Aku berjalan di bawah terik dengan telapak kepanasan. Sampah yang kudapat hari ini sudah banyak. Semoga setoranku akan bertambah. Memang terkadang lelah juga menjadi pemulung. Tetapi bagaimana lagi, aku harus melakukakannya.
Lamunanku terhenti. Dari jauh aku melihat Bapak tergopoh-gopoh. Kuberlari menghampirinya.
“Cepat bantu bapak ! Mau ada obrakan !” aku langsung tanggap mendengarnya. Segera kuringkas semua botol Legen dagangan bapak. Bergegas kami mendorong rombong kecil yang sudah menjadi tumpuan hidup kami bertahun-tahun.
“Untung ‘le, Kamtib belum sampai membongkar...” kata bapak saat kami tiba di rumah. “Ibumu belum datang ‘le?”
Aku menggelengkan kepala.
“Kita makan saja dulu, ya.”
Terkadang aku trenyuh melihat melihat keluargaku. Bapak hanya seorang pedagang kecil es Legen. Ibu membantu bekerja berkeliling berjualan Semanggi. Mereka berdua menghidupiku dan dua adikku dengan ngos-ngosan.
“Bapak gak sampai diobrak kan ?” ibu datang dengan kecemasan.
“Tidak sampai kok, bu.”
“Alhamdullilah.” Ibu meletakkan bakul semangginya.
“Laku hari ini ?”
“Biasa saja, pak.” Ibu berkata dengan kecewa. “Terkadang ibu heran, mengapa makanan daerah sendiri malah kalah dengan ayam Amerika.”
“Jualan ayam Amerika saja.” celetuk Cuplis si bungsu. Aku hanya mengulum senyum sementara bapak dan ibu tertawa terbahak-bahak. Kegembiraan itulah yang selalu menguatkanku saat merasa susah menghadapi hidup.
“Oh ya, Tole. Tolong antarkan pesanan mbak Miranda, ya.” aku langsung terkejut mendengar nama itu. Mbak Miranda tinggal di satu perkampungan terkenal di kotaku. Selalu ramai tiap malam dipenuhi wanita-wanita penjaja cinta dan ia termasuk di dalamnya.
“Gak usah takut. Siang-siang sepi. Ibu masih repot, le. Tolong, ya.” Ibu menyodori bungkusan Semanggi. Sebenarnya aku ragu, namun demi ibu akhirnya segera kukayuh sepeda menuju kesana.
Bulu kudukku merinding. Aku merasakan suasana aneh di tempat ini. Untung segera kutemukan wajah mbak Miranda. “Eh Tole. Nganter Semanggi?”
Segera kusodorkan bungkusan padanya.
“Semanggi ibumu paling enak, gak ada yang menandingi.” Ia lalu mengeluarkan selembar sepuluh ribu dari dadanya. Aku jadi jijik dan menunduk.
“Nih ! terima kasih, ya.” Ia mengenggamkannya di telapakku sambil berbisik mendekat dan menyentuh pipiku, “Kembaliannya buat kamu.”
Aku mengangguk dan segera meninggalkannya.
“Besok antar 5 bungkus lagi, le !” suaranya terdengar dari jauh.
* * *
Malam ini Surabaya terasa dingin sekali. Aku merapatkan tubuh di sudut ranjang, kesepian. Sudah dua hari keluargaku pergi ke rumah Budhe di Malang untuk pinjam uang. Sejenak kumendengar gedoran pintu yang keras sekali. Kuberanikan untuk membukanya.
“Tole, tolong Mbak Miranda.” wanita ini tampak tergopoh. Ia mengenakan busana ketat berwarna merah minim. “Boleh mbak masuk ?”
Kemudian segera kututup rapat pintu rumahku. Aku begitu heran, mengapa tengah malam begini ia datang ke rumah. Aku memandanginya terus.
“Ah, Mbak enggak mau beli Semanggi. Mana keluargamu yang lain ?”
Aku menggelengkan kepala.
“Pergi ?”
Aku menggangguk. Kemudian kusodorkan segelas air, karna kulihat wajahnya pucat sekali. Mbak Miranda meminumnya seteguk demi seteguk lalu mengembalikan gelas itu padaku. Ia mengeluarkan tissue dari tas tangan dan mengelap keningnya
“Terima kasih.” Katanya sambil terduduk di lantai. Aku memandangnya lagi. Ia meneteskan air mata dan beberapa detik kemudian menangis. Hatiku tersentuh. Ternyata wanita yang selalu terlihat ceria di hadapan para lelaki hidung belang ini bisa juga menangis.
“Sebenarnya mbak tadi kena razia, le. Untung, berhasil kabur. Makanya mbak buru-buru ke rumahmu. Karena ini yang terdekat. Enggak apa-apa kan ?”
Aku mengangguk.
“Mbak tahu, mungkin kamu jijik dengan mbak. Karena mbak seorang WTS.”
Aku buru-buru menggelengkan kepala.
“Enggak apa-apa. Mbak sudah terbiasa.” Ia mengusap air matanya.
“Orang selalu begitu. Mereka tidak tahu sebenarnya. Dari lubuk hati yang terdalam, sebenarnya mbak selalu menangis. Menyesali pekerjaan ini.” Mbak Miranda memandangku, aku hanya menunduk.
“Apa daya, sudah masuk dalam lumpur...”
* * *
Sudah sebulan kami sekeluarga tak mendengar kabar mbak Miranda, sejak razia itu. Kata ibu, ia kembali ke kampung karena sakit parah. Kabar terakhir dari teman-temannya malah menyebutkan kalau Mbak Miranda sudah meninggal karena HIV/AIDS. Sungguh tragis..... !
Sementara keadaan ekonomi keluargaku semakin memburuk. Uang pinjaman dari Budhe tidak bisa menolong. Kini daerah jualan bapak sudah dinyatakan bebas PKL. Akibatnya bapak sekarang jadi kuli. Dagangan Semanggi ibupun makin hari makin sepi, namun beliau tetap ngotot berjualan.
Aku dan adik-adikku tak lagi sekolah. Buat makan saja kurang.
“Le, semiskin apapun kita, jangan pernah jadi pencuri, ya.” kata-kata bapak itu selalu jadi peganganku saat bekerja mengais sampah. Meski pemulung, aku bukan pencuri. Tetapi kadang aku jengkel juga pada orang-orang. Mereka selalu memarahiku saat aku mengobrak-abrik sampah. Mereka bilang itulah sebabnya kota ini bau. Mereka tidak tahu betapa sulitnya aku mencari sampah yang dapat didaur ulang agar setorannya dapat membantu biaya hidup keluargaku.
Aku melangkah pulang dengan sejuta lelah. Alangkah terkejutnya diriku melihat ramai orang-orang di sekitar rumah.
“Le, rumah kita digusur.” Ibu menangis menghampiriku.
Segera aku berlari membantu bapak meringkas sisa bangunan kami.
“Kita akan kemana, pak ?” tanya Burhan adik kedua-ku. Bapak hanya menggeleng. Sementara perkampungan kami ramai dan sesak. Orang-orang kebanyakan tidak terima dengan pembongkaran tiba-tiba ini.
“Sudahlah, le. Ini memang bukan milik kita. Tanah ini milik pemerintah.” Bapak tegar bernasihat. Aku hanya meneteskan air mata kesedihan. Kemudian kami pergi meninggalkan perkampungan penuh kenangan itu.
Saat aku dan bapak keluar kampung, kami tidak mendapati ibu dan Cuplis.
“Kemana mereka, le ?”
Aku menggeleng.
“Kita berpencar. Bapak cari bersama Burhan, kamu cari di tempat-tempat ibu biasa berjualan.” aku mengangguk dan kami berpisah.
Aku menelusuri perkampungan mencari ibu. Setidaknya sudah puluhan gang aku masuki. Kakiku sakit sekali. Tak terasa suara adzan sudah mengalun. Aku sandarkan tubuh sejenak. Sayup-sayup, kutatatap langit senja, lalu kuteringat bapak dan Burhan. Jangan sampai aku kehilangan mereka juga. Bergegas kutuju bekas perkampunganku yang kini telah rata, namun tidak kutemui mereka. Tanpa sadar, lelah aku tertidur di emperan toko.
* * *
Selama seminggu aku mencari keluargaku, namun tak dapat kutemukan. Hatiku menjerit pilu. Di saat seperti ini aku butuh keceriaan mereka. Sekarang aku mesti sendiri menghadapi pahitnya hidup di kota yang tak pernah menjadi pahlawan buatku, tetapi malah menyusahkanku. Satu yang membuat aku bingung, bagaimana aku hidup tanpa keluargaku dengan keadaanku ini. Bagaimana aku akan berkomunikasi dengan orang lain, sementara aku bisu ?! (*)
Saturday, April 02, 2005
terasing dan MATI [Kebenaran yang Terbenam]
‘Kan kuingat di dalam hatiku, betapa indah semalam di Cianjur….¯
Nada itu baru terlantun di bibir. Riuh audiens menghantarku kembali ke meja. Sebenarnya tak satu pun pengunjung yang kukenal di kafe ini. Mungkin mereka hanya suka lagu lawas yang baru kulantunkan.
Mas, suaranya bagus.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Ritual kesantunan. Sesaat aku menunduk. Rendah sekali. Sebuah memori berterbangan halus di alam sadar...
Ada luka di balik lagu itu. Bukan karena aku yang mencipta. Entah siapa yang membuatnya?! Yang jelas aku hidup dari lagu ini. Aku mau melupakan saja pengalaman menyakitkan itu. Mungkin buatku dulu, menggembirakan. Menyenangkan. Saat ibu menyanyikan lagu itu, aku turut melafalkan.
Uh... hatiku begitu miris. Lebih tepatnya, trenyuh.. Sekarang aku kehilangan dia. Di mana ibu? Aku sudah berusaha mencari. Sebuah pencarian detektif. Kenapa? aku belum siap semua orang tahu. Titik. Ingin tahu? Dengarkan saja. Diam, jangan komen. Aku tidak suka.
Deep Blue Kiss, satu.
Pelayan itu mengangguk setelah aku memesan minuman.
Sekarang aku hidup sendiri. Aku punya perusahaan, sebuah swalayan berisi kebutuhan rumah tangga. Aku sudah buka 5 cabang di kota ini. Terlampau cukup untuk penghasilanku. Sangat tidak cukup untuk kebahagiaan batinku. Aku tidak pernah tersenyum saat tahu ibuku pergi.
* * *
wanita 30 tahun-an itu berjalan dengan alas kaki dan pakaian seadanya. Ia selalu membawa tutup-tutup botol, dipaku jadi satu pada kayu kecil. Ecek-ecek, orang Jawa menyebut.
Ia dipanggil ‘Ti dan hanya seorang anak 3 tahun saja yang ada di gendongannya. Ia bernyanyi dari angkutan umum satu ke angkutan umum lain. ‘Ti berkeliling di terminal sepanjang hari.
Setangkai anggrek bulan....¯
Widuri,... engkau bagai rembulan, sayang.... ¯
Bengawan Solo.... riwayatmu kini....¯
Suara ‘Ti tidak terlalu sumbang. Ia bernyanyi dengan ramah dan selalu mendoakan penumpang agar selamat sampai di tujuan mereka. Banyak yang simpatik. Tidak sedikit yang mencibir.
Masa, ngamen ngajak anaknya? Mau ngajari males?
Keluhan sok peduli itu selalu diberi hadiah senyuman. ‘Ti sadar, mereka tidak empati padanya. Tidak perlu melakukan itu juga tak apa.
Maafkan ibu ya, ‘ngger....
Kalimat itu yang selalu ia bisikkan kepada gendongannya.
Tak terasa pipiku dialiri air mata mengingingatnya. Aku benar-benar tahu mengapa ;’ibu melakukan itu. Aku tidak merasa diajari malas olehnya. Aku malah tahu bagaimana harus menghargai uang, keping demi keping. Aku benci orang-orang yang memandang ibuku sebelah mata. Aku ingin berteriak kepada mereka dari dulu, aku bangga pada mbak ‘Ti, ibuku....!!!
Pasti kau bertanya, di mana ayahku, kan? Aku tidak pernah melihatnya! Sejak aku pertama membuka mata di dunia ini, bahkan. Kata ibu dia dipenjara. Dihukum negara karena tindakannya dianggap merusak nama baik seorang jenderal. Ia membawa lari hartanya dan memfitnah Jenderal itu.
Kata ibu, semua kata orang itu bohong. Ia tidak pernah melakukan itu. Ayah hanya alat ketenaran. Semua karena Jenderal itu ingin kekuasaan dan ingin menghapus kebejatannya sendiri. Ayah digunakan sebagai kambing hitam. Kambing congek Jenderal itu. Ayahku lalu tewas tertembak.
Sekarang aku ingin berteriak lagi, kalau ayahku bukan kambing congek....!!!!
* * *
‘Kan kuingat di dalam hatiku, betapa indah….¯
‘Ngger, jangan ikut-ikut! Kamu sekolah saja. Ibu masih sanggup bekerja.
Biasanya aku langsung ngeloyor pergi ke kasur kalau ibu menegur seperti itu. Aku hanya ingin mencari uang sendiri. Ibu sama sekali tidak mengijinkan. Katanya, wajahku sangat mirip ayah.
Berbahaya, ‘ngger kalau kamu nanti ada yang menculik....
Aneh? Itu pikirmu, kan? Sama. Apa hubungannya ngamen dengan aku mirip ayah. Bukankah itu lumrah, kan?
Selain ibu tidak ingin kamu bekerja keras, ada alasan lain...
Apa?
Nanti saja kalau sudah waktunya.
Tapi, bukankah dulu aku juga ikut ibu ngamen?
Sudahlah, ngger....
Kalau sudah begitu aku pasti diam. Aku tidak ingin membuat ibu gundah. Menurut saja, apa susahnya. Aku yakin ibu punya alasan kuat di balik itu. Aku akan menunggu penjelasan itu. Aku menantinya sampai aku besar, mungkin.
* * *
‘Ngger sudah waktunya.
Ah, sebenarnya aku benci ini. Aku sudah besar, ingin rambutku panjang. Tapi lebih baik menurut saja. Aku kemudian duduk di kursi dan ibu mencukurku. Helai demi helai rambut lurusku yang sudah panjang itu berjatuhan di lantai.
Tidak butuh waktu lama, kepalaku sudah licin.
Kalau begini kamu tidak terlalu mirip ayah.
Aku memandangi wajahku di depan cermin. Kuelus perlahan kepala ini. Plontosnya aku... dan aku belum berani bertanya lagi mengapa ibu selalu berkata seperti itu. Aku lebih rela tampak seperti Pak Ogah.
‘Ngger ingat, jangan pernah memelihara jambang, kumis, jenggot dan rambut panjang. Ibu tidak pernah meminta apa-apa, turuti saja ini, ya...
Aku mengangguk. Lagi-lagi.
Kubasuh kepala licin ini, bersih dari sisa-sisa cukuran.
Ayahmu tewaspun, masih dibebani dendam Jenderal gadungan itu. Ia akan membunuh keturunannya.
Apa? Aku sangat tersentak.
Jangan takut, ‘ngger... selama ada ibu, aku akan menjagamu.
Pantas, ibu begitu risau kalau aku mirip ayah.
* * *
Mau pesan anggur?
Aku hanya menggeleng membalas tawaran pelayan kafe.
Kalau dipikir-pikir kisah ayahku itu seperti sinetron. Sebuah kehidupan yang dramatik. Gara-gara dendam itu aku dan ibuku hidup dalam ketakutan. Tetapi inilah kehidupanku yang sebenarnya. Sebuah realitas. Bukan mimpi sinema elektronik.
Kamu, Anto Johan?
Seorang tua mendekati wajahku dan mengernyitkan dahi.
Aku buru-buru menggeleng dan membayar minuman ke pelayan.
Langkahku harus cepat, pikirku. Kuayunkan langkah dan berlari jauh sekali dari kafe. Ternyata Pak Tua itu mengejar di belakangku. Kutambah kecepatan ‘bak kijang yang diburu. Jangan-jangan ia Jenderal itu?!
Sebenarnya kuingin berbalik dan kubunuh dia. Tetapi kalau itu benar? Kalau tidak?! Lagipula, ibu selalu memintaku untuk memaafkan dan melupakan semua kejadian masa lalu keluarga kami.
Berhenti...!!!!
Pak Tua itu berteriak seperti orang gila. Aku kemudian berlari terus menuju apartemen dan kututup rapat-rapat pintunya. Segera kuberlari ke wastafel. Napasku tersengal dan kudapati wajahku telah lusuh di cermin. Rambutku telah mulai panjang, bulu-bulu simbol kemaskulinan ini ternyata sudah liar berhias.
Perlahan kuraih alat cukur itu dan segera kuhabiskan rambut di kepala. Cambang dan jenggot pun kutebas habis.
Setiap hari aku selalu digelayuti ketakutan. Semua karena dendam membara. Aku telah memaafkan pembunuh ayahku. Namun aku juga berhak hidup bebas tanpa takut ancaman. Aku tidak protes kalau aku harus melicinkan kepala dan wajah, tetapi itu akan kulakukan kalau aku bisa hidup bebas.
* * *
Alat perekam itu telah selesai diputar. Aku masih duduk di kursi terdakwa. Terdiam dituduh membunuh Jenderal Urya. Aku bahkan tak tahu mengapa ia mati? Bukankah dia yang mengejarku?! Kini seantero jagad tahu kalau aku anak Anto Johan, provokator rakyat. Hal yang tidak pernah dilakukan ayah.
Apa keadilan tidak memihakku lagi seperti tidak membela ayah?
Pembunuhan terhadap Jenderal Urya. Terdakwa : Fajar Nusantoro, dijatuhi hukuman mati.
Oh, tidak?!?!!!! Ajal akan menjemputku. Hakim sudah mengetokkan palunya...! (*)
Nada itu baru terlantun di bibir. Riuh audiens menghantarku kembali ke meja. Sebenarnya tak satu pun pengunjung yang kukenal di kafe ini. Mungkin mereka hanya suka lagu lawas yang baru kulantunkan.
Mas, suaranya bagus.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Ritual kesantunan. Sesaat aku menunduk. Rendah sekali. Sebuah memori berterbangan halus di alam sadar...
Ada luka di balik lagu itu. Bukan karena aku yang mencipta. Entah siapa yang membuatnya?! Yang jelas aku hidup dari lagu ini. Aku mau melupakan saja pengalaman menyakitkan itu. Mungkin buatku dulu, menggembirakan. Menyenangkan. Saat ibu menyanyikan lagu itu, aku turut melafalkan.
Uh... hatiku begitu miris. Lebih tepatnya, trenyuh.. Sekarang aku kehilangan dia. Di mana ibu? Aku sudah berusaha mencari. Sebuah pencarian detektif. Kenapa? aku belum siap semua orang tahu. Titik. Ingin tahu? Dengarkan saja. Diam, jangan komen. Aku tidak suka.
Deep Blue Kiss, satu.
Pelayan itu mengangguk setelah aku memesan minuman.
Sekarang aku hidup sendiri. Aku punya perusahaan, sebuah swalayan berisi kebutuhan rumah tangga. Aku sudah buka 5 cabang di kota ini. Terlampau cukup untuk penghasilanku. Sangat tidak cukup untuk kebahagiaan batinku. Aku tidak pernah tersenyum saat tahu ibuku pergi.
* * *
wanita 30 tahun-an itu berjalan dengan alas kaki dan pakaian seadanya. Ia selalu membawa tutup-tutup botol, dipaku jadi satu pada kayu kecil. Ecek-ecek, orang Jawa menyebut.
Ia dipanggil ‘Ti dan hanya seorang anak 3 tahun saja yang ada di gendongannya. Ia bernyanyi dari angkutan umum satu ke angkutan umum lain. ‘Ti berkeliling di terminal sepanjang hari.
Setangkai anggrek bulan....¯
Widuri,... engkau bagai rembulan, sayang.... ¯
Bengawan Solo.... riwayatmu kini....¯
Suara ‘Ti tidak terlalu sumbang. Ia bernyanyi dengan ramah dan selalu mendoakan penumpang agar selamat sampai di tujuan mereka. Banyak yang simpatik. Tidak sedikit yang mencibir.
Masa, ngamen ngajak anaknya? Mau ngajari males?
Keluhan sok peduli itu selalu diberi hadiah senyuman. ‘Ti sadar, mereka tidak empati padanya. Tidak perlu melakukan itu juga tak apa.
Maafkan ibu ya, ‘ngger....
Kalimat itu yang selalu ia bisikkan kepada gendongannya.
Tak terasa pipiku dialiri air mata mengingingatnya. Aku benar-benar tahu mengapa ;’ibu melakukan itu. Aku tidak merasa diajari malas olehnya. Aku malah tahu bagaimana harus menghargai uang, keping demi keping. Aku benci orang-orang yang memandang ibuku sebelah mata. Aku ingin berteriak kepada mereka dari dulu, aku bangga pada mbak ‘Ti, ibuku....!!!
Pasti kau bertanya, di mana ayahku, kan? Aku tidak pernah melihatnya! Sejak aku pertama membuka mata di dunia ini, bahkan. Kata ibu dia dipenjara. Dihukum negara karena tindakannya dianggap merusak nama baik seorang jenderal. Ia membawa lari hartanya dan memfitnah Jenderal itu.
Kata ibu, semua kata orang itu bohong. Ia tidak pernah melakukan itu. Ayah hanya alat ketenaran. Semua karena Jenderal itu ingin kekuasaan dan ingin menghapus kebejatannya sendiri. Ayah digunakan sebagai kambing hitam. Kambing congek Jenderal itu. Ayahku lalu tewas tertembak.
