia gunakan untuk meletakkan kepalanya.
Mendung terpejam.
“Aaaarrrrrrrgggggghhhhhh................. !!!!!!!!!!!!”
Ia berteriak-teriak....
Hanya di dalam hatinya.
Desahan saja. Desahan saja yang keluar dan didengar oleh dinding-dinding ruangan itu. Terus, dan terus.... Terus.... dan hanya berhenti saat serigala malam melolong.
* * *

Siang itu Mendung tertawa kecil. Mengekeh. Lalu ia akhiri dengan senyuman. Seperti kebahagiaan cinta. Seseorang yang ia sebut dengan ‘maha Jelita’. Puteri dari khayangan. Semerbak dari ujung mahkotanya mengalir hingga telapaknya.
“Maha jelita,... nafasmu adalah nafasku....”
Sebuah permohonan yang mengikat. Keterlaluan. Namun itu yang diiinginkan Mendung. Tidak ada yang bisa menghalangi dirinya. Tidak bumi maupun mentari. Seakan diri Mendung sendiri yang mengiyakan permohonan yang terlampau possesif. Sang maha jelita ingin dimilikinya sepanjang masa.
Terus dan terus. Itulah permohonan yang mungkin terlampau abadi dalam diri Mendung untuk mencintai maha jelita.
“Tidak untukmu, Mendung. Bukan untukku engkau...” ucapan maha jelita membuat Mendung hancur tetapi tidak untuk kata gentar.
Maha jelita menjauhi Mendung.
Ingatan yang tak terlupa. Untuk pertama.
* * *

Malam yang dingin ini hanya serigala yang memperdengarkan suaranya. Tetapi mereka ternyata juga mendengar seret langkah Mendung.
Sret. Sret. Sret. Dan suara bisik dari empat roda kayu juga....
Ia membawa mawar-mawar putih. Tidak hanya setangkai. Tidak hanya sekuntum. Ia tarik dengan geledek kayu. Banyak. Lebih dari seratus kuntum.
“Maha jelita....... ! Maha jelita.......!”
Mendung berteriak di bawah jendela kamarnya.
“Biar bangsa mawar putih ini menghiasi mimpimu. Biar mereka menyenangkan mata indahmu yang senantiasa bersinar itu..........”
Maha jelita keluar dan melongok ke bawah.
Merekahlah wajah Mendung. Seakan tidak akan ada hujan lagi.
“Harum benar yang kau bawa. Seperti taman langit. Akankah kau persembahkan itu?”
Maha jelita langsung melesat setelah melihat anggukan Mendung.
Taman langit itu langsung ia lompati dan ia di atas geledek kayu. Mawar-mawar putih sungguh membuat luluh. Mendung langsung menarik Maha jelita. Ia akan bawa terbang setinggi yang ia bisa.
Sekarang keduanya telah berhadapan langsung. Mendung menatap sinar kegembiraan maha jelita. Bola-bola mata mereka beradu dalam sebuah pertemuan. Cinta di mata Mendung, keraguan mendalam di mata Jelita.
Di malam yang telah dirangkai indah oleh Mendung itu, maha jelita bertamu. Di samping ribuan lilin yang ia nyalakan. Semua untuk maha jelita. Sang ratu abadi dalam hati Mendung.
“Ribuan mawar indah ini hanya untukmu, sayang...”
Maha jelita makin sumringah melihat sekelilingnya yang penuh dengan tanaman langit buatnya. Ia menari dan bernyanyi. Berputar diantara hangatnya api kecil lilin-lilin itu.
“Cintailah aku, seperti engkau mencintai mawar-mawar itu....”
Maha jelita langsung menghentikan tariannya. Ia hanya terdiam. Diam. Diam dan membisu.
“Maha jelita,... nafasmu adalah nafasku....”
Mendung membisikkan itu di telinganya.
Keduanya lalu diam.
Hanya suara api kecil. Hanya suara jengkerik dan suara lolongan serigala.
Purnama saksi semua ini.
Ingatan kedua.
* * *

Kesendirian dalam kegelapan membuat Mendung terpukul. Senandung badani pun tak terlantun. Mawar-mawar putih hanya tinggal separuh nafas harumnya. Mereka tidak sejuta lagi kuntumnya.
Mendung tergolek. Jiwanya terdiam, ketakutan terus menyelimuti.
Apa yang sebenarnya membuat ini? Bagaimana keranda itu harus terusung?
Maha Jelita yang beribu hati begitu ia harapkan, tak lagi nampak.
Kalau begini, lebih baik ia rela saja sang Maha jelita kawin dengan pangeran negeri dongeng. Bapak dari segala anak dan kurcaci yang pekerjaanya menari dan bernyanyi. Pangeran yang tidak buruk rupa tapi begitu rupawan. Bahkan Mendung sebut, ia cantik. Meski seorang pangeran, bukan puteri.
Tampaknya sang ayah Maha jelita menyukai pangeran cantik ini karena ia terus menari dan bernyanyi. Menghibur ribuan anak dan kurcaci di negeri ini. Tanpa menyadari beragam momentum dan fakta kesengsaraan yang ada. Ayah Maha jelita hanya senang dihibur tanpa selesai sejuta konflik. Penyelesaian hanya ibarat mimpi dan semua mimpi hanya bernyanyi dan menari.
Sesaat Mendung mengerang marah. Meski hanya di hatinya.
Penolakan ayah sang Maha jelita menciptakan ribuan kesal, gundah dan murka. Bukan ia tak mau disaingi pangeran negeri dongeng, hanya saja sebaga seorang raja, ia terlampau jauh dari kesan bijak. Ia berpikir kalau rakyat akan terus berpesta dan menari tanpa rindu sebuah kehidupan sebenarnya.
Namun itu semua telah terjadi.
Seluruh negeri menyambut sukacita pesta kawin itu. Semua ikut menari dan bernyanyi. Tua, muda, tinggi, pendek, anak, orang tua, semua kerdil dan kurcaci. Hanya Mendung yang tersudut sendiri di lorong kota. Ia tak bisa menangis, apalagi tertawa. Ia bermuram durja dan murka terus menyulut. Bukan ia sayang telah mengusahakan ribuan mawar putih dan lilin itu. Tetapi ia begitu dalam mencinta dan memiliki sang maha Jelita dalam hatinya. Mendung tak ingin pula Meha jelita hidup dalam mimpinya, terus menari dan bernyanyi.
Sampai pesta kawin itu berhenti karena Mendung berteriak lantang. Semua menutup mulut, semua merinding bergidik. Mendung memaksa turun Pangeran cantik dari kuda putihnya beradu dengan dia.
Maha Jelita menangis.
Tetapi Mendung dan Pangeran dongeng itu tetap beradu dengan pedang dan panah yang terus melesat ke semua sudut . keluarga-keluarga negeri itu pulang bersembunyi di rumah mereka.
Suasana terus memanas dan api bersemburan kemana-mana. Semua itu karena cinta Mendung yamg dalam kepada Maha jelita. Ia tak rela wanita abadinya jatuh ke pelukan siapapun. Hingga panah dan peraduan pedang memang harus terjadi.
Ingatan inilah yang tak terlupa : maha jelita terpanah olehnya sendiri, karena pangeran dongeng itu menghindarinya.
Maha jelita mengerang..... Mendung mencabut dan memeluk. Tentu saja pelukan dan cinta sekalipun tidak membuat Maha jelita mendapatkan kehidupannya. Pangeran dongeng pun tidak. Karena ia telah melesat jauh....
Ingatan ketiga.
* * *

Bola matanya belum terpejam, dan takkan pernah terpejam. Musik penyesalan dan ketakutan saja yang mengiring hati dan jiwanya. Tangannya kini memgang anak panah yang telah melukai maha jelita.
“Aaaarrrrrrrgggggghhhhhh................. !!!!!!!!!!!!”
Ia berteriak-teriak....
Tidak hanya dalam hatinya.
Ia menusuk dan membunuh jiwanya.
Satu desahan, “Maha jelita,... nafasmu adalah nafasku....”