Sekarang aku ingin berteriak lagi, kalau ayahku bukan kambing congek....!!!!
* * *
‘Kan kuingat di dalam hatiku, betapa indah….¯
‘Ngger, jangan ikut-ikut! Kamu sekolah saja. Ibu masih sanggup bekerja.
Biasanya aku langsung ngeloyor pergi ke kasur kalau ibu menegur seperti itu. Aku hanya ingin mencari uang sendiri. Ibu sama sekali tidak mengijinkan. Katanya, wajahku sangat mirip ayah.
Berbahaya, ‘ngger kalau kamu nanti ada yang menculik....
Aneh? Itu pikirmu, kan? Sama. Apa hubungannya ngamen dengan aku mirip ayah. Bukankah itu lumrah, kan?
Selain ibu tidak ingin kamu bekerja keras, ada alasan lain...
Apa?
Nanti saja kalau sudah waktunya.
Tapi, bukankah dulu aku juga ikut ibu ngamen?
Sudahlah, ngger....
Kalau sudah begitu aku pasti diam. Aku tidak ingin membuat ibu gundah. Menurut saja, apa susahnya. Aku yakin ibu punya alasan kuat di balik itu. Aku akan menunggu penjelasan itu. Aku menantinya sampai aku besar, mungkin.
* * *
‘Ngger sudah waktunya.
Ah, sebenarnya aku benci ini. Aku sudah besar, ingin rambutku panjang. Tapi lebih baik menurut saja. Aku kemudian duduk di kursi dan ibu mencukurku. Helai demi helai rambut lurusku yang sudah panjang itu berjatuhan di lantai.
Tidak butuh waktu lama, kepalaku sudah licin.
Kalau begini kamu tidak terlalu mirip ayah.
Aku memandangi wajahku di depan cermin. Kuelus perlahan kepala ini. Plontosnya aku... dan aku belum berani bertanya lagi mengapa ibu selalu berkata seperti itu. Aku lebih rela tampak seperti Pak Ogah.
‘Ngger ingat, jangan pernah memelihara jambang, kumis, jenggot dan rambut panjang. Ibu tidak pernah meminta apa-apa, turuti saja ini, ya...
Aku mengangguk. Lagi-lagi.
Kubasuh kepala licin ini, bersih dari sisa-sisa cukuran.
Ayahmu tewaspun, masih dibebani dendam Jenderal gadungan itu. Ia akan membunuh keturunannya.
Apa? Aku sangat tersentak.
Jangan takut, ‘ngger... selama ada ibu, aku akan menjagamu.
Pantas, ibu begitu risau kalau aku mirip ayah.
* * *
Mau pesan anggur?
Aku hanya menggeleng membalas tawaran pelayan kafe.
Kalau dipikir-pikir kisah ayahku itu seperti sinetron. Sebuah kehidupan yang dramatik. Gara-gara dendam itu aku dan ibuku hidup dalam ketakutan. Tetapi inilah kehidupanku yang sebenarnya. Sebuah realitas. Bukan mimpi sinema elektronik.
Kamu, Anto Johan?
Seorang tua mendekati wajahku dan mengernyitkan dahi.
Aku buru-buru menggeleng dan membayar minuman ke pelayan.
Langkahku harus cepat, pikirku. Kuayunkan langkah dan berlari jauh sekali dari kafe. Ternyata Pak Tua itu mengejar di belakangku. Kutambah kecepatan ‘bak kijang yang diburu. Jangan-jangan ia Jenderal itu?!
Sebenarnya kuingin berbalik dan kubunuh dia. Tetapi kalau itu benar? Kalau tidak?! Lagipula, ibu selalu memintaku untuk memaafkan dan melupakan semua kejadian masa lalu keluarga kami.
Berhenti...!!!!
Pak Tua itu berteriak seperti orang gila. Aku kemudian berlari terus menuju apartemen dan kututup rapat-rapat pintunya. Segera kuberlari ke wastafel. Napasku tersengal dan kudapati wajahku telah lusuh di cermin. Rambutku telah mulai panjang, bulu-bulu simbol kemaskulinan ini ternyata sudah liar berhias.
Perlahan kuraih alat cukur itu dan segera kuhabiskan rambut di kepala. Cambang dan jenggot pun kutebas habis.
Setiap hari aku selalu digelayuti ketakutan. Semua karena dendam membara. Aku telah memaafkan pembunuh ayahku. Namun aku juga berhak hidup bebas tanpa takut ancaman. Aku tidak protes kalau aku harus melicinkan kepala dan wajah, tetapi itu akan kulakukan kalau aku bisa hidup bebas.
* * *
Alat perekam itu telah selesai diputar. Aku masih duduk di kursi terdakwa. Terdiam dituduh membunuh Jenderal Urya. Aku bahkan tak tahu mengapa ia mati? Bukankah dia yang mengejarku?! Kini seantero jagad tahu kalau aku anak Anto Johan, provokator rakyat. Hal yang tidak pernah dilakukan ayah.
Apa keadilan tidak memihakku lagi seperti tidak membela ayah?
Pembunuhan terhadap Jenderal Urya. Terdakwa : Fajar Nusantoro, dijatuhi hukuman mati.
Oh, tidak?!?!!!! Ajal akan menjemputku. Hakim sudah mengetokkan palunya...! (*)
Joko Dolog
Hariku begitu melelahkan tampaknya. Bagaimana tidak ?! Seluruh kegiatan yang kulakukan aku sambung secara berturut-turut dalam sehari. Berangkat jam enam pagi dari rumah, kuliah sampai jam satu, terus janji ama Ria ke Mall, nemenin Ibu ke Pasar lalu nyambung lagi ngurusi kafe. Badanku rasanya terbelah-belah deh. Makanya kuhempaskan saja dengan pasrah di atas ranjang. Meski begitu, mata ini tak mau segera terpejam, terus memandangi langit-langit kamarku sembari inget kejadian di kampus siang tadi. Sungguh menambah beban lelahku.
Aku kesel banget sama Arik. Bisa-bisanya dia bersikap dingin saat kami berpapasan. Bahkan aku yang senyum dan nyapa dia dulu, eh Arik cuman bales sekenanya aja. Ingin aku dorong dia, tapi untung aku masih bisa mengontrol diri. Sebenarnya aku agak bingung juga atas sikapnya yang aneh itu. Baru semalam kami bercanda di telepon, ketawa-ketawa, namun mengapa dia berubah hanya dalam sehari. Apa selama ini dia hanya mempermainkan aku? Kuharap tidak. Sebab aku sudah telanjur memberikan hatiku kepadanya.
Sesaat aku membuka halaman-halaman buku harianku. Aku selalu menulis setiap hal tentang Arik. Aku inget saat kami pertama ketemu dulu. Waktu OSPEK, doi satu-satunya senior yang aku kagumi. Orangnya tidak banyak cakap namun ramah, wajahnya terlihat cool dan smart. Itu alasannya aku jadi menaruh hati. Belum lagi Arik jago banget main piano. Bagiku, itu menambah kesempurnannya.
Sedari awal aku sadar kalo Arik itu bukan tipe cowok yang rame dan friendly. Lain denganku yang selalu heboh kalo lagi gaul. Terlalu beda memang. Tetapi setelah aku berusaha menjadi temen deketnya selama beberapa bulan ini, aku belajar banyak hal dari dia. Mulai kedisplinan sampai kesabaran. Bagiku, Arik itu cowok yang spesial banget dari semua yang pernah aku kenal.
“Jangan terlalu mengharapkannya, Lia.” Itu yang selalu Dina, sobatku, katakan. Tetapi aku seakan tak pernah mempedulikan itu. Meski aku telah banyak kecewa akan semua sikap-sikapnya yang sulit ditebak, aku malah bertambah sayang sama Arik. Dia selalu membuat aku penasaran, itu yang kusuka darinya.
Arik terkadang ramah dan enak diajak ngobrol kalo di telepon. Namun kalo kami ketemu, terkadang doi jadi cowok yang pendiam banget, seperti patung ‘Joko Dolog’ yang ada di kotaku. Kami memang belum mengikat apa-apa, apalagi jadian. Mungkin hanya sebatas temen deket. Habis bagaimana, Arik itu terlalu pasif. Sampai detik ini pun aku nggak ngerti apa dia juga menaruh hati kepadaku. Entahlah, aku terlalu lelah memikirkan semua ini. Tak sadar aku sudah terlelap dalam mimpi.
* * *
“Kak Lia. Kak.” Teriakan Marcel adikku membangunkanku dari lelap. Aku lalu membalasnya dengan malas. “Ada apa, Cel?”
“Ada yang cari kakak.” Aku sesaat kaget mendengar suara adik cewekku satu-satunya ini. Kulirik wekerku, astaga sudah jam sembilan! Kemudian aku membuka pintu kamar dan segera aku menjumpai wajah mungilnya ini.
“Siapa?”
“Enggak tahu.”
“Kamu gak tanya namanya?”
“Laki-laki, orangnya tinggi, putih, kurus, rambutnya lurus,...”
“Heh, sudah-sudah. Aku tahu yang kau maksud.”
“Pacar kakak, ya?”
“Ssst! Ngawur kamu. Suruh tunggu sebebentar.” Aku langsung beranjak dan buru-buru ke kamar mandi. Sebenarnya aku sungguh terkejut, buat apa Arik, si Joko Dolog itu pagi-pagi datang ke rumah. Apa ada yang penting, ya?
Setelah kurasa sudah rapi, kemudian aku berjalan ke ruang tamu menemuinya.
“Hai Lia, selamat pagi.” dia menyapaku dulu dengan senyum ramahnya yang khas.
“Maaf, aku lama. Baru bangun, nih. Kamu sih, datangnya kepagian.”
“Oh, jadi aku mengganggu ?”
“Oh, tidak. Tidak. Hanya bercanda. Oh, ya ada perlu apa ?”
Arik terdiam sejenak ketika aku bertanya begitu. Namun beberapa saat kemudian ia mengeluarkan suara, “Apa kamu hari ini ada acara? Bisa nemenin aku jalan-jalan?”
Jantungku rasanya copot mendengar ia berkata seperti itu. Sama sekali aku tak menduganya. Ingin aku melompat saking girangnya, inilah saat-saat yang aku tunggu. Tetapi karena Arik ada di depanku, aku pun diam aja, memastikan apa dia sungguh-sungguh atau tidak.
“Lia, kamu bisa atau tidak?” suaranya yang cool itu menyadarkanku.
Kemudian aku bangkit dan tersenyum kepadanya. “Ok. Ok. Aku bisa. Tetapi dalam rangka apa nih, kamu ngajak jalan?”
Raut mukanya berubah jadi serius ketika aku berkata seperti itu.
“Aku, mau ngomong satu hal ke kamu?”
Betapa hatiku terkejut mendengarnya, jangan-jangan Arik mau nembak aku hari ini. Tapi, enggaklah aku gak mau ‘GR’ dulu.
“Ada satu masalahku yang perlu aku ceritakan......”
Tuh kan, bener. Arik bukan mau ‘nembak’. Melihat wajahnya yang serius itu, pasti ada yang penting banget buat dia.
Di mataku, Arik itu termasuk orang yang tertutup sekali. Mana pernah ia punya temen deket di kampus atau di manapun. Tetapi semenjak dia deket denganku akhir-akhir ini, ia mulai membuka sedikit demi sedikit kepribadiannya kepadaku. Itupun kalo aku tanya, dia mau bercerita atau terkadang dia sendiri malah yang cerita tentang keluarganya.
* * *
Kami sudah sampai di warung kaki lima, taman kota. Cerahnya hari membuat suasana tambah sejuk. Aku kemudian menghampiri salah satu meja diikuti Arik. Perutku keroncongan lalu segera saja kupesan masakan kesukaanku dan Arik memesan bubur ayam. Mataku lalu berkeliling ke sekitar warung itu.
“Tumben, minggu-minggu gini kok sepi ya, Rik ?” aku membuka percakapan dengannya sekedar melepas ketegangan yang nampak dari wajah Arik.
“Eh, tahu enggak, Rik. Waktu kecil aku sering maen ke sini sama ayahku, lho. Pernah ya, aku salah memukul orang. Mulanya aku kira itu ayahku, ternyata bukan. Aku langsung malu dan lari deh.”
“Lia,.... apakah sekarang kamu sedang mencintai seseorang ?” pertanyaan Arik itu rasanya membuat aku pingsan. Aduh, Joko Dolog...... !!!
Aku tidak berani menatap matanya yang penuh tanda tanya yang besar.
“Baiklah. Maaf. Pertanyaanku mungkin terlalu mengagetkanmu. Tapi sekali lagi aku mau minta maaf terlebih dahulu. Ini adalah saat yang mendesak yang harus aku lakukan.” Sekali lagi Arik terus menatapku tanpa berpaling.
“Lia,.... maukah kau jadi kekasihku ?”
ASTAGA ?! Gila!! Kata-kata itulah yang selalu kutunggu selama ini.
“Untuk sebuah alasan apa ?” tak sadar bibirku berucap.
“Ayahku sakit keras dan kemungkinan untuk hidup sudah kecil. Beliau ingin melihat calon istiriku, sebelum.....” Arik tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Kini dia tertunduk dan kulihat satu titik air ada di sudut matanya.
Tanganku mengusap-usap pundaknya.
“Lia, kumohon....”
“Baiklah.” Oh, my God ?! aku mengiyakan untuk jadi kekasihnya ?!!! Apa-apaan ini? Jantungku bahkan berdegup kencaaang sekali.
“Aku janji, setelah itu, aku akan meninggalkanmu dan kamu bebas memilih kekasih, siapapun itu.” Kata-kata Arik yang terakhir inilah yang tidak aku harapkan..... o
Aku kesel banget sama Arik. Bisa-bisanya dia bersikap dingin saat kami berpapasan. Bahkan aku yang senyum dan nyapa dia dulu, eh Arik cuman bales sekenanya aja. Ingin aku dorong dia, tapi untung aku masih bisa mengontrol diri. Sebenarnya aku agak bingung juga atas sikapnya yang aneh itu. Baru semalam kami bercanda di telepon, ketawa-ketawa, namun mengapa dia berubah hanya dalam sehari. Apa selama ini dia hanya mempermainkan aku? Kuharap tidak. Sebab aku sudah telanjur memberikan hatiku kepadanya.
Sesaat aku membuka halaman-halaman buku harianku. Aku selalu menulis setiap hal tentang Arik. Aku inget saat kami pertama ketemu dulu. Waktu OSPEK, doi satu-satunya senior yang aku kagumi. Orangnya tidak banyak cakap namun ramah, wajahnya terlihat cool dan smart. Itu alasannya aku jadi menaruh hati. Belum lagi Arik jago banget main piano. Bagiku, itu menambah kesempurnannya.
Sedari awal aku sadar kalo Arik itu bukan tipe cowok yang rame dan friendly. Lain denganku yang selalu heboh kalo lagi gaul. Terlalu beda memang. Tetapi setelah aku berusaha menjadi temen deketnya selama beberapa bulan ini, aku belajar banyak hal dari dia. Mulai kedisplinan sampai kesabaran. Bagiku, Arik itu cowok yang spesial banget dari semua yang pernah aku kenal.
“Jangan terlalu mengharapkannya, Lia.” Itu yang selalu Dina, sobatku, katakan. Tetapi aku seakan tak pernah mempedulikan itu. Meski aku telah banyak kecewa akan semua sikap-sikapnya yang sulit ditebak, aku malah bertambah sayang sama Arik. Dia selalu membuat aku penasaran, itu yang kusuka darinya.
Arik terkadang ramah dan enak diajak ngobrol kalo di telepon. Namun kalo kami ketemu, terkadang doi jadi cowok yang pendiam banget, seperti patung ‘Joko Dolog’ yang ada di kotaku. Kami memang belum mengikat apa-apa, apalagi jadian. Mungkin hanya sebatas temen deket. Habis bagaimana, Arik itu terlalu pasif. Sampai detik ini pun aku nggak ngerti apa dia juga menaruh hati kepadaku. Entahlah, aku terlalu lelah memikirkan semua ini. Tak sadar aku sudah terlelap dalam mimpi.
* * *
“Kak Lia. Kak.” Teriakan Marcel adikku membangunkanku dari lelap. Aku lalu membalasnya dengan malas. “Ada apa, Cel?”
“Ada yang cari kakak.” Aku sesaat kaget mendengar suara adik cewekku satu-satunya ini. Kulirik wekerku, astaga sudah jam sembilan! Kemudian aku membuka pintu kamar dan segera aku menjumpai wajah mungilnya ini.
“Siapa?”
“Enggak tahu.”
“Kamu gak tanya namanya?”
“Laki-laki, orangnya tinggi, putih, kurus, rambutnya lurus,...”
“Heh, sudah-sudah. Aku tahu yang kau maksud.”
“Pacar kakak, ya?”
“Ssst! Ngawur kamu. Suruh tunggu sebebentar.” Aku langsung beranjak dan buru-buru ke kamar mandi. Sebenarnya aku sungguh terkejut, buat apa Arik, si Joko Dolog itu pagi-pagi datang ke rumah. Apa ada yang penting, ya?
Setelah kurasa sudah rapi, kemudian aku berjalan ke ruang tamu menemuinya.
“Hai Lia, selamat pagi.” dia menyapaku dulu dengan senyum ramahnya yang khas.
“Maaf, aku lama. Baru bangun, nih. Kamu sih, datangnya kepagian.”
“Oh, jadi aku mengganggu ?”
“Oh, tidak. Tidak. Hanya bercanda. Oh, ya ada perlu apa ?”
Arik terdiam sejenak ketika aku bertanya begitu. Namun beberapa saat kemudian ia mengeluarkan suara, “Apa kamu hari ini ada acara? Bisa nemenin aku jalan-jalan?”
Jantungku rasanya copot mendengar ia berkata seperti itu. Sama sekali aku tak menduganya. Ingin aku melompat saking girangnya, inilah saat-saat yang aku tunggu. Tetapi karena Arik ada di depanku, aku pun diam aja, memastikan apa dia sungguh-sungguh atau tidak.
“Lia, kamu bisa atau tidak?” suaranya yang cool itu menyadarkanku.
Kemudian aku bangkit dan tersenyum kepadanya. “Ok. Ok. Aku bisa. Tetapi dalam rangka apa nih, kamu ngajak jalan?”
Raut mukanya berubah jadi serius ketika aku berkata seperti itu.
“Aku, mau ngomong satu hal ke kamu?”
Betapa hatiku terkejut mendengarnya, jangan-jangan Arik mau nembak aku hari ini. Tapi, enggaklah aku gak mau ‘GR’ dulu.
“Ada satu masalahku yang perlu aku ceritakan......”
Tuh kan, bener. Arik bukan mau ‘nembak’. Melihat wajahnya yang serius itu, pasti ada yang penting banget buat dia.
Di mataku, Arik itu termasuk orang yang tertutup sekali. Mana pernah ia punya temen deket di kampus atau di manapun. Tetapi semenjak dia deket denganku akhir-akhir ini, ia mulai membuka sedikit demi sedikit kepribadiannya kepadaku. Itupun kalo aku tanya, dia mau bercerita atau terkadang dia sendiri malah yang cerita tentang keluarganya.
* * *
Kami sudah sampai di warung kaki lima, taman kota. Cerahnya hari membuat suasana tambah sejuk. Aku kemudian menghampiri salah satu meja diikuti Arik. Perutku keroncongan lalu segera saja kupesan masakan kesukaanku dan Arik memesan bubur ayam. Mataku lalu berkeliling ke sekitar warung itu.
“Tumben, minggu-minggu gini kok sepi ya, Rik ?” aku membuka percakapan dengannya sekedar melepas ketegangan yang nampak dari wajah Arik.
“Eh, tahu enggak, Rik. Waktu kecil aku sering maen ke sini sama ayahku, lho. Pernah ya, aku salah memukul orang. Mulanya aku kira itu ayahku, ternyata bukan. Aku langsung malu dan lari deh.”
“Lia,.... apakah sekarang kamu sedang mencintai seseorang ?” pertanyaan Arik itu rasanya membuat aku pingsan. Aduh, Joko Dolog...... !!!
Aku tidak berani menatap matanya yang penuh tanda tanya yang besar.
“Baiklah. Maaf. Pertanyaanku mungkin terlalu mengagetkanmu. Tapi sekali lagi aku mau minta maaf terlebih dahulu. Ini adalah saat yang mendesak yang harus aku lakukan.” Sekali lagi Arik terus menatapku tanpa berpaling.
“Lia,.... maukah kau jadi kekasihku ?”
ASTAGA ?! Gila!! Kata-kata itulah yang selalu kutunggu selama ini.
“Untuk sebuah alasan apa ?” tak sadar bibirku berucap.
“Ayahku sakit keras dan kemungkinan untuk hidup sudah kecil. Beliau ingin melihat calon istiriku, sebelum.....” Arik tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Kini dia tertunduk dan kulihat satu titik air ada di sudut matanya.
Tanganku mengusap-usap pundaknya.
“Lia, kumohon....”
“Baiklah.” Oh, my God ?! aku mengiyakan untuk jadi kekasihnya ?!!! Apa-apaan ini? Jantungku bahkan berdegup kencaaang sekali.
“Aku janji, setelah itu, aku akan meninggalkanmu dan kamu bebas memilih kekasih, siapapun itu.” Kata-kata Arik yang terakhir inilah yang tidak aku harapkan..... o
Kidung Bingung
Perasaan Tia terus gelisah terngiang kata-kata Sandy tadi sore. Meski detak jam makin cepat berputar serta waktu terus bergulir, namun kata-kata Sandy terus terngiang di benaknya. “Cowok yang naksir kamu itu, bukan Alex, Dio, atau Fadly ! Tapi Randy !”
Benarkah Randy yang dimaksud Sherly itu ? Atau cuma Sandy yang salah tebak ?
Tidak ! Oh, tidak, Tuhan. Jangan Randy ! Cowok possesive itu yang tak tahu memperlakukan seorang cewek. Andai saja, yang dimaksud Sherly itu Alex atau Dio, pasti Tia bisa saja menerimanya meski ia sama sekali tak menaruh hati pada mereka. Tapi setidaknya Tia bisa menolaknya secara baik-baik.
Randy ? Oh ! Nafas Tia kembali berhembus untuk kesekian kali. Bola matanya terus menerus berkeliling mencari jawab. Lamunannya tentang Randy bergulir melewati pikirannya.
Randy. Seorang drumer yang gabung di Bandnya Sandy empat bulan lalu. Seorang cowok yang bisa juga dikatakan cakep. Tapi sikapnya yang agak kasar dan egonya yang tinggi bikin Tia jadi senewen tiap kali dia jemput Sandy, sobatnya seusai latihan. Memang Tia selama ini tidak pernah menunjukkan sikap yang sinis pada Randy. Tapi di dalam hatinya itu tersimpan ketidaksukaannya yang dalam.
“Tia !” suara mama yang terdengar diiringi ketukan pintu membuat wajah imut gadis itu menoleh.
“Iya, ma.”
“Ada telpon buat kamu.”
“Siapa ?”
“Diangkat dulu, dong sayang !” ucapan mesra dari seorang mama yang sangat mengasihi putri sulungnya itu terdengar syahdu seiring musik klasik yang terlantun.
“Sandy ?”
“Bukan ! Kalau dia, pasti mama sudah kenal. Mungkin temen sekolahmu.”
Tia langsung menyambar gagang telpon tanpa berpikir panjang lagi, siapa yang menelpon dia di saat kegalauannya seperti ini. “Halo…….”
“Tia ?”
“Iya, ini siapa, ya ?”
“Ah, masak kamu lupa ?”
“Eh, jangan main-main dong ! Kalau memang cuman main-main besok aja di sekolah ! Halo, siapa sih ini ? Halo,…..” suara Tia yang ketus karena jengkel itu sempat bikin kaget si penelpon.
“Ah ! Begitu saja marah, Non ! Ini Randy !”
Seketika itu juga petir serasa menyambar rumah hati Tia. Sosok yang dia pikirkan tadi kini suaranya telah ada di telinga Tia. Alamak ! Bagaimana ini ? Tia langsung jadi gugup saat itu juga.
“Ada apa, Ran ? Mau tanya nomor HPnya Sandy ? 081 120 04 84. Kebetulan saat ini dia ada di konsernya PADI di Gedung Kesenian !” Salting (salah tingkah) Tia makin menjadi-jadi. Rasanya ia pengen segera nutup telpon itu.
“Lho ! lho ! kok Sandy, sih ? Siapa yang tanya HPnya Sandy ? Orang sudah tahu, kok !”
Wajah Tia makin memerah. Jika saja itu bukan di telpon, pasti Tia sudah langsung menutup wajahnya.
“Aku nelpon, bukan tanya Sandy. Aku cuman pengen ngobrol sama kamu. Kebetulan aku lagi nganggur banget !”
“Memangnya di sekolahmu nggak lagi musim Ulangan Harian, Ran?”
“Musim Duren ada ! Ha….ha…ha……ha…”
Tawa lebar Randy di telpon sama sekali tidak menciptakan kegembiraan sedikitpun di hati Tia. Yang ada di benaknya sekarang, ialah bagaimana cara nutup telponnya agar Randy nggak tersinggung.
“Memangnya kamu besok ada ulangan, Tia ?” pertanyaan inilah yang ditunggu Tia sedari tadi agar ia dapat segera menutup telponnya.
“Oh, iya ! Iya ! betul ! Pasti Sandy udah cerita kalo aku akhir-akhir ini banyak ulangan dan tugas. Besok saja aku ulangan Tata Negara, belum lagi tugas Antro untuk buat makalah.”
“Wah, jadi,… aku ganggu, dong !”
“Eh, Iya ‘sih …”
“OK, deh kalo gitu. Udah dulu ya ! ‘Met belajar, Non Tia ! Malem !”
Lega rasanya saat gagang telpon itu sudah ditutup. Baru saja kakinya melangkah, telepon sudah berdering lagi. Mati, deh ! pikir Tia. Kalau sampai itu Randy lagi,…..
“Ha..lo …. “
“Ada apa, Ya’ ! Kok kelihatannya ragu-ragu ?”
“Uh, kamu, San ! Aku pikir siapa !”
“Siapa emangnya ?”
“Tebak siapa tadi yang barusan nelpon aku ?”
“Sherly ? Alex ? Dio ? Dani ? atau,… Kepala sekolah ?”
“Mending kalo cuman kepala sekolah ! cowok yang kamu ceritakan tadi sore itu, tuh ! Sang drumer possesive kebanggaan goup bandmu!”
“Maksudmu Randy ?”
“Iya ! Eh, ngomong-ngomong kamu lagi di mana ‘nih ?”
“Di rumah. “
“Hah ?! Jadi, bukannya di konsernya PADI ?’
“Konsernya besok, Tia sobatku !”
“Yah ! Aku tadi bohong ‘dong ama Randy.” Tia kemudian menceritakan segala keresahan dan kegugupannya menghadapi Randy barusan. Dengan detailnya, tanpa pengurangan sedikitpun ia luapkan pada sobat tercintanya yang satu tahun lebih muda darinya itu.
“Memangnya kamu besok bener-bener Ulangan Tata Negara ?”
“Enak aja ! emangnya aku tukang bohong ?”
“Yah, bisa saja itu. Namanya juga orang lagi salting !”
* * *
Pagi itu seperti biasa, Tia diantar Papa ke sekolah. Dengan ditemani udara pagi yang dingin, motor Papa melaju memecah keheningan pagi. Meski catatan Ta.Neg. udah ada di tangan, namun sedari tadi Tia hanya melamun saja. Memikirkan cara yang baik untuk menghindari Randy. Untung Randy nggak satu sekolah. Itu yang ada di benak Tia saat ini. Sehingga setidaknya, ia kini bisa konsen pada mata pelajaran.
Tatapan Tia beralih pada gerbang coklat yang besar. Gerbang sekolahnya. Ia lalu turun dari motor dan mengucapkan sepatah dua patah pada Papa.
Kini Tia berjalan menelusuri lorong panjang menuju kelasnya.
“Ya’ ! kamu udah belajar Ta.Neg ?” kata-kata Sherly itu sempet bikin Tia kaget dan menoleh, “Sudah. Emangnya kenapa, Sher ?’
“Ah, nggak ! Cuman tanya doang !” Sherly kemudian menghampiri Bangku Tia dengan masih memegang catatan Ta.Neg di tangan kirinya. “”Ya’ ! Kamu pasti udah tahu dong, cowok yang aku ceritain itu. Yang naksir kamu, …”
“Iya. Sandy udah cerita sama aku, kemarin.”
“Ooh !”
“Bahkan dia udah telpon, saat aku sedang belajar !” gambaran kekesalannya kembali terlukis dalam wajah Tia mengingat kejadian semalam.
Sementara Sherly hanya memandang wajah Tia dengan tatapan berbinar-binar. “Ya’ ! kamu tahu nggak ?! Si Randy itu udah naksir kamu sejak tiga tahun yang lalu !”
“Tiga tahun ?!” alamak ! Berita apa lagi itu ? Hati Tia terus berdegup. “Bukankah dia baru gabung di band kalian, empat bulan lalu ?” kini rasa resah Tia makin mengalir memenuhi hatinya.
“Iya, tapi bukankah juga kalian pernah satu les-lesan, waktu SMP?”
“Ah, iya. Aku baru inget. Lantas kenapa baru sekarang ia ungkapkan perasaannya ? Pakai orang ketiga lagi. Bukan hanya orang ketiga lagi, bahkan orang keempat, kelima, keenam. Semua orang sampai sudah tahu mengenai hal itu !” kekesalan Tia makin menjadi-jadi.
“Tapi Randy itu tipe cowok setia, lho. Dia tidak gampang ‘nembak’ cewek !”
“Bukankah dia itu terkenal sebagai cowok possesive ?! Semua orang yang terlibat di Band kalian sudah tahu itu. Bahwa Randy bisa bersikap demikian, meskipun masih dalam PDKT. ……. Masih PDKT aja udah demikian possesive-nya, apalagi udah ‘jadian’ ?! Nggak kebayang deh !”
“Ya’! Kamu pasti belum tahu ! Randy udah berubah sejak dia putus ama pacarnya.”
“Kapan ?”
“Dua bulan yang lalu !”
Pembicaraan mereka terhenti karena bel masuk udah terdengar. Dan tak terasa, kelas yang tadinya masih dihuni baru dua orang saja, kini sudah penuh.
* * *
Randy udah berubah ? Pikiran Tia melayang sejak ia meletakkan tas sekolah di meja belajarnya. Ia lalu mengingat moment yang terjadi sebulan terakhir. Memang benar. Akhir-akhir ini, Randy nggak pernah lagi membentaknya kalau ia nggak sengaja ganggu latihan mereka. Randy pernah nawarin segelas soft drink padanya. Bahkan pernah memberi Tia boneka panda, saat Tia, Sandy, Sherly dan temen-temen lain lagi JJS di mall.
Tapi bagaimanapun, Tia tidak menaruh hati sedikitpun pada Randy. Pandangan Tia tanpa sengaja beralih pada sebuah boneka panda kecil yang berwarna kuning, terletak rapi diantara deretan boneka lain. “Randy,…. Meski kamu telah berubah sebaik apapun, aku nggak bisa nerima kamu. Aku nggak naruh perasaan apa-apa sama kamu.” Tidak terasa bibir Tia melantunkan kata-kata setelah ia mengambil panda kuning itu dan memain-mainkan ujung hidungnya.
Sesaat lamunan Tia terhenti oleh dering suara telepon. Ia lalu melangkah ke luar kamar.
“Halo,..”
“Selamat siang, non Tia, lagi ngapain ?”
“Randy ?”
“Benar sekali. Akhirnya kamu nggak bentak-bentak aku lagi. Aku seneng lho !”
“Kamu di mana, Ran ?”
“Di rumah. Oh, iya, entar malem kamu ada acar nggak ? Ikut yuk nonton konsernya PADI. Nanti kujemput deh !”
“Eh, tapi….”
“Katanya Sherly, besok nggak ada ulangan. Aku nanti ke rumahmu jam enam, ya. Udah, ya ! Sampai nanti ….!”
Suara Randy telah hilang. Tapi Tia belum menjawab apa-apa. Meski kini dalam hatinya tidak lagi menaruh benci pada Randy, namun dinding-dinding hatinya gelisah dan bingung. Bagaimana nanti kalau Randy ‘nembak’ dia. Tapi,.. ia bukan tipe cowok yang gampang ‘nembak’ ! Serentetan pertanyaan itu terus berjamur di pikirannya.
* * *
Gaun biru itu telah menempel pada tubuh Tia. Sementara tangannya memain-mainkan ujung tasnya. Gelisah menunggu Randy menjemput. Mama kebetulan pergi dan sudah pula mengijinkan putri kesayangannya untuk nonton konser. Pandangan mata Tia tak pernah tetap. Ia terus gelisah. Entah perasaan apa yang ada di hatinya ? Perasaan cintakah ? Entah. Tia terus bingung dan gelisah.
Suara pagar yang sengaja diketuk itu membuat Tia berdiri dan merapikan kembali gaunnya. Ia langsung meraih daun pintu dan keluar dengan wajah berbinar. Setelah ia mengunci pintu depan ia lalu berjalan dan membuka pintu pagar.
“Selamat malam, Tia.” Suara Randy itu membuat Tia makin resah, namun ia berhasil menutupnya dengan sedikit lengkung bibir yang menghiasi wajahnya.
Taxi mereka telah melaju turut ramai malam minggu.
“Memangnya, Sandy nggak cerita apa-apa ?”
“Soal apa ? …. Memang akhir-akhir ini, kami jarang kontak. Habis,.. dia sibuk terus sih !”
“Band kami jadi band pembuka Padi !”
“Masak ? Wah, hebat !”
Tak terasa, setelah melalui berbagai obrolan panjang, mereka telah tiba di gedung Kesenian. Dengan romantisnya, Randy membukakan pintu taxi untuk Tia, sang ‘maha dewi’-nya.
“Memangnya kalian membawakan lagu apa ?”
“Lagu ciptaan Sandy, yang kemudian diaransemen oleh anak-anak.”
“Apa judulnya ?’
“Kidung Bingung.” Mendengar judul lagu itu Tia jadi tertawa terbahak-bahak.
“Lho, kok, ketawa ?”
“Nggak apa-apa ! Eh, itu Sandy !” melihat Sandy, Tia langsung meninggalakn Randy yang kebingungan karna tawa Tia tadi. Dengan sedikit berbisik, Tia berkata pada Sandy dengan cubitan kecil di lengan Sandy, “Kamu jahat. Mau konser ama Padi, nggak bilang-bilang !”
Sambil menahan sakit cubitan sobatnya itu, Randy juga berbisik, “Sorry ! Sorry ! kamunya juga sih, yang sibuk terus waktu kuhubungi !”
Kali ini cubitan yang mendarat di lengan Sandy telah dilepaskannya. “Pakai lagunya orang, lagi !”
“Dari mana kamu tahu ?”
“Tuh !” arah pandangan Tia lalu menunjuk pada Randy yang telah duduk diantara personil BIRU, Bandnya Sandy di depan ruang ganti. Spontan Sandy langsung menarik lengan Tia dan bergeser sedikit dari tempat ngobrol mereka. Seraya masih berbisik, Sandy berkata, “Enak aja ! itu kan lagu ciptaanku sendiri !”
“Tapi, pakai perasaannya siapa waktu itu ?”
“Iya deh ! Aku ngaku, itu perasaan resahmu waktu ditaksir Randy !” Tia langsung terdiam. Pikirannya teringat kejadian waktu itu. Sementara Sandy berbisik lagi, “Eh, tapi, kamu kok mau dijemput Randy, ‘sih ? …. Jangan-jangan kamu udah bener-bener jatuh cintrong, ya ?”
Cubitan kedua langsung ia layangkan lagi ke lengan Sandy, “Hush ! enak aja ! Justru saat ini aku masih bingung. Aku ini bener-bener jatuh cinta, atau hanya perasaan resah saja. “
“San, udah waktunya, nih !” suara mas Franky, manager BIRU membuat pembicaraan Tia jadi berakhir.
“Oh, iya, Ya’ ! Ini,..” Randy mengeluarkan sesuatu dari saku jas hitamnya, “Ini, aku hampir lupa. Ini tiketnya dan ini ada sesuatu buat kamu. Udah dulu ya !” Randy kemudian berjalan menjauh sementara Tia membalas senyum Sherly, bassist group band mereka, yang juga temen sekelasnya.
* * *
Tia kini telah duduk di kursi penonton. Di deretan VIP lagi. Sejenak matanya berkeliling memperhatikan panggung dan penonton lain, wah ! banyak juga ya, yang nonton, gumam Tia. Sesaat kemudian Tia ingat sesuatu. Sesutau yang diberikan Randy padanya. Sebenarnya, ia ingin membukanya di rumah, namun perasaannya terus membuat ia terdorong untuk segera membukanya. Kemudian ia buka bungkusan kado mungil warna biru itu.
Ternyata isinya kalung dengan liontin berbentuk hati, berwarna perak. Di baliknya terselip kartu bertuliskan : “ Aku sayang kamu, Tia ! ... dari : Randy “
Jantungnya kembali berdegup membaca kata-kata itu. Pandangannya lalu beralih pada pentas yang telah diisi oleh personil-personil BIRU BAND. Tatapannya langsung ia tujuakan pada sang drummer. Randy langsung membalas dengan senyuman manis, namun Tia hanya memberi sedikit lengkung bibir karna hatinya yang resah.
Tak lama lagu itu terlantun. “Kidung Bingung” lagu yang melukiskan keresahan hatinya. Sandy, sang vokalis telah mulai masuk ke bait pertama. Tak terasa bibir Tiapun ikut melatunkan lagu itu :
Jalinan hasrat mengais asa yang membumbung
Tak ada yang berani mencuri pandang
Melati di hati terpetik kembali.
Lirikan mata jadi suatu perhentian
Tak ada yang berani menyentuh hati
Mawar berduri menusuk jiwa.
Sementara kegelisahan menghantui,
( reff : ) Bunga-bunga di hati gugur membasahi
Jiwa yang kosong, galau tak terisi.
Ekspresi wajah Sandy begitu menghayati lagu ini. Sementara dengan keseriusannya memperhatikan tempo-tempo, Randy menabuh drumnya dengan tatapan mata yang tak lagi diarahkakan pada Tia.
Hati Tia begitu resah. Ia gigit kedua ujung bibirnya menahan rasa getir. Ternyata cowok seperti Randy, bisa berubah sedemikian baiknya demi mendapatkan cinta Tia.
Tapi bagaimanapun, Tia tidak dapat menerima cinta Randy. Karena dia tak punya perasaan apapun pada diri Randy, apalagi cinta. Namun di lain sisi, Tia takut menolak cinta Randy. Bukan lagi karna dia possesive. Randy kini telah berubah total. Cowok yang dulunya begitu tidak bisa memperlakukan seorang cewek dengan egonya yang tinggi, bisa berubah sedemikian. Tia takut kalau ia menolak Randy, sifatnya yang dahulu bisa-bisa timbul lagi, dan pastilah itu karna tolakan Tia.
Persaan kalut itu terus menerus menghantui perasaannya.
Randy,… andai kamu tahu perasaanku, andai kamu tahu rasa kalutku yang tertuang dalam kidung bingung itu. Tapi, aku takut mengungkapkannya padamu. ……
Benarkah Randy yang dimaksud Sherly itu ? Atau cuma Sandy yang salah tebak ?
Tidak ! Oh, tidak, Tuhan. Jangan Randy ! Cowok possesive itu yang tak tahu memperlakukan seorang cewek. Andai saja, yang dimaksud Sherly itu Alex atau Dio, pasti Tia bisa saja menerimanya meski ia sama sekali tak menaruh hati pada mereka. Tapi setidaknya Tia bisa menolaknya secara baik-baik.
Randy ? Oh ! Nafas Tia kembali berhembus untuk kesekian kali. Bola matanya terus menerus berkeliling mencari jawab. Lamunannya tentang Randy bergulir melewati pikirannya.
Randy. Seorang drumer yang gabung di Bandnya Sandy empat bulan lalu. Seorang cowok yang bisa juga dikatakan cakep. Tapi sikapnya yang agak kasar dan egonya yang tinggi bikin Tia jadi senewen tiap kali dia jemput Sandy, sobatnya seusai latihan. Memang Tia selama ini tidak pernah menunjukkan sikap yang sinis pada Randy. Tapi di dalam hatinya itu tersimpan ketidaksukaannya yang dalam.
“Tia !” suara mama yang terdengar diiringi ketukan pintu membuat wajah imut gadis itu menoleh.
“Iya, ma.”
“Ada telpon buat kamu.”
“Siapa ?”
“Diangkat dulu, dong sayang !” ucapan mesra dari seorang mama yang sangat mengasihi putri sulungnya itu terdengar syahdu seiring musik klasik yang terlantun.
“Sandy ?”
“Bukan ! Kalau dia, pasti mama sudah kenal. Mungkin temen sekolahmu.”
Tia langsung menyambar gagang telpon tanpa berpikir panjang lagi, siapa yang menelpon dia di saat kegalauannya seperti ini. “Halo…….”
“Tia ?”
“Iya, ini siapa, ya ?”
“Ah, masak kamu lupa ?”
“Eh, jangan main-main dong ! Kalau memang cuman main-main besok aja di sekolah ! Halo, siapa sih ini ? Halo,…..” suara Tia yang ketus karena jengkel itu sempat bikin kaget si penelpon.
“Ah ! Begitu saja marah, Non ! Ini Randy !”
Seketika itu juga petir serasa menyambar rumah hati Tia. Sosok yang dia pikirkan tadi kini suaranya telah ada di telinga Tia. Alamak ! Bagaimana ini ? Tia langsung jadi gugup saat itu juga.
“Ada apa, Ran ? Mau tanya nomor HPnya Sandy ? 081 120 04 84. Kebetulan saat ini dia ada di konsernya PADI di Gedung Kesenian !” Salting (salah tingkah) Tia makin menjadi-jadi. Rasanya ia pengen segera nutup telpon itu.
“Lho ! lho ! kok Sandy, sih ? Siapa yang tanya HPnya Sandy ? Orang sudah tahu, kok !”
Wajah Tia makin memerah. Jika saja itu bukan di telpon, pasti Tia sudah langsung menutup wajahnya.
“Aku nelpon, bukan tanya Sandy. Aku cuman pengen ngobrol sama kamu. Kebetulan aku lagi nganggur banget !”
“Memangnya di sekolahmu nggak lagi musim Ulangan Harian, Ran?”
“Musim Duren ada ! Ha….ha…ha……ha…”
Tawa lebar Randy di telpon sama sekali tidak menciptakan kegembiraan sedikitpun di hati Tia. Yang ada di benaknya sekarang, ialah bagaimana cara nutup telponnya agar Randy nggak tersinggung.