Cinta yang terlalu buta. Tulus, tetapi tanpa pemikiran. Dalam, tetapi picik.
Resah di peraduan menjadi darah dan kematian. Karena murka, dendam dan penyesalan itu menjadikan cinta tidak abadi. (*)

namanya:pesona cantika

Suara jengkerik mengiringku menghabiskan malam. Degup-degup jantung tidak pernah berhenti menghiasi tabir hatiku. Oh! Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan diriku?! Sama sekali tidak aku duga! Jika sebuah rasa aneh masuk dalam mahligai kepekaan dalam diriku. Aku ingin berlari, aku ingin menghempas sepi. Aku ingin berbaring, bahkan ku ingin terbang tinggiiiii…. dan jauh.
Perasaan ini terus membakar sisi kalbu. Sementara binar-binar matanya terus bersinar meneruskan keceriaan yang terpancar dari wajahnya. Senyum yang kurasa hangat menjadikan aku selalu mengingatnya. Ya! Bayangan tentang dirinya terus bersinar dan berkelebat di mataku.
Aku tidak bisa melupakan dirinya.
Benarkah kalau aku mencintainya?
Memang aku tidak lama mengenalnya namun mengapa bayangannya itu tidak bisa aku lepaskan? Aku benar-benar memimpikan dan memikirkannya di saat pertama aku memulai hari.
Namanya Pesona. Pesona Cantika. Aku menyebutnya demikian. Aku tidak benar-benar mengenalnya. Meski begitu rasa penasaran terus mencuri perhatian. Bilakah aku dapat mengenal Pesona lebih dekat?
Ingin aku memberinya luang waktu dan rasa untuk masuk dalam mahligaiku. Kuberi bunga merah untuk aku persembahkan di hadapannya. Biarlah ia nikmati keharuman bunga yang memang terpancar dari kecintaanku. Kuukirkan nama Pesona Cantika dalam jantung dan semua nadiku. Semua karena kesejatian dan kedalaman cintaku kepada wanita pujaan.
Pesona Cantika. Ia benar-benar melelehkan ujung-ujung keperkasaanku. Ia menghangatkan sekujur tubuhku yang telah suam-suam kuku. Biarlah kunyalakan semilyar lilin-lilin kecil penuh warna di hadapannya. Itulah tanda romansa kelembutan, sisi lain dari diriku.
Aku benar-benar tak bisa melepaskan pikiranku tentang dirinya. Ia punya sejuta kata untuk mengungkap sukma. Namun tanpa itupun aku telah benar-benar dibuatnya tergolek karena rasa cintaku.
Sekali lagi: Aku belum mengenalnya! Bilakah itu?
Ya. Benarlah jika keinginan itu terus meluap-luap bagai waterfall yang tak pernah menghentikan air segarnya untuk jatuh dari tinggi-tinggi bebatuan untuk menjatuhkan air suci itu ke sungai. Ia deras mengalir. Ia terus mengalir. Supaya makhluk terus memanfaatkan kesegaran air itu sampai masuk ke sukma karena sucinya. Demikian cinta yang terus mengalir dari sukmaku, deras kuungkapkan ke dalam bait-bait puisi yang terungkap dalam kecintaanku yang begitu dalam.
Nyala apiku memang masih kecil. Meski begitu aku terus menjaganya supaya ia tidak redup apalagi padam. Api ini tentu tidak terlalu besar. Tetapi biru-merahnya terus memberi warna dalam kehangataan.
Cintaku pada Pesona Cantika memang terdalam.
Bilakah aku dan dia memadu cinta?
Aku yakin akan tiba waktuku. Kuimpikan, kupikirkan dan kunantikan….