“Memangnya kamu besok ada ulangan, Tia ?” pertanyaan inilah yang ditunggu Tia sedari tadi agar ia dapat segera menutup telponnya.
“Oh, iya ! Iya ! betul ! Pasti Sandy udah cerita kalo aku akhir-akhir ini banyak ulangan dan tugas. Besok saja aku ulangan Tata Negara, belum lagi tugas Antro untuk buat makalah.”
“Wah, jadi,… aku ganggu, dong !”
“Eh, Iya ‘sih …”
“OK, deh kalo gitu. Udah dulu ya ! ‘Met belajar, Non Tia ! Malem !”
Lega rasanya saat gagang telpon itu sudah ditutup. Baru saja kakinya melangkah, telepon sudah berdering lagi. Mati, deh ! pikir Tia. Kalau sampai itu Randy lagi,…..
“Ha..lo …. “
“Ada apa, Ya’ ! Kok kelihatannya ragu-ragu ?”
“Uh, kamu, San ! Aku pikir siapa !”
“Siapa emangnya ?”
“Tebak siapa tadi yang barusan nelpon aku ?”
“Sherly ? Alex ? Dio ? Dani ? atau,… Kepala sekolah ?”
“Mending kalo cuman kepala sekolah ! cowok yang kamu ceritakan tadi sore itu, tuh ! Sang drumer possesive kebanggaan goup bandmu!”
“Maksudmu Randy ?”
“Iya ! Eh, ngomong-ngomong kamu lagi di mana ‘nih ?”
“Di rumah. “
“Hah ?! Jadi, bukannya di konsernya PADI ?’
“Konsernya besok, Tia sobatku !”
“Yah ! Aku tadi bohong ‘dong ama Randy.” Tia kemudian menceritakan segala keresahan dan kegugupannya menghadapi Randy barusan. Dengan detailnya, tanpa pengurangan sedikitpun ia luapkan pada sobat tercintanya yang satu tahun lebih muda darinya itu.
“Memangnya kamu besok bener-bener Ulangan Tata Negara ?”
“Enak aja ! emangnya aku tukang bohong ?”
“Yah, bisa saja itu. Namanya juga orang lagi salting !”
* * *
Pagi itu seperti biasa, Tia diantar Papa ke sekolah. Dengan ditemani udara pagi yang dingin, motor Papa melaju memecah keheningan pagi. Meski catatan Ta.Neg. udah ada di tangan, namun sedari tadi Tia hanya melamun saja. Memikirkan cara yang baik untuk menghindari Randy. Untung Randy nggak satu sekolah. Itu yang ada di benak Tia saat ini. Sehingga setidaknya, ia kini bisa konsen pada mata pelajaran.
Tatapan Tia beralih pada gerbang coklat yang besar. Gerbang sekolahnya. Ia lalu turun dari motor dan mengucapkan sepatah dua patah pada Papa.
Kini Tia berjalan menelusuri lorong panjang menuju kelasnya.
“Ya’ ! kamu udah belajar Ta.Neg ?” kata-kata Sherly itu sempet bikin Tia kaget dan menoleh, “Sudah. Emangnya kenapa, Sher ?’
“Ah, nggak ! Cuman tanya doang !” Sherly kemudian menghampiri Bangku Tia dengan masih memegang catatan Ta.Neg di tangan kirinya. “”Ya’ ! Kamu pasti udah tahu dong, cowok yang aku ceritain itu. Yang naksir kamu, …”
“Iya. Sandy udah cerita sama aku, kemarin.”
“Ooh !”
“Bahkan dia udah telpon, saat aku sedang belajar !” gambaran kekesalannya kembali terlukis dalam wajah Tia mengingat kejadian semalam.
Sementara Sherly hanya memandang wajah Tia dengan tatapan berbinar-binar. “Ya’ ! kamu tahu nggak ?! Si Randy itu udah naksir kamu sejak tiga tahun yang lalu !”
“Tiga tahun ?!” alamak ! Berita apa lagi itu ? Hati Tia terus berdegup. “Bukankah dia baru gabung di band kalian, empat bulan lalu ?” kini rasa resah Tia makin mengalir memenuhi hatinya.
“Iya, tapi bukankah juga kalian pernah satu les-lesan, waktu SMP?”
“Ah, iya. Aku baru inget. Lantas kenapa baru sekarang ia ungkapkan perasaannya ? Pakai orang ketiga lagi. Bukan hanya orang ketiga lagi, bahkan orang keempat, kelima, keenam. Semua orang sampai sudah tahu mengenai hal itu !” kekesalan Tia makin menjadi-jadi.
“Tapi Randy itu tipe cowok setia, lho. Dia tidak gampang ‘nembak’ cewek !”
“Bukankah dia itu terkenal sebagai cowok possesive ?! Semua orang yang terlibat di Band kalian sudah tahu itu. Bahwa Randy bisa bersikap demikian, meskipun masih dalam PDKT. ……. Masih PDKT aja udah demikian possesive-nya, apalagi udah ‘jadian’ ?! Nggak kebayang deh !”
“Ya’! Kamu pasti belum tahu ! Randy udah berubah sejak dia putus ama pacarnya.”
“Kapan ?”
“Dua bulan yang lalu !”
Pembicaraan mereka terhenti karena bel masuk udah terdengar. Dan tak terasa, kelas yang tadinya masih dihuni baru dua orang saja, kini sudah penuh.
* * *
Randy udah berubah ? Pikiran Tia melayang sejak ia meletakkan tas sekolah di meja belajarnya. Ia lalu mengingat moment yang terjadi sebulan terakhir. Memang benar. Akhir-akhir ini, Randy nggak pernah lagi membentaknya kalau ia nggak sengaja ganggu latihan mereka. Randy pernah nawarin segelas soft drink padanya. Bahkan pernah memberi Tia boneka panda, saat Tia, Sandy, Sherly dan temen-temen lain lagi JJS di mall.
Tapi bagaimanapun, Tia tidak menaruh hati sedikitpun pada Randy. Pandangan Tia tanpa sengaja beralih pada sebuah boneka panda kecil yang berwarna kuning, terletak rapi diantara deretan boneka lain. “Randy,…. Meski kamu telah berubah sebaik apapun, aku nggak bisa nerima kamu. Aku nggak naruh perasaan apa-apa sama kamu.” Tidak terasa bibir Tia melantunkan kata-kata setelah ia mengambil panda kuning itu dan memain-mainkan ujung hidungnya.
Sesaat lamunan Tia terhenti oleh dering suara telepon. Ia lalu melangkah ke luar kamar.
“Halo,..”
“Selamat siang, non Tia, lagi ngapain ?”
“Randy ?”
“Benar sekali. Akhirnya kamu nggak bentak-bentak aku lagi. Aku seneng lho !”
“Kamu di mana, Ran ?”
“Di rumah. Oh, iya, entar malem kamu ada acar nggak ? Ikut yuk nonton konsernya PADI. Nanti kujemput deh !”
“Eh, tapi….”
“Katanya Sherly, besok nggak ada ulangan. Aku nanti ke rumahmu jam enam, ya. Udah, ya ! Sampai nanti ….!”
Suara Randy telah hilang. Tapi Tia belum menjawab apa-apa. Meski kini dalam hatinya tidak lagi menaruh benci pada Randy, namun dinding-dinding hatinya gelisah dan bingung. Bagaimana nanti kalau Randy ‘nembak’ dia. Tapi,.. ia bukan tipe cowok yang gampang ‘nembak’ ! Serentetan pertanyaan itu terus berjamur di pikirannya.
* * *
Gaun biru itu telah menempel pada tubuh Tia. Sementara tangannya memain-mainkan ujung tasnya. Gelisah menunggu Randy menjemput. Mama kebetulan pergi dan sudah pula mengijinkan putri kesayangannya untuk nonton konser. Pandangan mata Tia tak pernah tetap. Ia terus gelisah. Entah perasaan apa yang ada di hatinya ? Perasaan cintakah ? Entah. Tia terus bingung dan gelisah.
Suara pagar yang sengaja diketuk itu membuat Tia berdiri dan merapikan kembali gaunnya. Ia langsung meraih daun pintu dan keluar dengan wajah berbinar. Setelah ia mengunci pintu depan ia lalu berjalan dan membuka pintu pagar.
“Selamat malam, Tia.” Suara Randy itu membuat Tia makin resah, namun ia berhasil menutupnya dengan sedikit lengkung bibir yang menghiasi wajahnya.
Taxi mereka telah melaju turut ramai malam minggu.
“Memangnya, Sandy nggak cerita apa-apa ?”
“Soal apa ? …. Memang akhir-akhir ini, kami jarang kontak. Habis,.. dia sibuk terus sih !”
“Band kami jadi band pembuka Padi !”
“Masak ? Wah, hebat !”
Tak terasa, setelah melalui berbagai obrolan panjang, mereka telah tiba di gedung Kesenian. Dengan romantisnya, Randy membukakan pintu taxi untuk Tia, sang ‘maha dewi’-nya.
“Memangnya kalian membawakan lagu apa ?”
“Lagu ciptaan Sandy, yang kemudian diaransemen oleh anak-anak.”
“Apa judulnya ?’
“Kidung Bingung.” Mendengar judul lagu itu Tia jadi tertawa terbahak-bahak.
“Lho, kok, ketawa ?”
“Nggak apa-apa ! Eh, itu Sandy !” melihat Sandy, Tia langsung meninggalakn Randy yang kebingungan karna tawa Tia tadi. Dengan sedikit berbisik, Tia berkata pada Sandy dengan cubitan kecil di lengan Sandy, “Kamu jahat. Mau konser ama Padi, nggak bilang-bilang !”
Sambil menahan sakit cubitan sobatnya itu, Randy juga berbisik, “Sorry ! Sorry ! kamunya juga sih, yang sibuk terus waktu kuhubungi !”
Kali ini cubitan yang mendarat di lengan Sandy telah dilepaskannya. “Pakai lagunya orang, lagi !”
“Dari mana kamu tahu ?”
“Tuh !” arah pandangan Tia lalu menunjuk pada Randy yang telah duduk diantara personil BIRU, Bandnya Sandy di depan ruang ganti. Spontan Sandy langsung menarik lengan Tia dan bergeser sedikit dari tempat ngobrol mereka. Seraya masih berbisik, Sandy berkata, “Enak aja ! itu kan lagu ciptaanku sendiri !”
“Tapi, pakai perasaannya siapa waktu itu ?”
“Iya deh ! Aku ngaku, itu perasaan resahmu waktu ditaksir Randy !” Tia langsung terdiam. Pikirannya teringat kejadian waktu itu. Sementara Sandy berbisik lagi, “Eh, tapi, kamu kok mau dijemput Randy, ‘sih ? …. Jangan-jangan kamu udah bener-bener jatuh cintrong, ya ?”
Cubitan kedua langsung ia layangkan lagi ke lengan Sandy, “Hush ! enak aja ! Justru saat ini aku masih bingung. Aku ini bener-bener jatuh cinta, atau hanya perasaan resah saja. “
“San, udah waktunya, nih !” suara mas Franky, manager BIRU membuat pembicaraan Tia jadi berakhir.
“Oh, iya, Ya’ ! Ini,..” Randy mengeluarkan sesuatu dari saku jas hitamnya, “Ini, aku hampir lupa. Ini tiketnya dan ini ada sesuatu buat kamu. Udah dulu ya !” Randy kemudian berjalan menjauh sementara Tia membalas senyum Sherly, bassist group band mereka, yang juga temen sekelasnya.
* * *
Tia kini telah duduk di kursi penonton. Di deretan VIP lagi. Sejenak matanya berkeliling memperhatikan panggung dan penonton lain, wah ! banyak juga ya, yang nonton, gumam Tia. Sesaat kemudian Tia ingat sesuatu. Sesutau yang diberikan Randy padanya. Sebenarnya, ia ingin membukanya di rumah, namun perasaannya terus membuat ia terdorong untuk segera membukanya. Kemudian ia buka bungkusan kado mungil warna biru itu.
Ternyata isinya kalung dengan liontin berbentuk hati, berwarna perak. Di baliknya terselip kartu bertuliskan : “ Aku sayang kamu, Tia ! ... dari : Randy “
Jantungnya kembali berdegup membaca kata-kata itu. Pandangannya lalu beralih pada pentas yang telah diisi oleh personil-personil BIRU BAND. Tatapannya langsung ia tujuakan pada sang drummer. Randy langsung membalas dengan senyuman manis, namun Tia hanya memberi sedikit lengkung bibir karna hatinya yang resah.
Tak lama lagu itu terlantun. “Kidung Bingung” lagu yang melukiskan keresahan hatinya. Sandy, sang vokalis telah mulai masuk ke bait pertama. Tak terasa bibir Tiapun ikut melatunkan lagu itu :
Jalinan hasrat mengais asa yang membumbung
Tak ada yang berani mencuri pandang
Melati di hati terpetik kembali.
Lirikan mata jadi suatu perhentian
Tak ada yang berani menyentuh hati
Mawar berduri menusuk jiwa.
Sementara kegelisahan menghantui,
( reff : ) Bunga-bunga di hati gugur membasahi
Jiwa yang kosong, galau tak terisi.
Ekspresi wajah Sandy begitu menghayati lagu ini. Sementara dengan keseriusannya memperhatikan tempo-tempo, Randy menabuh drumnya dengan tatapan mata yang tak lagi diarahkakan pada Tia.
Hati Tia begitu resah. Ia gigit kedua ujung bibirnya menahan rasa getir. Ternyata cowok seperti Randy, bisa berubah sedemikian baiknya demi mendapatkan cinta Tia.
Tapi bagaimanapun, Tia tidak dapat menerima cinta Randy. Karena dia tak punya perasaan apapun pada diri Randy, apalagi cinta. Namun di lain sisi, Tia takut menolak cinta Randy. Bukan lagi karna dia possesive. Randy kini telah berubah total. Cowok yang dulunya begitu tidak bisa memperlakukan seorang cewek dengan egonya yang tinggi, bisa berubah sedemikian. Tia takut kalau ia menolak Randy, sifatnya yang dahulu bisa-bisa timbul lagi, dan pastilah itu karna tolakan Tia.
Persaan kalut itu terus menerus menghantui perasaannya.
Randy,… andai kamu tahu perasaanku, andai kamu tahu rasa kalutku yang tertuang dalam kidung bingung itu. Tapi, aku takut mengungkapkannya padamu. ……
Cerpen Kontroversial
Hari ini adalah hari yang penuh degup jantung buat Dido. Bagaimana enggak, baru saja ia memasuki gerbang sekolah, terdengar rumpian dari para gadis yang membicarakan cerpen buatan Dido itu. Baru sepuluh langkah, cengengas-cengenges cowok-cowok yang mengutarakan bahwa bodo banget pria bernama Galuh yang mau mati tragis membela mantan kekasih yang sudah mengkhianatinya. Belum lagi warga kelasnya yang ramai juga membahas cerpennya itu, sembari berhias tanda tanya, sebenarnya yang menulis cerpen itu cewek atau cowok hingga sebegitu romantisnya.
“Do’! Gue kan editor majalah. Kok aku gak tahu sih, siapa yang bikin cerpen itu. Lu tahu siapa ?” suara Wewe itu membuat jantung Dido tambah semakin copot. Dido gelagapan menjawab pertanyaan temen satu redaksi majalah skul-nya.
“Eh, e,…Cerpen yang mana sih ?” pertanyaan yang seakan-akan Dido ciptakan untuk menutupi rasa takutnya itu bikin Wewe geleng-geleng, “Masa kamu gak denger? Cerpen halaman 20. Yang hari ini bikin heboh sekolah… Tapi aku seneng kok. Sebagai editor, kayaknya usaha kita gak sia-sia membuat pembaca puas. … Eh, Lu tahu gak ?”
“Oh, yang itu. Enggak. Enggak. Aku gak tahu.”
* * *
Menderita rasanya menahan rasa takut. Dido benar-benar khawatir cerpen-nya itu akan membuat Bunga marah dan gak mau menyapanya lagi. Yang ia lakukan hari ini adalah bagaimana supaya ia gak bertemu Bunga. Dido berusaha keras untuk tidak melewati kelas Bunga dan tempat-tempat dimana doi dan kawan-kawannya nongkrong. Alhasil, Dido cuman mangkal di kelasnya aja.
“Ibu jadi ingat masa-masa SMA dulu. Pacaran SMA memang bener-bener indah. Terus terang Ibu salut sama yang membuat cerpen ini. sayang sekali ia tidak mau menyebutkan namanya..” kata-kata Bu Lina itu benar-benar mengagetkan! Siapa yang nyangka guru cantik dan centil itu juga membaca Cerpen Dido. Pake dibahas di kelas lagi. Bener-bener kurang kerjaan banget nih, guru. Gumam Dido pada dirinya.
* * *
“Aku takut, Stef !” suara Dido yang sedikit gemetar itu berdengung di gagang telpon Stefy, sobat kentalnya. “Sekarang aku nyesel banget buat cerpen itu.”
“Awalnya, ‘kan kamu pengen Bunga tahu kalo kamu masih sayang banget sama dia. Kok, sekarang kamu nyesel, sih ?” dengan posisi terlentang di ranjang, Stefy mencoba mencari jawab, kenapa sobatnya tiba-tiba jadi sangat menyesal. Sementara tangan kanannya merasakan getaran dari telepon selularnya. Sejenak ia lirik layar Hp itu. Tertera nama ‘Honey’ cewek tinggi nan ayu yang udah dia pacari selama setahun. “Eh, iya. Iya, Do. Eh, sebentar ya. Entar kamu ku telpon, deh.”
“Lho, kenapa ?”
“Ini. Doi misscall terus, nih dari tadi.... Bentar ya, Do ”
“Yah, elu! Giliran lagi butuh aja,..lu gak bisa…”
“Janji. Janji, deh. Nanti malem aku yang nelpon. Yah, Do’ ya… Please….”
“Ok! Kalo gitu aku yang sori, nih. Ganggu pacaran lu…”
“Yah… Jangan nyindir, dong! Iya. Iya. Nanti aku nelpon. Sudah dulu, ya…”
* * *
Resah yang mengikat hati Dido kini tambah memuncak. Rasanya, sarapan yang disediakan Mami gak buat dia selera. Sedari tadi ia hanya memandangi piring dengan tatapan kosong. Sementara layangnya terus membumbung, membayangkan hal-hal mengerikan buatnya yang akan terjadi. Mami yang sedang asyik di dapur memperhatikan kelakuan anak bungsunya ini. Tak ada yang Mami katakan, beliau hanya geleng-geleng kepala seakan tahu apa yang dialami Dido.
KRIIING ! KRIING ! KRIING ! ….
Dering itu membuat Dido terjingkat dan spontan ia raih telpon berwarna biru yang berada tepat di sampingnya. “Ya. Halo.”
“Eh,.. kamu, Do.”
“Masih hidup lu, Stef ?’
“Jangan gitu, dong ! Sori. Semalem ketiduran…”
“Gak apa-apa kok. Aku juga lagi nerima telpon dari pacarku. Maklum, kan cari pacar lebih susah daripada bantuin temen….” kata-kata sinis sindiran Dido yang tanpa sadar terucap dari bibirnya itu seketika bikin kaget Stefy.
“Yah ! Jangan gondok gitu, dong! Masak gitu aja marah ?! Bener nih, gak mau terima telponku ?… Aku tutup, loh…” ultimatum Stefy itu benar-benar mengagetkan. Dalam benak, Dido berpikir, daripada BT apa salahnya menerima telpon Stefy. Lagian dia juga butuh banget Curhat.
“Eeit ! Kok kamu yang marah, sih ?! Iya. Aku yang butuh, kok.”
“He…he… Gitu dong !” kekeh Stefy menyejukkan lagi konflik di antara mereka.
“So, What ?” lanjut Stefy sambil mengunyah kue kering buatan Honey, ceweknya.
“Iya, Stef. Aku takut Bunga marah sama aku. Apa yang mesti aku perbuat ? Aku sama sekali gak nyangka kalo cerpen yang kubikin untuk majalah skul-ku itu bener-bener kontroversial ! Bayangin aja ya, dalam sehari kemaren, aku sudah terima 3 SMS, 5 telpon yang nanyain tuh Cerpen bikinan siapa ?”
“Terus, kamu jawab kalo Cerpen itu bikinan elu ?”
“Gimana sih, kamu?! Bego banget kalo aku obral nama. Ya tentu aja kubantah mentah-mentah walaupun agak sedikit nyesel sih, udah bohong... Tapi yang bikin aku heran, kenapa ya, orang-orang pada gak mikir inisialku di bawah Cerpen itu. Yah, tapi bagus aku gak nurut kata-kata lu yang suruh gua nulis jelas-jelas namaku supaya si Bunga gak ‘salah alamat’ ”
Kali ini Stefy mikir, kenapa Cerpen yang hanya Dido beri inisial ‘DK’ itu bikin hebohh warga sekolahnya. Lagian, siapa aja sih yang repot-repot nanya, bikinan siapa cerpen yang dibuat Dido buat mantan-nya itu. Padahal, gak kontroversi-kontroversi amat. Begitu pikir Stefy.
“Lu lupa, kalo isi Cerpen itu beda-beda tipis dengan kejadianku dengan Bunga ?”
“Oke, Do’ nurut aku nih, Bunga gak bakalan marah deh, ama kamu. Kalian kan udah gak berhubungan lagi, maksudku cuman sebagai temen aja selama 2 taon ini, kan ? Lagian, si Bunga katamu udah punya…... Siapa?….. Itu tuh yang bikin kamu cemburu berat…?”