God is mij een helper

Alunan lagu “Mimpi Terindah” oleh Tofu itu bikin hatiku sedikit adem. Ditambah guyuran gerimis yang menambah suasana senja di kotaku. Aku lajukan mobilku ini dengan tenang, namun tentu dengan langkah yang pasti. Sebab aku gak pengen terlambat sampai di Bandara. Hari ini akan menjadi hari terakhirku memandang wajah Nat-Tha, cewek tinggi berkulit kuning langsat, yang membuat hatiku tertambat padanya. Cewek yang selalu menghiasi hari-hariku dengan suaranya yang merdu.
……Dan kauberikan mimpi yang terindah, Di setiap malam agar, aku bahagia……
Tak terasa bibirku ikut melantunkan bait lagu. Layangku mebumbung tinggi menngingat kejadian 18 bulan lalu, saat aku ‘nembak’ Nat-Tha. Entah perasaan apa yang membuat aku memilih dia menjadi kekasihku? Yang jelas rasa cinta dan sayangku padanya yang membuat aku dengan YAKIN mengungkapkan isi hatiku.
“Nat-Tha,… Emang udah lama aku suka ama kamu. Jadi, aku harap kamu bisa memikirkan hal ini. Untuk…. Untuk selanjutnya, apakah kamu mau menerima aku atau tidak…… Tapi satu hal, kali ini aku bener-bener serius…” Aku jadi ketawa sendiri kalo inget saat aku nembak doi di telpon. Aku emang bukan orang yang pandai merangkai kata. Bahkan di mata Nat-Tha aku cowok yang terkesan cuek, dengan gaya cool-ku tapi gak lepas dari sikapku yang friendly. Tapi, itu sih kata Nat-Tha. Aku sendiri gak pernah mengategorikan diriku pada satu karakter tertentu. Yang jelas aku suka tampil apa adanya.
Sesaat aku menghela nafas dan bergumam, Heh ! Masa SMU yang indah…. Kenangku. Memang, baru di bangku SMU aku merasakan hal yang namanya pacaran. Tepatnya saat aku duduk di kelas dua. Kini aku telah kuliah. Waktu memang terlalu cepat mengalir. Rasanya ingin aku putar balik saat aku SMU dulu. Waktu yang indah bersama Nat-Tha. Aku inget. Semasa sekolah dulu, rasanya aku gak pernah ada keinginan buat bolos barang seharipun. Aku berpikir, kalo aku lakukan itu aku bakal kehilangan waktuku bersama Nat-Tha. Sekali lagi. Aku tidak mau kehilangan waktu satu hari saja bersamanya.
Meski saban malem aku selalu nelpon doi, saat semua orang pada terlelap namun aku gak akan pernah merasa bosan bersamanya. Dan tentu saat ini adalah saat terberatku untuk melepas kepergiannya ke Belanda. Aku sudah mengetahui bahwa hal ini akan terjadi semenjak usia pacaran kami yang baru empat bulan waktu lalu. Karna itu aku telah mempersiapkan diri untuk mencoba pacaran ‘long distance’.
Rasanya pengen ketawa kalo aku inget ide bodohnya saat itu. Nat-Tha malah bermaksud akan menjodohkan aku dengan Shasha, saat ia ungkapkan rencana Mamanya untuk mengirimnya kuliah ke Belanda. Shasha adalah cewek yang pernah aku taksir. Namun tentu saja aku bantah mentah-mentah ‘maksud baik’ doi itu karna aku masih sayang sama dia. Enggak mungkin aku berpindah ke lain hati dong ! Resiko apapun mesti kami berdua jalani meski kami jauh, toh itu tidak akan membuat hubungan pacaran kami putus. Aku akan berusaha menjaga hubungan itu. Bahkan aku tolak mentah-mentah ide gilanya bahwa satu hari nanti saat ia akan berangkat, ia minta untuk aku putuskan saja. Alasannya, bahwa dia tidak ingin aku menunggunya terlalu lama. Ibaratnya aku menunggu hal yang tidak pasti. Daripada begitu, lebih baik aku mencari gadis lain saja. Begitu pikirnya.
Tapi tidak untukku. Aku berusaha keras memikirkan solusinya. Karna kabar terakhir darinya, bahwa Nat-Tha akan terus berlanjut hidup di Belanda, menjadi warga negara sana bersama keluarganya. Dan mustahil untuk kembali lagi ke tanah air untuk waktu yang panjang. Dadaku rasanya sesak dan terhentak mendengar kabar itu darinya. Hampir 3 jam lebih aku sendengkan telingaku di gagang telepon untuk mendiskusikan masalah ini dengannya. Sementara ia terus mendorongku bahwa daripada aku menunggu dengan tidak pasti, lebih baik aku meninggalkannya saja. Tapi aku berusaha keras untuk membantahnya. Aku tahu ia mengungkapkan hal itu bukan karna ia sudah tidak lagi sayang tapi justru betapa dalamnya cintanya hingga tidak ingin aku menderita.
Akhirnya setelah diskusi panjang itu, aku menemukan jawab, “Nath, … Meski kamu akan tinggal selamanya di Belanda aku akan tetep sayang kamu dan gak akan putusin kamu. Aku yakin suatu hari nanti kita akan bertemu. Gak tahu aku yang nyusul ke sana, atau kamu yang akan ke Indonesia. Aku yakin, Nath… Kamu percaya kan, sama aku. Aku pengen hubungan kita tetep berlanjut….”
C I I T T ! ! !
Hampir saja ! Saking larutnya aku dalam lamunan hingga tak melihat lampu merah. Untung aku bisa segera berhenti. Kukendorkan sedikit sabuk pengamanku sekedar melepaskan ketegangan yang melandaku. Aku benar-benar tegang. Aku gak tahu harus ngomong apa nanti. Aku juga takut nanti akan terlihat sedih di hadapannya. Oh tidak. Tidak. Aku nggak boleh terlihat sedih di hadapannya. Aku gak pengen buat dia tidak tenang nanti di Belanda.
Sesaat kupalingkan pandangan ke kaca mobilku. Sesosok anak bertubuh kurus menengadahkan tangannya. Lalu kubuka kaca mobilku dan kuberi dia uang ratusan. Kudengar sayup-sayup suara gitar yang ada di seberang.
Aku jadi ingat saat aku melihat Nat-Tha sedang memainkan piano di rumahnya. Ia tampak anggun kala itu. Denting-dentingnya terdengar damai sekali di hatiku. Saat aku bertandang ke rumahnya, ia mainkan satu lagu. Katanya spesial dia buatkan untukku.
Satu hal yang tidak pernah kulupakan saat itu adalah, untuk pertama kalinya ia ajarkan kord-kord piano padaku. Ia berikan contoh bagaimana kunci C, G, D, E dan berbagai kord lain. Sejak saat itu aku jadi tertarik bermain piano. Memang bukan pertama kalinya aku bermain musik. Sebelum itu aku juga telah bisa bermain gitar. Hingga pada suatu saat kami ciptakan lagu bersama. Dia mainkan pianonya dan kupetik gitarku. Suaranya yang merdu melantunkan bait-bait lagu itu tidak pernah pergi dari ingatanku.
Sebenarnya banyak sekali kejadian yang tidak bisa begitu saja aku biarkan berlalu. Masa setahun lebih bukanlah waktu yang pendek untuk bersama kami lewati. Banyak hal sudah kami alami bersama. Termasuk pertengkaran-pertengkaran dari yang kecil sampai besar pun telah bersama dilalui.
Pernah suatu kali aku membuat Nat-Tha jengkel banget. Waktu itu aku baru saja sembuh dari sakit Tifus-ku. Bahkan aku sempet berbaring 3 hari di rumah sakit. Nat-Tha pengen aku bener-bener istirahat total di rumah. Aku masih ingat, kala itu kami sudah duduk di kelas 3. Aku ambil jurusan Sosial, sementara doi dengan kecerdasannya dijuskan ke program IPA.
Selain hobiku bermain musik, aku juga seneng banget bermain sepak bola. Aku gabung dengan satu klub sepak bola terkenal di kotaku. Posisiku sebagai salah satu striker, membuat aku jadi orang yang diandalkan manger kami. Tepatnya empat hari setelah keluar dari rumah sakit, manager-ku telpon kalo Chun Ce, tidak bisa main karna ortunya sakit parah. Jadi terpaksa aku harus menggantikan posisinya kalo tidak mau merusak reputasi klubku lantaran ketidakhadiran striker. Om Tio tidak tahu kalo aku baru saja keluar dari R.S maka manager Klub-ku itu sedikit memaksaku untuk main. Aku juga tidak ingin mengecewekannya apalagi mengecewakan temen-temen klub. Akhirnya hari itu juga aku putuskan untuk ikut pertandingan.
Aku sama sekali gak dapet kesulitan ijin dari Mama Papa, karna kebetulan sekali mereka pergi keluar kota. Di rumah hanya ada aku, adikku dan pegawai-pegawaiku. Langsung saja kuambil seluruh peralatan pertandingan dan dalam sekejap di tanganku sudah siap tas yang berisi perbekalan. Dengan bola di tangan, kucoba raih daun pintu mobilku. Mang Ujang, pria pendek berkulit gelap itu membukakan aku pintu dan langsung aku gas kencang menuju tempat pertandingan. Betapa aku tidak berpikir sama sekali untuk antisipasi, kalo saja Nat-Tha telpon ku pesan pada Mang Ujang kalo gak usah dibilang pergi ke Pertandingan saja. Tapi hal itu tidak aku lakukan. Yang ada di pikiranku hanyalah bertanding, bertanding dan bertanding. Aku lupa pesen Nat-Tha, agar aku untuk sementara tidak banyak kegiatan dulu. Ia sangat mengkhawatirkan kesehatanku.
* * *
Akhirnya aku pulang dengan perasaan bangga. Klub-ku berhasil mempertahankan reputasi dengan meraih gelar juara. Bukan main senangnya hati ini. Namun sesaat setelah aku keluar dari kamar mandi, fictor adikkku memberitahu bahwa tadi Nat-Tha telpon tapi yang menerima Mang Ujang. Seketika aku ingat pesan Nat-Tha. Langsung aku hampiri pegawai Papaku itu.
“Saya teh, bilang kalo aden bertanding…” setelah denger kata-kata Mang Ujang itu rasanya ada petir yang menggelegar di atas kepalaku. Begitu cemasnya diriku, takut kalo Nat-Tha bakalan marah mendengar ini. Oh, Tuhan! Bodoh sekali aku ini….
Sulit untuk mengungkapkan rasa maaf dan sesalku pada Nat-Tha waktu itu. Meski harus melewati berbagai rintangan, untunglah ! Nat-Tha akhirnya memaafkan aku. Sekarang aku jadi tambah sayaaang banget sama dia.
Memang, semenjak aku berpacaran, aku rasa aku jadi tambah dewasa dalam berrpikir. Aku jadi mulai terbiasa dengan masalah-masalah yang harus aku pecahkan. Tapi aku tidak tahu, apakah setelah kepergian Nat-Tha nanti aku bisa tambah tetap dewasa atau tidak. Entahlah.
Lega akhirnya. Aku sudah sampai di parkir Bandara. Aku mendengar HP-ku berbunyi. Ternyata Nat-Tha. “Iya. Sekarang aku sudah ada di parkiran. Tunggu ya, Nat..”
Kaos putih dan jaket kulit hitam yang menempel di tubuh Nat-Tha itu tampak pas sekali. Ditambah Jeans biru yang ia kenakan itu bikin aku memandangnya dengan bersinar. Kini, sosok ayu itu sudah berada di depanku. Ia memandangku dengan wajah penuh harap-harap cemas. Entah kenapa, rasanya aku bisa mendengar degup jantungnya. Aku pegang kedua tangannya dan sedikit aku usap. Lidahku sendiri merasa kelu, meski aku ingin mengatakan bahwa ia mesti tenang. Tapi kata-kata itu susah keluar. Akhirnya hanya bahasa tubuh itu yang bisa mengungkapkan isi hatiku. Aku yakin dia mengerti.
Om Hans dan Tante Hilda, ortu Nat-tha ada di samping kami. Dan mereka tak henti-hentinya memberikan banyak pesan pada putri sulungnya tercinta ini. sementara teman-teman Nat-Tha tampak agak jauh dari kami. Mereka melambai-lambaikan tangan. Lalu, Nat-Tha melepas tangannya dari tanganku untuk membalas lambaian itu.
Hari ini aku tidak melihat wajah Nath yang ceria seperti biasa. Dia emang sedikit cerewet, tapi kata-katanya itu selalu mengesankan kalo doi cewek yang smart.
Hampir saja aku lupa ! Kado yang telah aku siapkan buat pacarku ini kemudian ku keluarkan dari mantel, dan kugenggamkan pada tangan Nat-Tha. Ia buka kotak itu dan segera ia menemukan kalung emas putih dengan liontin berbentuk potongan hati. Ia balik hati itu dan ia melihat inisial “ S ” dari namaku ; Syhmphoni. Kemudian aku keluarkan kalung yang aku pakai dari balik kemeja biruku, aku tunjukkan padanya sambungan dari potongan hati dari kalung yang kuberikan. Aku balik liontin itu dan kutunjukkan inisal namanya, “ N ”
Ia kemudian melinangkan air mata dan ia raih tubuhku untuk dipeluknya. Sungguh, aku tidak ingin menangis juga di hadapannya. Aku ingin terlihat tegar. Untuk itu aku alihkan dengan menunjukkan padanya bahwa kalung yang aku pakai adalah bagian dari kalungnya. Aku coba satukan potongan hati itu.
“Pakaikan ini padaku, ‘Phon…” akhirnya ku dengar juga kata itu terucap dari bibirnya.
Mulanya aku ragu. Namun kemudian setelah ia mengangguk dan membalikkan badan untuk mengisyaratkan agar aku segera memakaikannya, aku bentangkan kalung itu dan kupasangkan pada lehernya. Kemudian ia berbalik dan memelukku sekali lagi. Kali ini lebih rapat. Oh, Tuhan ! Aku gak mau kehilangan dia. Itu yang ada di benakku. Jaga dia, Tuhan. Tolonglah selalu dia, Tuhan. Itu yang selalu bergema dalam hatiku.
Entah kenapa seakan dia mendengar jeritan hatiku, kemudian ia menjawab dalam bahasa Belanda, “God is mij een helper….” Ia mengusap……. Oh,tidak ! Aku meneteskan air mata ! Ia mengusap air mata yang ada di pipiku itu seraya bertutur, “Gak usah khawatir ‘Phon, Tuhan akan menolong dan menjagaku. ……. Sampai jumpa..”
Akhirnya aku temukan satu kata untuknya sebelum dia beranjak pergi dariku. Aku bisikkan itu liriiih sekali di telinganya, “Aku sayang kamu ! Percayalah. Kita tak akan lama berpisah….”
* * *

Rasanya nyenyak sekali aku tidur hari ini. Entah kenapa. Meski semalam aku baru pulang dari Bandara pukul 12 malam. Aku sedikit menyeret ke kamar mandi dengan rasa lelah yang mendekap tubuhku. Ini adalah hari pertamaku yang bakal aku lalui tanpa suara Nat-Tha di telingaku. Namun aku harus terbiasa dengan itu.
Aku nyalakan televisi di kamarku. Semua saluran sedang menayangkan program berita. Aku arahkan pandangan pada jam wekerku. Ternyata masih setengah tujuh pagi. Pantas! Begitu pikirku.
Rasanya aku bosan dengan berita-berita itu. Aku berpikir lebih baik kumatikan saja. Namunn saat hendak kutekan tombol remote TV-ku, aku mendengar pembaca berita sedang menayangkan jatuhnya pesawat. Aku belalakkan mata sembari aku besarkan volume-nya.
Oh Tuhan ! Apalgi ini ?!! Pesawat yang ditumpangi Nat-Tha….. jatuh !
Aku melesat secepat cahaya (mungkin) setelah aku mencoba mencari keterangan dari bandara melalui telpon, aku gas dengan kencang mobilku menuju Juanda, satu-satunya bandara di kota kami. Dalam pikiranku tergambar hal-hal yang jelek tentang Nat-Tha. Jangan biarkan itu terjadi, Tuhan…..
Kini aku telah berdiri di depan salah seorang pegawai kantor Bandara. Aku begitu emosi. Tak terasa kata-kataku sedikit menyentak. Sementara Suherman, begitu nama staf bandara itu yang kubaca di atas sakunya, mencoba menenangkanku. Aku sudah tak sabar. Pria tinggi itu berkata kalo pesawat itu, jatuh di perairan Singapura dan seluruh penumpang akan segara dikirim kembali ke bandara ini satu setengah jam lagi. Namun yang bikin jantungku copot adalah kalimat terakhir Pan Herman, bahwa ada yang meninggal 3 orang. Semuanya wanita. Oh, Tuhan! Jangan ada Nat-Tha di antara mereka…….
Akhirnya pesawat yang mengirim kembali para penumpang itu telah tiba di bandara, Om Hans sudah ada di sampingku bersama Tante Hilda yang menangis terus dari tadi. Ia sangat mengkhawatirkan anak gadisnya itu. Langsung kemudian aku berlari menghampiri daftar korban meninggal yang dibawa seorang pramugari. Ternyata aku tak menemukan nama Nath. Aku melihat kereta-kereta pasien yang didorong oleh para medis itu dan segera saja kuhampiri. Aku berlari dan kupandangi mereka satu-satu. Tak ada wajah Nath! Dimana dia?
Kemudian aku melihat dari jauh seorang gadis yang duduk di kursi roda, didorong tim medis. Tanpa kubuang waktu lagi aku menghampirinya. Aku lihat gadis itu. Ia lusuh. Pipi kirinya bengkak. Pipi kanannya tergores. Sementara tangannya diinfus. Kaki gadis itu penuh dengan goresan luka.
Astaga, Nat-Tha ! Aku peluk dia dan ia membelai kepalaku. Aku menteskan air mata. Nath-Tha tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa sedikit tersenyum padaku. Aku berbisik lirih, “God is mij een helper….” Sedih bercampur senang karna tidak jadi berpisah dengannya (setidaknya untuk beberapa waktu) berkecamuk dalam hatiku. (Thanx MR. CHENG MAN & BE2K LIM, you are my inspiration! –sorry, guys!– )


God is mij een helper = Tuhan bagiku adalah penolong.