Kata-kata Stefy kali ini mengingatkan sakit hatinya sebulan lalu, manakala dia mendengar dari teman sebangkunya kalo si Bunga itu udah dapet cowok baru. Yang lebih membuat Dido gak terima lagi, cowok barunya itu orang yang pernah Bunga benci semasa mereka masih menjalin hubungan. Memang, Bunga dan Dido telah lama putus. Namun, memang Dido masih cinta setengah mati ama Bunga. Hingga ia nekad mengungkapkan isi hatinya itu melalui cerpen.
Dalam cerpen itu, Dido melukiskan seorang tokoh bernama Galuh yang rela menyerahkan diri kepada gerombolan teroris yang sedang membajak pesawat yang ditumpanginya. Kenekatan tokoh ini dikarenakan para teroris itu hendak menembak Astuti, istri pejabat tinggi yang tak lain adalah mantan kekasih Galuh. Semuanya itu dilakukan untuk membuktikkan masih bermekarnya cinta Galuh, meski Astuti telah mengkhianati cintanya demi satu ambisi. Di akhir cerita, Dido menggambarkan bagaimana derita tokoh Galuh yang berkorban demi melindungi Astuti dari para teroris. Hingga akhirnya Galuh ditembak dengan puluhan peluru dan ia dijatuhkan dari pesawat itu dalam keadaan terluka.
Begitu hebatnya Dido mendramatisir tulisannya itu hingga membuat pembaca tersentuh. Yang lebih membuat pembaca kagum sekaligus penuh tanda tanya besar, apa maksud tulisan di bawah cerpen itu yang berbunyi :
“From the bottom of my heart, To someone who always rock & ‘change’ my world (dk) “
* * *
Derap langkah Dido cepat sekali. Setelah kemarin dan siang ini ia mengalami masa-masa berat buatnya. Ia lewati lorong sekolahnya itu dengan harap-harap cemas, semoga gak ketemu Bunga. Ia terus dihantui perasaan, mengapa ia mesti jadi pengecut? Kenapa sulit banget mengakui kalo cerpen itu buatannya. Entah. Rasa sesalnya itu muncul karena Dido hanya tidak ingin merusak hubungan Bunga dengan cowok barunya. Ia ingin Bunga bahagia dengan cowok barunya itu, meski sakit hati Dido setiap melihat dua bayangan itu sedang melintasi dirinya.
Dalam cerpen itu jelas tertera banyak kata-kata Dido yang pernah ia ungkapkan pada Bunga saat mereka akan putus. Kalimat-kalimat itu diucapkan tokoh Galuh pada Astuti. Jadi, mustahil jika Bunga tidak tahu kalo cerpen itu memang buatan Dido untuknya.
Sebenarnya cerpen itu sudah lama sekali dibuat Dido saat ia masih sangat menyesal diputuskan oleh Bunga. Namun Fa, pimpinan majalah sekolahnya telah menemukan cerpen itu di meja redaksi. Sehingga membuat temennya itu tertarik memasukkan pada majalah yang akan terbit. Mulanya Dido Ok-Ok aja cerpen itu masuk, tapi ia sangat tidak menyangka kalau hasilnya akan heboh. Lagian, ia juga sama sekali tak menduga kalau Bunga akan menerima cinta Zen.
Pandangan Dido pada sekelompok gadis itu membuat lamunannya terhenti. Tak terasa dadanya berdetak lagi, jangan-jangan di antara mereka ada Bunga.
Ia lewati mereka sembari memandang satu persatu wajahnya.
Ia menghela nafas. Thanks God! Gumamnya. Tidak ada Bunga diantara mereka. Kini ia kembali memantapkan langkahnya menuju gerbang sekolah, untuk satu tujuan.
“Dido…”
Entah apa yang membuat Dido menjadi memalingkan wajah mendengar suara itu
Ups!! Bunga ? seseorang yang berusaha mati-matian ia hindari selama dua hari ini, kini telah ada di hadapannya. Kenapa kamu muncul, Bunga? Aku belum siap untuk menjelaskan. Begitu yang ada dalam fikir Dido. Spontan saja ia hentakkan langkahnya lebih cepat untuk pergi darinya.
“Dido ! Tunggu…!” teriakan Bunga tidak dihiraukan Dido.
Namun ia jadi tak tega membuat Bunga mengejarnya. Ia hentikan langkah dan tangan Bunga berhasil meraih bahunya. Dido tidak memalingkan pandangan sama sekali. Kini bukan karna ia pengecut. Hanya saja ia tidak ingin menaruh harapan dalam dirinya sendiri.
Mereka sempat beku dalam beberapa saat. Tanpa ucap. Tanpa pandangan Dido pada Bunga. Dua orang itu saling menunggu salah satu mengucapkan kata.
Namun kali ini, Bunga menyerah. Ia tak kuasa menahan ucapnya, “Aku. Aku masih sayang kamu…, Do’ ”
Dido sangat kaget mendengar desah suara Bunga itu. Ia seakan tidak percaya ! Lalu, Bagaimana dengan Zen? Itu yang ada di hati Dido.
“Aku. Aku sayang kamu, Do.” Meski Bunga telah mengulang kata-katanya itu, tidak membuat Dido sedikitpun memalingkan wajah. Kali ini ia tambah bergegas pergi dari hadapannya. Leleh air mata membasahi pipi gadis ayu itu.
* * *
Di perjalanan pulangnya Dido hanya bergumam, “Sudah terlambat, Bunga ! Kamu sudah menyakiti hatiku…! Sama seperti mantan-mantanku sebelumnya yang juga pernah mengecewakan aku !!”
Dido turun dari mobilnya. Ia masuk dalam satu Kafe yang berisi banyak lelaki-lelaki muda. Suatu komunitas yang punya nasib sama. Sama-sama pernah dikecewakan oleh para wanita.
Dido bergumam lagi dalam pikirnya, “Terlambat Bunga. Aku sudah tidak bisa lagi mencintai seorang gadis. Sejak aku kau putuskan, aku bergabung dengan mereka. Hanya mereka yang tahu semua rasa kecewaku….” Memang telah lama Dido bergabung dalam komunitas gay yang ada di kotanya itu…..
“Do’! Gue kan editor majalah. Kok aku gak tahu sih, siapa yang bikin cerpen itu. Lu tahu siapa ?” suara Wewe itu membuat jantung Dido tambah semakin copot. Dido gelagapan menjawab pertanyaan temen satu redaksi majalah skul-nya.
“Eh, e,…Cerpen yang mana sih ?” pertanyaan yang seakan-akan Dido ciptakan untuk menutupi rasa takutnya itu bikin Wewe geleng-geleng, “Masa kamu gak denger? Cerpen halaman 20. Yang hari ini bikin heboh sekolah… Tapi aku seneng kok. Sebagai editor, kayaknya usaha kita gak sia-sia membuat pembaca puas. … Eh, Lu tahu gak ?”
“Oh, yang itu. Enggak. Enggak. Aku gak tahu.”
* * *
Menderita rasanya menahan rasa takut. Dido benar-benar khawatir cerpen-nya itu akan membuat Bunga marah dan gak mau menyapanya lagi. Yang ia lakukan hari ini adalah bagaimana supaya ia gak bertemu Bunga. Dido berusaha keras untuk tidak melewati kelas Bunga dan tempat-tempat dimana doi dan kawan-kawannya nongkrong. Alhasil, Dido cuman mangkal di kelasnya aja.
“Ibu jadi ingat masa-masa SMA dulu. Pacaran SMA memang bener-bener indah. Terus terang Ibu salut sama yang membuat cerpen ini. sayang sekali ia tidak mau menyebutkan namanya..” kata-kata Bu Lina itu benar-benar mengagetkan! Siapa yang nyangka guru cantik dan centil itu juga membaca Cerpen Dido. Pake dibahas di kelas lagi. Bener-bener kurang kerjaan banget nih, guru. Gumam Dido pada dirinya.
* * *
“Aku takut, Stef !” suara Dido yang sedikit gemetar itu berdengung di gagang telpon Stefy, sobat kentalnya. “Sekarang aku nyesel banget buat cerpen itu.”
“Awalnya, ‘kan kamu pengen Bunga tahu kalo kamu masih sayang banget sama dia. Kok, sekarang kamu nyesel, sih ?” dengan posisi terlentang di ranjang, Stefy mencoba mencari jawab, kenapa sobatnya tiba-tiba jadi sangat menyesal. Sementara tangan kanannya merasakan getaran dari telepon selularnya. Sejenak ia lirik layar Hp itu. Tertera nama ‘Honey’ cewek tinggi nan ayu yang udah dia pacari selama setahun. “Eh, iya. Iya, Do. Eh, sebentar ya. Entar kamu ku telpon, deh.”
“Lho, kenapa ?”
“Ini. Doi misscall terus, nih dari tadi.... Bentar ya, Do ”
“Yah, elu! Giliran lagi butuh aja,..lu gak bisa…”
“Janji. Janji, deh. Nanti malem aku yang nelpon. Yah, Do’ ya… Please….”
“Ok! Kalo gitu aku yang sori, nih. Ganggu pacaran lu…”
“Yah… Jangan nyindir, dong! Iya. Iya. Nanti aku nelpon. Sudah dulu, ya…”
* * *
Resah yang mengikat hati Dido kini tambah memuncak. Rasanya, sarapan yang disediakan Mami gak buat dia selera. Sedari tadi ia hanya memandangi piring dengan tatapan kosong. Sementara layangnya terus membumbung, membayangkan hal-hal mengerikan buatnya yang akan terjadi. Mami yang sedang asyik di dapur memperhatikan kelakuan anak bungsunya ini. Tak ada yang Mami katakan, beliau hanya geleng-geleng kepala seakan tahu apa yang dialami Dido.
KRIIING ! KRIING ! KRIING ! ….
Dering itu membuat Dido terjingkat dan spontan ia raih telpon berwarna biru yang berada tepat di sampingnya. “Ya. Halo.”
“Eh,.. kamu, Do.”
“Masih hidup lu, Stef ?’
“Jangan gitu, dong ! Sori. Semalem ketiduran…”
“Gak apa-apa kok. Aku juga lagi nerima telpon dari pacarku. Maklum, kan cari pacar lebih susah daripada bantuin temen….” kata-kata sinis sindiran Dido yang tanpa sadar terucap dari bibirnya itu seketika bikin kaget Stefy.
“Yah ! Jangan gondok gitu, dong! Masak gitu aja marah ?! Bener nih, gak mau terima telponku ?… Aku tutup, loh…” ultimatum Stefy itu benar-benar mengagetkan. Dalam benak, Dido berpikir, daripada BT apa salahnya menerima telpon Stefy. Lagian dia juga butuh banget Curhat.
“Eeit ! Kok kamu yang marah, sih ?! Iya. Aku yang butuh, kok.”
“He…he… Gitu dong !” kekeh Stefy menyejukkan lagi konflik di antara mereka.
“So, What ?” lanjut Stefy sambil mengunyah kue kering buatan Honey, ceweknya.
“Iya, Stef. Aku takut Bunga marah sama aku. Apa yang mesti aku perbuat ? Aku sama sekali gak nyangka kalo cerpen yang kubikin untuk majalah skul-ku itu bener-bener kontroversial ! Bayangin aja ya, dalam sehari kemaren, aku sudah terima 3 SMS, 5 telpon yang nanyain tuh Cerpen bikinan siapa ?”
“Terus, kamu jawab kalo Cerpen itu bikinan elu ?”
“Gimana sih, kamu?! Bego banget kalo aku obral nama. Ya tentu aja kubantah mentah-mentah walaupun agak sedikit nyesel sih, udah bohong... Tapi yang bikin aku heran, kenapa ya, orang-orang pada gak mikir inisialku di bawah Cerpen itu. Yah, tapi bagus aku gak nurut kata-kata lu yang suruh gua nulis jelas-jelas namaku supaya si Bunga gak ‘salah alamat’ ”
Kali ini Stefy mikir, kenapa Cerpen yang hanya Dido beri inisial ‘DK’ itu bikin hebohh warga sekolahnya. Lagian, siapa aja sih yang repot-repot nanya, bikinan siapa cerpen yang dibuat Dido buat mantan-nya itu. Padahal, gak kontroversi-kontroversi amat. Begitu pikir Stefy.
“Lu lupa, kalo isi Cerpen itu beda-beda tipis dengan kejadianku dengan Bunga ?”
“Oke, Do’ nurut aku nih, Bunga gak bakalan marah deh, ama kamu. Kalian kan udah gak berhubungan lagi, maksudku cuman sebagai temen aja selama 2 taon ini, kan ? Lagian, si Bunga katamu udah punya…... Siapa?….. Itu tuh yang bikin kamu cemburu berat…?”
Kata-kata Stefy kali ini mengingatkan sakit hatinya sebulan lalu, manakala dia mendengar dari teman sebangkunya kalo si Bunga itu udah dapet cowok baru. Yang lebih membuat Dido gak terima lagi, cowok barunya itu orang yang pernah Bunga benci semasa mereka masih menjalin hubungan. Memang, Bunga dan Dido telah lama putus. Namun, memang Dido masih cinta setengah mati ama Bunga. Hingga ia nekad mengungkapkan isi hatinya itu melalui cerpen.
Dalam cerpen itu, Dido melukiskan seorang tokoh bernama Galuh yang rela menyerahkan diri kepada gerombolan teroris yang sedang membajak pesawat yang ditumpanginya. Kenekatan tokoh ini dikarenakan para teroris itu hendak menembak Astuti, istri pejabat tinggi yang tak lain adalah mantan kekasih Galuh. Semuanya itu dilakukan untuk membuktikkan masih bermekarnya cinta Galuh, meski Astuti telah mengkhianati cintanya demi satu ambisi. Di akhir cerita, Dido menggambarkan bagaimana derita tokoh Galuh yang berkorban demi melindungi Astuti dari para teroris. Hingga akhirnya Galuh ditembak dengan puluhan peluru dan ia dijatuhkan dari pesawat itu dalam keadaan terluka.
Begitu hebatnya Dido mendramatisir tulisannya itu hingga membuat pembaca tersentuh. Yang lebih membuat pembaca kagum sekaligus penuh tanda tanya besar, apa maksud tulisan di bawah cerpen itu yang berbunyi :
“From the bottom of my heart, To someone who always rock & ‘change’ my world (dk) “
* * *
Derap langkah Dido cepat sekali. Setelah kemarin dan siang ini ia mengalami masa-masa berat buatnya. Ia lewati lorong sekolahnya itu dengan harap-harap cemas, semoga gak ketemu Bunga. Ia terus dihantui perasaan, mengapa ia mesti jadi pengecut? Kenapa sulit banget mengakui kalo cerpen itu buatannya. Entah. Rasa sesalnya itu muncul karena Dido hanya tidak ingin merusak hubungan Bunga dengan cowok barunya. Ia ingin Bunga bahagia dengan cowok barunya itu, meski sakit hati Dido setiap melihat dua bayangan itu sedang melintasi dirinya.
Dalam cerpen itu jelas tertera banyak kata-kata Dido yang pernah ia ungkapkan pada Bunga saat mereka akan putus. Kalimat-kalimat itu diucapkan tokoh Galuh pada Astuti. Jadi, mustahil jika Bunga tidak tahu kalo cerpen itu memang buatan Dido untuknya.
Sebenarnya cerpen itu sudah lama sekali dibuat Dido saat ia masih sangat menyesal diputuskan oleh Bunga. Namun Fa, pimpinan majalah sekolahnya telah menemukan cerpen itu di meja redaksi. Sehingga membuat temennya itu tertarik memasukkan pada majalah yang akan terbit. Mulanya Dido Ok-Ok aja cerpen itu masuk, tapi ia sangat tidak menyangka kalau hasilnya akan heboh. Lagian, ia juga sama sekali tak menduga kalau Bunga akan menerima cinta Zen.
Pandangan Dido pada sekelompok gadis itu membuat lamunannya terhenti. Tak terasa dadanya berdetak lagi, jangan-jangan di antara mereka ada Bunga.
Ia lewati mereka sembari memandang satu persatu wajahnya.
Ia menghela nafas. Thanks God! Gumamnya. Tidak ada Bunga diantara mereka. Kini ia kembali memantapkan langkahnya menuju gerbang sekolah, untuk satu tujuan.
“Dido…”
Entah apa yang membuat Dido menjadi memalingkan wajah mendengar suara itu
Ups!! Bunga ? seseorang yang berusaha mati-matian ia hindari selama dua hari ini, kini telah ada di hadapannya. Kenapa kamu muncul, Bunga? Aku belum siap untuk menjelaskan. Begitu yang ada dalam fikir Dido. Spontan saja ia hentakkan langkahnya lebih cepat untuk pergi darinya.
“Dido ! Tunggu…!” teriakan Bunga tidak dihiraukan Dido.
Namun ia jadi tak tega membuat Bunga mengejarnya. Ia hentikan langkah dan tangan Bunga berhasil meraih bahunya. Dido tidak memalingkan pandangan sama sekali. Kini bukan karna ia pengecut. Hanya saja ia tidak ingin menaruh harapan dalam dirinya sendiri.
Mereka sempat beku dalam beberapa saat. Tanpa ucap. Tanpa pandangan Dido pada Bunga. Dua orang itu saling menunggu salah satu mengucapkan kata.
Namun kali ini, Bunga menyerah. Ia tak kuasa menahan ucapnya, “Aku. Aku masih sayang kamu…, Do’ ”
Dido sangat kaget mendengar desah suara Bunga itu. Ia seakan tidak percaya ! Lalu, Bagaimana dengan Zen? Itu yang ada di hati Dido.
“Aku. Aku sayang kamu, Do.” Meski Bunga telah mengulang kata-katanya itu, tidak membuat Dido sedikitpun memalingkan wajah. Kali ini ia tambah bergegas pergi dari hadapannya. Leleh air mata membasahi pipi gadis ayu itu.
* * *
Di perjalanan pulangnya Dido hanya bergumam, “Sudah terlambat, Bunga ! Kamu sudah menyakiti hatiku…! Sama seperti mantan-mantanku sebelumnya yang juga pernah mengecewakan aku !!”
Dido turun dari mobilnya. Ia masuk dalam satu Kafe yang berisi banyak lelaki-lelaki muda. Suatu komunitas yang punya nasib sama. Sama-sama pernah dikecewakan oleh para wanita.
Dido bergumam lagi dalam pikirnya, “Terlambat Bunga. Aku sudah tidak bisa lagi mencintai seorang gadis. Sejak aku kau putuskan, aku bergabung dengan mereka. Hanya mereka yang tahu semua rasa kecewaku….” Memang telah lama Dido bergabung dalam komunitas gay yang ada di kotanya itu…..
Tragedi Seminggu
“Nggak bisa ! Gimana caranya ? Susah, Rom ! “
“Sssst !”
Suara Jo yang sedikit ngotot itu membuat semua yang di kantin jadi menoleh pada meja mereka. Mungkin saking kesel en betenya kali, Jo jadi salting gitu.
“Udah, Jo ! Sekarang kamu nggak perlu lagi ngomong gitu. Yang penting sekarang, kamu harus bisa cari cara, gimana supaya kamu bisa minta maaf sama Angel !”
Otak Jo yang sedari tadi muter-muter buat cari cara minta maaf ama Angel tiba-tiba terhenti oleh dering bel masuk.
“Benernya sih, perasaanku mengatakan bahwa aku harus minta maaf secepatnya. Tapi, Rom, tiap kali aku berhadapan dengan dia, bibirku ini rasanya terkatup rapat sekali. Susah banget, Rom !”
“Udahlah ! Pokoknya aku nggak mau tahu ! Pulang sekolah nanti, kamu harus sudah bisa minta maaf ama Angel !”
“Kalo nggak, Rom ?”
“Yah, kamu pengecut banget ! Dan temen-temen siap ngejulukin ‘ayam pelari’ buat si tampan en si beken, JO Nathanhaell !”
“Ssst ! jangan keras-keras dong !”. Dengan tanpa menoleh sedikitpun, Romy pergi dengan perasaan kesalnya.
* * *
Di kelas, Jo sama sekali nggak konsen dengan pelajaran Kimia. Memang sih, sebenernya dia nggak terlalu suka ama gurunya yang terkenal kiler itu. Rasa-rasanya lebih banyak pandangan Jo beralih ke wajah putih kalem, dengan bibir tipis yang senantiasa siap melempar senyum ramah pada siapa saja. Angel, andai kamu tahu kesulitan bibirku untuk minta maaf sama kamu.
Pikiran Jo semakin melayang pada peristiwa dua hari lalu. Tatkala ia menelpon pujaan hatinya, yang walaupun sampai sekarang belum berani ia ‘tembak’. Karna PDKT ! itu alasannya tiap kali temen-temen nanya.
Memang sih, Jo suka nelpon Angel tiap malem. Dan hari itu seperti biasa mereka ngobrol-ngobrol tentang banyak hal. Ada aja yang diceritakan. Mulai dari musik, film, olahraga, pokoknya banyak deh ! yah, namanya juga orang lagi PDKT. Sampai pada menit tertentu, Jo bikin kesalahan yang fatal. Entah kenapa, ia jadi salah ngomong dan nyinggung perasaan Angel yang melebihi kehalusan sutra termahal di dunia. Sebenarnya Jo, udah terasa sejak awal Angel menanggapi omongannya itu. Tapi namanya cowok, ya Jo nggak terlalu mikir sedetail dan serumit itu.
Lain Jo, lain Angel. Cewek kalem yang selalu bikin deg-degan Jo itu, jadi gelisah karna kecewa akan omongan Jo. Air yang mengalir dari mata bersinar yang indah itu, membasahi pipi halusnya.