TRAGEDI KEPALA MOHAWK

Koran yang baru datang pagi ini dihempaskan begitu saja oleh Erni. Ia kemudian mengangkat kedua kakinya di atas kursi. Tubuhnya sesaat bergidik dan merasa merinding. Itu semua melanda karena semenit lalu ia membaca satu berita pembunuhan. Sebenarnya ia kini mulai terbiasa dengan berita macam itu lantaran hampir setiap hari terjadi. Namun yang membuat ia merinding adalah korban pembunuhan selalu kehilangan jari kelingking kirinya. Sampai saat ini aparat belum dapat menemukan pembunuh yang telah makan 10 korban.
Erni kemudian melangkah ke kamarnya untuk melupakan berita itu. Biasanya ia langsung bisa menghempas berita pembunuhan yang ia baca. Tetapi entah mengapa ada perasaan yang tidak enak yang menghimpitnya. Ia kini hanya terbaring tidur dan berharap bisa melanjutkan mimpinya kembali. Ia berniat untuk tidur lagi.
Di dalam hatinya terbersit tanya, mengapa pembunuh itu begitu nekat. Dan yang lebih aneh lagi, kesepuluh korban itu adalah para finalis pemilihan ajang ‘Sweet King’ yang akan diselenggarakan kotanya itu minggu depan. Korban selalu ditemukan mati mengenaskan dengan kepala yang dicukur habis sisi kanan dan kirinya. Rambut korban yang tersisa hanya di tengah ala ‘mohican’ dengan kelingking yang telah hilang terpotong. Sungguh tragis!
KRIING. KRIING.
Deringan telepon itu sempet bikin deg-degan. Erni langsung bangkit dari ranjang untuk menerimanya.
“Grek ternyata ikut terbunuh, Erni!”
Suara Sari yang terlihat serak itu kini menambah shock. Grek adalah kekasih Verda, temen kelasnya.
“Yang benar saja, Sar ?!”
“Benar. Ia korban kesebelas..”
Erni kini baru ingat kalau Grek turut jadi Finalis dalam pemilihan itu. Ia lalu bergegas bersiap untuk pergi ke rumah Grek, bersama kelima sohibnya yang lain.
Kali ini Erni tergolong cepat. Hanya dalam lima belas menit ia sudah selesai. Bunyi klakson Handi yang keras itu membuat Erni langsung melesat. Di dalam mobil Kodok berwarna hijau itu telah ada Sari, Yone, Chaca di jok belakang dan Handi yang menyetir. Kelima sobatnya itu telah tahu sejak tadi pagi.
“Kapan Grek....” belum sempat pertanyaan Erni itu keluar, ia langsung ditarik Sari untuk masuk ke dalam mobil. Segera Handi mengegas kencang mobilnya.
“Tadi pagi, jam 5, Grek ditemukan tewas di kamar mandi.” Kali ini Yone, cowok putih pendek dengan rambut lurus itu menjelaskan.
“Dengan cukuran kepala mohican ?”
“Tentu saja.”
“Astaga! Tragis benar.”
“Kita harus membantu aparat menemukan pembunuh itu.” Chaca menyampaikan maksud ketiga kawan karib Erni yang lain.
“Untuk apa?” pertanyaan Erni itu membuat keempat kawannya mengarahkan pandangan mengejutkan ke arahnya. Ia jadi tertunduk. Tetapi kemudian Handi yang bijaksana itu menjelaskan pada Erni.
“Seluruh penduduk kota sangat ketakutan dengan kejadian ini. Kamu tahu kan, meskipun kota kita ini kecil, tetapi tentu tidak mudah menemukannya. Bapakku bilang, kalau di kantornya, tenaga polisi sudah cukup terkuras, sebab belum sempat menyelidik pembunuhan yang satu, sudah terjadi pembunuhan yang lain. Jadi kayaknya, mereka butuh bantuan kita.”
“Pemilihan ‘Sweet King’ jadi tertunda” Sari menambahkan.
“Tidak. Aku tidak ingin ikut.”
Chaca yang sedikit pemarah itu lalu menyorotkan pandangan tajam pada Erni sembari berkata sedikit sinis, “Kamu memang egois, Er!”
“Heh, sudah! Sudah!” si pendiam Yone itu menengahi. “Erni, paling tidak kamu mesti ikut kami ke rumah Grek dulu. Setelah kamu melihat keadaanya, barulah memutuskan.” usul Yone ini dapat diterima oleh Erni.
Kemudian mobil kodok itu telah sampai di depan rumah Grek. Terasnya telah penuh oleh orang-orang yang melayat. Erni memandangnya dengan penuh degup jantung. Ia memang belum pernah menghadiri pemakaman. Melihat raut kawannya, Sari kemudian menggandeng Erni. Kelima karib itu segera masuk.
Di dalam telah bersemayam tubuh Grek. Perlahan mereka menghampirinya. Di sisi tubuh Grek yang telah tak bernyawa itu Erni melihat Verda menangis sesenggukan. Erni memeluk erat Verda dan mengusap-usap bahunya, “Yang tabah, ya, Ver...” tak terasa ia turut melinangkan air mata.
Sementara Handi terus memperhatikan tubuh Grek yang telah terbungkus kafan itu. Yone hanya diam saja membisu. Lain dengan Chaca, ia bertanya pada Galih, kakak Grek sekedar mencari informasi.
“Kakinya biru semua, seperti terpukul benda berat. Kami menemukan dia berlumuran darah. Perut Grek ditusuk pisau oleh pembunuhnya. Kelihatannya setelah tak bernyawa, barulah rambutnya dicukur. Sama seperti korban yang lain, rambut itu disisakan di tengah. Tetapi anehnya, sisa rambut itu tidak kami temukan.”
“Masa tidak ada sama sekali?”
“Ya, ada sedikit di lantai kamar mandi...... Aku nggak ngerti, mengapa mesti Grek yang jadi korban? Padahal seingat kakak, Grek tidak pernah punya musuh. Ia anak yang baik dan selalu nurut.” Kali ini cowok berbadan gede dan gempal itu tampak sedih. Tak diduga ia kini menangis.
Melihat itu, Chaca jadi gak enak. “Eh, maaf.”
“Tidak apa. Saya,.. permisi dulu, dik.”
“Iya kak Galih.” Kening Chaca terlihat mengernyit mengiring berlalunya kak Galih dari hadapan cowok ganteng si pemikir itu.
* * *
Sudah sebulan ini, koto kecil itu diliputi ketakutan. Meski pembunuhan kelihatannya sudah mereda dan berhenti, namun penduduk masih tampak trauma atas kejadian aneh yang baru pertama di kota mereka. Untuk menghindari korban jatuh lagi, seluruh instansi diliburkan sementara, termasuk sekolah. Walikota menghimbau agar para pria muda tetap tinggal di rumah.
Sementara lima karib; Handi, Sari Yone, Chaca dan Erni belum menemukan petunjuk apa-apa tentang pembunuhan itu. Mereka hampir-hampir putus asa. Ternyata menemukan pembunuh itu tidak segampang mengerjakan tugas penelitian sosial yang selama ini mereka kerjakan. Kini mereka sedang mengadakan pertemuan di ruang bawah, gudang rumah Handi.
“Sebenarnya apa sih, motif pembunuh itu ?” Chaca melempar tanya membuka obrolan.
“Sebelumnya, mari kita telusuri satu persatu korbannya. Beruntung kita telah mengumpulkan berita yang ada sebagai bahan.” Handi cowok macho dengan rambut ombak sebahu yang dibiarkan tergerai itu lalu mengambil kapur dan menorehkan sesuatu di atasnya.
“Agar lebih mudah, kita kaji perbedaannya lebih dulu.” Yone berpendapat.
“Baiklah” Handi kemudian melanjutkan memimpin diskusi sementara yang lain tampak menyimak.
“Korban pertama : Emen Simatupang, ditemukan tewas di toilet Plaza dengan tusukan tepat di jantung. Kedua : Harris, ditemukan dengan luka tembakan di punggung yang kemudian sampai menembus lambung...”
“Ia ditemukan dalam keadaan tidak berpakaian di kamarnya.” Sari menyahut.
“Iya. Yang ketiga : Beni Ford, keponakan walikota, ditemukan tewas di mobil. Keempat : Wido Prasetya, masih sempet bertahan hidup, namun beberapa menit saat menuju ke Rumah Sakit ia menghembuskan nafas terakhir, tewas dengan 3 tusukan di lambung. Kemudian Aan, model terkenal itu, yang jadi korban kelima tidak jelas bagaimana ia mati karna keluarga tiidak mengijinkan proses otopsi. Korban keenam dan ketujuh, sepasang cowok kembar, Dhana dan Dani, yang juga ditemukan mati di tempat terpisah, namun keduanya dengan cara dan waktu yang berbeda. Indra Husein, korban kedelapan ini yang paling mengenaskan. Ia ditemukan tak bernyawa di taman kota dengan tubuh biru dan penuh dengan luka benda tajam. Tampaknya ia sempat berkelahi dengan pembunuh itu.”
“Maaf menyela. Ini sekedar informasi teman-teman, kalau Husein itu sebenarnya korban salah sasaran. Ia bukan salah satu dari 25 finalis “Sweet King’. Tampangnya memang mirip sekali dengan Giga, yang akan jadi korban kedelapan. Indra Husein hanyalah seorang yang berasal dari kota lain yang sedang berkunjung di rumah sanaknya. Jadi dalam hal ini pembunuh gagal menghabisi satu finalis.” Yone dengan lugas mencoba menjelaskan.
“Oh.... sungguh tragis!” Erni berkomen dan tertunduk lesu.
“Baiklah aku lanjutkan. Jarak waktu pembunuhan antara korban kesembilan dan kesepuluh tidak jauh. Hanya sekitar satu jam. Setelah pembunuh menembak Ardi Winarko tengah malam di jalanan yang sepi, kemudian jam satu paginya, ia menembak pula Raka J. T. di salah satu bar yang letaknya tak jauh dari lokasi pembunuhan Ardi.” Handi kemudian meletakkan kertas-kertas putih tempat mencatat semua data yang ia temukan. Kemudian ia melanjutkan lagi, “Yang terakhir, Grek, teman kita, ia ditemukan tewas di kamar mandi dengan tusukan di perut.”
Setelah beberapa detik mereka terdiam, Yone kemudian angkat suara. “Dari yang kau jelaskan tadi, aku menyimpulkan. Pertama : pembunuh itu menunggu sampai korban dalam keadaan sendiri, Kedua : Ia hanya bermodal pistol atau pisau ditambah alat cukur itu. Ketiga : arah tusukan atau tembakan sepertinya selalu diarahkan ke jantung, meskipun kadang-kadang meleset ke perut, lambung atau punggung.”