Pikiran Jo makin membumbung tinggi, mengingat setiap kejadian yang bikin dia deg-deg-ser. Setelah Jo menutup gagang telpon itu, ia jadi mikir lagi omongan yang baru saja ia lontarkan pada pujaan hatinya itu.
Ia makin yakin, kalau Angel bener-bener ngambek sama dia. Sebab saat Jo menyapanya pagi itu, ia sama sekali tidak mendapat lemparan senyum indah dari wajah cantik melebihi karya seni abadi. Wah, gawat ! pikir Jo. Maka hari itu rasanya hari terBt baginya sama seperti kemarin, hari ini, entah sampai kapan ia berani minta maaf.
“Coba kau kerjakan, Jo nomer selanjutnya”, Suara Pak Hadi belum saja membuyarkan lamunannya. Namun saat Pak Hadi memanggil namanya lagi, “Jo !” kepalanya yang semula tertunduk pada buku catatan, kini ia angkat dengan tetap Jaim (jaga image) pada warga sekelas. Tapi, kebohongannya itu tak dapat menembus dinding hati Angel yang memandang Jo saat ia mulai menulis-nulis angka dengan spidol biru, warna favoritnya.
Andai kamu tahu, Jo, perasaan hatiku yang terluka. Tapi, bagaimanapun, aku akan selalu membuka pintu maafku padamu Jo, asalkan kau mengetuk dinding-dinding hatiku. Tapi, sampai kapan, Jo, kau akan mengetuk pintu maaf itu padaku. Aku pengen segera membukakan pintu itu untukmu.
Sekarang giliran Angel yang melayang-layang pikirannya. Namun ia masih dapat mengontrol diri dengan tetap konsen pada penjelasan Pak Hadi.
* * *
Pelajaran Kimia sudah berlalu. Jo masih dengan perasaan gelisahnya. Ia keluarkan NOKIA birunya itu. Ternyata ia dapet messages lewat SMS, yang berbunyi : “Jo, nanti sore aku ke rumahmu. (Kris).” Ternyata Kris, sobatnya.
Canda tawa teman-teman Jo memang telah bisa menciptakan lebar lengkung bibirnya. Tapi, sekali lagi itu tak dapat menembus dinding hati Angel. Ia yakin, bahwa itu hanya tawa semu, yang sama sekali lain dari hati Jo. Sesaat Angel menatap mata Jo yang kecoklatan itu. Namun ketika Jo membalasnya, ia buru-buru memalingkan pandangannya.
Rasa kecut bertabur dalam hati Jo.
Sementara tatapan mata dan gerakan kepala Romy untuk mengisyaratkan pada Jo, untuk segera minta maaf, bikin Jo tambah gelisah. Dengan suara berbisik, Jo mendesahkannya pada Romy, “Nggak bisa hari ini, Rom ! Aku belum siap. “
“Terus sampai kapan siapmu ? Sampai ayam jago bertelur ?”
“Ssstt !!”
“Dasar ayam pelari !” kali ini, Romy tidak lagi berbisik, ia mengatakannya dengan suaranya.
“Apa, Rom ?” si gembul, Freedly menimpali, “Si Jo ‘ayam pelari’ ?” dan dengan tawanya yang heboh itu bikin gerrr yang duduk di deretan mereka.
“Tuh, lihat akibatnya seorang ‘ayam pelari’ ! Emang enak ?!”
Ejekan temen-temen Jo bikin tambah resah en miris hatinya. Pandangannya terus menerus ia layangkan pada Angel. Was-was. Kalau-kalau ia sampai menoleh, bisa tambah runyam masalahnya.
“Rom ! Aku nggak suka dengan caramu yang seperti ini. Kalau Angel sampai dengar, aku nggak mau ambil resiko !” bisiknya pada Romy.
“Tapi, Jo, aku kan hanya membantumu !”
“Membantu ?”
“Kalau saja kamu segera minta maaf, pasti aku nggak akan berbuat begini !”
“Andai saja bibirku nggak terkatup, saat di hadapannya, aku juga nggak akan menunda-nunda maafku.”
“Iya ! Tapi sampai kapan ?”
“Entahlah, Rom !”
“Huh ! Jo ! Jo !”
* * *
Sepertinya, rasa Bt Jo ia luapkan pada bola sepak yang ia tendang kencaaang sekali. Kali ini, bukan Gol tujuan utamanya. Namun rasa kalut di dadanya ia luapakan semuanya. Kasihan bola itu ! Andai saja ia dapat berteriak. Pasti ia akan langsung melakukannya.
Romy memegang pundak Jo saat mereka hendak pulang, “Gimana ’ayam pelari’ ? Udah bisa luapkan emosi ?” Jo hanya bisa memandang sengit karna kekesalannya.
“Sampai jumpa ‘ayam pelari’ ! Moga-moga besok kamu udah bisa segera mencapai garis finish !”, teriak Romy saat Jo akan melajukan mobilnya.
“Hoe, cowok cakep, jangan ngebut, lho ! Entar kamu koid sebelum minta maaf !”, Teriakan Romy yang kedua itu sayup-sayup tak terdengar di daun telinga Jo. Dan sedan putihnya itu semakin melaju, turut menghias keindahan senja kota.
Sampai di rumah, langsung ia lempar tas kuningnya di atas tempat tidur. Ia putar keras-keras musik Red hot chili peppers yang makin menambah ke-hot-an hatinya itu.
Jo berbaring di ranjang dengan otak berputar, mencari cara yang baik untuk minta maaf. Angel, andai kau tahu kesulitan hatiku….
Ia pandangi kayu berlekuk dengan susunan senar dan lubang resonansi. Ia ambil alat musik petik itu, ia lantunkan sebait dua bait lagu.
Jo mengungkapkan seluruh isi hatinya. Ia tuangkan dalam sebuah lagu yang ia tulis sendiri.
“…….maaf kasih……maafkan aku………” Sementara ia lantunkan itu, terlintas terus wajah Angel dengan dua ekspresi, satu dengan seyum ramahnya, yang satunya lagi dengan ekspresi dinginnya. Angel….. I want to say sorry,…… but,… but, I can’t ! ……
“Hai, Jo !”, suara Kris membuyarkan lamunannya. Setelah ia menutup pintu kamar Jo, ia menghampirinya dan mengeluarkan buku dari tas birunya. “Ini, Jo, bukumu ! Thank’s, ya !”
“Kamu besok nggak ulangan ?”
“Benernya, ada sih, tapi aku lagi Bt di rumah. So, aku ke sini, yahh….! Untuk sekedar melupakannnya.”, ujar Kris sembari mengeluarkan buku kumpulan sajaknya yang ia buat sendiri.
Dan dua sobat itu menghabiskan senja dengan mengarang lagu. Dengan rasa bt mereka masing-masing. Namun, tak ada diantara mereka yang menceritakan perihal keBt-annya. Tapi yang jelas, tampaknya problem Jo lebih serius daripada Kris.
* * *
Hari-hari telah dilalui Jo dengan perasaan gelisah. Tak ada yang lain yang ia pikirkan, kecuali cara minta maaf. Tiap malam ia susah tidur memikirkannya. Kini, ia jarang telpon Angel lagi. Walaupun di sekolah, Jo sudah bertegur sapa dengannya, tapi perasaan Jo tetap tak enak. Minta maaflah…. Minta maaflah….… Itu yang selalu terngiang di lubuk hatinya yang terdalam. Tapi, kapankah itu bisa terjadi ? Menunggu ayam jago bertelur ? Perkataan Romy yang menjengkelkan itu terus ada di pikirannya.
Gelisah di hati Jo, kecewa juga memenuhi hati Angel. Perasaannya selalu saja ada yang kurang. Seperti ada seseorang yang telah membawanya pergi. Tiap malam, Angel menuliskan perasaannya dalam bait kata-kaya yang indah. Hingga tak terasa, tulisan-tulisan yang melukiskan hati kalutnya itu, kini sudah tebal.
Romy dan teman-teman lain, selalu saja mengejek Jo setiap hari. Tapi, rasanya kini Jo sudah kebal, sehingga ia hanya mencibir saja.
* * *
Ini adalah malam yang mendebarkan. Sudah ia putuskan untuk telpon Angel. Ia angkat gagang itu, dan ia tekan nomornya. Baru beberapa nada panggil terdengar, Jo sudah memutuskan hubungan telpon itu. Hatinya berdebar-debar, takut harus bilang apa dulu sama Angel. Akhirnya ia tekadkan sekali lagi. Ia tekan nomornya, dan telah ada yang mengangkatnya. Ternyata Angel sendiri. “Sebentar, ya, Jo, ini masih ada telpon masuk. Tunggu dulu, ya.” Suara Angel itu bikin greget hati, “Ee,..iya.” Keringat dingin membasahi tubuh cowok tercakep di sekolah itu. Hatinya terus gelisah menanti jawaban Angel lagi. Tuhan, tolong aku... Tolong aku…. Itu yang selalu terngiang di hatinya.
“Iya, ada apa, Jo ?” suara Angel semakin menghentak debar jantung Jo.
“Eh,..ehm… nggak ! aku hanya lagi nganggur dan telpon kamu.”
Sekali lagi bibir Jo terkatup rapat, bagai bunga yang menguncup. Rangkaian kata yang telah ia pikirkan itu telah hilang entah kemana, setelah mendengar suara lembut Angel. Akhirnya yang terjadi hanya obrolan-obrolan biasa. Tak ada kata “maaf” sama sekali. Betapa getir hati Angel. Jo,…. Kenapa ? ……
* * *
Kini telah genap seminggu peristiwa itu terjadi. Dan genap seminggu jualah perasaan gelisah menghantui dua hati, Jo dan Angel. Jo terus mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan maafnya. Sementara kelembutan dan ketegaran hati Angel selalu setia menanti dan menanti kata maaf yang terucap dari sang pujaan hatinya itu.
Kris telah meyakinkan hati Jo untuk segera minta maaf dengan menemuinya langsung. “Tapi, Kris, nggak bisa ! Susah !” Itu yang selalu Jo ucapkan. “Jo, kamu harus bisa !”
“Bagaimana kalau telpon, Kris ?”
“Itu sih, terserah kamu ! Asalkan kamu berani mengungkapkan, It’s Ok !”
“Baiklah, kris….” Dengan perasaan mantap, Jo bertekad untuk telpon Angel sekali lagi. “Jo, aku percaya, kamu pasti bisa ! Good luck, sobat !”
Sepulang Kris dari rumahnya, Jo langsung menekan nomor telpon gadis dambaan hatinya. “Halo, Angel,….”
“Iya, Jo….. Ada apa ?” dengan perasaan gelisah, Angel menjawabnya.
“Angel,…” meski keringat dingin telah basah di sekujur tubuh, tapi kali ini, Jo dengan mantap dan bibir tak lagi terkatup, ia coba ungkapkan perasaan hatinya meski harus melewati serentetan obrolan sebagai tumbal pembuka.
“Angel, maaf, waktu itu,… aku hanya bercanda. Waktu aku ngomong bahwa aku nggak serius, itu hanya candaanku. Tapi, kau terburu menduga bahwa selama ini aku hanya mempermainkanmu. Angel, itu nggak bener. Selama ini aku serius. Bener Angel ! Maafkan aku, ya….. “
“Jo, aku sudah maafkanmu sejak awal. Namun, aku hanya seorang wanita yang harus menunggu jawaban maaf dari seorang pria. Kini, kau telah berani mengetuk pintu maafku, dan dengan tulus hati, kubukakan bagimu, Jo Nathanhael,….. “ Perasaan lega terhembus dari nafasnya.
“Terima kasih, Angel…..”
Jo telah lega mengungkapkan itu semua. Kini hanya perlu menunggu dan menanti saat yang tepat untuk mengungkapkan cintanya pada Angel. Tapi, sampai kapan ? ……..
“Sssst !”
Suara Jo yang sedikit ngotot itu membuat semua yang di kantin jadi menoleh pada meja mereka. Mungkin saking kesel en betenya kali, Jo jadi salting gitu.
“Udah, Jo ! Sekarang kamu nggak perlu lagi ngomong gitu. Yang penting sekarang, kamu harus bisa cari cara, gimana supaya kamu bisa minta maaf sama Angel !”
Otak Jo yang sedari tadi muter-muter buat cari cara minta maaf ama Angel tiba-tiba terhenti oleh dering bel masuk.
“Benernya sih, perasaanku mengatakan bahwa aku harus minta maaf secepatnya. Tapi, Rom, tiap kali aku berhadapan dengan dia, bibirku ini rasanya terkatup rapat sekali. Susah banget, Rom !”
“Udahlah ! Pokoknya aku nggak mau tahu ! Pulang sekolah nanti, kamu harus sudah bisa minta maaf ama Angel !”
“Kalo nggak, Rom ?”
“Yah, kamu pengecut banget ! Dan temen-temen siap ngejulukin ‘ayam pelari’ buat si tampan en si beken, JO Nathanhaell !”
“Ssst ! jangan keras-keras dong !”. Dengan tanpa menoleh sedikitpun, Romy pergi dengan perasaan kesalnya.
* * *
Di kelas, Jo sama sekali nggak konsen dengan pelajaran Kimia. Memang sih, sebenernya dia nggak terlalu suka ama gurunya yang terkenal kiler itu. Rasa-rasanya lebih banyak pandangan Jo beralih ke wajah putih kalem, dengan bibir tipis yang senantiasa siap melempar senyum ramah pada siapa saja. Angel, andai kamu tahu kesulitan bibirku untuk minta maaf sama kamu.
Pikiran Jo semakin melayang pada peristiwa dua hari lalu. Tatkala ia menelpon pujaan hatinya, yang walaupun sampai sekarang belum berani ia ‘tembak’. Karna PDKT ! itu alasannya tiap kali temen-temen nanya.
Memang sih, Jo suka nelpon Angel tiap malem. Dan hari itu seperti biasa mereka ngobrol-ngobrol tentang banyak hal. Ada aja yang diceritakan. Mulai dari musik, film, olahraga, pokoknya banyak deh ! yah, namanya juga orang lagi PDKT. Sampai pada menit tertentu, Jo bikin kesalahan yang fatal. Entah kenapa, ia jadi salah ngomong dan nyinggung perasaan Angel yang melebihi kehalusan sutra termahal di dunia. Sebenarnya Jo, udah terasa sejak awal Angel menanggapi omongannya itu. Tapi namanya cowok, ya Jo nggak terlalu mikir sedetail dan serumit itu.
Lain Jo, lain Angel. Cewek kalem yang selalu bikin deg-degan Jo itu, jadi gelisah karna kecewa akan omongan Jo. Air yang mengalir dari mata bersinar yang indah itu, membasahi pipi halusnya.
Pikiran Jo makin membumbung tinggi, mengingat setiap kejadian yang bikin dia deg-deg-ser. Setelah Jo menutup gagang telpon itu, ia jadi mikir lagi omongan yang baru saja ia lontarkan pada pujaan hatinya itu.
Ia makin yakin, kalau Angel bener-bener ngambek sama dia. Sebab saat Jo menyapanya pagi itu, ia sama sekali tidak mendapat lemparan senyum indah dari wajah cantik melebihi karya seni abadi. Wah, gawat ! pikir Jo. Maka hari itu rasanya hari terBt baginya sama seperti kemarin, hari ini, entah sampai kapan ia berani minta maaf.
“Coba kau kerjakan, Jo nomer selanjutnya”, Suara Pak Hadi belum saja membuyarkan lamunannya. Namun saat Pak Hadi memanggil namanya lagi, “Jo !” kepalanya yang semula tertunduk pada buku catatan, kini ia angkat dengan tetap Jaim (jaga image) pada warga sekelas. Tapi, kebohongannya itu tak dapat menembus dinding hati Angel yang memandang Jo saat ia mulai menulis-nulis angka dengan spidol biru, warna favoritnya.
Andai kamu tahu, Jo, perasaan hatiku yang terluka. Tapi, bagaimanapun, aku akan selalu membuka pintu maafku padamu Jo, asalkan kau mengetuk dinding-dinding hatiku. Tapi, sampai kapan, Jo, kau akan mengetuk pintu maaf itu padaku. Aku pengen segera membukakan pintu itu untukmu.
Sekarang giliran Angel yang melayang-layang pikirannya. Namun ia masih dapat mengontrol diri dengan tetap konsen pada penjelasan Pak Hadi.
* * *
Pelajaran Kimia sudah berlalu. Jo masih dengan perasaan gelisahnya. Ia keluarkan NOKIA birunya itu. Ternyata ia dapet messages lewat SMS, yang berbunyi : “Jo, nanti sore aku ke rumahmu. (Kris).” Ternyata Kris, sobatnya.
Canda tawa teman-teman Jo memang telah bisa menciptakan lebar lengkung bibirnya. Tapi, sekali lagi itu tak dapat menembus dinding hati Angel. Ia yakin, bahwa itu hanya tawa semu, yang sama sekali lain dari hati Jo. Sesaat Angel menatap mata Jo yang kecoklatan itu. Namun ketika Jo membalasnya, ia buru-buru memalingkan pandangannya.
Rasa kecut bertabur dalam hati Jo.
Sementara tatapan mata dan gerakan kepala Romy untuk mengisyaratkan pada Jo, untuk segera minta maaf, bikin Jo tambah gelisah. Dengan suara berbisik, Jo mendesahkannya pada Romy, “Nggak bisa hari ini, Rom ! Aku belum siap. “
“Terus sampai kapan siapmu ? Sampai ayam jago bertelur ?”
“Ssstt !!”
“Dasar ayam pelari !” kali ini, Romy tidak lagi berbisik, ia mengatakannya dengan suaranya.
“Apa, Rom ?” si gembul, Freedly menimpali, “Si Jo ‘ayam pelari’ ?” dan dengan tawanya yang heboh itu bikin gerrr yang duduk di deretan mereka.
“Tuh, lihat akibatnya seorang ‘ayam pelari’ ! Emang enak ?!”
Ejekan temen-temen Jo bikin tambah resah en miris hatinya. Pandangannya terus menerus ia layangkan pada Angel. Was-was. Kalau-kalau ia sampai menoleh, bisa tambah runyam masalahnya.
“Rom ! Aku nggak suka dengan caramu yang seperti ini. Kalau Angel sampai dengar, aku nggak mau ambil resiko !” bisiknya pada Romy.
“Tapi, Jo, aku kan hanya membantumu !”
“Membantu ?”
“Kalau saja kamu segera minta maaf, pasti aku nggak akan berbuat begini !”
“Andai saja bibirku nggak terkatup, saat di hadapannya, aku juga nggak akan menunda-nunda maafku.”
“Iya ! Tapi sampai kapan ?”
“Entahlah, Rom !”
“Huh ! Jo ! Jo !”
* * *
Sepertinya, rasa Bt Jo ia luapkan pada bola sepak yang ia tendang kencaaang sekali. Kali ini, bukan Gol tujuan utamanya. Namun rasa kalut di dadanya ia luapakan semuanya. Kasihan bola itu ! Andai saja ia dapat berteriak. Pasti ia akan langsung melakukannya.
Romy memegang pundak Jo saat mereka hendak pulang, “Gimana ’ayam pelari’ ? Udah bisa luapkan emosi ?” Jo hanya bisa memandang sengit karna kekesalannya.
“Sampai jumpa ‘ayam pelari’ ! Moga-moga besok kamu udah bisa segera mencapai garis finish !”, teriak Romy saat Jo akan melajukan mobilnya.
“Hoe, cowok cakep, jangan ngebut, lho ! Entar kamu koid sebelum minta maaf !”, Teriakan Romy yang kedua itu sayup-sayup tak terdengar di daun telinga Jo. Dan sedan putihnya itu semakin melaju, turut menghias keindahan senja kota.
Sampai di rumah, langsung ia lempar tas kuningnya di atas tempat tidur. Ia putar keras-keras musik Red hot chili peppers yang makin menambah ke-hot-an hatinya itu.
Jo berbaring di ranjang dengan otak berputar, mencari cara yang baik untuk minta maaf. Angel, andai kau tahu kesulitan hatiku….
Ia pandangi kayu berlekuk dengan susunan senar dan lubang resonansi. Ia ambil alat musik petik itu, ia lantunkan sebait dua bait lagu.
Jo mengungkapkan seluruh isi hatinya. Ia tuangkan dalam sebuah lagu yang ia tulis sendiri.
“…….maaf kasih……maafkan aku………” Sementara ia lantunkan itu, terlintas terus wajah Angel dengan dua ekspresi, satu dengan seyum ramahnya, yang satunya lagi dengan ekspresi dinginnya. Angel….. I want to say sorry,…… but,… but, I can’t ! ……
“Hai, Jo !”, suara Kris membuyarkan lamunannya. Setelah ia menutup pintu kamar Jo, ia menghampirinya dan mengeluarkan buku dari tas birunya. “Ini, Jo, bukumu ! Thank’s, ya !”
“Kamu besok nggak ulangan ?”
“Benernya, ada sih, tapi aku lagi Bt di rumah. So, aku ke sini, yahh….! Untuk sekedar melupakannnya.”, ujar Kris sembari mengeluarkan buku kumpulan sajaknya yang ia buat sendiri.
Dan dua sobat itu menghabiskan senja dengan mengarang lagu. Dengan rasa bt mereka masing-masing. Namun, tak ada diantara mereka yang menceritakan perihal keBt-annya. Tapi yang jelas, tampaknya problem Jo lebih serius daripada Kris.