Mendengar kesimpulan Yone itu Chaca langsung menyahut, “Tetapi, yang bikin aku enggak habis pikir, kenapa pembunuh itu selalu mencukur ‘Mohawk’ para korbannya dan memotong kelingkingnya? Apa mungkin ia anggota ‘Punk’? Karna gaya-gaya rambut ‘Mohawk’ itu khas dengan style ‘Punk’ kan ?”
“Tidak. Bukan. Anak buah ayahku sudah menyelidik sampai ke sana, dan telah memastikan bahwa gank-gank ‘Punk’ sama sekali tidak terlibat.” Handi langsung menjawab.
“Mungkin pembunuh itu hanya mencari ‘kambing hitam’ saja.” Erni menambahkan.
Sari yang sedari tadi diam, kini teringat sesuatu, “Han! Bukankah kau pernah bercerita padaku kalau sebelum mati, Wido Prasetya sempet mengatakan sesuatu.”
“Ah, iya!” telapak tangan Handi itu langsung mendarat di keningnya. “Benar. Ayahku bilang kalau Wido sempet mengatakan,... tidak seberapa jelas. Hanya,.. Kalau enggak salah, kepala botak, cincin besar.”
“Hanya itu saja yang...” belum sempat Chaca melanjutkan, Yone langsung memotong.
“Apakah hanya korban Wido yang memberi petunjuk itu?”
“Sebenarnya sesaat sebelum meninggal, Haris, korban kedua sedang merekam suaranya. Ia melakukan itu setiap malam, seperti menulis buku harian. Nah, waktu pembunuh itu datang, tape kecilnya itu masih dalam keadaan ‘rekam’.” Handi menjelaskan.
“Berarti suara pembunuh itu terekam dong! Lalu dimana kita bisa mendapatkan kaset rekaman itu?” kali ini Chaca beranjak berdiri seperti kegirangan.
“Itulah masalahnya, Cha! Kaset itu tidak ditemukan. Sepertinya pembunuh tahu dan membuang ke luar jendela.” mendengar kata-kata Handi itu, Chaca terduduk lagi.
Yone lalu mengernyitkan dahi, “Darimana kamu tahu semua itu?”
“Aku tahu dari seorang anak SD yang melihat kaset itu jatuh dari jendela rumah Haris. Aku sudah tanya padanya. Ia tidak melihat apapun, karna jendela kamar Haris itu terlalu tinggi dan ia langsung berlari ke rumahnya setelah itu.” Setelah lelah berdiri Handi lalu mendaratkan tubuhnya, duduk di atas meja.
“Apa kamu tidak mendapat informasi lain dari anak itu?” timpal Yone lagi.
“Dia seorang murid SLB. Jadi aku tidak banyak mendapatkan info karena ia tuna rungu.” Handi menjelaskan sembari menyambar secangkir teh dan meneguknya perlahan.
“Sebentar, mengapa kita tidak mencarinya di sekitar rumah Haris itu?” sesaat setelah Chaca berkata seperti itu, Handi langsung mengambil kunci mobil dan berlari keluar diikuti yang lain. Kali ini Chaca hanya melongo melihat kecepatan sobat-sobatnya itu, kemudian setengah menyeret langkah, ia menyusul.
* * *
“Kita mesti berpencar agar cepat.” ujar Handi setelah mereka tiba di sekitar rumah Haris. Kemudian kelima karib itu mencoba mencari kaset yang bisa jadi petunjuk. Sari lebih memilih mencari bersama Handi, mereka menyisir daerah semak-semak, Yone mencari di sekitar taman yang agak jauh, Erni lebih tertarik pada pohon-pohon besar dan Chaca mencari di pinggir-pinggir tembok rumah Haris. Dengan teliti, satu persatu tempat ditelusuri.
Akhirnya sudah hampir dua jam mereka menggunakan waktu untuk melakukan pencarian itu. Erni sudah terduduk lemas di bawah pohon, Handi, Sari dan Yone malah tidur-tiduran di jok mobil saking lelahnya. Sementara Chaca masih belum putus asa.
Handi kemudian bangkit dari tidurnya, ia lalu mengelap keningnya. Namun saat ia melihat spion, tampak anak yang pernah melihat kaset itu menghampiri mobilnya. Setelah ia berjalan mendekat Handi menyapa ramah.
“Hallo adik kecil ? Apa Kabar?” kemudian Handi berkomunikasi dengan bocah 7 tahun itu dengan bahasa isyarat, karena itu satu-satunya bahasa yang anak itu mengerti mengingat dia seorang tuna rungu. Setelah itu Handi tampak mengikuti bocah itu berlari ke rumahnya yang ada di seberang jalan.
Hanya dalam 5 menit, ia sudah kembali dengan kaset di tangannya. Melihat itu Erni langsung berdiri, “Apa benar itu kasetnya, Han?”
“Ya. Sebaiknya kita dengarkan di rumahku saja, sebab di sini tidak aman.” Handi lalu memberi komando pada Chaca yang baru datang untuk segera masuk ke mobilnya.
“Teman-teman lihat!” Chaca membuka bungkusan kain putih yang ada ditangannya. “Siapa tahu pisau ini yang digunakan pembunuh itu.” Spontan yang lain langsung kaget.
“Ayo, Cha, masuk dulu. Kami sudah menemukan kaset itu.”
Kemudian melesatlah mobil Handi kembali ke rumah.
* * *
“Aduh aku ngeri banget nih.” Sari kemudian merapatkan tubuh di sofa. Ia dekatkan ke tubuh Erni setelah kelima karib itu mendengar rekaman kaset milik Haris.
“Ok! Tadi kita udah dengerin kaset itu. Paling tidak, kita sudah mengenal suara pembunuhnya.” masih tetap diskusi dipimpin Haris. Karena selain ia seorang anak Kepala Polisi di kota itu, ia seorang yang bijak dan paling bisa menjadi penengah.
Namun kini pandangan tertuju pada Erni. Sejak ia mendengar kaset itu, ia seperti menyimpan sesuatu. Yone yang terkenal paling peka itu langsung mencari jawab. “Kenapa, Er? Apa ada sesuatu yang kau simpan atau kau ketahui?”
“Apa katamu tadi ? Ciri fisik pembunuh itu yang...” pandangan Erni tertuju pada Handi.
“Aku tidak seberapa jelas. Kepala botak, cincin besar...?”
“Sepertinya aku mengenal sesuatu itu...” kata-kata Erni kali ini mengundang perhatian banyak dari kawan-kawannya. Ia sadar dan kemudian melanjutkan kalimatnya, “Sebenernya sih, aku tidak seberapa yakin. Sebulan ini kami punya tetangga baru. Orangnya aneh banget. Ia enggak pernah keluar, rumahnyapun selalu tertutup rapat. Aku pernah melihatnya sekali. Itupun saat ia membuang sampah di ujung jalan.”
“Ciri-ciri fisiknya?” Chaca yang selalu tidak sabaran melempar pertanyaan.
“Yang aku lihat, kepalanya botak licin, tubuhnya gede dan gempal. Ia berkulit putih. Yang bikin aneh lagi, ia memakai cincin besar-besar di seluruh jarinya.” Erni menjelaskan.
“Baiklah. Kita mesti cepat. Teman-teman, kita mesti menyelidiki ke rumah pria mencurigakan itu. Besok malam sekitar jam sembilan, semua berkumpul di rumah Erni.” Handi memutuskan.
* * *
Malam ini adalah malam yang menegangkan buat Handi, Yone, Sari, Chaca dan Erni. Mereka sebenarnya tidak begitu yakin, apakah benar-benar dapat menemukan semua misteri itu malam ini. Memang selama beberapa minggu ini mereka telah menyelidiki rumah pria itu saat sedang kosong. Dan semua bukti ada. Mulai kesebelas kelingking korban yang direndam satu-satu dalam toples. Pisau yang masih terkena darah meski telah mengering. Ditambah alat cukur yang digunakan pembunuh itu. Semua bukti mengarah pada pria berkepala licin itu.
Kelima karib itu telah berkumpul di teras belakang rumah Erni. Semua saling melempar pandang dan hanya terdiam seperti menyirat satu pesan, ‘aku takut’. Namun akhirnya Handi mencoba memberi semangat pada yang lain.
“Teman-teman, kita harus yakin, kita bisa. Ini semua demi keamanan kota ini. Ingat, apapun yang terjadi nanti, kita harus saling melindungi.” Semuanya mengangguk setuju pada kata-kata Handi dan segera kelima karib itu berjalan mendekati rumah yang mereka tuju. Sementara para polisi, anak buah ayah Handi telah mengepung rumah itu dan kini tugas kelima karib untuk membantu masuk kedalam rumah, memancing si pria pembunuh.
Rumah pria misterius yang dimaksud Erni itu tampak sepi dan suram. Semuanya berdebu dan kotor. Tembok-temboknya yang sebenarnya bagus itu tak pernah dirawat. Kemudian Handi melompat ke jendela rumah diikuti yang lain.
Kini mereka sudah ada di dalam rumah itu. Mereka tidak mendapati apa-apa, karna sepertinya sedang tidak berpenghuni. Chaca lalu mengintip ke ruang yang lain ia melihat seorang pria botak dengan cincin besar di seluruh jemarinya itu sedang menulis sesuatu di meja. Ia mengenakan pakaian serba hitam. Kemudian Chaca memberitahukan ini kepada kawan-kawannya.
“Siapkan semua peralatan kalian.” Handi memberi komando lirih.
Namun sesaat setelah itu terdengar bunyi tembakan yang sangat keras. Mulanya mereka takut untuk melihat, tapi setelah mengumpulkan segala keberanian mereka menghampiri tempat asal suara tembakan.
Betapa terkejutnya Handi, Yone, Sari, Erni dan Chaca mendapati pria itu sudah tak bernyawa. Ia membunuh dirinya dengan sebuah pistol yang juga dipakai membunuh korban-korbannya. Yone kemudian memerikasa, apakah ia masih hidup ataukah telah mati. Handi berlari keluar memberitahu polisi.
“Dia sudah mati.” Yone berjalan mundur bersamaan dengan kedatangan Handi dan ayahnya bersama para polisi. Kemudian pasukan kepolisian itu memerikasa seluruh rumah itu dan membawa semua barang bukti.
“Kami tidak melihat apa-apa, yah. Hanya suara tembakan keras sesaat sebelum kami menghampirinya.” Handi menjelaskan kepada ayahandanya.
“Baiklah, terimakasih atas bantuan kalian selama ini, anak-anak. Kalian memang pemberani. Ada satu hadiah buat kalian.” Ayah Handi menyalami satu persatu kelima karib itu.
“Pak, saya menemukan surat di bawah mayat pria ini.” Seorang polisi menyerahkan kertas yang terkena lumuran darah pembunuh itu. Kemudian ayah Handi segera memakai sarung tangan membaca pesan terakhir dari sang pembunuh.