* * *
Hari-hari telah dilalui Jo dengan perasaan gelisah. Tak ada yang lain yang ia pikirkan, kecuali cara minta maaf. Tiap malam ia susah tidur memikirkannya. Kini, ia jarang telpon Angel lagi. Walaupun di sekolah, Jo sudah bertegur sapa dengannya, tapi perasaan Jo tetap tak enak. Minta maaflah…. Minta maaflah….… Itu yang selalu terngiang di lubuk hatinya yang terdalam. Tapi, kapankah itu bisa terjadi ? Menunggu ayam jago bertelur ? Perkataan Romy yang menjengkelkan itu terus ada di pikirannya.
Gelisah di hati Jo, kecewa juga memenuhi hati Angel. Perasaannya selalu saja ada yang kurang. Seperti ada seseorang yang telah membawanya pergi. Tiap malam, Angel menuliskan perasaannya dalam bait kata-kaya yang indah. Hingga tak terasa, tulisan-tulisan yang melukiskan hati kalutnya itu, kini sudah tebal.
Romy dan teman-teman lain, selalu saja mengejek Jo setiap hari. Tapi, rasanya kini Jo sudah kebal, sehingga ia hanya mencibir saja.
* * *
Ini adalah malam yang mendebarkan. Sudah ia putuskan untuk telpon Angel. Ia angkat gagang itu, dan ia tekan nomornya. Baru beberapa nada panggil terdengar, Jo sudah memutuskan hubungan telpon itu. Hatinya berdebar-debar, takut harus bilang apa dulu sama Angel. Akhirnya ia tekadkan sekali lagi. Ia tekan nomornya, dan telah ada yang mengangkatnya. Ternyata Angel sendiri. “Sebentar, ya, Jo, ini masih ada telpon masuk. Tunggu dulu, ya.” Suara Angel itu bikin greget hati, “Ee,..iya.” Keringat dingin membasahi tubuh cowok tercakep di sekolah itu. Hatinya terus gelisah menanti jawaban Angel lagi. Tuhan, tolong aku... Tolong aku…. Itu yang selalu terngiang di hatinya.
“Iya, ada apa, Jo ?” suara Angel semakin menghentak debar jantung Jo.
“Eh,..ehm… nggak ! aku hanya lagi nganggur dan telpon kamu.”
Sekali lagi bibir Jo terkatup rapat, bagai bunga yang menguncup. Rangkaian kata yang telah ia pikirkan itu telah hilang entah kemana, setelah mendengar suara lembut Angel. Akhirnya yang terjadi hanya obrolan-obrolan biasa. Tak ada kata “maaf” sama sekali. Betapa getir hati Angel. Jo,…. Kenapa ? ……
* * *
Kini telah genap seminggu peristiwa itu terjadi. Dan genap seminggu jualah perasaan gelisah menghantui dua hati, Jo dan Angel. Jo terus mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan maafnya. Sementara kelembutan dan ketegaran hati Angel selalu setia menanti dan menanti kata maaf yang terucap dari sang pujaan hatinya itu.
Kris telah meyakinkan hati Jo untuk segera minta maaf dengan menemuinya langsung. “Tapi, Kris, nggak bisa ! Susah !” Itu yang selalu Jo ucapkan. “Jo, kamu harus bisa !”
“Bagaimana kalau telpon, Kris ?”
“Itu sih, terserah kamu ! Asalkan kamu berani mengungkapkan, It’s Ok !”
“Baiklah, kris….” Dengan perasaan mantap, Jo bertekad untuk telpon Angel sekali lagi. “Jo, aku percaya, kamu pasti bisa ! Good luck, sobat !”
Sepulang Kris dari rumahnya, Jo langsung menekan nomor telpon gadis dambaan hatinya. “Halo, Angel,….”
“Iya, Jo….. Ada apa ?” dengan perasaan gelisah, Angel menjawabnya.
“Angel,…” meski keringat dingin telah basah di sekujur tubuh, tapi kali ini, Jo dengan mantap dan bibir tak lagi terkatup, ia coba ungkapkan perasaan hatinya meski harus melewati serentetan obrolan sebagai tumbal pembuka.
“Angel, maaf, waktu itu,… aku hanya bercanda. Waktu aku ngomong bahwa aku nggak serius, itu hanya candaanku. Tapi, kau terburu menduga bahwa selama ini aku hanya mempermainkanmu. Angel, itu nggak bener. Selama ini aku serius. Bener Angel ! Maafkan aku, ya….. “
“Jo, aku sudah maafkanmu sejak awal. Namun, aku hanya seorang wanita yang harus menunggu jawaban maaf dari seorang pria. Kini, kau telah berani mengetuk pintu maafku, dan dengan tulus hati, kubukakan bagimu, Jo Nathanhael,….. “ Perasaan lega terhembus dari nafasnya.
“Terima kasih, Angel…..”
Jo telah lega mengungkapkan itu semua. Kini hanya perlu menunggu dan menanti saat yang tepat untuk mengungkapkan cintanya pada Angel. Tapi, sampai kapan ? ……..
Arigato Gozaimasu
Teh yang kuseduh ini terasa hangat, sedikit melonggarkan bebanku. Dalam benak aku terus terngiang kata-kata Yudhi. Aku takut dia tersinggung dengan ucapan Mami tadi. Terkadang aku merasa heran dengan kedua ortuku, mengapa di jaman serba modern ini mereka masih tetap tidak setuju pada hubunganku dengan Yudhi. Padahal aku sudah berusaha menjelaskan bahwa kami tidak pernah melakukan hal-hal yang di luar batas norma. Cium pipi saja tidak pernah. Paling kami hanya bergandengan tangan. Itu pun baru kami lakukan pada saat-saat tertentu.
Aku heran mengapa Papi dan Mami tidak memberiku kepercayaan untuk menjalin hubungan dengan seorang cowok. Aku merasa kalau aku sekarang sudah besar dan cukup dewasa untuk mengatasi semua problem hubungan berpacaran. Aku bahkan telah menginjak usia 18.
Aku kini menyesal mengapa aku cepat memutuskan untuk mengenalkan Yudhi pada Papi dan Mami. Mulanya aku berpikir, kalau waktu setahun usia pacaran kami sudah cukup untuk diketahui mereka. Memang kami sempet ‘backstreet’, namun Yudhi terus mendesak agar sebaiknya aku berterus terang.
Kenyataan tidak seperti yang aku bayangkan. Tadi sore, saat dengan gembiranya aku mengenalkan cowok ceking hitam manis itu, ternyata ortu-ku langsung menunjukkan sikap antipati pada Yudhi. Mulanya aku tidak merasakan hal itu. Namun saat dia aku ajak makan malam, semeja dengan papi, mami dan kedua kakakku, aku langsung sadar kalau kehadiran Yudhi tidak terlalu dipedulikan. Kayaknya Yudhi bener-bener dicuekin. Aku jadi tidak enak padanya.
“Percuma saja hubungan kita diteruskan. Mami Papi-mu tidak akan pernah setuju. Mereka benar. Kita memang berbeda...”
Itu yang Yudhi katakan sebelum dia pulang. Bagaimanapun aku tidak ingin kehilangan dia. Waktu setahun bukan waktu yang cepat. Setahun itu lama sekali. Dalam waktu itulah aku dapat mengenal Yudhi, begitupun sebaliknya. Dalam waktu itulah aku merasa kalo Yudhi orang tepat bersanding denganku. Ia selalu dapat mengerti diriku.
Sejak kecil, aku memang terbiasa hidup enak dengan uang ortu, dan tanpa sadar mereka menanamkan dalam pola pikirku bahwa semua dapat diselesaikan dengan uang. Namun saat aku bertemu Yudhi, aku belajar banyak darinya. Ia mengajarkan kepadaku tentang menghargai uang, menghargai waktu dan terutama menghargai orang lain.
Yudhi terbiasa hidup mandiri sejak kelas dua SMP, hingga kini, kami baru lulus SMU, ia masih mandiri. Hal itulah yang membuat aku jatuh cinta kepadanya. Ia begitu dewasa dan dapat menjaga diriku. Sedikit demi sedikit sikap-sikapku yang negatif mulai pudar. Jadi Yudhi sangat berpengaruh besar terhadapku.
Tak terasa mataku terasa berat sekali. Aku lelah memikirkan masalahku dengan Yudhi. Akhirnya aku terlelap.
* * *
“Pagi, Mi!”
“Mau kemana pagi-pagi, Reina?”
“Em,.. Reina mesti urus regirtrasi mahasiswa baru kan, Mi. Reina mesti memberikan ijazah ini dan banyak hal.” Akhirnya aku menemukan alasan yang bikin Mami percaya.
“Sama siapa, kamu pergi ?”
“Dengan Tri. Ya udah Rein mau berangkat dulu..” aku berkata sambil lalu, setelah melihat jam tanganku sudah menunjukkan jam sepuluh pagi. Sebenarnya hari ini aku bermaksud ke kos-kosannya Yudhi. Tentu kalo aku berterus terang, Mami tidak akan mengijinkan, karena semalam kedua ortuku itu benar-benar mengultimatum bahwa aku tidak boleh berhubungan lagi dengannya. Seperti biasa, mereka hanya melihat materi. Yudhi memang orang yang sederhana, bahkan ia tidak kaya. Aku belum mengetahui dengan jelas mengenai asal-usulnya. Tetapi ia selalu bercerita mengenai keluarganya. Tentang Bapaknya yang berwibawa, ibunya yang bijak dan adik perempuannya yang lucu. Yudhi tidak pernah cerita tentang materi keluarganya.
“Kamu serius mau ke Yudhi?” pertanyaan Tri itu tentu membuat aku aneh.
“Tentu saja, Tri. Aku serius dengannya.”
“Tapi, bagaimana dengan Papi Mami-mu?”
“Aku tidak peduli! Aku udah besar. Saatnya aku menentukan masa depanku sendiri.”
Mobilku aku lajukan kencang menuju jalan Kembang Sepatu, temapt Yudhi kos. Hanya satu yang aku pengen, memeluk Yudhi erat-erat saat kami nanti bertemu.
“Oh, ini tempat Yudhi kos?” kata-kata Tri itu tampak sekali kalo sedang mengejek. Ia seperti keluargaku yang lain, selalu melihat sesuatu dari segi materi. Papanya teman bisnis ayahku, jadi kami berteman sejak kecil.
“Sudahlah, ayo masuk!” aku lalu segera menggan dengan tangnnya itu dan segera menuju ke ruang tanu kos-kosan itu. Aku melihat Beni menyapaku dengan ramah.
“Yudhi-nya ada, Ben?” entah kenapa setelah mendengar pertanyaanku itu raut mukanya langsung berubah. Ia lalu menyilahkan kami berdua duduk.
“Maafkan Yudhi, ya, Rein.”
“Kenapa ?”
“Dia sudah berangkat ke bandara. Hari ini dia mesti ke Jepang.”
“Ke Jepang? Mengapa ia tak pernah...”
“Kata dia sih, belum sempat mengatakannya itu semalam padamu. Oh iya. Ada titipan darinya, sebentar, ya.”
Beni berdiri dan berlalu menuju ke kamarnya. Sementara tubuh ini langsung lemas dan merebah di bahu Tri. Ia mengusap rambutku. Tak kuasa aku menahan tangis. Sedih rasnya. Sesaat aku berdiri setelah melihat Beni menyodorkan sesuatu.
“Tetapi katanya, ia mesti ke Malang dulu, ke rumah neneknya. Jadi ia tadi pergi ke stasiun jam 2 pagi dan baru balik ke Surabaya jam.... Yah, mungkin siang nanti, Rein.”
“Ia tidak berkata apa-apa untukku?”
“Ia tidak sempat. Hanya Organizer dan sepucuk surat ini yang dia berikan. Katanya itu mesti aku berikan padamu.”
“Barang-barangnya?”
“Ia sudah meringkas dan membawanya pergi semua.”
Mendengar itu aku jadi bertambah putus asa. Rupanya semalam adalah pertemuan terakhirku bersamanya. Entah kapan lagi aku akan memandang wajah imutnya lagi.
“Terima kasih, Beni.” Setelah berpamitan aku memutuskan untuk pulang. Aku tidak tahu, hatiku merasa pilu. Rasanya untuk membuka pintu mobil saja aku tak kuat. Tri lalu mengisyaratkan sebaiknya dia saja yang menyetir. Saat aku mulai masuk aku mendengar Beni berteriak dari jauh.
“Rein, pesawatnya mungkin sekitar jam satua-an.”
Mataku langsung kutujukan ke arah jam yang aku pakan di tangan kiriku. Ternyata sekarang masih setengah satu.
“Tri kita bandara.”
“Tapi itu jauh. Butuh satu jam paling tidak kita sampai ke Juanda.”
“Ayolah, please.. Jangan menambah bebanku, dong!”
“Oke.” Mobilku langsung dibawa Tri melesat meninggalkan perkampungan kumuh, tempat Yudhi kos. Aku berharap, pesawat itu datang terlambat hari ini. Paling tidak, aku bisa memeluk Yudhi untuk terakhir kali. Sementara Tri konsen dengan kemudinya, perlahan aku membuka organizer Yudhi. Semua tampak rapi. Halaman depannya ia tempel foto kami. Ia nampak sayang sekali padaku. Akhirnya aku memutuskan untuk membaca suratnya terlebih dahulu, siapa tahu ada pesan penting di situ.
Dear Reina,
Aku minta maaf kalo aku enggak sempat memberitahukan ini kepadamu. Sebenarnya aku mendapat surat dari keluargaku di Jepang, bahwa ibuku sakit, kata Bapak lebih baik aku kuliah di sana, sebab ibu sudah kangen padaku. Surat itu telah aku terima 3 hari yang lalu, namun aku lupa membukanya. Baru sore, sebelum aku ke rumahmu, aku membacanya. Aku juga minta maaf, kalo selama ini aku tidak pernah bercerita mengenai keberadaan keluargaku.
Reina, maafkan aku, ya...
Selama ini Bapak, Ibu, dan Ryoko adikku, mereka telah tinggal di Tokyo.
Bapak seorang Jawa tulen yang menikah dengan wanita Jepang, Minami Matsuda.
Aku tidak menceritakan hal ini padamu, karena aku tidak ingin materi turut jadi pertimbanganmu untuk menjalin hubungan denganku.
Aku salah, ternyata kau tetap sayang padaku siapapun diriku.
Kalo aku sudah sampai ke Jepang, aku janji akan segera e-mail kamu.
Sayangku selalu untukmu,
Kawaguchi Yudhi Setiawan
Aku begitu kaget membaca surat Yudhi. Aku tidak menduga sama sekali kalau Yudhi seorang blasteran Indo-Jepang. Memang kulitnya putih, tetapi kalau dilihat matanya yang lebar itu, lebih mirip seorang Jawa tulen. Ia mungkin mewarisi wajah ayahnya. Aku kini jadi ingat, nama ‘Kawaguchi’ itu selalu ia singkat “K” di absen sekolah dulu. Meski diejek dengan sebutan yang aneh-aneh, ia tak pernah mengakuinya. Entah kenapa.
Meski aku meneteskan air mata, aku masih juga sempet ketawa kecil, ternyata pacarku seorang Jepang. Melihat itu, Tri jadi heran.
“Kok ketawa? Katanya sedih?....”
“Tidak apa-apa.” Aku tidak mau orang-orang tahu kalo Yudhi seorang indo. Lebih baik aku merahasiakan sampai datang waktunya.
Jam menunjukkan jam 1 lewat 20, saat mobil sudah terparkir. Kami lalu bergegas masuk ke bandara. Jantungku berdegup kencang, sepertinya aku nervous banget. Aku benar-benar bersyukur saat aku dengar pesawat yang berangkat ke Tokyo hari ini terlambat, karena masalah cuaca.
Tapi, dimana Yudhi? Aku belum melihatnya. Aku kemudian meraih ponsel yang ada di tasku. “Yudhi, kamu dimana ?”
“Reina, aku di bandara...” suaranya terdengar parau.
“Iya, tapi di mana? Aku mencarimu.”
“Reina, kau..”
“Iya, Yudhi, cepat katakan kau di bagian mana ?” aku memegang ponsel sambil berjalan mencari cowok putih yang membuat hatiku tertambat.
“Aku ada di....” belum sempat ia meneruskan kata-katanya aku sudah melihat Yudhi di hadapanku. Ia duduk di salah satu kursi. Aku langsung berlari menghampirinya, aku peluk ia erat-erat dan air mataku meleleh.
“Reina, maafkan aku..”
“Sudah. Tidak apa-apa, aku sayang kamu, Mr. Kawaguchi!”
Ia menghapus air mataku, dengan senyuman haru.
“Kapan kau kembali ?” setelah beberapa menit kami terdiam, akhirnya kutemukan tanya.
“Empat tahun.”
“Oh! Lama sekali!” mendengar itu aku kembali memeluknya erat-erat. Aku merasa waktu itu begitu lama, apalagi keluarganya tinggal di sana. Namun aku mesti merelakannya demi dia. “Aku akan tetap setia.”
Kemudian ia mengeluarkan cincin dari jari manis kanannya. Ia masukkan itu ke dalam jari manisku. Aku menatapnya dengan wajah penuh keharuan.
“Ini sebagi bukti janjiku. Tunggu aku, Rein. Aku pasti kembali.”
Aku kemudian mengangguk. Kemudian terdengar pengumuman bahwa pesawat ke Tokyo segera berangkat. Aku peluk dia untuk kesekian kali, tetapi yang ini lebih erat karena untuk yang terakhir. Tak terasa saat aku memejamkan mata, ia melepaskan pelukanku dan masih dengan mata terpejam aku merasakan bibirku basah oleh sentuhan bibir lain. Oh, dia menciumku! Aku merasakan cinta yang dalam sekali.
Setelah itu ia mengangkat kopornya dan berjalan berlalu dari hadapanku. Aku hanya membisu. Baru setelah dia beberapa meter dariku, kulambaikan tanganku dan kuteriakkan satu-satunya bahasa Jepang yang aku mengerti.
“Arigato gozaimasu!”
Sejenak ia menoleh ke arahku dan melambaikan tangannya juga. Ia tersenyum. Manis sekali. Kemudian aku merasakan sebuah tangan meraih bahuku dan memelukku. Aku bersandar di bahunya.
“Tri, dia pergi” aku menangis lagi “Jangan katakan pada Papi, Mami kalo ia ke Jepang, ya. Kalo mereka tanya ke kamu, bilang saja ia pergi ke luar kota, entah kemana.” Tri kemudian mengangguk dan membawaku pulang. Meski aku sedih, namun dalam benak aku merasa yakin, kalau dia tak akan jauh dariku. Karna dia dekat dalam hati.
* * *
Seminggu aku lalui tanpa kehadiran Yudhi di sisiku. Aku sudah menerima e-mailnya bahwa ia sampai dengan selamat di sana. Ibunya begitu gembira saat Yudhi datang. Yudhi juga mengirimkan foto keluarganya di e-mailku. Aku memandanginya beberapa waktu. Benar-benar keluarga yang bahagia, begitu pikirku.
Aku menoleh, setelah mendengar Mami membuka pintu kamarku. Aku melihat wajahnya begitu serius.
“Papi-mu ingin berbicara padamu.”
“Ada apa?”
“Sudahlah. Ayo, dia ada di ruang tengah untuk menunggumu.”
Aku kemudian berjalan dan menemui Papi. Beliau sangat serius. Jantungku berdegup. Aku hanya diam mendengarkan kata-katanya.
“Reina, kau harus membatalkan niatmu kuliah di Universitas itu.”
“Papi tidak setuju ?”
“Atasan Papi yang ada di Jepang memberikan hadiah pada Papi. Ia memberikan biaya pendidikan kuliah di Tokyo. Jadi ayah tidak bisa menolak pemberian atasan ayah itu. Kau harus segera ke sana.”
Entah perasaan apa yang ada, hatiku melonjak kegiarangan mendengar kata-kata Papi barusan. Tokyo?! Mimpi apa aku bisa pergi ke sana, bukankah itu tempat tingal Yudhi. Papi kemudian memelukku. Ini yang pertama, mungkin. Beliau merasa sedih. Namun tidak bagiku. Aku kini bahagaia dalam pelukan papi, karna aku tidak akan berpisah dengan Yudhi.
“Kapan Reina mesti berangkat, Pi?”
“Atasan Papi memberi tiket pesawat bulan depan...” kali ini setelah mendengar kata-kata Papi, giliran Mami yang memelukku. Mereka merasa kehilangan sekali. Sebenarnya aku juga sedih berpisah dengan mereka.
* * *
Aku sudah ada di bandara menunggu pesawat ke Tokyo. Sedari tadi Mami terus memberikan petuah-petuah. Tampak sekali beliau sangat khawatir. Aku kemudian meyakinkan pada kedua orangtuaku, bahwa aku akan baik-baik saja. Meski aku tidak bisa bahasa Jepang, tetapi aku fasih dalam berbahasa Inggris. Tri yang ada di sampingku, terus tersenyum. Lalu aku mengisyaratkan agar ia diam. Aku tidak ingin Papi-Mami tahu kalo Yudhi juga sedang berada di sana.
Aku juga tidak memberitahu Yudhi kalau aku akan ke Tokyo. Aku ingin memberi surprise padanya nanti, begitu pikirku. Setelah terdengar pengumuman, aku lalu memeluk kedua ortuku, satu-satu. Kini aku juga merasa sedih berpisah dengan mereka. Aku kemudian berjalan menuju pesawat. Kulihat Papi dan Mami meneteskan air mata, melepas kepergianku.
Ternyata perjalanan ke Tokyo begitu melelahkan. Baru pertama aku ke luar negeri sendiri dan agak jauh. Biasanya bersama keluargaku, paling juga ke Singapura atau Batam dan itu sangat jarang.