“Saya, Jaka Rahmat, mengakui semua perbuatan yang saya lakukan ini. Saya telah membunuh kesebelas pria muda tampan yang menjadi finalis ‘Sweet King’.
Saya melakukannya didasari atas dendam saya pada kesebelas orang itu. Mereka telah menghina dan menginjak-injak harkat anak tunggal saya, Laki Rahmat. Saya tidak terima atas penghinaan yang diterima anak saya. Laki seorang anak yang baik. Wajahnya tampan dan otaknya encer. Karena itu saya ingin mengikutkan dia ajang ‘SWEET KING’. Saya tahu,Laki seorang anak luar biasa. Ia berbeda dengan yang anak-anak muda yang lain. Apa salahnya seorang anak tuna rungu seperti dia ikut ajang itu. Tubuhnya juga sehat-sehat saja, walaupun ia tidak mempunyai jari kelingking di tangan kirinya, Laki seorang yang sehat mental dan rohaninya. Saya menyesal atas semua perlakuan juri yang melarang keras Laki ikut ajang itu. Bahkan mereka berteriak keras di depan orang banyak. Saya masih ingat cerita Laki bahwa mereka mengatai anak saya, “Ini bukan ajang bagi orang cacat!” mendengar itu Laki langsung menangis pulang dan menceritakan semua perlakuan mereka. Saya sedih dan begiru marah.
Sejak saat itu, Laki yang biasanya selalu ceria menjadi anak yang pendiam, ia tidak mau makan, dan mengurung diri terus menerus di dalam kamarnya. Mungkin ia merasa minder dan trauma dengan perlakuan orang-orang itu. Saya bingung mesti bagaimana mengatasi semua ini.
Namun belum sampai saya menemukan solusinya, suatu pagi, saya menemukan Laki sudah tak bernyawa di kamarnya..... Ohh,... Anakku satu-satunya ini bunuh diri!!!! Ia memotong nadinya sendiri. Sebelum ia mati, ia mencukur kepalanya dengan tidak karuan. Saya BENCI mereka semua yang telah menyakiti Laki !!!!
Sejak kematian Laki itu, saya dendam dan benci pada semua yang terlibat dalam ajang yang membuat anak saya mati itu. Saya bertekad akan menghabisi siapapun yang jadi finalis. Saya terbakar murka yang menyla-nyala.
Dan sekarang, saya menyesal. Mungkin nyawa saya ini tidak berarti untuk menebus kesebelas nyawa anak-anak muda yang saya bunuh. Tapi setidaknya, saya bisa menemui Laki sekarang!”

Semua terharu setelah mendengar isi surat dari sang pembunuh. (*)

terasing dan MATI [Kebenaran yang Terbenam]

‘Kan kuingat di dalam hatiku, betapa indah semalam di Cianjur….¯
Nada itu baru terlantun di bibir. Riuh audiens menghantarku kembali ke meja. Sebenarnya tak satu pun pengunjung yang kukenal di kafe ini. Mungkin mereka hanya suka lagu lawas yang baru kulantunkan.
Mas, suaranya bagus.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Ritual kesantunan. Sesaat aku menunduk. Rendah sekali. Sebuah memori berterbangan halus di alam sadar...
Ada luka di balik lagu itu. Bukan karena aku yang mencipta. Entah siapa yang membuatnya?! Yang jelas aku hidup dari lagu ini. Aku mau melupakan saja pengalaman menyakitkan itu. Mungkin buatku dulu, menggembirakan. Menyenangkan. Saat ibu menyanyikan lagu itu, aku turut melafalkan.
Uh... hatiku begitu miris. Lebih tepatnya, trenyuh.. Sekarang aku kehilangan dia. Di mana ibu? Aku sudah berusaha mencari. Sebuah pencarian detektif. Kenapa? aku belum siap semua orang tahu. Titik. Ingin tahu? Dengarkan saja. Diam, jangan komen. Aku tidak suka.
Deep Blue Kiss, satu.
Pelayan itu mengangguk setelah aku memesan minuman.
Sekarang aku hidup sendiri. Aku punya perusahaan, sebuah swalayan berisi kebutuhan rumah tangga. Aku sudah buka 5 cabang di kota ini. Terlampau cukup untuk penghasilanku. Sangat tidak cukup untuk kebahagiaan batinku. Aku tidak pernah tersenyum saat tahu ibuku pergi.
* * *
wanita 30 tahun-an itu berjalan dengan alas kaki dan pakaian seadanya. Ia selalu membawa tutup-tutup botol, dipaku jadi satu pada kayu kecil. Ecek-ecek, orang Jawa menyebut.
Ia dipanggil ‘Ti dan hanya seorang anak 3 tahun saja yang ada di gendongannya. Ia bernyanyi dari angkutan umum satu ke angkutan umum lain. ‘Ti berkeliling di terminal sepanjang hari.
Setangkai anggrek bulan....¯
Widuri,... engkau bagai rembulan, sayang.... ¯
Bengawan Solo.... riwayatmu kini....¯
Suara ‘Ti tidak terlalu sumbang. Ia bernyanyi dengan ramah dan selalu mendoakan penumpang agar selamat sampai di tujuan mereka. Banyak yang simpatik. Tidak sedikit yang mencibir.
Masa, ngamen ngajak anaknya? Mau ngajari males?
Keluhan sok peduli itu selalu diberi hadiah senyuman. ‘Ti sadar, mereka tidak empati padanya. Tidak perlu melakukan itu juga tak apa.
Maafkan ibu ya, ‘ngger....
Kalimat itu yang selalu ia bisikkan kepada gendongannya.
Tak terasa pipiku dialiri air mata mengingingatnya. Aku benar-benar tahu mengapa ;’ibu melakukan itu. Aku tidak merasa diajari malas olehnya. Aku malah tahu bagaimana harus menghargai uang, keping demi keping. Aku benci orang-orang yang memandang ibuku sebelah mata. Aku ingin berteriak kepada mereka dari dulu, aku bangga pada mbak ‘Ti, ibuku....!!!
Pasti kau bertanya, di mana ayahku, kan? Aku tidak pernah melihatnya! Sejak aku pertama membuka mata di dunia ini, bahkan. Kata ibu dia dipenjara. Dihukum negara karena tindakannya dianggap merusak nama baik seorang jenderal. Ia membawa lari hartanya dan memfitnah Jenderal itu.
Kata ibu, semua kata orang itu bohong. Ia tidak pernah melakukan itu. Ayah hanya alat ketenaran. Semua karena Jenderal itu ingin kekuasaan dan ingin menghapus kebejatannya sendiri. Ayah digunakan sebagai kambing hitam. Kambing congek Jenderal itu. Ayahku lalu tewas tertembak.
Sekarang aku ingin berteriak lagi, kalau ayahku bukan kambing congek....!!!!
* * *
‘Kan kuingat di dalam hatiku, betapa indah….¯
‘Ngger, jangan ikut-ikut! Kamu sekolah saja. Ibu masih sanggup bekerja.
Biasanya aku langsung ngeloyor pergi ke kasur kalau ibu menegur seperti itu. Aku hanya ingin mencari uang sendiri. Ibu sama sekali tidak mengijinkan. Katanya, wajahku sangat mirip ayah.
Berbahaya, ‘ngger kalau kamu nanti ada yang menculik....
Aneh? Itu pikirmu, kan? Sama. Apa hubungannya ngamen dengan aku mirip ayah. Bukankah itu lumrah, kan?
Selain ibu tidak ingin kamu bekerja keras, ada alasan lain...
Apa?
Nanti saja kalau sudah waktunya.
Tapi, bukankah dulu aku juga ikut ibu ngamen?
Sudahlah, ngger....
Kalau sudah begitu aku pasti diam. Aku tidak ingin membuat ibu gundah. Menurut saja, apa susahnya. Aku yakin ibu punya alasan kuat di balik itu. Aku akan menunggu penjelasan itu. Aku menantinya sampai aku besar, mungkin.
* * *
‘Ngger sudah waktunya.
Ah, sebenarnya aku benci ini. Aku sudah besar, ingin rambutku panjang. Tapi lebih baik menurut saja. Aku kemudian duduk di kursi dan ibu mencukurku. Helai demi helai rambut lurusku yang sudah panjang itu berjatuhan di lantai.
Tidak butuh waktu lama, kepalaku sudah licin.
Kalau begini kamu tidak terlalu mirip ayah.
Aku memandangi wajahku di depan cermin. Kuelus perlahan kepala ini. Plontosnya aku... dan aku belum berani bertanya lagi mengapa ibu selalu berkata seperti itu. Aku lebih rela tampak seperti Pak Ogah.
‘Ngger ingat, jangan pernah memelihara jambang, kumis, jenggot dan rambut panjang. Ibu tidak pernah meminta apa-apa, turuti saja ini, ya...
Aku mengangguk. Lagi-lagi.
Kubasuh kepala licin ini, bersih dari sisa-sisa cukuran.
Ayahmu tewaspun, masih dibebani dendam Jenderal gadungan itu. Ia akan membunuh keturunannya.
Apa? Aku sangat tersentak.
Jangan takut, ‘ngger... selama ada ibu, aku akan menjagamu.
Pantas, ibu begitu risau kalau aku mirip ayah.
* * *
Mau pesan anggur?
Aku hanya menggeleng membalas tawaran pelayan kafe.
Kalau dipikir-pikir kisah ayahku itu seperti sinetron. Sebuah kehidupan yang dramatik. Gara-gara dendam itu aku dan ibuku hidup dalam ketakutan. Tetapi inilah kehidupanku yang sebenarnya. Sebuah realitas. Bukan mimpi sinema elektronik.
Kamu, Anto Johan?
Seorang tua mendekati wajahku dan mengernyitkan dahi.
Aku buru-buru menggeleng dan membayar minuman ke pelayan.
Langkahku harus cepat, pikirku. Kuayunkan langkah dan berlari jauh sekali dari kafe. Ternyata Pak Tua itu mengejar di belakangku. Kutambah kecepatan ‘bak kijang yang diburu. Jangan-jangan ia Jenderal itu?!
Sebenarnya kuingin berbalik dan kubunuh dia. Tetapi kalau itu benar? Kalau tidak?! Lagipula, ibu selalu memintaku untuk memaafkan dan melupakan semua kejadian masa lalu keluarga kami.
Berhenti...!!!!
Pak Tua itu berteriak seperti orang gila. Aku kemudian berlari terus menuju apartemen dan kututup rapat-rapat pintunya. Segera kuberlari ke wastafel. Napasku tersengal dan kudapati wajahku telah lusuh di cermin. Rambutku telah mulai panjang, bulu-bulu simbol kemaskulinan ini ternyata sudah liar berhias.
Perlahan kuraih alat cukur itu dan segera kuhabiskan rambut di kepala. Cambang dan jenggot pun kutebas habis.
Setiap hari aku selalu digelayuti ketakutan. Semua karena dendam membara. Aku telah memaafkan pembunuh ayahku. Namun aku juga berhak hidup bebas tanpa takut ancaman. Aku tidak protes kalau aku harus melicinkan kepala dan wajah, tetapi itu akan kulakukan kalau aku bisa hidup bebas.
* * *
Alat perekam itu telah selesai diputar. Aku masih duduk di kursi terdakwa. Terdiam dituduh membunuh Jenderal Urya. Aku bahkan tak tahu mengapa ia mati? Bukankah dia yang mengejarku?! Kini seantero jagad tahu kalau aku anak Anto Johan, provokator rakyat. Hal yang tidak pernah dilakukan ayah.
Apa keadilan tidak memihakku lagi seperti tidak membela ayah?
Pembunuhan terhadap Jenderal Urya. Terdakwa : Fajar Nusantoro, dijatuhi hukuman mati.
Oh, tidak?!?!!!! Ajal akan menjemputku. Hakim sudah mengetokkan palunya...! (*)