Aku memandang sekeliling bandara. Aku harus mencari Yochi yang akan menjemputku. Kata papi, dia adalah anak atasannya. Aku tidak tahu wajahnya, karena Papi tidak menunjukkan fotonya. Tetapi aku tidak khawatir, sebelum atasannya kemarin kembali ke Jepang, Papi memberikan fotoku agar Yochi mengenalku saat menjemput.
Sudah lima menit aku mencari orang yang akan menjemputku, namun aku tak menemukan. Aku memutuskan untuk menunggu sambil duduk. Kuharap Yochi, anak atasan Papi itu dapat melihatku.
Sepuluh menit, lima belas menit, sampai satu jam, aku menunggu namun tak kunjung datang. Aku merasa putus asa sebab aku tidak mengenal siapapun di Tokyo ini. Tak terasa aku menangis karena takut. Aku lalu menundukkan wajahku.
“Can i help you, miss ?” aku mendengar satu suara yang ramah. Kemudian aku menghapus air mataku.
“Yes. I looking for....” belum selesai aku meneruskan kata-kata ternyata aku melihat Yudhi yang ada di depanku. Kami hanya terdiam beberapa saat, setelah kemudian ia memelukku.
“Sori. Aku tidak memberitahumu, aku ingin kasih surprise, Yud.”
Yudhi hanya tersenyum. Lalu kulanjutkan ceritaku,
“Papi mengirimku ke sini karna ia dapat sejumlah uang dari atasannya untuk menyekolahkanku di sini. Dan sekarang aku menunggu...”
“Anak atasan papimu?”
“Ya. Mr. Gaguk Sudjatmiko. Anak lelakinya itu katanya akan menjemputku jam....” kalimatku lalu terhenti melihat sikapnya. Ia berjalan mundur dan membungkukkan badan, seperti layaknya orang Jepang, ia raih tas-tas koporku serta mengucapkan satu kalimat kepadaku.
“Yochi siap membantu anda untuk mengantar ke apartement.”
“Jadi kamu,...”
“Aku juga baru tahu bulan lalu saat aku bertandang ke kantor Bapak. Aku melihat nama ayahmu di buku kerjanya. Kemudian aku menceritakan semua tentang kita, semua tentang sikap ayahmu yamg sombong itu dan...”
Aku langsung memeluk dia. Kejutan apa lagi ini ? Kenapa semua baru kuketahui saat ini?! Tentu saja ayah akan merestui hubungan kami.
“Jangan beritahu ayahmu dulu, sampai tiba waktunya.” Kata-kata Yudhi itu seakan dapat membaca pikirku.
“Kamu tidak akan memecat ayahku, kan?” aku lalu berseloroh. (*)
Arigato gozaimasu = Terima kasih
Aku heran mengapa Papi dan Mami tidak memberiku kepercayaan untuk menjalin hubungan dengan seorang cowok. Aku merasa kalau aku sekarang sudah besar dan cukup dewasa untuk mengatasi semua problem hubungan berpacaran. Aku bahkan telah menginjak usia 18.
Aku kini menyesal mengapa aku cepat memutuskan untuk mengenalkan Yudhi pada Papi dan Mami. Mulanya aku berpikir, kalau waktu setahun usia pacaran kami sudah cukup untuk diketahui mereka. Memang kami sempet ‘backstreet’, namun Yudhi terus mendesak agar sebaiknya aku berterus terang.
Kenyataan tidak seperti yang aku bayangkan. Tadi sore, saat dengan gembiranya aku mengenalkan cowok ceking hitam manis itu, ternyata ortu-ku langsung menunjukkan sikap antipati pada Yudhi. Mulanya aku tidak merasakan hal itu. Namun saat dia aku ajak makan malam, semeja dengan papi, mami dan kedua kakakku, aku langsung sadar kalau kehadiran Yudhi tidak terlalu dipedulikan. Kayaknya Yudhi bener-bener dicuekin. Aku jadi tidak enak padanya.
“Percuma saja hubungan kita diteruskan. Mami Papi-mu tidak akan pernah setuju. Mereka benar. Kita memang berbeda...”
Itu yang Yudhi katakan sebelum dia pulang. Bagaimanapun aku tidak ingin kehilangan dia. Waktu setahun bukan waktu yang cepat. Setahun itu lama sekali. Dalam waktu itulah aku dapat mengenal Yudhi, begitupun sebaliknya. Dalam waktu itulah aku merasa kalo Yudhi orang tepat bersanding denganku. Ia selalu dapat mengerti diriku.
Sejak kecil, aku memang terbiasa hidup enak dengan uang ortu, dan tanpa sadar mereka menanamkan dalam pola pikirku bahwa semua dapat diselesaikan dengan uang. Namun saat aku bertemu Yudhi, aku belajar banyak darinya. Ia mengajarkan kepadaku tentang menghargai uang, menghargai waktu dan terutama menghargai orang lain.
Yudhi terbiasa hidup mandiri sejak kelas dua SMP, hingga kini, kami baru lulus SMU, ia masih mandiri. Hal itulah yang membuat aku jatuh cinta kepadanya. Ia begitu dewasa dan dapat menjaga diriku. Sedikit demi sedikit sikap-sikapku yang negatif mulai pudar. Jadi Yudhi sangat berpengaruh besar terhadapku.
Tak terasa mataku terasa berat sekali. Aku lelah memikirkan masalahku dengan Yudhi. Akhirnya aku terlelap.
* * *
“Pagi, Mi!”
“Mau kemana pagi-pagi, Reina?”
“Em,.. Reina mesti urus regirtrasi mahasiswa baru kan, Mi. Reina mesti memberikan ijazah ini dan banyak hal.” Akhirnya aku menemukan alasan yang bikin Mami percaya.
“Sama siapa, kamu pergi ?”
“Dengan Tri. Ya udah Rein mau berangkat dulu..” aku berkata sambil lalu, setelah melihat jam tanganku sudah menunjukkan jam sepuluh pagi. Sebenarnya hari ini aku bermaksud ke kos-kosannya Yudhi. Tentu kalo aku berterus terang, Mami tidak akan mengijinkan, karena semalam kedua ortuku itu benar-benar mengultimatum bahwa aku tidak boleh berhubungan lagi dengannya. Seperti biasa, mereka hanya melihat materi. Yudhi memang orang yang sederhana, bahkan ia tidak kaya. Aku belum mengetahui dengan jelas mengenai asal-usulnya. Tetapi ia selalu bercerita mengenai keluarganya. Tentang Bapaknya yang berwibawa, ibunya yang bijak dan adik perempuannya yang lucu. Yudhi tidak pernah cerita tentang materi keluarganya.
“Kamu serius mau ke Yudhi?” pertanyaan Tri itu tentu membuat aku aneh.
“Tentu saja, Tri. Aku serius dengannya.”
“Tapi, bagaimana dengan Papi Mami-mu?”
“Aku tidak peduli! Aku udah besar. Saatnya aku menentukan masa depanku sendiri.”
Mobilku aku lajukan kencang menuju jalan Kembang Sepatu, temapt Yudhi kos. Hanya satu yang aku pengen, memeluk Yudhi erat-erat saat kami nanti bertemu.
“Oh, ini tempat Yudhi kos?” kata-kata Tri itu tampak sekali kalo sedang mengejek. Ia seperti keluargaku yang lain, selalu melihat sesuatu dari segi materi. Papanya teman bisnis ayahku, jadi kami berteman sejak kecil.
“Sudahlah, ayo masuk!” aku lalu segera menggan dengan tangnnya itu dan segera menuju ke ruang tanu kos-kosan itu. Aku melihat Beni menyapaku dengan ramah.
“Yudhi-nya ada, Ben?” entah kenapa setelah mendengar pertanyaanku itu raut mukanya langsung berubah. Ia lalu menyilahkan kami berdua duduk.
“Maafkan Yudhi, ya, Rein.”
“Kenapa ?”
“Dia sudah berangkat ke bandara. Hari ini dia mesti ke Jepang.”
“Ke Jepang? Mengapa ia tak pernah...”
“Kata dia sih, belum sempat mengatakannya itu semalam padamu. Oh iya. Ada titipan darinya, sebentar, ya.”
Beni berdiri dan berlalu menuju ke kamarnya. Sementara tubuh ini langsung lemas dan merebah di bahu Tri. Ia mengusap rambutku. Tak kuasa aku menahan tangis. Sedih rasnya. Sesaat aku berdiri setelah melihat Beni menyodorkan sesuatu.
“Tetapi katanya, ia mesti ke Malang dulu, ke rumah neneknya. Jadi ia tadi pergi ke stasiun jam 2 pagi dan baru balik ke Surabaya jam.... Yah, mungkin siang nanti, Rein.”
“Ia tidak berkata apa-apa untukku?”
“Ia tidak sempat. Hanya Organizer dan sepucuk surat ini yang dia berikan. Katanya itu mesti aku berikan padamu.”
“Barang-barangnya?”
“Ia sudah meringkas dan membawanya pergi semua.”
Mendengar itu aku jadi bertambah putus asa. Rupanya semalam adalah pertemuan terakhirku bersamanya. Entah kapan lagi aku akan memandang wajah imutnya lagi.
“Terima kasih, Beni.” Setelah berpamitan aku memutuskan untuk pulang. Aku tidak tahu, hatiku merasa pilu. Rasanya untuk membuka pintu mobil saja aku tak kuat. Tri lalu mengisyaratkan sebaiknya dia saja yang menyetir. Saat aku mulai masuk aku mendengar Beni berteriak dari jauh.
“Rein, pesawatnya mungkin sekitar jam satua-an.”
Mataku langsung kutujukan ke arah jam yang aku pakan di tangan kiriku. Ternyata sekarang masih setengah satu.
“Tri kita bandara.”
“Tapi itu jauh. Butuh satu jam paling tidak kita sampai ke Juanda.”
“Ayolah, please.. Jangan menambah bebanku, dong!”
“Oke.” Mobilku langsung dibawa Tri melesat meninggalkan perkampungan kumuh, tempat Yudhi kos. Aku berharap, pesawat itu datang terlambat hari ini. Paling tidak, aku bisa memeluk Yudhi untuk terakhir kali. Sementara Tri konsen dengan kemudinya, perlahan aku membuka organizer Yudhi. Semua tampak rapi. Halaman depannya ia tempel foto kami. Ia nampak sayang sekali padaku. Akhirnya aku memutuskan untuk membaca suratnya terlebih dahulu, siapa tahu ada pesan penting di situ.
Dear Reina,
Aku minta maaf kalo aku enggak sempat memberitahukan ini kepadamu. Sebenarnya aku mendapat surat dari keluargaku di Jepang, bahwa ibuku sakit, kata Bapak lebih baik aku kuliah di sana, sebab ibu sudah kangen padaku. Surat itu telah aku terima 3 hari yang lalu, namun aku lupa membukanya. Baru sore, sebelum aku ke rumahmu, aku membacanya. Aku juga minta maaf, kalo selama ini aku tidak pernah bercerita mengenai keberadaan keluargaku.
Reina, maafkan aku, ya...
Selama ini Bapak, Ibu, dan Ryoko adikku, mereka telah tinggal di Tokyo.
Bapak seorang Jawa tulen yang menikah dengan wanita Jepang, Minami Matsuda.
Aku tidak menceritakan hal ini padamu, karena aku tidak ingin materi turut jadi pertimbanganmu untuk menjalin hubungan denganku.
Aku salah, ternyata kau tetap sayang padaku siapapun diriku.
Kalo aku sudah sampai ke Jepang, aku janji akan segera e-mail kamu.
Sayangku selalu untukmu,
Kawaguchi Yudhi Setiawan
Aku begitu kaget membaca surat Yudhi. Aku tidak menduga sama sekali kalau Yudhi seorang blasteran Indo-Jepang. Memang kulitnya putih, tetapi kalau dilihat matanya yang lebar itu, lebih mirip seorang Jawa tulen. Ia mungkin mewarisi wajah ayahnya. Aku kini jadi ingat, nama ‘Kawaguchi’ itu selalu ia singkat “K” di absen sekolah dulu. Meski diejek dengan sebutan yang aneh-aneh, ia tak pernah mengakuinya. Entah kenapa.
Meski aku meneteskan air mata, aku masih juga sempet ketawa kecil, ternyata pacarku seorang Jepang. Melihat itu, Tri jadi heran.
“Kok ketawa? Katanya sedih?....”
“Tidak apa-apa.” Aku tidak mau orang-orang tahu kalo Yudhi seorang indo. Lebih baik aku merahasiakan sampai datang waktunya.
Jam menunjukkan jam 1 lewat 20, saat mobil sudah terparkir. Kami lalu bergegas masuk ke bandara. Jantungku berdegup kencang, sepertinya aku nervous banget. Aku benar-benar bersyukur saat aku dengar pesawat yang berangkat ke Tokyo hari ini terlambat, karena masalah cuaca.
Tapi, dimana Yudhi? Aku belum melihatnya. Aku kemudian meraih ponsel yang ada di tasku. “Yudhi, kamu dimana ?”
“Reina, aku di bandara...” suaranya terdengar parau.
“Iya, tapi di mana? Aku mencarimu.”
“Reina, kau..”
“Iya, Yudhi, cepat katakan kau di bagian mana ?” aku memegang ponsel sambil berjalan mencari cowok putih yang membuat hatiku tertambat.
“Aku ada di....” belum sempat ia meneruskan kata-katanya aku sudah melihat Yudhi di hadapanku. Ia duduk di salah satu kursi. Aku langsung berlari menghampirinya, aku peluk ia erat-erat dan air mataku meleleh.
“Reina, maafkan aku..”
“Sudah. Tidak apa-apa, aku sayang kamu, Mr. Kawaguchi!”
Ia menghapus air mataku, dengan senyuman haru.
“Kapan kau kembali ?” setelah beberapa menit kami terdiam, akhirnya kutemukan tanya.
“Empat tahun.”
“Oh! Lama sekali!” mendengar itu aku kembali memeluknya erat-erat. Aku merasa waktu itu begitu lama, apalagi keluarganya tinggal di sana. Namun aku mesti merelakannya demi dia. “Aku akan tetap setia.”
Kemudian ia mengeluarkan cincin dari jari manis kanannya. Ia masukkan itu ke dalam jari manisku. Aku menatapnya dengan wajah penuh keharuan.
“Ini sebagi bukti janjiku. Tunggu aku, Rein. Aku pasti kembali.”
Aku kemudian mengangguk. Kemudian terdengar pengumuman bahwa pesawat ke Tokyo segera berangkat. Aku peluk dia untuk kesekian kali, tetapi yang ini lebih erat karena untuk yang terakhir. Tak terasa saat aku memejamkan mata, ia melepaskan pelukanku dan masih dengan mata terpejam aku merasakan bibirku basah oleh sentuhan bibir lain. Oh, dia menciumku! Aku merasakan cinta yang dalam sekali.
Setelah itu ia mengangkat kopornya dan berjalan berlalu dari hadapanku. Aku hanya membisu. Baru setelah dia beberapa meter dariku, kulambaikan tanganku dan kuteriakkan satu-satunya bahasa Jepang yang aku mengerti.
“Arigato gozaimasu!”
Sejenak ia menoleh ke arahku dan melambaikan tangannya juga. Ia tersenyum. Manis sekali. Kemudian aku merasakan sebuah tangan meraih bahuku dan memelukku. Aku bersandar di bahunya.
“Tri, dia pergi” aku menangis lagi “Jangan katakan pada Papi, Mami kalo ia ke Jepang, ya. Kalo mereka tanya ke kamu, bilang saja ia pergi ke luar kota, entah kemana.” Tri kemudian mengangguk dan membawaku pulang. Meski aku sedih, namun dalam benak aku merasa yakin, kalau dia tak akan jauh dariku. Karna dia dekat dalam hati.
* * *
Seminggu aku lalui tanpa kehadiran Yudhi di sisiku. Aku sudah menerima e-mailnya bahwa ia sampai dengan selamat di sana. Ibunya begitu gembira saat Yudhi datang. Yudhi juga mengirimkan foto keluarganya di e-mailku. Aku memandanginya beberapa waktu. Benar-benar keluarga yang bahagia, begitu pikirku.
Aku menoleh, setelah mendengar Mami membuka pintu kamarku. Aku melihat wajahnya begitu serius.
“Papi-mu ingin berbicara padamu.”
“Ada apa?”
“Sudahlah. Ayo, dia ada di ruang tengah untuk menunggumu.”
Aku kemudian berjalan dan menemui Papi. Beliau sangat serius. Jantungku berdegup. Aku hanya diam mendengarkan kata-katanya.
“Reina, kau harus membatalkan niatmu kuliah di Universitas itu.”
“Papi tidak setuju ?”
“Atasan Papi yang ada di Jepang memberikan hadiah pada Papi. Ia memberikan biaya pendidikan kuliah di Tokyo. Jadi ayah tidak bisa menolak pemberian atasan ayah itu. Kau harus segera ke sana.”
Entah perasaan apa yang ada, hatiku melonjak kegiarangan mendengar kata-kata Papi barusan. Tokyo?! Mimpi apa aku bisa pergi ke sana, bukankah itu tempat tingal Yudhi. Papi kemudian memelukku. Ini yang pertama, mungkin. Beliau merasa sedih. Namun tidak bagiku. Aku kini bahagaia dalam pelukan papi, karna aku tidak akan berpisah dengan Yudhi.
“Kapan Reina mesti berangkat, Pi?”
“Atasan Papi memberi tiket pesawat bulan depan...” kali ini setelah mendengar kata-kata Papi, giliran Mami yang memelukku. Mereka merasa kehilangan sekali. Sebenarnya aku juga sedih berpisah dengan mereka.
* * *
Aku sudah ada di bandara menunggu pesawat ke Tokyo. Sedari tadi Mami terus memberikan petuah-petuah. Tampak sekali beliau sangat khawatir. Aku kemudian meyakinkan pada kedua orangtuaku, bahwa aku akan baik-baik saja. Meski aku tidak bisa bahasa Jepang, tetapi aku fasih dalam berbahasa Inggris. Tri yang ada di sampingku, terus tersenyum. Lalu aku mengisyaratkan agar ia diam. Aku tidak ingin Papi-Mami tahu kalo Yudhi juga sedang berada di sana.
Aku juga tidak memberitahu Yudhi kalau aku akan ke Tokyo. Aku ingin memberi surprise padanya nanti, begitu pikirku. Setelah terdengar pengumuman, aku lalu memeluk kedua ortuku, satu-satu. Kini aku juga merasa sedih berpisah dengan mereka. Aku kemudian berjalan menuju pesawat. Kulihat Papi dan Mami meneteskan air mata, melepas kepergianku.
Ternyata perjalanan ke Tokyo begitu melelahkan. Baru pertama aku ke luar negeri sendiri dan agak jauh. Biasanya bersama keluargaku, paling juga ke Singapura atau Batam dan itu sangat jarang.
Aku memandang sekeliling bandara. Aku harus mencari Yochi yang akan menjemputku. Kata papi, dia adalah anak atasannya. Aku tidak tahu wajahnya, karena Papi tidak menunjukkan fotonya. Tetapi aku tidak khawatir, sebelum atasannya kemarin kembali ke Jepang, Papi memberikan fotoku agar Yochi mengenalku saat menjemput.
Sudah lima menit aku mencari orang yang akan menjemputku, namun aku tak menemukan. Aku memutuskan untuk menunggu sambil duduk. Kuharap Yochi, anak atasan Papi itu dapat melihatku.
Sepuluh menit, lima belas menit, sampai satu jam, aku menunggu namun tak kunjung datang. Aku merasa putus asa sebab aku tidak mengenal siapapun di Tokyo ini. Tak terasa aku menangis karena takut. Aku lalu menundukkan wajahku.
“Can i help you, miss ?” aku mendengar satu suara yang ramah. Kemudian aku menghapus air mataku.
“Yes. I looking for....” belum selesai aku meneruskan kata-kata ternyata aku melihat Yudhi yang ada di depanku. Kami hanya terdiam beberapa saat, setelah kemudian ia memelukku.
“Sori. Aku tidak memberitahumu, aku ingin kasih surprise, Yud.”
Yudhi hanya tersenyum. Lalu kulanjutkan ceritaku,
“Papi mengirimku ke sini karna ia dapat sejumlah uang dari atasannya untuk menyekolahkanku di sini. Dan sekarang aku menunggu...”
“Anak atasan papimu?”
“Ya. Mr. Gaguk Sudjatmiko. Anak lelakinya itu katanya akan menjemputku jam....” kalimatku lalu terhenti melihat sikapnya. Ia berjalan mundur dan membungkukkan badan, seperti layaknya orang Jepang, ia raih tas-tas koporku serta mengucapkan satu kalimat kepadaku.
“Yochi siap membantu anda untuk mengantar ke apartement.”
“Jadi kamu,...”
“Aku juga baru tahu bulan lalu saat aku bertandang ke kantor Bapak. Aku melihat nama ayahmu di buku kerjanya. Kemudian aku menceritakan semua tentang kita, semua tentang sikap ayahmu yamg sombong itu dan...”
Aku langsung memeluk dia. Kejutan apa lagi ini ? Kenapa semua baru kuketahui saat ini?! Tentu saja ayah akan merestui hubungan kami.
“Jangan beritahu ayahmu dulu, sampai tiba waktunya.” Kata-kata Yudhi itu seakan dapat membaca pikirku.
“Kamu tidak akan memecat ayahku, kan?” aku lalu berseloroh. (*)
Arigato gozaimasu = Terima kasih
Subscribe to:
Posts (Atom)